Takdir itu bernama ‘PNS’

Oktober 1990, ketika baru lulus dari FISIP USU Medan, langkah pertama yang saya tempuh dalam rangka mencari pekerjaan adalah mengirim sebanyak mungkin lamaran kerja ke berbagai instansi dan mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil di beberapa departemen yang saat itu tengah membuka penerimaan pegawai. Saya menargetkan setiap hari saya harus mengirim minimal 5 lamaran kerja, dan lamaran-lamaran tersebut saya kirim bukan karena ada lowongan kerja di lembaga itu. Seingat saya, di koran-koran yang terbit di kota Medan waktu itu jarang sekali ada publikasi lowongan kerja. Mungkin karena sistem rekrutmen jaman itu lebih mengandalkan koneksi. Karena tidak pernah ada lowongan kerja di koran, ya saya kirim saja lamaran saya ke kantor-kantor itu. Saya pikir, kalau mereka tidak berani menerima lamaran, saya saja yang melamar mereka…xixixi…

Selama 2 bulan, saya mengirim lebih dari 100 lamaran kerja ke berbagai instansi. Lumayan kewalahan karena: pertama, dulu lamaran kerja harus ditulis tangan dengan huruf nyambung di atas kertas segel asli dilengkapi dengan materai; kedua, semua lamaran kerja selalu saya antar sendiri ke instansi yang saya tuju dengan maksud agar yakin bahwa berkas saya sampai ke instansi tersebut (minimal ke meja satpam di gerbang masuk!). Setiap pagi saya berangkat dari rumah kost di Pasar I Padang Bulan Medan, naik sudako menuju kantor-kantor yang saya incar itu. Jangan tanya bagaimana perasaan saya ketika melakoni itu semua: penuh harap sekaligus banjir peluh dan sakit hati…-(

Di banyak tempat, berkas saya diterima di pos satpam dengan janji akan disampaikan ke HRD, lalu dengan keramahan yang setengah dipaksakan mengucapkan terimakasih dan tanpa malu-malu menarik gerbang atau portal di dekat pos mereka sebagai pengganti kalimat ini: ’silahkan pergi…!’

Di suatu lembaga, saya pernah ditanya begini:

”Memangnya ada saudaramu yang jadi pejabat disini? Berani kali kau melamar..?”

Di kantor lain, saya dipuji-puji HRD nya sambil membolak-balik berkas lamaran saya, sebelum akhirnya menjatuhkan penolakan yang menyakitkan:

”Wah, tulisanmu bagus sekali ya, rapi dan lurus. IP mu juga bagus. Tapi kita tidak butuh karyawan dari jurusan sosial saat ini. Maaf ya, dek..”

Di kantor gubernur SUMUT, saya dicegat satpamnya di gerbang gedung putih itu. Waktu saya bilang mau mengantar lamaran, pak satpam yang terhormat itu tanya begini:

”Kamu boru apa?”

Sambil mikir ’apa hubungannya dengan lamaran kerja’, aku jawab:

”Naibaho Pak…”

Eh, si satpam langsung ketawa meledek.

”Dek, tak mungkin diterima lah! Kecuali kau marga Siregar, Nasution, atau Lubis…”

Walau sebagai mahasiswa aku sudah sering dengar tentang sistem klan di beberapa instansi, khususnya di Medan, tetap saja hatiku sakit sekali mendengar kata-kata satpam jelek itu.

Yang lucu di sebuah bank pemerintah. Waktu itu aku diterima oleh staf HRD nya, seorang Ibu yang kebetulan orang Batak. Ketika berkas saya dibaca, dia lalu menyambar sebuah koran yang terletak di atas lemari kabinet yang ada di ruangan itu. Seketika Ibu itu mendekatiku sambil berucap:

”Ya Tuhan, kamu yang ada di koran ini ya?”

Sambil menunjuk sebuah kolom di koran itu yang memuat berita tentang wisuda mahasiswa USU seminggu sebelumnya. Di situ memang ada tertulis nama saya sebagai ’wisudawan termuda USU’ untuk periode Oktober 1990. Saya mengangguk sambil berusaha tidak terlihat berharap. Si Ibu itu lalu memelukku dan mengucapkan puja-puji dalam bahasa Batak:

”Amang tahe, las ni rohakku mamereng ho. Bangga ni natua-tua i ate molo songon ho anakkon na. Aut sugari ma anakku songon i….”

(Aduh, senangnya hatiku melihat kamu. Orangtuamu pasti bangga punya anak sepertimu. Andai anakku juga begitu…)

Tapi kesenangan ibu itu dan berita di koran itu tak ada hubungannya dong dengan berkas lamaranku. Singkat kata, tetap saja ditolak dengan alasan belum membuka lowongan. Nasib….nasib…-(

Tibalah saatnya mengikuti seleksi CPNS di berbagai departemen. Aku mendaftar di hampir semua departemen yang sedang menerima CPNS waktu itu. Jangan tanya bagaimana hebohnya mengurus segala dokumen yang sebagian besar tidak kukenali atau tergolong aneh buatku. Misalnya, kartu kuning dari Depnaker, surat keterangan sehat dari dokter, Surat Keterangan Kelakukan Baik dari kepolisian, dan dokumen-dokumen lain yang sungguh menguji ketelitian dan kesabaran ekstra ketika mengurusnya.

*O ya, kenapa yang mengeluarkan SKKB itu polisi sih? Bukannya seharusnya orangtua kita, karena mereka lebih tahu kelakuan kita kan…-)*

Ujian seleksi diikuti oleh ribuan orang. Kala itu seleksi pertama selalu diadakan di stadion sepak bola Teladan Medan. Selesai seleksi tahap I, dilanjutkan ke seleksi tahap II (tentu saja dengan jumlah peserta yang makin berkurang) dan seterusnya. Aku selalu berhasil lolos sampai ke seleksi tahap IV, tapi harus menyerah di tahap wawancara. Bukan karena aku tidak bisa melewati tahap wawancaranya, tapi persoalan uang!

Yang paling tidak bisa kulupakan adalah di departemen yang banyak penegak hukumnya itu. Hari itu tinggal 9 orang kami yang mau diwawancarai. Katanya, dari 9 orang, yang dibutuhkan 7 orang. Aku yakin benar lolos dan sangat optimis. Hari itu aku membayangkan mimik bahagia Bapak dan Omak kalau mendengar berita bahwa aku diterima menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil. Sebenarnya Bapak dan Omak tidak pernah menganjurkan apalagi memaksakan kami anak-anaknya untuk menjadi PNS, walaupun Bapak seorang PNS. Saya sendiri tidak ada motivasi khusus untuk menjadi PNS, selain ingin segera bekerja pakai seragam…-)

Waktu wawancara pun tiba. Tidak lama, cuma 30 menit dan rasanya semua pertanyaan dapat saya jawab dengan baik. Saya bahkan masih ingat wajah-wajah pewawancara dan pertanyaan yang mereka lontarkan, antara lain: biografi siapa saja yang sudah saya baca (karena saya mencantumkan ’membaca biografi orang-orang terkenal’ sebagai salah satu hobiku); siapa atlit renang yang saya idolakan (karena saya mencantumkan ’renang’ sebagai olahraga favoritku); dan apa yang paling berkesan dari Mother Teresa (karena saya mencantumkan beliau sebagai tokoh panutanku).

Setelah wawancara saya disuruh keluar ruangan karena peserta berikutnya sudah menunggu. Lega telah melewati tahap terakhir itu, saya keluar ruangan hendak mencari minuman. Maklum, saking semangatnya sampai lupa meneguk sesuatu sejak dari tempat kost. Saya tidak sadar kalau seorang perempuan paruh baya mengikutiku sejak keluar dari ruangan wawancara, dan sebelum sampai ke tempat penjual minuman, si Ibu itu langsung menodongku dengan tawaran-tawaran yang mengagetkan:

”Dek, sudah wawancara kan? Berapa adek bisa kasih, supaya pasti diterima.”

