Berkendara di Jakarta… ‘nape?’

Sekitar 8 tahun lalu, ada hasil survei tentang ’keramahan’ di jalan raya di beberapa kota besar di berbagai negara (saya coba cari link nya, tapi koq gak ketemu ya). Hasilnya adalah Jakarta merupakan salah satu kota yang paling tidak ramah di jalanan. Apa pasal?
Gak usah dibahas kali yee… lebih menarik ngebahas pengalaman-pengalaman lucu di jalanan.

Lagipula, apa bedanya sih berkendara di Jakarta dengan di kota lain? Gak ada. Aturan mainnya sama aja koq. Rambu-rambu lalu lintas di Jakarta dengan di kota lain pun, sama. Tapi rasanya ada yang sangat berbeda dengan perilaku berkendara di Jakarta.

Saya pernah bertanya kepada teman-teman yang saban hari berkendara di Jakarta.
”Kenapa sih, harus ngebut? Apa nggak takut kecelakaan?”
Macam-macam jawabnya:
”Lha, kalau lambat, nyampenya sama dong dengan yang jalan kaki.”
”Yee… kalau gak gitu, gak nyampe-nyampe, tau!”
”Yaa.. semua juga gitu, masak kita aja yang lelet..”

Dari sekian ragam jawaban yang pernah kudengar, ada satu yang ’pas’.
”Berkendara di Jakarta, kalau lambat malah ketabrak!”
Bener. Kalau lambat, malah ditabrak. Karena yang lain semuanya melesat.

Beberapa kali berada diantara hingar bingar lalu lintas Jakarta, saya mencatat beragam pengalaman yang mau gak mau banyak yang kocak juga.
Perhatikanlah bahasa-bahasa yang berlaku di jalanan. Ketika ada pengendara yang nyelonong atau melakukan sesuatu yang mengganggu pengendara lain:
”Woii… dasar lu! SIM rombeng….!”
”A_ _ _ _ g lu! Gak lulus SIM apa?”
“Sialan! SIM boleh nyolong kaliii…!!!”
”Monyet! Gak pake SIM lu yak..!”

Kacian banget ya si SIM. Jadi kambing hitam.
Konon, di negara-negara maju, mendapatkan SIM bukan perkara gampang. Bagi penikmat berita-berita hollywood macam VOA, pastilah pernah mendengar beberapa selebritis terpopuler di Amrik yang harus berulang-ulang mengikuti tes mendapatkan SIM. Bagi mereka, mendapatkan SIM identik dengan pengakuan terhadap kehandalan IQ dan kedalaman EQ. Tidak hanya sebatas pengetahuan akan rambu-rambu lalu lintas, tapi juga kemampuan mengendalikan emosi. Entahlah, bagaimana test mendapatkan SIM di negeri ini…

Mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di jalanan Jakarta, manusia paling santun sekalipun bisa berubah jadi monster. Semua jenis makhluk yang ada di kebun binatang bahkan isi toilet leluasa ’berkeliaran’ di jalan raya; terucap dari mulut orang-orang yang sudah mengantongi SIM tadi.

Tapi pengalaman yang satu ini takkan terlupakan.

Waktu itu dua orang pengendara sepeda motor, entah kenapa ribut di tengah-tengah kemacetan. Keduanya lalu turun dari sepeda motor masing-masing, serempak membuka kaca helm penutup wajah, saling mendekat, dan dalam jarak kurang dari setengah meter saling menatap nanar ke mata lawan, dan…..: ’nape?’ Cuma itu! Ketika lalu lintas mulai lancar, keduanya segera menuju motor masing-masing dan melesat sambil mengumpat.

Aku ketawa ngakak lihat adegan itu. Jantung udah deg-degan menunggu apa yang akan terjadi, eh, yang terucap cuma: ’nape?” :))

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Life is beautiful!. Bookmark the permalink.

1 Response to Berkendara di Jakarta… ‘nape?’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *