Parents! Jangan Sepele dengan Bacaan Anak Kita.

Pernah kaget dengan pertanyaan anak Anda? Apa yang terpikir ketika si anak tiba-tiba memberondong dengan pertanyaan aneh atau permintaan yang tidak masuk akal? Terpikirkah kita, apa pemicu anak-anak mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bagi orangtua ’sulit’ untuk dijelaskan?

—————————–

Ketika Giovanni masih kelas 3 SD, suatu sore dia tiba-tiba mengajukan pertanyaan ini ke saya:

”Ma, apa sih PSK itu?”

Kaget dengan pertanyaan tak terduga itu, aku berusaha merespon biasa. Aku bilang:

”PSK itu singkatan dari Pekerja Seks Komersial. Kamu tahu darimana kata itu?”

”Dari berita di TV, Ma. Tadi siang aku nonton ’buser’, ada PSK dikejar-kejar polisi…”

Namanya anak-anak, pertanyaannya tidak akan berhenti sampai disitu kan. Dia akan tanya lagi istilah yang tidak dipahaminya.

”PSK itu cewe’ ya Ma? Kerjanya ngapain?”

*Aduh! Mati aku! Bagaimana menjelaskan pekerjaan PSK ini sih?*

Sambil berusaha mencari kata-kata yang pas (sebenarnya mulai mules juga sih), saya berusaha menjelaskan dengan sesederhana mungkin. Kira-kira beginilah jawabanku:

”PSK itu adalah para perempuan yang mencari uang dengan cara menemani para laki-laki ngobrol, bercanda, minum-minum, dan menghabiskan waktu. Mereka juga mau dipeluk dan dicium laki-laki itu, walaupun mereka tidak saling kenal. Pokoknya para perempuan itu menghibur laki-laki itu untuk mendapatkan uang.”

Diskusi itu masih panjang karena Gio masih sulit mencerna topik seberat itu, tapi seingatku, saya menutupnya dengan kalimat klasik ini:

”Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Nanti juga kamu akan lebih paham, kalau kamu sudah besar…-)”

Di kesempatan lain, Rian memaksaku mempertemukannya dengan para profesor di UI. Apa pasal? Rupanya novel Harry Potter yang fenomenal itu membuatnya penasaran dengan yang namanya Profesor! Rian bilang:

”Di kampus Mami kan banyak profesor, aku pengen belajar sihir dengan Profesor Dumbledore!”

(O ya, kisah Harry Potter ini memang menginspirasi Rian bermain sulap. Aku sering jadi korbannya. Entahlah, aku dikadalin atau enggak, yang jelas dia sering sekali melakukan macam-macam sulap di rumah. Tapi yang menarik dari permintaan Rian ini ada 2 hal: pertama, persepsi dia tentang seorang profesor sebagai pakar sihir; kedua, pilihannya pada nama Albus Dumbledore. Bukankah di novel Harry Potter itu banyak tokoh profesor? Kenapa dia memilih Albus Dumbledore? Kenapa bukan Profesor Severus Snape atau Profesor Dolores Jane Umbridge?)

———————————
Lalu, ingatkah Anda kisah ini? Seorang ibu di salah satu negara bagian di negeri Paman Sam, sangat bangga dengan putranya yang dijulukinya ’si kutu buku’. Putranya ini rajin sekali membaca, pintar di sekolah dan tidak pernah menjadi si trouble maker. Pokoknya: nice boy lah! Si ibu sering membangga-banggakan putranya ke kerabat, tetangga, teman-teman atau siapa saja. Setiap hari sepulang sekolah, putranya selalu menenggelamkan diri dengan berbagai buku di kamarnya. Luar biasa! Sampai di suatu hari…. di sekolah tempat putranya menimba ilmu itu meledaklah sebuah bom. Siapa pelakunya? Si kutu buku! Ternyata selama berbulan-bulan, anak itu mendalami cara merakit bom dan melakukan eksperimen di sekolahnya!

Kejadian di atas tentu tidak sering terjadi di belahan bumi ini. Tapi kisah itu memberi pesan jelas betapa orangtua harus tahu apa yang dibaca anak-anaknya. Mungkin banyak orangtua yang sering kaget juga dengan tingkah atau ucapan anak-anaknya, tapi tidak serius memeriksa apa penyebabnya. Yang paling mudah dijadikan biang kerok memang layar kristal yang hampir dipastikan ada di tiap rumah warga: televisi! Tapi pengaruh paling kuat sebetulnya justru dari buku. Audio visual, khususnya televisi memang sangat memengaruhi tingkah pola anak dan pengaruhnya bisa terlihat cepat, tapi pengaruh buku memberikan efek mendalam karena teks di buku bisa dibaca berulang-ulang, dimaknai lebih mendetil, dan diresapi.

Saya selalu mengumpamakan buku itu seperti menu di restoran. Sederhananya begini. Orang yang pergi ke restoran tentu berharap begitu keluar dari restoran tersebut, dia akan merasa kenyang. Tapi kenyang saja tidak cukup kan? Kalau bisa, kenyang plus sehat dong….-) Karena itu kita perlu memilih restoran yang menyajikan menu dengan bahan baku yang sehat dan dimasak dengan cara sehat. Begitu juga dengan bacaan. Keputusan memilih jenis dan isi bacaan sangat tergantung pada hasil yang kita harapkan. Khusus untuk anak-anak, mau tidak mau orangtua harus terjun menyeleksi mengingat belum semua materi dapat diserap anak-anak dengan tepat. Apalagi di masa pertumbuhan, konon nalar anak-anak bisa sangat ’liar’ sehingga perlu diarahkan dengan tepat, karena kita berharap anak-anak membaca supaya menjadi pintar, bukan sebaliknya.

Ada banyak literatur tentang bacaan anak. Kita mudah menemukannya di majalah-majalah parenting atau tabloid-tabloid yang mengupas tumbuh kembang anak. Berbagai ulasan tentang bacaan yang cocok untuk segala rentang usia dibahas disana, salah satunya bisa dilihat di link ini:

http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Parents-Area/Tips/Memilih-Bacaan-Untuk-Anak

Banyak juga pakar (psikolog anak) yang memberikan perhatian pada topik ini. Di era informasi ini mestinya tidak sulit menemukan informasi seperti itu. Tidak ada alasan bagi para orangtua mengatakan tidak paham tentang bacaan anak, kecuali malas dan tidak peduli….-)

Saya pribadi tidak terlalu kaku atau fokus ke teori-teori tentang genre bacaan anak. Tanpa acuan ilmiah pun, saya yakin setiap orangtua paham bagaimana ’mengelola’ anak-anaknya. Untuk bacaan anak ini, saya berpatokan ke satu hal yang saya singgung di atas tadi, yakni kita ingin anak-anak itu menjadi anak yang seperti apa? Misalnya, saya bermimpi anak-anak saya kelak menjadi manusia-manusia yang unggul tidak hanya di bidang akademik tapi terlebih lagi dalam hubungan sosial, menghargai perbedaan (multikultural dan pluralisme), serta tidak menjadi manusia yang berfokus pada pencapaian materi. Saya pengen otak kiri dan otak kanan anak-anak itu seimbang, tidak timpang. Wah! Ideal banget ya? Mungkin gak sih itu dicapai hanya melalui bacaan? Tentu saja tidak! Tapi bacaan menjadi awal yang baik untuk memulainya.

Pengembangan dan keseimbangan otak kiri dan otak kanan ini sangat penting dilatih sejak dini sehingga anak-anak tidak tumbuh menjadi generasi robot. Pintar tapi tidak humanis. Jago mikir tapi telat peduli. Nilai rapor keren tapi nilai pergaulan jeblok. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan menyediakan bacaan yang menyeimbangkan otak kiri dan otak kanannya.

Menurut saya, untuk pengembangan otak kiri cukuplah yang dari sekolah itu. Kita bisa menambahkan ensiklopedi anak misalnya. Tapi untuk urusan otak kanan orangtua harus serius nih. Kita bisa memberinya buku-buku bersifat pengayaan, ringan tapi berbobot. Beberapa bacaan yang saya rekomendasikan (tentu saja Anda boleh tidak setuju dong….) untuk anak-anak sampai level SD adalah sebagai berikut:

Koran Berani

Satu-satunya koran anak Indonesia. Berita-beritanya pun aktual dan dikemas ala anak-anak. Disajikan dalam kalimat pendek-pendek dan ringkas sehingga membuat anak-anak tidak cepat bosan atau jenuh.

Majalah bobo

Ini kayaknya tidak perlu diragukan lagi deh. Jangankan anak-anak, saya sendiri pun masih baca bobo sampai detik ini. Isinya lumayan komplit (beragam rubriknya pas untuk anak-anak).

Majalah ORBIT

Majalah sains untuk anak-anak. Topik-topik berat disajikan dengan bahasa sederhana dan menarik sehingga mudah dipahami anak-anak. Majalah ini menjadi andalan saya untuk pengetahuan umum di bidang antariksa dan sains. Saya belajar bikin blog justru dari majalah yang terbit bulanan ini *xixiixi..*, soalnya instruksinya sederhana sekali dan mudah dipahami daripada membaca Infokomputer…. *pisss Infokom, mungkin gue yang super oon…-)*

Koran atau tabloid Olahraga dan seni

Kita bisa memilih salah satu media yang isinya tentang dunia olahraga atau seni. Saya memilih Soccer karena ke dua jagoan saya suka sekali dengan dunia sepakbola. Sajiannya pun cocok untuk dibaca anak-anak dan orang dewasa.

Komik

Anak-anak pasti suka komik. Tapi hati-hati dengan isinya, tidak semua komik pas untuk anak-anak. Apalagi komik-komik asing, ada nilai-nilai yang tidak relevan dengan budaya kita. Misalnya, di suatu komik saya menemukan dialog antara anak dan ayah dimana anak memanggil nama kecil ayahnya. Tidak selalu cocok untuk kondisi masyarakat kita kan.

Koleksi daerah

Maksud saya buku-buku berbau kedaerahan sesuai asal atau komunitas Anda. Idealnya sih berbahasa daerah, karena dengan cara demikian kita mengingatkan anak-anak untuk tidak melupakan daerah asalnya. Cuma, mencari koleksi ini memang tidak mudah. Apalagi belajar bahasanya. Kebanyakan orangtua yang tinggal di kota malah sudah tidak lancar berbahasa daerah asalnya. Tapi tetap harus diupayakan lho. Minimal cari bacaan yang ada rubrik bahasa daerah Anda.

Rekomendasi di atas tentu versi saya saja, yang saya kira lumayan terjangkau untuk segala jenis kantong (kantong PNS, kantong karyawan swasta, kantong pengusaha, kantong parrengge-rengge, kantong pengacara, dan kantong kempes…). Bagi yang punya anggaran lebih tentu tidak dilarang melanggan atau mengoleksi banyak jenis bacaan. Saya pun percaya bahwa tiap anak memiliki minat dan kemampuan yang berbeda. Karena itu kalau ada anak berusia 4 tahun tapi sudah sangat tertarik dengan buku-buku ilmiah dan dapat menyerapnya dengan baik, kenapa tidak? Berikan saja bacaan yang mendukung minatnya itu, namun tetap dibawah bimbingan orangtua.

——————-

Depok (08 Juni 2010): 15.49 WIB

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Opini. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *