PNS: Tiket Sorga atau Karcis Neraka?

Bekerja adalah ibadah. Itu kata orang awam. Ibadah, tentunya untuk menuju surga. Tapi seringkali dalam melakukan ibadah, orang kepeleset yang buntutnya melemparkannya ke neraka. Bagaimana dengan PNS. Tiket apa yang ditawarkannya?
——————–

Pastilah sangat tidak adil kalau saya mengatakan bahwa menjadi PNS itu selalu pahit. Bohong besar kalau saya bilang menjadi PNS itu teramat getir. Munafik betul jika saya mengaku PNS itu menyedihkan nian. Pokoknya gak sopan bener deh mengatakan itu semua. Bisa-bisa saya dikenai tuduhan ‘pencemaran nama baik PNS se Indonesia’ atau ‘penghinaan kronis terhadap negara’. Dan akibatnya saya bisa dikurung di hotel prodeo kelas khusus ‘penghinaan dan pelecehan PNS’ (yang mungkin akan segera dibangun setelah ada calon penghuninya, yakni: aku). Apa kalian rela? *Halah! Koq jadi ngawur begini sih…-)*

Enggak gitu amatlah. Menjadi PNS itu sebetulnya asik-asik saja, seperti halnya menjadi karyawan lainnya. Bagi yang diterima sebagai PNS melalui proses normal (maksud saya, setelah lulus sekolah langsung ikut test dan lulus, lalu bekerja) pasti tidak ada yang salah atau kurang di PNS. Semuanya oke, sempurna. Berangkat pagi hari ke kantor, istirahat di jam istirahat, bekerja tidak terlalu diuber-uber target atau deadline, pulang pada waktunya, menerima gaji setiap awal bulan (sebelum bekerja di bulan itu), ada jatah cuti, kenaikan gaji berkala setiap 2 tahun, kenaikan pangkat dan golongan secara otomatis setiap 4 tahun, hampir setiap tahun naik gaji walaupun persentasinya selalu jauh dibawah persentasi kenaikan bahan pokok, ada gaji ke 13, lalu pensiun pada waktunya dengan damai, dan…aaaaminnnnn…-)

Tidak perlu terlalu memikirkan apakah kenaikan pangkat atau gaji akan terhambat jika kinerja tidak bagus, karena dalam kenyataannya jarang sekali PNS yang tidak naik pangkat hanya karena DP3 nya jelek. Maksudnya, DP3 PNS itu selalu bagus koq. Coba cek di BAKN, berapa persen PNS yang terhambat kenaikan pangkatnya karena kinerjanya buruk? Yang ada, banyak PNS yang tidak naik pangkat sampai pensiun (apalagi di lingkungan pendidikan tinggi) karena tidak diurus kenaikan pangkatnya, bukan karena kinerjanya buruk. Kenapa tidak diurus? Karena prosedur mengurus kenaikan pangkat itu hampir sama dengan melamar menjadi PNS. Ribetnya naujubillah! Para dosen dan peneliti umumnya ogah menghabiskan energi dan waktunya untuk urusan-urusan demikian, disamping tidak sebanding dengan jumlah kenaikan gajinya sendiri. Bagi yang bukan PNS, perlu diberitahu bahwa kenaikan gaji PNS dari satu golongan ke golongan berikutnya itu sangatlah kecil. Dulu cuma sekitar empat puluh ribuan….-(

Kasus saya sedikit berbeda. Saya masuk PNS itu setelah sebelumnya bekerja selama 8 tahun. Sejak lulus CPNS tahun 1994 dan pra jabatan tahun 1995, saya masih tetap bekerja di proyek bantuan bank dunia (dibawah DIKTI) yang mengurusi pengembangan perpustakaan perguruan tinggi negeri di Indonesia, sampai proyek ini habis tahun 1999. Otomatis selama periode itu saya belum merasakan bagaimana menjadi PNS seutuhnya. Ketika April 1999 saya resmi hijrah ke UI, buat saya tidak terlalu asing dengan lingkungannya karena selama 8 tahun bekerja di proyek, kantornya disitu-situ juga, yakni di gedung Perpustakaan UI. Jadi, tahun 1999 itu kayak pindah ruangan saja. Tapi pindah ruangan ini ternyata luar biasa ’mengejutkan’.

Sa lo me

Hal pertama yang paling terasa adalah soal sarana dan fasilitas dalam bekerja. Bukan! Bukan fasilitas seperti yang dimiliki para pejabat itu yang saya maksud, tapi fasilitas standar untuk bekerja di lingkungan kondusif. Karena saya yakin faktor lingkungan sangat berpengaruh pada kinerja seseorang.

Jaman dulu hampir semua kantor-kantor pemerintahan memiliki karakter sama, mulai dari disain ruangan sampai pada perabotan. Ruang-ruang kerja modelnya tertutup seperti kamar-kamar kost, dan perabotannya didominasi warna abu-abu suram dan kaku. Dari keseluruhan rancangan gedung pemerintahan di jaman orba, tak bisa ditepis kesan formal alias kaku. Jangan dikira ini tidak berdampak pada kinerja lho. Bayangkan dengan model ruangan seperti itu, sulit sekali melakukan pengawasan. Pimpinan takkan pernah tahu apa yang dikerjakan stafnya di ruangan lain, bahkan tak pernah tahu apakah staf tersebut ada di tempat atau sedang pelesiran ke mall. Demikian juga sebaliknya.

Berbeda dengan di kantor-kantor swasta dimana desain ruangan dan meja kerja dibuat terbuka (menggunakan kaca), bahkan ruangan-ruangan hanya disekat setinggi satu meter sehingga setiap orang tetap terawasi dan terlihat aktivitasnya. Bahkan di beberapa perusahaan digunakan software yang dapat memantau secara online aktivitas karyawan. Jadi si bos bisa tahu apa saja yang dikerjakan stafnya di meja masing-masing melalui komputernya. *Hati-hati buat yang sering chatting atau fesbukan di jam-jam produktif….-)*

Saya pribadi sangat tersiksa bekerja di ruang tertutup. Maksud saya, jika desain ruangannya seperti kamar-kamar kost tertutup. Kalau harus di ruang tertutup, saya memilih dekat jendela atau kerai yang memungkinkan ada cahaya atau celah untuk memandang ke luar. Rasanya pembangunan gedung-gedung pemerintah jaman dulu jarang mempertimbangkan aspek psikologis karyawan dalam bekerja yang buntutnya adalah pada penurunan produktivitas. Itu baru gedung. Bagaimana kondisi di ruangan? Kalau sebelumnya saya memiliki meja untuk bekerja yang dilengkapi dengan aiphone untuk komunikasi, lalu ada komputer dan printer, serta mesin faks yang bisa dipakai bersama, maka di tempat baru saya tetap mendapatkan semua itu. Bedanya, semua fasilitas itu harus dipakai secara sharing. Meja untuk beramai-ramai. Komputer untuk ramai-ramai. Bahkan laci untuk menyimpan benda-benda pribadipun harus berbagi. Semuanya untuk ramai-ramai. Salome, gitu deh…-) Jangan harap ada privasi, jika Anda bukan big boss. Dalam kondisi seperti ini sulit sekali menggali kreatifitas atau bekerja optimal. Yang ada adalah produktivitas ’ngerumpi’.

Soal fasilitas ini tidak hanya berlaku di lingkungan internal (kantor). Di lingkungan PNS, apa yang boleh dan yang tidak boleh, ditentukan oleh golongan, bukan kompetensi. Ini paling terasa kalau dinas luar. Seorang PNS golongan II, biaya perjalanannya berbeda dengan PNS golongan III dan IV walaupun keduanya bertugas ke kota yang sama dengan tujuan yang sama. Lumpsumnya berbeda. Padahal kalau makan, yang punya warung atau restoran tidak membedakan harga makanannya berdasarkan golongan yang makan. Jadilah, untuk golongan yang lebih rendah, ya menunya seadanya dong.

Begitu juga fasilitas penginapan. Para pejabat boleh menikmati hotel bintang 4, tapi kalau staf biasa cukuplah di hotel melati. Lebih mengerikan lagi kalau dinas ke luar negeri. Kalau gak pintar-pintar cari tumpangan atau teman buat berbagi kamar, bisa-bisa terlunta-lunta di negeri orang….-( Bayangkan untuk dinas luar ke negara-negara Asia itu, lumpsumnya cuma US$50. Lumpsum itu adalah biaya penginapan, makan, dan transport lokal. Lima puluh dolar itu setara dengan lima ratus ribu rupiah. Mau tidur di hotel bintang kejora pun tak cukup uang segitu. Cara paling sederhana adalah ’backpacker’ alias tidur di jalanan (terminal, stasiun, mesjid, gereja, atau di kolong jembatan sekalian). So, jangan berburuk sangka dulu jika ada PNS yang memangkas kunjungan hari kerjanya menjadi lebih pendek, karena kalau tidak demikian, jangan-jangan gak punya ongkos pulang ke rumah.

Bekerja adalah ibadah? Tapi….

Lalu soal gaji. Gaji pertama saya sebagai PNS adalah Rp.110.000,- atau seperempat dari jumlah gaji yang saya terima di kantor sebelumnya. Orang bilang: ‘sedikit cukup, banyak habis!’ Oke. Tapi, jujurlah, bagaimana bisa hidup dengan angka itu: Rp.110.000,-! Pola makan model apa yang bisa diterapkan dengan jumlah segitu? Bagaimana bisa bekerja dengan penuh semangat, gesit, senyum merekah, jika otak terus sibuk berhitung buat makan besok hari? Bagaimana bisa tetap bugar dari pagi sampai sore jika asupan gizi rumusnya: ‘3 tak sehat apalagi sempurna?’. Lho, bekerja itu kan ibadah? Fine! Baik. Tapi bahkan untuk beribadah juga perlu biaya, bung!

Persoalan gaji ini termasuk kasus yang sangat klasik di PNS. Tidak ada yang perlu disembunyikan disana. Anda semua bisa cek gaji setiap orang bernama ’PNS’. Datanya dibuka lebar di internet. Ini sekaligus menjadi keunikan seorang PNS. Tidak bisa bohong soal gaji. Kalau ada seorang PNS dengan golongan III A, baru bekerja selama 5 tahun, dan punya rekening sebesar 24 Milyar, rumah mewah, mobil keren, bisa liburan ke Singapura *lho, koq ini mengarah ke seseorang ya? Bukan! Ini bukan soal aparat pajak itu, tapi soal seorang PNS…-)*, jelas sekali dia ngibul! Dia bukan PNS, tapi koruptor!

Sistem penggajian di PNS memang sedikit aneh kalau tidak mau dibilang kacau. Penetapan gaji pokok dibuat berjenjang dan pastinya sudah mempertimbangkan banyak hal. Demikian juga dengan masa kerja. Tapi menjadi tidak adil jika dikaitkan dengan kompetensi. Penentu utama besar kecilnya gaji seorang PNS adalah masa kerja, bukan pendidikan, bukan pula kompetensi. Inilah ironi paling mengerikan di PNS. Maka jangan heran, jika gaji seorang lulusan magister atau doktor dengan kompetensi oke, tanggung jawab seabrek-abrek lebih kecil daripada gaji seorang OB lulusan SMU dan masa kerja 20 tahun! Di perguruan tinggi banyak sekali doktor bahkan profesor setia dengan gaji pokok IIIA sampai pensiun! Konyolnya, jika Anda golongan III ke atas, segala penghasilan otomatis kena pajak. Tapi jika golongan Anda dibawah III, Anda bebas pajak. Pertimbangannya apa? Meneketehe! Ujung-ujungnya take home pay PNS golongan II lebih besar dari golongan III.

Tapi kan…., ada kesempatan lembur? Betul! PNS juga ada jatah lembur koq. Ketentuannya begini: lembur itu tidak boleh lebih dari 25 jam dalam satu bulan. Untuk 1 jam lembur, kamu dibayar Rp.8.000,- (delapan ribu rupiah,-) Jelas? Oh, belum jelas….? Oke, saya ulangi ya: de la pan ri bu ru pi ah per jam! Ya, cukuplah untuk beli tempe mendoan plus lontong tanpa sayur. Memang kelasnya begitu kan?

Nah, persoalan fasilitas dan gaji di atas sebetulnya tergolong masalah kecil jika dibanding masalah lainnya, yakni: birokrasi dan senioritas! Menurut saya, ke dua faktor inilah yang paling menyiksa dan membuat hidup sebagai PNS sungguh mengerikan! Fatigue! Saya sering sekali harus menahan haru guna menghibur diri sendiri jika sudah berhadapan dengan ke dua hal di atas. Saya sampai menciptakan kata-kata mutiara yang selalu saya bisikkan ke diriku jika berada di situasi yang berkaitan dengan birokrasi dan senioritas itu.

Kalimat pertama adalah:

“Clara, birokrasi itu kamu perlukan untuk menguji kesabaranmu, ketelitianmu, dan ketangguhanmu!”

Bukannya aku tidak sabar, tidak teliti, atau tidak tangguh, tapi aku tidak setuju jika semua proses yang berbelit-belit itu harus dilakoni tanpa tujuan yang jelas. Efisiensi tidak, kepuasan klien apalagi! Kenapa harus menempuh proses panjang yang sebetulnya bisa dipangkas?

Kalimat kedua, begini:

“Clara, lihat dirimu. Kami masih muda, tidak seperti mereka yang sudah karatan. Tapi suatu saat kamu akan jadi senior juga. Mungkin kamu akan lebih parah dari mereka!”

Bukannya aku tidak paham sopan santun, tapi aku lebih memilih disebut ’tidak sopan’ daripada harus mengikuti kata senior hanya karena dia lebih tua, bukan karena pendapatnya layak dituruti.
———————–

Bagi sebagian masyarakat kita, menjadi PNS tetaplah sebuah dambaan dengan berbagai alasan-alasan yang terdengar klasik dan sebetulnya tidak selalu betul. Alasan yang sangat lazim kita dengar adalah soal jam kerja yang santai dan jaminan hari tua. Ini jelas-jelas kelirumologi paling kronis di masyarakat kita. Coba deh, tentang jam kerja. Ada kesan bahwa jam kerja PNS itu lebih santai daripada jadi karyawan swasta. Apanya yang santai? Bukannya jam kerja karyawan apapun rata-rata sama, yakni: eight to four? Swasta juga begitu kan? Malah yang enak tuh di swasta. Kita bisa masuk jam berapa saja asal target pekerjaan tercapai dan jumlah jam kerja tidak kurang dari 8 jam dalam sehari.

Lalu tunjangan hari tua. Menurutku di swasta lebih oke. Begitu pensiun, kita dapat pesangon yang jumlahnya lumayan besar sehingga langsung bisa dijadikan modal usaha. Dengan modal ini, karyawan swasta malah tetap bekerja setelah pensiun dengan bidang yang berbeda. Mereka tidak perlu merasakan kehilangan rutinitas sebagai karyawan dan bagi sebagian besar orang, produktivitas setelah pensiun malah lebih tinggi.

Sebagai seorang PNS, saya tak punya hak melarang atau menjegal cita-cita Anda jadi PNS. Saya hanya ingin menyarankan agar segera melupakan cita-cita itu jika Anda tergolong:

1) Orang yang sangat kreatif dan ingin membuat inovasi-inovasi bersifat bisnis. Yang ada Anda akan terjerumus ke tindak korupsi yang tidak direncanakan. Kenapa tidak jadi pengusaha saja?

2) Orang yang memiliki ide-ide besar dan ingin segera mengaplikasikannya dalam kenyataan. Tempat Anda bukan di pemerintahan.

3) Orang yang tidak terima jika kinerjanya dinilai oleh mesin amano atau absensi online, dan sejenisnya. *ini sakit hatiku yang paling dalam sebagai PNS….-((*

4) Orang yang tidak suka mendengar kata-kata ini dalam setiap membuat keputusan: ’pertimbangan politisnya adalah….’

5) Orang yang gerah jika semua program kerja yang telah disusun jauh-jauh hari bisa melenceng seratus delapan puluh derajat di lapangan.

6) Orang yang tidak mampu memanipulasi angka-angka di kuitansi bukan untuk masuk kantong tapi untuk penyerapan dana dari berbagai pos untuk menutupi pos-pos lainnya yang tidak tercantum di anggaran tahunan. Dan…

7) Muda, cerdas, dan selalu bisa merangkum berbagai masalah dan memiliki ide-ide hebat sebagai solusi dari suatu permasalahan. Siap-siaplah mendengar komentar: ‘anak bawang, sok tahu! Tidak sopan!’ Dan…., di project berikutnya dengan sangat hormat Anda akan ditunjuk sebagai… notulis! *supaya tidak ada kesempatan bicara…-(*

Tapi jika Anda masih tetap bernafsu menjadi PNS, ingatlah bahwa seorang PNS tidak akan menjadi kaya karena gajinya. Gaji PNS selalu seiring sejalan dan tergantung pada kemampuan rakyat. Maka, jika ingin naik gaji, sejahterakan dulu rakyat, bantulah rakyat untuk berpenghasilan lebih tinggi. Mudah bukan….?

Atau, Anda tetap boleh kaya walaupun menjadi PNS. Rumusnya cuma 3 koq:

Pertama, kerja keras. Di luar jam kerja buatlah usaha kecil-kecilan, misalnya buka warung, dagang ketoprak keliling, ngojek, narik becak, ojek payung, makelar mobil, atau penggali kubur. Kalau semua itu dilakoni, penghasilannya cukup lumayan koq..-)

Kedua, kerja keras. Kalau usaha-usaha kecil tadi belum optimal, beralihlah ke usaha yang lebih besar. Dirikan perusahaan, tapi nama Anda tidak boleh tercantum disana sebagai pemilik. Anda kan PNS. Gak boleh nyambi jadi pengusaha. Atau jadilah konsultan independen di berbagai lembaga yang sesuai dengan keahlian Anda. Dan karena setiap hari Anda harus tetap masuk kantor, maka semua aktivitas ini harus Anda kerjakan di hari libur atau di malam hari sampai dini hari. Kapan tidurnya? Gak usah tidur, berakrab-akrab rialah dengan yang namanya ’insomnia’….-)

Ketiga, kerja keras. Berdoalah sekeras-kerasnya semampu kamu agar Tuhan menganugerahkan perasaaan-perasaan kaya terhadapmu. Jadi, walaupun kenyataannya kere banget, kamu tetap merasa kaya…-)

Nah, kalau semua cara sudah dicoba, dijamin tiket sorga dan karcis neraka ada di tangan Anda. Tinggal pilih, mau nyobek yang mana. Selamat mencoba…-)

——————
Depok, 29-04-2010 (12.:19 WIB)

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in My Journey. Bookmark the permalink.

13 Responses to PNS: Tiket Sorga atau Karcis Neraka?

  1. Terimakasih atas informasinya ttg PNS. Artikel yg baik dan menambah wawasan kami. Salam kenal untuk admin blog.

  2. hera says:

    Artikelnya yang bagus mba….inspiratif

  3. nekochan says:

    Hehehe betul bgt tuh poin2nya mba. Fan yang paling bikin saya risih itu masalah efisiensi.. Saya masih cpns, sebelumnya bekerja bertahun2 di swasta jd saya terbiasa bekerja cepat dan efektif. Saya tdk habis pikir dgn cara kerja mereka..bahkan dokumentasi tidak ada aturannya lho meski lembaga/kementerian tsb sudah ISO 9001.

    Untuk masalah ide besar saya belum pernah terlibat tetapi sepertinya disini open kok untuk ide2 yang fresh 🙂
    Salam

    • Kalarensi Naibaho says:

      Kalau sekarang kayaknya sih agak mendingan, apalagi setelah era keterbukaan akibat pengaruh perkembangan TI. Jaman aku (tahun 1990 an) masih cukup memprihatinkan.

  4. Andika says:

    Kalau jadi PNS memang susahnya saat ngurus mau naik pangkat, udah susah-susah buat daftar usulan ( DUPAK ) sampe seabreg gitu..! malah di tolak, salah inilah, salah itulah, dan bisa jadi faktor ini juga membuat banyak orang males ngurus pangkat ampe pensiun karna terlalu ribet. tetap berkarya mbk 🙂

    • Kalarensi Naibaho says:

      Iya, DUPAK seringkali bikin kepala pening. Perlu manajemen yang baik bagi diri sendiri agar tidak keteteran ketika harus ngajuin DUPAK.

  5. DANNY FERRY JUDDIN says:

    Hi Mbak,

    Artikel otokritik yang menarik Mbak. Tetap semangat ya…

    Salam,
    DFJ

  6. ada enaknya dan tidaknya ya, sama aja dengan lainnya kalau gitu 😀

  7. Hallo kak Rensi Salam kenal.. saya dulu daftar PNS sampai skrg gak jebol2 lho… nasibnya..thanks banyak artikelnya bagus 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published.