BAMBANG WIDIANTO’s blog
Welcome at » 1

Bambang Widianto – FKAI / PPSML-PPsUI 2008

Lahan dan ladang merupakan dua hal yang berbeda tetapi saling berhubungan. Tiap ladang mensyaratkan adanya lahan, tetapi tiap lahan tidak selalu menjadi ladang. Lahan adalah bidang tanah dengan berbagai bentuk dan posisinya di muka bumi. Lahan beserta ruang diatasnya membentuk dan menentukan berbagai kehidupan di atasnya bersama sama iklim yang berlaku di posisi itu. Dalam konteks ekologis, lahan adalah daratan di muka bumi yang menjadi ruang dengan segala kehidupan di dalamnya yang terjalin dengan aliran materi, daya dan informasi. Jalinan aliran materi, daya dan informasi ini membentuk lingkungan. Lingkungan juga membentuk manusianya dan dirubah oleh manusianya. Interaksi manusia dengan lingkungannya yang sudah terjalin sejak ribuan tahun menghasilkan sejumlah bentuk strategi adaptasi. Pada awalnya manusia bertahan dengan strategi adaptasi pengumpul-berburu, kemudian dilanjutkan dengan perladangan-perkebunan, seterusnya dengan peternakan. Setelah itu berkembang pertanian intensif, dan strategi yang terakhir adalah dengan cara kehidupan industri. Strategi perladangan-pekebunan sering dianggap sebagai awal dari peradaban, karena manusia mulai menandai wilayah yang dipakai dan dimiliki bagi kelangsungan hidupnya. Manusia tidak merubah bentang alam (lingkungan) di tahap berburu-meramu, namun mulai merubah dalam skala kecil di tahap perladangan, serta peternakan. Pada bentuk strategi adaptasi kedua perubahan bentang alam sedikit terjadi dan ada keterbatasan oleh musim. Pada tahap pertanian intensif manusia mulai merubah lingkungan dan memanfaatkan prinsip grafitasi untuk mendistribusikan air melalui sistem irigasi. Keterbatasan oleh musim membuat manusia mampu menandai saat menanam yang tepat dengan melihat pada posisi bintang seperti Orion. Saat produksi pangan bisa dismpan dan saat proses produksi-distribusinya terkendali maka kotapun lahir. Pembangunan kota sering merubah bentang alam dan bertujuan melawan pembatasan dari musim. Pada strategi adaptasi manusia yang terakhir yaitu industri manusia sudah bisa mengurangi keterbatasan dari musim dan iklim. Namun kota dan industri sudah meninggalkan proses alamiah dan mematikan indera manusia dalam interaksinya dengan lingkungan. Manusia mampu menerapkan informasi melalui rencana dan blue print-nya untuk produksi-distribusi, namun mengabaikan faktor penentu dari lingkungan. Faktor penentu ini adalah iklim dan keadaan topografis dari lokasi kegiatan industrinya.

Daniel Chira yang ahli lingkungan dan WL Thomas ahli geografi-budaya mengambil pendapat para antropolog-arkeolog yang menyatakan bahwa perladangan-perkebunan di Asia diawali di daerah sekitar Timur-tengah dan Selatan Asia yaitu di India, dan Asia Tenggara. Yehudi Cohen dan Phillip Kottak yang antropolog melihat bahwa perladangan adalah langkah awal manusia yang mulai merubah lingkungannya walaupun dalam skala yang kecil. Sebagai suatu sistem produksi makanan, strategi adaptasi perladangan mengambil lahan secukupnya. Para peladang tetap menyediakan atau menyisakan lahan untuk penanaman di masa depan sekaligus untuk memulihkan kesuburannya kembali. Dalam hal ini Otto Soemarwoto pernah mengingatkan pentingnya melaksanakan “prinsip secukupnya” dalam pemanfaatan sumberdaya lahan. Hadirnya lahan (ruang) yang di-cadang-kan, menunjukkan pemanfaatan yang bersifat protektif. Di kalangan peladang sering ada daerah terlarang yang harus selalu di lindungi dan samasekali tak boleh dijamah, dan umumnya berada di sekitar mata air. Sifat protektif (preservation principle) sebagai prinsip dari perladangan ini, sering tidak terlihat dan diabaikan oleh orang luar. Ahli filsafat Australia yaitu Warwick Fox memilah interaksi manusia dengan lingkungannya dalam beberapa pola. Pola interaksi pertama manusia mengeksploitasi lingkungan semaksimal mungkin. Pola kedua manusia memanfaatkan lingkungannya dengan prinsip konservasi untuk produksi. Pola ketiga manusia memanfaatkan lingkungannya dengan prinsip protektif untuk menjaga keautentikan dari sebuah sumberdaya alam. Fox juga mengajukan bebrapa alasan (argument) yang menjelaskan pola interaksi manusia dengan lingkungan yang juga menyisakan sebidang tanah dalam pemanfaatan lahan menjadi ladang.

1)         Ruang sebagai sistem penunjang kehidupan (life support system argument), yang melihat bahwa bidang tanah yang masih disisakan sebagai hutan yang menjadi sistem penunjang kehidupan dalam ekosistem.

2)         Sebagai sistem peringatan dini (early warning system argument) atas berbagai gejala alam dan potensi bencana. Ada anggapan jika akan terjadi suatu gangguan (bencana) maka khewan (burung2) penghuni habitat di dekat ladang akan berlarian pergi dan terbang.

3)         Sebagai gudang (silo argument), lingkungan disini dapat dilihat sebagai tempat penyimpanan dan pemeliharaan bahan (makanan, obat, bahan untuk alat-alat).

4)         Sebagai lahan (ruang) yang disisakan karena dianggap memiliki makna spiritual – keagamaan (cathedral argument), contohnya Leuweng Kolot dan Leuweng Titipan sebaai hutan keramat di daerah gunung Halimun.

Lahan dan ladang merupakan dua hal yang menjadi satu melalui kegiatan manusia yang berujud pembukaan lahan. Ada kelompok yang memanfaatkan semaksimal mungkin dan ada yang memanfaatkan secukupnya saja. Jika sejumlah warga negara Indonesia memanfaatkan secukupnya maka dapat diharapkan membantu kemandirian pangan dan kelestarian lingkungan. Kemandirian tersebut meringankan tugas lembaga lembaga pemerintah yang menangani keterasingan (Departemen Sosial), dan pengadaan pangan (Departemen Pertanian dan Bulog). Namun keadaan yang seperti ini bukan berarti lengah terhadap kepentingan yang global di balik berbagai pembukaan lahan. Perhatian dan pengawasan tetap harus di arahkan pada berbagai kepentingan dan pelaksanaan dari pembukaan lahan yang mendesak kebutuhan lokal.

Bambang Widianto

Peneliti di PPSML-PPsUI dan anggota Forum Kajian Antropologi Indonesia