Otakku yang lugu nan polos ini masih sibuk mencerna kemana arah pembicaraan si Ibu yang gendut itu, ketika si Ibu melanjutkan tawarannya:

”Begini saja dek, sediakan 4 jt saja, itu sudah cukup. Adek kan nanti langsung golongan III, gampanglah itu kembali. Bagaimana?”

Mulutku masih terkatup saja saking tak mudeng nya. Eh, si Ibu bukannya memberi kesempatan untuk membuka mulut dan menarik nafas, langsung saja nyerocos:

”Sayang lho dek, adek itu sudah lolos dari ribuan sampai ke 9 orang. Peluang adek besar sekali. Coba pikir-pikir ya dek. Ini kartu namaku, saya tunggu sampai nanti malam karena besok pagi kan pengumumannya sudah harus keluar di koran.”

Siang itu saya pulang ke tempat kost dengan perasaan sangat nelangsa, tapi dalam hati kecil tetap berharap bahwa besok namaku akan muncul di koran sebagai CPNS. Di kamar kost yang sempit dan pengap itu otakku mulai berhitung. Tahun 90 itu, nilai uang Rp.4 jt tergolong sangat besar, apalagi buat keluargaku. Kalaupun Bapakku menjual semua harta bendanya yang di kampung, aku yakin tak sampai Rp.4 jt. Dan andaipun aku bisa mengumpulkan Rp.4 jt, bagaimana mengembalikannya? Gaji PNS golongan III saat itu cuma Rp.90.000,- Artinya aku harus kerja rodi selama 45 bulan atau 4 tahun kurang 3 bulan supaya balik modal! Lalu biaya makan, minum, bayar kost, darimana..? Bukankah tujuanku bekerja adalah untuk terlepas dari tanggungan orangtua bahkan kalau bisa membantu biaya sekolah adek-adekku? Tidak! Ini tidak masuk akal! Apapun yang akan terjadi, let it be…

Besok paginya, begitu bangun aku langsung mencari koran. Sampai detik aku memegang koran terbitan hari itu, aku masih berharap ada setitik kejujuran di negeri tercinta ini. Tapi tak perlu waktu lama untuk membuktikan bahwa di tanah gemah ripa loh jinawi ini, bermimpi pun merupakan kemewahan bagi si miskin….-((

Walau tidak diterima sebagai CPNS, aku bangga dengan diriku karena di setiap seleksi di beberapa departemen, selalu lolos sampai ke tahap wawancara. Artinya, aku gagal karena miskin, bukan karena bodoh. That’s enough for me…

Sejak itu aku yakinkan diriku bahwa PNS bukan jalanku. Aku sempat sakit hati pada semua lembaga yang mengandung embel-embel kata ’negeri’. Maka ketika tahun 1992 tawaran untuk menjadi PNS itu datang, aku ogah! Tapi karena lembaga tempatku bekerja waktu itu sudah mendaftarkan namaku di test seleksi CPNS DEPDIKBUD tahun itu, saya ikut saja. Dinyatakan lulus tes, saya respon biasa saja. Kebetulan waktu itu masih bergabung di suatu unit bantuan bank dunia dibawah DIKTI (yang sebetulnya lembaga negeri juga..hehehe).

Tahun 1994 SK CPNS saya turun, 1995 pra jabatan, dan seterusnya. April 1999 proyek bubar dan bersama beberapa orang teman yang formasinya memang sudah ditetapkan ketika tes CPNS, kami ditempatkan di Universitas Indonesia. Saya baru benar-benar merasakan pahit getirnya menjadi PNS 🙁
—————-
April 23, 2010 at 3:04pm

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

8 Responses to Takdir itu bernama ‘PNS’

  1. Desy H. says:

    Halo salam kenal, pengalaman yang menarik, update terus ya, keep ur blog up 🙂

  2. Udin says:

    Pengalaman yang menarik, Salam Kenal Mba…

  3. topik yg menarik, keep it updated! thanks for sharing! 😀

  4. ditunggu postingan berikutnya bu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *