Jakarta… sapa suruh datang?

Minggu lalu, karena suatu kegiatan, saya harus berkantor di Jakarta Barat selama dua hari. Kelamaan tinggal di Depok, membuatku selalu pangling kalau ke Jakarta. Rasanya semua serba bergerak cepat, tak beraturan, dan heboh. Setiap tarikan nafas seakan-akan berpacu dengan waktu.

Pukul 05.30 saya berangkat dari rumah menuju stasiun UI. Dari segi jarak, sebetulnya jauh lebih dekat ke stasiun Depok baru, tapi saya sengaja memilih ke stasiun UI. Kenapa? Bagi Anda yang tidak pernah melintas dari kampus UI di pagi hari, mungkin akan menganggap saya tidak rasionil. Buang-buang waktu. Tapi jika sudah mengalaminya, Anda pasti setuju sekali: melewati kampus UI di pagi hari sungguh merupakan suatu kemewahan tak terkira. Udaranya itu loh… segar, berkabut, dingin, dan sangat sejuk. Paru-paru ini terasa amat bersih dan longgar. Kalau lagi beruntung, jika sehabis hujan, Anda bahkan bisa ketemu ular-ular yang sedang menyeberang dari hutan-hutan di sekitar UI….:)

Dari UI naik kereta api ekonomi AC ke Cawang. Perjalanan sekitar 30 menit ini, jangan dikira nyaman-nyaman saja. Di KRL Jabodetabek, seringkali tak cukup tempat hanya untuk menapak dengan dua kaki. Berdiri di KRL tak pernah sempurna. Dempetan manusia yang entah darimana saja dan mau kemana saja itu membuat KRL layaknya keranjang tempat ikan rebus di pantai Sibolga.

Ajaibnya, dalam kondisi seperti itu, para pedagang segala macam benda bisa dengan leluasa menjajakan dagangannya: ’memaksa’ penumpang untuk memberi jalan bagi mereka, mendorong kereta dagangannya di sela-sela kaki, bahkan paha orang, dan terus menerobos dari gerbong ke gerbong. Seperti di jalan tol saja mereka itu. Beberapa kali saya melihat penumpang merengut, kesal, marah, karena didorong dan dipepet kesana kemari, hanya untuk memberi jalan bagi mereka. Penumpang yang notabene membayar ongkos sesuai tarif itu, tak berdaya melawan aturan tak tertulis di negeri ini: selalulah bersimpati pada rakyat kecil, sekalipun mereka itu tak tahu aturan! Jika Anda complain, bersiaplah menerima cap ini: gak toleran, gak berempati, gak punya rasa kasihan, gaaaaakkkkkk…..

Tiba di stasiun Cawang, perjuangan lain pun menunggu. Naik bus. Aku hampir lupa caranya naik bus di Jakarta. Maklum, di Depok adanya angkot. Naik pakai kaki kiri, dekap tas erat-erat, segera cari pegangan karena bus tidak akan pernah benar-benar berhenti, siapkan ongkos dengan uang pas karena kondektur akan segera mencolek: ’ongkos…!’

Ketika turun, jangan lupa, kaki kiri duluan menginjak aspal. Berani melanggar, alamat terpelanting ke aspal. Soal kaki kiri ini, seorang sodara dari kampung yang baru merantau ke Jakarta dulu punya kisah. Waktu kondektur bilang: ’hayo..kaki kiri… kaki kiri…’, dengan sewot dia menjawab:
”Kaki kiri… kaki kiri! Pakai kaki kanan aja jatuh, apalagi kaki kiri..!’

Dari Cawang, naik bus Mayasari jurusan Grogol, dengan sopir ’halak hita’ (baca: orang Batak), sempurna sekali perjalanan di pagi itu. Tidak seperti penumpang lain, diam-diam saya menikmati perjalanan yang penuh gejolak itu, karena saya mengerti percakapan si sopir dengan kondekturnya. Saya tahu ketika si sopir hendak menyalip Avanza di depan dan dengan gagahnya masuk ke jalur busway. Beberapa penumpang menjerit kaget sambil mengumpat si sopir karena bus oleng ketika menaiki jalur busway, tapi aku terpaksa menahan tawa mendengar komentar Amangboru itu:
’Pa sip ma isi. Naeng sahat do manang dang?’ (baca: ’diam aja dah. Mau nyampe gak?’).

Sekali-sekali berkantor di pusat keramaian Jakarta, asik juga. Tapi aku mulai bergidik membayangkan seandainya harus menjalani rutinitas itu tiap hari. Bergelut dengan keriuhan tak keru-keruan itu setiap pagi dan sore. Belum lagi kalau kereta mogok, jadwal molor, ada demonstrasi, dan seterusnya.

Saya jadi ingat cerita seorang dosen UI tentang survei tingkat stress orang-orang yang bekerja di Jakarta. Respondennya adalah para pegawai yang bekerja di kawasan Sudirman-Thamrin-Kuningan. Hasilnya? Sembilan dari sepuluh pegawai mengalami stress setiap kali berangkat dan pulang kantor. Yang heboh bukan tingkat stressnya itu, tapi pelampiasannya. Bagi responden laki-laki, mereka punya solusi mengatasi stresnya: selingkuh! Huahahahha…..

Hasil penelitian ini sempat kami jadikan ajang menakut-nakuti teman-teman perempuan yang suami atau pacarnya kerja di daerah STK. Moga-moga para lelaki mereka bukan bagian dari yang sembilan orang itu…

Jakarta…
Dulu sekali, bagi kami orang kampung, Jakarta adalah kota impian. Lambang kesuksesan. Kalau ada keluarga yang punya anak di Jakarta, rasanya hebat sekali. Apalagi kalau sewaktu-waktu orang Jakarta ini pulang ke kampung, wuihh…! Derajatnya seakan naik 180 derajat. Bagi sebagian besar masyarakat kampung, berangan-angan ke Jakarta adalah impian mahal. Maka kalau ada warga yang sudah pernah ke Jakarta, prestasinya mirip dengan orang yang lulus tes pegawai negeri.

Ketika tahun 91 menginjakkan kaki di Jakarta, tepatnya di pelabuhan Tanjung Priok, rasa itulah yang kuingat. Takjub, bangga, senang, keren, sekaligus… takut! Takut, apakah aku akan segera dapat pekerjaan di Ibukota ini.

Masa-masa itu, aku menikmati semua kekhasan Jakarta. Aku suka keramaiannya, senang dengan kesemrawutannya, happy di tengah-tengah kemacetan, terpesona dengan gedung-gedung pencakar langitnya, dan merasa gaya dengan bahasa ’elu’ ’gue’. Di awal-awal, kucinta Jakarta sepenuh hati, kuhirup dengan nikmat udaranya yang berpolusi.

Kini, vertigoku sering kambuh kalau harus ke Jakarta. Rasanya seperti ke sebuah pertandingan tanpa aturan main. Nyatanya, daya tarik Jakarta tak pernah surut…. walau kota ini seringkali hanya memberi rasa bangga sesaat, banyak orang tetap tersihir dengan pesonanya.

Andai bisa bersuara, mungkin Jakarta akan teriak: sapa suruh datang…?

—————
May 10, 2009 at 9:05am

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Life is beautiful!. Bookmark the permalink.

1 Response to Jakarta… sapa suruh datang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *