Perpustakaan Pasca Bencana Alam *)

PENGANTAR
Sejak peristiwa tsunami di penghujung tahun 2004 memporakporandakan Banda Aceh, bencana alam seakan tak henti-hentinya melanda bumi nusantara yang kita cintai ini. Kehancuran alam dan kesengsaraan manusia menjadi bagian dari rutinitas yang tiap saat harus diakrabi. Tidak hanya kehancuran fisik, kelelahan mental dan penurunan daya tahan psikis serta kemampuan mengelola konflik yang diakibatkan bencana alam terus menerus membebani masyarakat di lokasi bencana. Kesemua kondisi ini menerpa semua kalangan khususnya yang berada di zona-zona yang rentan terhadap bencana alam. Dampak bencana alam tidak hanya menyusahkan bagi ibu-ibu yang memiliki anak-anak balita misalnya, atau para kepala rumah tangga pencari nafkah, atau anak-anak sekolah. Bencana alam berdampak pada semua orang, semua kalangan, tanpa memandang status sosial ekonomi, atau profesi.

Peristiwa bencana alam di berbagai daerah di Indonesia juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya membekali diri dengan berbagai pengetahuan seputar bencana dan cara-cara penanganannya. Perhatikanlah bagaimana departemen-departemen terkait (Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat – Menkokesra, Kementerian Sosial) melakukan berbagai sosialisasi penanggulangan bencana alam, atau bagaimana BMG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) secara proaktif menginformasikan keadaan dan prakiraan cuaca di berbagai penjuru nusantara sebagai acuan bagi masyarakat luas. Semua kegiatan itu dilakukan lebih gencar sejak terjadinya bencana alam yang bertubi-tubi di Indonesia. Masyarakatpun mulai peduli betapa pentingnya membekali diri dengan wawasan. Tidak hanya sebatas menambah pengetahuan, tapi juga mengantisipasi kemungkinan buruk di kemudian hari jika bencana yang sama muncul kembali.

Tindakan-tindakan tersebut relevan dilakukan oleh berbagai lapisan masyarakat karena dampak bencana berpengaruh ke proses keberlangsungan kehidupan pribadi, komunitas, dan sosial. Komunitas pustakawan adalah salah satu yang merasakan dampak besar dari bencana alam. Tidak hanya secara pribadi, namun juga dari sisi profesi. Betapa tidak! Bencana alam di beberapa daerah (seperti di Aceh, Yogya) telah menghancurkan beberapa gedung perpustakaan beserta sebagian besar isinya. Padahal ‘nyawa’ sebuah perpustakaan terletak di koleksi yang dimilikinya. Sangat disayangkan bahwa tidak ada data akurat yang dapat diakses tentang kerusakan dan kerugian yang dialami perpustakaan akibat bencana alam di tiap daerah. Atau, data itu mungkin ada, namun tidak terpublikasikan sehingga masyarakat umum sulit mengaksesnya. Penulis sendiri telah mencoba menelusur melalui mesin pencari namun tidak berhasil. Yang ada adalah kilasan berita tentang kehancuran beberapa perpustakaan di daerah bencana alam atau berita tentang pustakawan yang menjadi korban bencana alam. Sesungguhnya ketersediaan data ini sangat dibutuhkan jika kita ingin menganalisis dampak bencana alam pada perpustakaan, sehingga dari analisis tersebut kita dapat menyusun rencana atau menentukan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan pustakawan untuk bangkit kembali pacsa bencana. Karena itu artikel pendek ini hanya akan mencoba mendiskusikan hal-hal prinsip yang penting diketahui atau dipahami pustakawan dalam kaitannya dengan bencana alam.

PEMBAHASAN
Seperti telah disinggung di atas, dampak bencana alam menimpa semua kalangan masyarakat yang berada di daerah bencana, tanpa memandang status atau profesi. Maka ketika kita membicarakan dampak bencana alam kepada pustakawan misalnya, sama saja dengan membahas dampak bencana kepada yang bukan pustakawan. Bahwa bencana tersebut menghadirkan kepiluan, menimbulkan kerugian materil, dan menciptakan frustrasi dan stress. Namun selalu ada sisi menarik jika kita mencoba mengkaji dari sudut profesi, bukan dari segi pribadi sebagai korban bencana alam. Akan halnya dengan perpustakaan, menurut hemat penulis ada 2 hal pokok yang perlu dibicarakan kembali terkait dengan penanganan pasca bencana alam, yakni preservasi dan manajemen resiko di perpustakaan.
Preservasi koleksi: mutlak bagi pustakawan!

Kita sering mendengar masyarakat membandingkan perpustakaan dengan toko buku dalam hal kelengkapan koleksi dan sebagai tempat yang asik untuk membaca. Secara kasat mata, toko buku memang jauh lebih menarik dikunjungi daripada perpustakaan. Tidak hanya karena jenis buku yang beragam di toko buku, tapi juga karena di toko buku ada ruang yang sifatnya pleasure atau hiburan. Akibat perbandingan itu, tanpa disadari masyarakat juga sering membandingkan peran dan fungsi perpustakaan dengan toko buku. Sesuatu yang sebetulnya memang tidak perlu dibandingkan karena jelas berbeda. Toko buku hanya berurusan dengan penjualan, dan untuk mencapai target itu manajemen suatu toko buku melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian pembeli. Artinya, toko buku hanya berkepentingan pada’kapan buku itu terjual’. Semakin banyak terjual, makin meningkatlah performancenya. Sebaliknya dengan perpustakaan. Target perpustakaan berkaitan dengan jumlah pembaca, bukan jumlah pembeli. Semakin banyak pengguna yang membaca buku yang ada di perpustakaan, semakin bagus kinerjanya. Karena itu perpustakaan harus yakin bahwa sebanyak mungkin koleksi selalu tersedia di perpustakaan supaya dapat dibaca pengguna sesering mungkin dan sebanyak mungkin. Maka, jika toko buku bertujuan menghabiskan (menjual) buku di rak display secepat dan sebanyak mungkin, perpustakaan bertujuan menyediakan dan menambah buku di rak sebanyak dan sesering mungkin. Karena itu pula toko buku sesungguhnya tidak memiliki fungsi preservasi atau pelestarian.Yang bertugas mengemban fungsi itu adalah perpustakaan. Fungsi preservasi ini tidak semata-mata untuk menyimpan sebuah bahan pustaka supaya dapat diakses pengguna, tapi sekaligus juga sebagai bukti tertulis perkembangan pengetahuan dan peradaban manusia dari masa ke masa.

Sebagai salah satu pusat informasi yang bertugas mengumpulkan, mengolah dan menyajikan bahan pustaka bagi kepentingan pengguna, perpustakaan harus menerapkan langkah-langkah pelestarian bahan pustaka sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang relatif lama, dan terhindar dari kerusakan.

Menurut Dureau dan Clement, tujuan pelestarian bahan pustaka adalah melestarikan kandungan informasi yang direkam dalam bentuk fisiknya, atau dialihkan pada media lain, agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. Pelestarian (preservation) tidak saja mencakup unsur pengelolaan tapi juga unsur keuangan, termasuk cara penyimpanan dan alat-alat bantunya, tenaga kerja yang diperlukan, kebijaksanaan, teknik dan metode yang diterapkan untuk melestarikan bahan-bahan pustaka serta informasi yang dikandungnya.

Konsep Dureau dan Clement tersebut mengandung pengertian bahwa preservasi bahan pustaka menyangkut usaha yang bersifat preventif, kuratif dan juga mempermasalahkan faktor-faktor yang mempengaruhi pelestarian bahan pustaka tersebut. Artinya, pustakawan harus memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pencegahan kerusakan bahan pustaka akibat berbagai hal, termasuk bencana alam. Pustakawan perlu memahami faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka, sehingga dapat memberikan perlakuan yang tepat dalam melakukan preservasi.

Menurut Dureau dan Clement, faktor internal berkaitan dengan faktor buku itu sendiri, yaitu bahan kertas, tinta cetak, perekat dan lain-lain. Kertas tersusun dari senyawa-senyawa kimia, yang lambat laun akan terurai. Penguraian tersebut dapat disebabkan oleh tinggi rendahnya suhu dan kuat lemahnya cahaya. Kandungan asam pada kertas akan mempercepat kerapuhannya. Sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh faktor luar dari buku, yang dapat dibagi faktor manusia dan faktor bukan manusia. Faktor manusia, yaitu kerusakan bahan pustaka yang disebabkan pemanfaatan dan perlakuan terhadap bahan pustaka yang kurang tepat. Manusia, meliputi pustakawan sebagai orang yang memberikan layanan, dan pengguna yang terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan dan pihak luar. Larangan membawa makanan, minuman ke dalam ruang perpustakaan bukan merupakan hal yang tanpa alasan, sebab ceceran sisa makanan atau kandungan inyak, jika menempel pada buku akan mengundang serangga atau tikus. Pengguna perpustakaan kadang melipat halaman bagian yang dianggap penting, akan menyebabkan cepat rusaknya buku tersebut. Faktor bukan manusia, antara lain: suhu dan kelembaban udara, serangga dan binatang pengerat, kuat lemahnya cahaya, perabot dan peralatan, dan bencana alam seperti gunung meletus, banjir, kebakaran, tsunami. Kesemua faktor ini harus menjadi bahan pertimbangan pustakawan dalam menentukan rancangan dan disain gedung serta memilih perabotan dan peralatan terkait dengan operasional di perpustakaan.

Pendapat senada tentang preservasi juga diungkapkan oleh Joyce R. Russel yang mengatakan bahwa pemeliharaan pencegahan memerlukan kondisi penyimpanan yang aman di dalam gedung dan penanganan bahan pustaka, serta meliputi ketentuan ruang penyimpanan yang memadai dan tempat penyimpanan yang sesuai untuk bahan pustaka yang mudah rusak; program pelatihan untuk staf perpustakaan untuk memastikan bahwa bahan pustaka ditangani dengan cara yang akan meminimalkan kerusakan mekanik, penetapan dan pemberlakuan peraturan penggunaan untuk mencegah kerusakan terhadap koleksi selama konsultasi dan pameran; meningkatkan kesadaran konvervasi di antara rekan kerja, staf dan masyarakat umum; pembentukan organisasi dan kerjasama dalam proyek pemeliharaan mikro film; mendukung dan mendorong penelitian konservasi; dan partisipasi dalam perencanaan penanganan bencana.

Masih menurut Russel, ada beberapa prinsip tentang konservasi pencegahan, yaitu:
1) Perpustakaan harus mempunyai tujuan untuk menciptakan lingkungan konservasi menyeluruh yang paling baik.
2) Ruang penyimpanan (deretan rak buku) harus dilengkapi dan dirawat untuk memastikan bahwa kondisi-kondisi dan fasilitas yang sesuai telah diberikan.
3) Semua staf perpustakaan harus dilatih untuk menangani bahan pustaka dengan cara-cara yang akan memperkecil kerusakan mekanis, dan staf harus memastikan bahwa pengguna perpustakaan menggunakan bahan pustaka secara hati-hati.
4) Pustakawan harus bekerja untuk meningkatkan kesadaran konservasi.
5) Proyek pemeliharaan mikrofilm harus didorong dan didukung di mana standard mikrofilm yang ditetapkan dipatuhi.
6) Peraturan penyelenggaran pameran harus disiapkan untuk melindungi bahan pustaka yang akan dipamerkan di (perpustakaan) dalam gedung (in-house) dan syarat-syarat untuk peminjaman bahan pustaka yang akan dipamerkan di luar institusi (perpustakaan).
7) Suatu perencanaan terhadap bencana harus disiapkan dan ditinjau dalam jangka waktu tertentu.
8) Seorang pustakawan terlatih harus ditunjuk dan diberikan wewenang untuk melaksanakan suatu program konservasi berdasarkan kepada prinsip-prinsip ini.

Mengacu kepada prinsip-prinsip ini, maka jelas sekali bahwa pustakawan harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan tentang preservasi bahan pustaka. Hal ini harus didukung pula oleh kebijakan organisasi sehingga ketika ada bencana alam, pustakawan mampu mengatasi segala kemungkinan terburuk untuk meminimalisasi dampak buruk bagi kerusakan bahan pustaka. Pengetahuan mengenai preservasi akan menggiring pustakawan kepada pengambilan keputusan yang tepat. Contoh sederhana misalnya, jika pustakawan paham pentingnya preservasi dengan meminimalisasi kerusakan koleksi apalagi jika ada bencana alam, maka ruang koleksi akan ditempatkan di lantai yang lebih tinggi jika daerah tempat perpustakaan itu berada sering dilanda banjir. Atau jika daerah lokasi perpustakaan berada adalah di daerah tropis, maka antisipasi terhadap ancaman kebakaran dan kerusakan koleksi akibat udara panas akan menjadi prioritas pustakawan dengan menyediakan pendingan udara yang sesuai dan membekali staf perpustakaan dengan pengetahuan penggunaan alat-alat pencegah kebakaran.
Manajemen resiko: suatu keharusan yang baru…

Mengutip pengertian dari www.wikipedia.org, manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum.

Tidak hanya organisasi bisnis, saat ini manajemen resiko sudah menjadi concern utama banyak lembaga termasuk perpustakaan. Pentingnya pengetahuan dan penerapan manajemen resiko didasari kesadaran bahwa segala benda di dunia ini memiliki resiko untuk mengalami kerusakan, termasuk diri kita sendiri. Bencana merupakan kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat merusak. Karena sifatnya yang tiba-tiba dan tidak diharapkan itulah maka diperlukan perencanaan dalam mengantisipasi terjadinya bencana. Kita perlu menganalisa resiko-resiko apa saja yang ada, berapa besar peluang resiko tersebut terjadi, beserta berapa besar kerugian yang akan dialami. Untuk resiko-resiko yang dapat menimbulkan kerugian besar ataupun memiliki peluang tinggi, kita perlu menyiapkan rencana antisipasi agar kehidupan rutin kita jangan sampai terlalu banyak terganggu apabila kerusakan tersebut terjadi. Intinya manajemen perusahaan harus menyadari bahwa dalam bisnis apapun ada resiko. Resiko pun tidak hanya berdampak materi namun juga bisa bersifat strategis, misalkan adanya perubahan kebijakan, perubahan tren teknologi atau mungkin dari faktor pelanggan. Dengan kesadaran ini maka diharapkan perusahaan bersifat proaktif dalam perencanaan pengendalian resiko.

Di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan, saat ini sudah banyak yang memiliki bagian khusus seperti Risk Manager yang berfungsi untuk identifikasi, assesment, monitoring resiko dan membuat langkah dan kebijakan yang diperlukan. Walau tergolong profesi baru, ada baiknya pustakawan juga memikirkan pembentukan divisi ini di perpustakaan, khususnya perpustakaan yang berlokasi di daerah rawan bencana alam. Setidaknya ada orang-orang di perpustakaan yang menjadi bagian dari divisi penanganan bencana dari lembaga induknya.

Setiap profesi pasti memiliki tantangan dan kesulitan tersendiri, entah itu berasal dari diri si pemangku profesi ataupun dari luar dirinya. Penanganan terhadap setiap jenis kesulitan pun tidak selalu sama bagi tiap orang atau tiap profesi. Namun yang pasti, bahwa dampak bencana alam bagi siapapun dipastikan memerlukan sikap tangguh dan mampu bertahan menghadapi segala kemungkinan terburuk. Selain pengetahuan dan ketrampilan tentang preservasi dan manajemen risiko seperti telah diuraikan di atas, pustakawan perlu membekali diri dengan sikap-sikap pribadi yang bersifat positif. Hal-hal seperti ini dapat dicapai melalui bahan-bahan bacaan ataupun berbagi pengalaman di komunitas, atau melalui pelatihan pengembangan diri yang dilakukan perpustakaan. Sederhananya adalah: membekali diri dengan sikap-sikap positif untuk meminimalisir dampat buruk bencana baik bagi kehidupan pribadi maupun organisasi. Akan lebih sempurna andai program-program yang mengarah ke pembentukan sikap positif ini terintegrasi dengan program lembaga atau asosiasi profesi perpustakaan, sehingga secara komunitas pustakawan memiliki kekuatan yang solid dalam mengantisipasi dan mengatasi dampak bencana alam.

PENUTUP
Pasca bencana alam di berbagai daerah yang menimbulkan kerugian pada perpustakaan tidak banyak disorot oleh media, masyarakat umum, atau bahkan oleh pustakawan itu sendiri. Periksalah di berbagai kegiatan yang pernah dilakukan oleh asosiasi profesi perpustakaan maupun oleh perpustakaan-perpustakaan yang rajin menggelar acara, jarang sekali yang menyentuh topik ini. Mungkin saja pustakawan menganggap ini sebagai sesuatu yang harus diterima, sebagaimana banyak orang memaknai bencana alam sebagai takdir atau teguran dari Tuhan. Mungkin pula pustakawan lebih fokus pada kerugian yang dideritanya sebagai pribadi, dan menganggap bahwa kerugian pada lembaga tempatnya bekerja (perpustakaan) bukanlah tanggung jawabnya. Namun perlu disadari bahwa ketika kita memilih bergabung dalam suatu organisasi, otomatis kita juga menjadi bagian dari organisasi itu. Apapun yang terjadi pada organisasi itu akan berdampak pada diri kita sendiri. Alangkah ironisnya jika kita mengharapkan masa depan yang lebih baik dari organisasi tempat kita bekerja, namun dalam waktu yang sama kita justru tidak peduli pada keberlangsungan organisasi tersebut.

Karena itu pustakawan diharapkan memiliki sikap dan pemahaman akan hal-hal berikut:
1) Memahami daerah tempatnya bekerja, apakah di zona rawan bencana alam, dan jenis bencana alam yang kerap terjadi. Pemahaman ini akan membantu pustakawan mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan terburuk jika terjadi bencana alam.
2) Memiliki konsep dan pengetahuan yang memadai tentang preservasi bahan pustaka. Pengetahuan ini mutlak karena pustakawan pasti akan selalu berurusan dengan preservasi koleksi perpustakaan. Preservasi ini juga tidak semata-mata yang berkaitan dengan bencana alam, namun juga preservasi rutin. Perlu dicatat bahwa sesungguhnya ‘bencana’ itu tidak selalu muncul dalam bentuk kerusakan besar-besaran, namun juga kerusakan-kerusakan kecil dan rutin yang jika tidak diacuhkan sejak awal akan menjadi bencana besar.
3) Memahami dan memiliki kemampuan menerapkan manajemen risiko di perpustakaan untuk meminimalisasi kerugian yang diakibatkan bencana alam apapun. Manajemen resiko juga akan membantu pustakawan menjadi sosok yang tangguh dalam menghadapi bencana alam, karena dalam konsep tersebut otomatis diperlukan kematangan berpikir dan bertindak.

Terlepas dari semua itu, satu hal yang penting diingat adalah bahwa bencana alam adalah bagian dari kehidupan alami umat manusia, resiko dari sebuah kehidupan alam. Setiap bencana alam memiliki alasan alamiah pula. Sebagai makhluk berakal budi, setiap insan selayaknyalah mampu memaknai setiap bencana dengan pikiran-pikiran logis sehingga kita tak perlu terjebak pada konsep bencana sebagai kutukan alam atau takdir dari Yang Maha Kuasa.

Bahan Bacaan
Russell, Joyce R. 1980. Proceedings of a seminar sponsored by the Library Binding Institute and the Princeton-Trenton Chapter of Special Libraries Association held at Rutgers University July 20-21, 1979: 96 p. Seminar on the Preservation of Library Materials. New York: Special Libraries Association

Principles for the preservation and conservation of library materials / by J.M. Dureau and D.W.G. Clements IFLA Section on Conservation, The Hague The Hague : IFLA Section on Conservation, 1986.
25 p.
———————
Oleh: Kalarensi Naibaho
*) dimuat di Info Persada

About Kalarensi Naibaho

Librarian
This entry was posted in Publikasi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *