Antara Iwan Fals, Oemar Bakri, dan Gayus

Dua dasawarsa silam, Iwan Fals digandrungi oleh khalayak ramai khususnya generasi muda karena lagu-lagunya yang asik: menyentil, jenaka, dan mengandung kritik sosial. Tentu Anda masih ingat lagu ‘Bento’ kan? Menurutku lagu ini tergolong ‘keras’ dan menohok petinggi negeri ini di kala itu karena liriknya seakan sengaja dicipta untuk keluarga tertentu. Hingga saat ini hampir semua lagu-lagu cowok Virgo ini menjadi hits yang terus disukai dan dinyanyikan lintas generasi. Selain ‘Bento’ ada lagu ‘Kereta Tiba Pukul Berapa’, ‘Sarjana Muda’, ‘Ethiopia’, dan ‘Guru Oemar Bakri’ yang mengusung pesan khusus dan mendalam.

Lagu ‘Guru Oemar Bakri’ misalnya. Hits ini secara spesifik mengisahkan seorang guru; Pegawai Negeri Sipil (PNS); selalu membawa tas hitam dari kulit buaya; bersepeda kumbang; mengabdi selama 40 tahun sebagai guru yang menghasilkan para menteri, dokter, insinyur, dan professor; namun hidupnya begitu-begitu saja karena gajinya selalu dikebiri…-(

Melalui lagu ini, Iwan Fals jelas-jelas menggambarkan keprihatinannya pada nasib guru di negeri ini. Dia seakan ingin mewakili perasaan para guru, khususnya guru PNS, tentang nasib yang tidak pernah beranjak menjadi lebih baik, kecuali mendapat julukan kehormatan sebagai ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’.

Satu hal yang menarik dari lagu ini adalah disebutkannya status guru Oemar Bakri sebagai PNS. Nampaknya Iwan Fals ingin memproklamirkan betapa mirisnya hidup seseorang berstatus PNS di negeri ini (khususnya guru). Walau saat itu belum menjadi PNS, saya pun termasuk yang mengamini pesan Iwan Fals karena almarhum Bapak saya adalah seorang guru PNS, yang jangankan sepeda kumbang, tas kulit bayam pun tak pernah punya….-((

’Oemar Bakri’ itu kini bernama ‘Gayus’!

Belakangan ini, PNS kembali mendapat perhatian besar dalam konteks yang sangat berbeda dengan si Oemar Bakri nya Iwan Fals. Kasus Gayus yang tengah menjadi sorotan media dan publik benar-benar mengangkat popularitas PNS. Perhatikanlah bagaimana para presenter berita di televisi ketika membacakan berita tentang Gayus ini:

“Pemirsa…..Gayus, PNS, golongan III A, masa kerja 5 tahun……. 24 milyar…… bla..bla…bla….”

Kalau dicermati, dalam menyampaikan berita seputar Gayus, hampir semua presenter (apalagi presenter wanita di Metro yang suka sekali memenggal kata di bagian-bagian yang ingin ditekankannya sebagai inti berita, tanpa peduli jika akhirnya suatu kata itu menjadi terdengar aneh di kuping karena pemenggalan yang dipaksakan itu…) memberi penekanan khusus pada empat kata kunci: Gayus. Pe En Es. Ti ga a. Dua puluh empat milyar.

Dan kalau ke empat kata kunci ini dianalisis sesuai dengan konteks permasalahannya, intinya cuma satu: korupsi!

Gayus tidak hanya membuat gerah para pembayar pajak, tapi juga para PNS yang kena imbasnya. Kabarnya, para staf yang sehari-hari bekerja di kantor pajak kini dijuluki ‘Gayus’. Bahkan para kondektur yang setiap hari busnya melewati kantor pajak dimana Gayus berkantor, kini tak lagi meneriakkan ‘pajak…pajak..!’ ketika bus nya mendekati halte kantor tersebut, tapi menyebutkan: ‘Gayus….Gayus….-)’. Kondisi ini tentu saja memberi tekanan psikologis bagi para PNS yang sesungguhnya tidak tahu atau bahkan mungkin tidak kenal sama sekali dengan Gayus.

Saya pribadi cukup repot menjawab pertanyaan teman-teman non PNS yang penasaran dengan gaji PNS. Saya bilang:

“Ya ampun, ngapain kalian menghabiskan energi cari tahu gaji PNS. Yang jelas, tidak akan ada PNS yang bisa tajir (punya rumah mewah di kompleks elit, mobil keluaran terbaru, deposito berdigit 10, vila, apartemen, dan pelesiran setiap masa liburan) kalau hanya mengandalkan gaji dan tunjangannya. Di departemen manapun, dan golongan berapa pun!”

Gayus, bukanlah PNS pertama yang mencemari citra PNS di negeri ini. Entah berapa ratus kasus yang pernah terjadi dimana citra PNS sebagai abdi negara ini layak dipertanyakan. Bukan hanya soal korupsi, tapi juga tentang disiplin, kompetensi, punishment, dan reward. Lihat saja salah satu reality show di televisi (John Pantau atau Jean Pantau?) yang sering menyorot kinerja para PNS di berbagai instansi. Sudah menjadi rahasia umum juga, bahwa sebagian besar PNS di beberapa instansi masih setia dengan motto mereka: ‘Kalau bisa diperlambat, kenapa harus dipercepat? Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?’

Dibandingkan dengan era sebelum reformasi, kinerja PNS sebetulnya mulai membaik di segala lini. Disiplin jam kerja mulai meningkat (walaupun mungkin karena ada embel-embel insentif berupa uang transport atau uang makan); kompetensi mulai dibenahi dengan berbagai jenis pelatihan; pelayanan publik semakin mendapat perhatian agar lebih efisein dan bersahabat; dan transparansi dalam hal keuangan dan jenjang karir berbasis komptensi pun mulai dilakoni.

Harus diakui bahwa hasilnya belum terlihat secara signifikan, namun saya yakin kalau Anda sering berurusan dengan instansi-instansi negeri di tahun 80-90an, akan merasakan adanya perbaikan di masa-sama sekarang ini. Tapi kasus Gayus ini memang sangat berdampak buruk pada usaha reformasi yang sedang dijalankan di hampir semua departeman. Butuh upaya keras meyakinkan masyarakat bahwa sesungguhnya hanya segelintir PNS seperti Gayus. Saya percaya PNS yang jujur masih lebih banyak daripada yang tidak becus.

Soal korupsi, kita pun suka keliru dengan menganggap bahwa korupsi itu selalu identik dengan uang. Menurut saya korupsi paling parah dan laten di negeri ini adalah korupsi waktu. Periksalah di kantor Anda, berapa orang staf yang suka terlambat ke kantor atau ketika diundang rapat? Kita jarang menyadari bahwa korupsi waktu juga ujung-ujungnya adalah inefisiensi dan hasilnya adalah pemborosan dana. Dan nampaknya itu tidak hanya terjadi di lingkungan pemerintahan, tapi juga di lembaga swasta.

PNS memang selalu menarik untuk dibicarakan, digosipkan, dan diberi macam-macam julukan. Kalau Iwan Fals pernah menggambarkan sosok Oemar Bakri yang mewakili kelompok PNS sebagai orang yang bersahaja, setia pada kesederhanaan (bahkan kemelaratan), loyal pada tugasnya sebagai abdi rakyat, dan membanggakan, maka kini sosok itu diwakili Gayus yang muda, kaya, populer, dan …bikin malu…-((

Nampaknya Iwan Fals perlu merilis album baru untuk Gayus…-)
Tapi aku tetap suka lagu ‘Guru Oemar Bakri’ itu. Dan saat ini paling asik didendangkan bareng-bareng…. *nyanyi yuk:….*

Tas hitam dari kulit buaya
“Selamat pagi!”, berkata bapak Oemar Bakri
“Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!”

Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

Laju sepeda kumbang di jalan berlubang
S’lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan
“Berkelahi Pak!”, jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang
Busyet… standing dan terbang

Oemar Bakri… Oemar Bakri pegawai negeri
Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… profesor dokter insinyur pun jadi
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri….

——————

Depok, 16 April 2010 (12:09 WIB)

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Catatan Hati. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *