Bau Anyir Darah di Televisi

Posted 8 years, 9 months ago at 3:33 pm. 0 comments

Dikutip dari harian KOMPAS, Senin, 10 November 2008

Sarie Febriane/Neli Triana

Suatu siang pada Maret 2007. Sebuah kantor kecil agen tenaga kerja di kawasan Cinere, Depok, ramai diduduki puluhan orang, korban penipuan. Dari kerumunan orang itu, suara-suara keluhan, mengomel, terdengar bersahutan. Namun, keadaan masih damai-damai saja.

Sejumlah kamerawan dari beberapa stasiun televisi swasta lalu datang meliput. Rupanya beberapa kamerawan merasa tak puas. Tak ada adegan dramatis yang bisa diambil. ”Kalo kecewa bantingin aja Pak, komputer-komputernya,” celetuk seorang kamerawan.

Tak perlu menunggu lama, para korban penipuan itu pun langsung tersulut. Mereka mengamuk, membantingi komputer di bawah sorot kamera.

Gambaran di atas merupakan potret ”kecil” menyedihkan dari praktik jurnalisme saat ini. Kekerasan telah menjadi suatu komoditas. Berita kekerasan tak hanya dicari dan dieksploitasi. Kekerasan pun sengaja dibuat, lalu diberitakan.

Pengajar Jurnalistik Televisi dari Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia Awang Ruswandi mengatakan, potret itu merupakan cermin dari industri media yang semakin dikuasai pasar. Akibatnya, etika diabaikan, rekayasa dihalalkan.

Realitas kriminalitas

Selama ini, kritik pedas terhadap media massa kerap menyorot soal saratnya suguhan kekerasan, khususnya dalam berita-berita kriminal. Tayangan semacam itu diyakini sangat berpengaruh buruk kepada anak-anak. Namun, potensi bahaya tak cuma sebatas itu. Tayangan kekerasan, seperti berita kriminal, juga memengaruhi realitas kriminalitas itu sendiri.

”Jika pada anak-anak efeknya langsung, pada orang dewasa efeknya tertunda. Tayangan kriminalitas yang ditampilkan vulgar di televisi memang berpotensi besar diimitasi oleh orang dewasa saat dia berada dalam kondisi yang serupa,” kata Ade Erlangga Masdiana, kriminolog dari Universitas Indonesia.

Erlangga menjelaskan, kasus maraknya pembunuhan disertai mutilasi pada tahun 2008 adalah salah satu indikasi terjadinya proses peniruan (kemasan kejahatan) melalui media massa. Proses peniruan tersebut merujuk pula pada teori sosiolog asal Perancis, Gabriel Tarde, yang menyebut perilaku dalam masyarakat akan selalu saling tiru, tak terkecuali dalam hal perilaku kriminalitas. Dalam proses peniruan itulah media massa malah berperan sebagai fasilitator.

Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Bimo Nugroho mengatakan, analisis hasil pengamatan KPI menunjukkan, media televisi semakin banyak mengumbar tayangan yang penuh adegan kekerasan. Ini merupakan strategi untuk menang dalam persaingan yang semakin ketat antarmedia televisi. Kekerasan, mistik, dan seks merupakan tiga aspek yang mampu mendongkrak rating televisi. Posisi rating berujung pada rupiah yang mampu dikeruk melalui iklan. Ketiga aspek tadi boleh dikatakan resep laris dagangan televisi.

Memang disukai

Gafar Yutadi, Manajer Departemen Pemberitaan Televisi Indosiar, mengakui bahwa peristiwa kriminal yang dikemas dalam segmen acara kriminal khusus, yakni Patroli, menjadi andalan utama. Acara yang diakunya berating paling tinggi (rata-rata 15 sejak September-November 2008) tersebut tetap digemari penonton sejak hampir 10 tahun lalu.

Patroli merupakan pionir tayangan berita kriminal di televisi. Gafar mengatakan, tayangan itu awalnya dibuat pada tahun 1999 untuk mengimbangi euforia berita politik pasca-reformasi 1998. Resep tayangan kriminal itu, menurut Gafar, adalah aspek atraktif dari materi berita. ”Kami pilih yang gambarnya atraktif. Biasanya kejahatannya yang keras, dramatis, ada korban jiwa,” kata Gafar.

Pada perkembangannya, Gafar mengatakan, redaksi terus berupaya belajar dan mengoreksi diri, terlebih kritik publik kerap tertuju pada tayangan semacam itu. Gambar-gambar yang vulgar disensor dengan dikaburkan. Anak kecil yang menjadi saksi kejahatan tidak lagi diwawancarai. Wajah penjahat pun dikaburkan.

”Ketika kami mulai berubah seperti itu, di Palembang pernah ada orang berbondong-bondong protes kenapa banyak disensor. Mereka marah, minta dikembalikan seperti semula,” kata Gafar.

Terkait hal itu, Erlangga mengingatkan, media massa tidak semata institusi bisnis, tetapi juga mengemban tanggung jawab sosial yang sangat penting. Selalu memenuhi keingintahuan publik tidak selamanya baik.

Kesadaran

Bimo mengatakan, dalam kondisi demikian, orangtua atau orang dewasa wajib mendampingi anak-anak menonton televisi. Sebab, tayangan kekerasan bisa hadir di setiap program, termasuk dalam iklan. Selain itu, KPI juga mendorong realisasi perubahan struktur industri pertelevisian, yaitu membatasi televisi nasional dan memperbanyak penyiaran lokal.

”Hal ini untuk melokalisasi efek negatif dari tayangan televisi. Monitoring dan penanggulangan maupun antisipasi dampak juga akan lebih mudah pada penyiaran lokal,” kata Bimo.

Erlangga menambahkan, kesalahan bukan pada tindakan memberitakan peristiwa kriminal, melainkan cara mengemas pemberitaan itu yang harus ditinjau menyeluruh dengan penuh kesadaran. Tak cukup sekadar mengaburkan wajah pelaku atau korban.

”Hentikan tayangan rekonstruksi yang berpotensi besar ditiru. Selain itu, jangan lagi mengekspos keluarga pelaku, fokus pada pelaku kejahatannya saja secara proporsional,” kata Erlangga. ***

Kekerasan, Bingkai Besar Kriminalitas

Posted 8 years, 9 months ago at 1:22 am. 0 comments

Dikutip dari harian KOMPAS, Selasa, 4 November 2008
Sarie Febriane dan Iwan Santosa

Merebaknya budaya kekerasan di tengah masyarakat saat ini merupakan bingkai besar dari ragam praktik kriminalitas dengan berbagai gradasi kekejian. Di tengah kondisi itu media massa seharusnya kembali kepada perannya yang juga mengemban tanggung jawab sosial. Media massa tidak sepatutnya terus terjerumus dalam kendali pasar serta mengutamakan kepentingan modal.

”Bingkai besarnya adalah kekerasan yang menjadi budaya di tengah masyarakat kita. Kekerasan menjadi jalan, menjadi cara yang digunakan masyarakat dalam menghadapi masalah. Demokrasi yang kita nikmati saat ini adalah demokrasi yang menciptakan kekerasan. Kriminalitas menjadi salah satu wujudnya,” kata Hotman Siahaan, sosiolog dari Universitas Airlangga.

Hotman menambahkan, secara akademis dan statistik memang belum dapat dikatakan bahwa kriminalitas saat ini cenderung makin keji atau sadis. Sebab, di masa lampau pun tindak kriminalitas yang keji atau sadis beberapa kali telah terjadi.

”Meski begitu, frekuensi kriminalitas yang tampak berturut-turut bisa mengindikasikan masyarakat saat ini berada dalam situasi yang anomali, cenderung mencari cara gampang, penyelesaian yang cepat, dengan segala risikonya,” kata Hotman.

Hotman menjelaskan, situasi anomali merupakan suatu keadaan tidak normal, kacau, dan gamang. Realitas sosial saat ini, kata Hotman, banyak diwarnai oleh kekerasan dengan berbagai gradasinya. ”Mulai dari kekerasan politik, yang saban hari kita lihat di media. Masyarakat mudah marah tanpa takut terhadap konsekuensi hukumnya, gejala sektarian menguat, masyarakat tidak bisa memahami perbedaan. Tanpa ada rasa tanggung jawab dan dampak hukumnya,” papar Hotman.

Media massa

Dalam kondisi demikian, menurut Hotman, media sedikit banyak turut berperan.

”Sebenarnya masih debatable (diperdebatkan) apakah media massa membuat orang melakukan imitasi praktik kekerasan. Namun, ada juga yang berpendapat media justru membingkai bahwa perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum akan mendapat ganjarannya sehingga orang tidak mudah berbuat kriminal,” kata Hotman.

Terlepas ada atau tidak pengaruh media, Hotman berpandangan, media massa harus sekuat mungkin mempertahankan perannya dalam mengemban tanggung jawab sosial. Meskipun, tambah Hotman, media massa cenderung terkungkung dalam kekuasaan pasar dan persaingan antarmedia yang ketat.

Senada dengan Hotman, Awang Ruswandi, pengajar Jurnalistik Televisi di Departemen Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di tengah masyarakat, termasuk yang berujung pada praktik kriminalitas.

Paling tidak, menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam perbuatan kriminal.

”Kasus Smack Down (acara di televisi yang menginspirasi anak kecil berbuat serupa), misalnya, itu terbukti. Tayangan rekonstruksi perbuatan kriminal di televisi dengan detail itu juga sebenarnya tidak beretika,” kata Awang.

Awang berpendapat, sebagian praktisi media, khususnya televisi, tidak lagi berpedoman kuat kepada etika jurnalistik. Peristiwa kriminal dieksploitasi sedemikian rupa tanpa mengindahkan etika. Menurut Awang, penyebabnya adalah industri media massa cenderung semakin digerakkan kepentingan pasar. Kriminalitas menjadi komoditas.

”Market-driven journalism, begitu gambarannya,” kata Awang.

Kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, mengatakan, dalam hal kecenderungan gejala copycat (meniru) peristiwa kriminalitas, media massa sebatas merupakan penyebab antara.

”Praktik kriminalnya itu sendiri banyak faktor yang mendorong. Sementara, informasi dari media massa hanya menginspirasi caranya. Memutilasi, misalnya, lebih didorong oleh keinginan kuat untuk menghilangkan jejak, Sebab, pelaku sadar bahwa identitas korban adalah entry point bagi polisi untuk menuju ke pelaku,” kata Adrianus.

Senada dengan Adrianus, psikolog sosial Sartono Mukadis meyakini gejala copycat, jika toh demikian, tidak begitu saja terjadi. Sartono lebih cenderung meyakini sudah ada sesuatu yang salah di tengah masyarakat saat ini. Sartono menjelaskannya sebagai kondisi state of anomie, suatu kondisi masyarakat yang gamang karena mulai kehilangan norma.

Penuh perhitungan

Kesadaran pelaku kriminal tersebut justru dianggap Adrianus sebagai indikasi yang ”positif”. Menurutnya, masyarakat, termasuk pelaku kejahatan, sadar bahwa segala ruang saat ini telah terjangkau oleh hukum.

Dengan demikian, praktik kriminalitas harus dilakukan dan disembunyikan dengan upaya lebih keras. Pelaku kejahatan menjadi lebih kalkulatif. Dalam hal ini, mutilasi, menurut Adrianus, boleh dibilang cermin dari upaya keras itu. Sebab, hampir semua kasus mutilasi bertujuan menghilangkan jejak pelaku dengan cara merusak korban sehingga tanpa identitas.

Selain faktor media massa, Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret, Solo, mencermati dampak urbanisasi yang membuat kaum urbannya mengalami perubahan perilaku, mulai dari aspek materialisme sampai kekerasan.

”Hal-hal buruk dari Jakarta (kota) pun tertular dan dibawa pulang ke tempat asal. Begitu pula kekerasan, menjadi mudah diadopsi,” imbuh Sudarmono.

Sudarmono menilai sejarah negeri ini memang ”kaya” akan cerita kekerasan berikut kekejiannya. Bahkan, sejak zaman raja-raja Jawa berkuasa luas. Sudarmono memberi contoh pada suatu masa pernah ada seorang penjahat yang dihukum dengan dikuliti, lalu kulitnya dilekatkan di pintu alun-alun selatan Kota Solo sebagai peringatan.

Terlepas dari rentetan sejarah itu, bagaimanapun kekejian terus menggejala. Tak heran, Sartono pun bertanya apakah saat ini merupakan gejala mass neurosis, gangguan mental massal?

Kejahatan Semakin Beragam

Posted 8 years, 9 months ago at 7:45 am. 0 comments

Dikutip dari harian KOMPAS, Selasa, 4 November 2008

Jakarta, Kompas – Dokter ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Abdul Mun’im Idris, Senin (3/11), mengatakan, jenis kejahatan, terutama pembunuhan, saat ini makin beragam dan cenderung meniru. Mutilasi dan mayat dalam koper, misalnya, telah menjadi tren yang terus berulang serta makin sulit diungkap pelakunya.

”Lihat juga kasus Robot Gedek. Setelah ia ditangkap polisi, tak lama berselang muncul kasus kematian lima bocah laki-laki serupa dengan kasus Robot Gedek. Pada tahun 2008, ada lagi pembunuhan dua bocah laki-laki dengan luka bekas sodomi dan kekerasan fisik di tubuhnya. Pelakunya belum terungkap hingga kini,” kata Mun’im Idris.

Sepanjang tahun 2008, terjadi sedikitnya delapan kali kasus mutilasi. Pertengahan tahun ini, muncul kasus pembunuhan Eka Putri, warga Bekasi berusia sekitar 20 tahun. Dari hasil visum dan otopsi terhadap jasad korban, Mun’im menemukan banyak persamaan luka seperti korban- korban luka dalam kasus Ryan, si pembunuh berantai.

Berdasarkan analisis Mun’im, pembunuhan ada dua kategori, yaitu membunuh sebagai sarana dan karena alasan emosional. Membunuh sebagai sarana, seperti perampok yang terpaksa membunuh pemilik rumah agar usahanya berhasil.

”Sedangkan, karena alasan emosional, seperti tersulut amarah, bisa dendam atau cemburu. Bisa juga karena kelainan seksual. Pembunuhan karena alasan emosional paling banyak terjadi. Demi menghilangkan jejak agar tak tertangkap, pelaku makin kreatif, termasuk meniru cara pelaku lainnya,” kata Mun’im.

Sudarmono, sejarawan Universitas Negeri 11 Maret, Solo, menjelaskan, makin seringnya kasus kejahatan sadis terjadi dapat dikaitkan dengan ada fenomena kaum urban, mereka yang hijrah dari daerah ke kota dan terbiasa mengadopsi seluruh gaya hidup. Nilai-nilai kekerasan pun mudah diterima dan merasuki mereka.

Sudarmono mengambil contoh kasus Ryan. Ryan dengan latar belakang keluarga tak harmonis, miskin, dan terlepas dari pengawasan keluarga tidak punya pegangan apa-apa selain kekosongan hidup di pengembaraan. Ada elemen masuk, seperti homoseksual dan materialisme, merasuki Ryan dan menjadi tujuan hidupnya.

Dipicu media massa

Sementara itu, Awang Ruswandi, pengajar jurnalistik televisi di Jurusan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, dan kriminolog dari UI Adrianus Meliala berpandangan, media massa cukup berperan dalam memengaruhi perilaku agresif di kalangan masyarakat, termasuk yang berujung pada tindak kriminalitas dan kecenderungan meniru.

Menurut Awang, pengemasan pemberitaan kriminal, khususnya di televisi, memiliki kekuatan untuk menginspirasi penontonnya dalam berbuat kriminal.(ONG/SF/NEL)

Komodifikasi Terjadi di Mana-mana

Posted 9 years, 4 months ago at 9:44 am. 2 comments

komodifikasi-perahu-ancol.jpg

Dalam masyarakat yang kapitalistis, setiap jengkal ruang terbuka tidak ada yang luput dari proses komodifikasi, termasuk dalam layar dan atap perahu di Pantai Ancol Jakarta Utara (foto di atas). Proses komodifikasi adalah proses transformasi nilai guna menjadi nilai tukar (Mosco, 1998: 139). Layar dan atap perahu yang tadinya memiliki nilai guna tersendiri, ditransformasikan menjadi media untuk beriklan. Layar perahu berfungsi untuk menagkap angin dan menjadi penggerak laju perahu, sementara atapnya berfungsi untuk melindungi penumpang dari sengatan sinar matahari dan guyuran air hujan. Kedua benda tersebut telah bertransformasi menjadi media untuk memasang transit ads. Kedua benda itu sekarang memiliki nilai tukar yang strategis sebagai media untuk beriklan. Layar dan atap perahu pun kini dikomodifikasi menjadi media iklan.***

Bisakah Kejahatan Dicegah Melalui Berita TV?

Posted 9 years, 5 months ago at 3:39 pm. 1 comment

criminal-news1.jpg

Kejahatan dapat dicegah. Demikian sesumbar seorang presenter berita kriminal di sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta setiap kali menutup programnya. Apakah benar demikian?.Apakah dengan menayangkan berita kriminal, kejahatan akan bisa dicegah? Justru sebaliknya, dengan makin seringnya berita kriminal ditayangkan, maka penonton televisi akan dengan mudahnya meniru modus-modus kejahatan yang ditayangkan televisi. Televisi telah memberikan berbagai macam contoh kejahatan dengan tayangan visual yang sangat gamblang, lengkap, dan utuh untuk ditiru pemirsa. Apalagi stasiun televisi swasta di Jakarta ini berlomba menayangkan program berita kriminal setiap hari.***

Mengoptimalkan Lembaga Penyiaran Publik dan Komunitas

Posted 9 years, 5 months ago at 10:25 am. 4 comments

siaran-publik.jpgAkhir-akhir ini banyak kalangan khawatir dengan perkembangan media massa, terutama soal tayangan televisi. Umumnya, masyarakat menilai banyak isi tayangan televisi semakin tidak mendidik, merusak moral, dan bermuatan negatif lainnya. Media massa dituding terlalu berorientasi kepada bisnis atau tuntutan pasar. Keuntungan komersiallah yang dikejar media massa. Hal itu juga yang mencuat dalam diskusi terbatas Membangun (Kembali) Karakter Bangsa: Generasi Muda Indonesia di Tengah Globalisasi, yang diselenggarakan Forum Kajian Antropologi, pada Jumat 14 Maret 2008 di Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok.

Berikut ini adalah tanggapan penulis sebagai diskusan dalam diskusi terbatas tersebut. Diskusi pada Jumat tersebut khusus membahas tema diskusi ditinjau dari sudut pandang bidang ilmu komunikasi.

Jika pesimis dengan media massa swasta sebagai media untuk membangun (kembali) karakter bangsa, masih ada media penyiaran publik dan komunitas yang tidak pernah kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kedua lembaga penyiaran ini sesungguhnya dapat digunakan seoptimal mungkin sebagai media alternatif untuk membangun (kembali) karakter bangsa di tengah gelombang dahsyat globalisasi. Mereka dapat menjadi media untuk melakukan counter culture dengan menampilkan jati diri bangsa yang sesungguhnya.

Saat ini lembaga penyiaran publik yang ada (RRI dan TVRI) dibiarkan tumbuh tanpa menjadi lembaga penyiaran publik yang sebenarnya. Lembaga penyiaran komunitas hadir apa adanya bak kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Padahal eksistensi keduanya dijamin secara yuridis melalui UU No 32 tentang Penyiaran. Lembaga Penyiaran Publik diatur dalam Pasal 14 dan Lembaga Penyiaran Komunitas diatur dalam pasal 21. Dalam tataran konseptual di atas kertas kedua lembaga penyiaran ini memiliki posisi yang sejajar dengan lembaga penyiaran swasta dan lembaga penyiaran berlangganan. Namun dalam praktek di lapangan, kedua lembaga penyiaran yang disebut terakhir dengan segala keglamorannya telah menyapu bersih pandangan dan perhatian kita, sehingga kita seolah tak sadar bahwa ada dua lagi lembaga penyiaran yang sebenarnya dapat menjadi penyeimbang dalam memberdayakan partisipasi publik dalam membangun dunia penyiaran yang lebih sehat.

Lembaga penyiaran publik memang dimaksudkan sebagai media alternatif di tengah dominasi media kapitalis dan media pemerintah. Neither commercial nor state-controlled, public broadcasting‘s only raison d’etre is public service. It is the public’s broadcasting organization; it speaks to every one as a citizen. Public broadcasters encourage access to and participate in public life. They develop knowledge, broaden horizons and enable people to better understand themselves by better understanding the world and others. Public Broadcasting: Why? How? (UNESCO/WRTVC, 2001).

RRI dan TVRI masih didominasi suara pemerintah. Sampai saat ini keduanya belum dapat dikatakan sebagai lembaga penyiaran publik sebagaimana diamanatkan undang-undang. Mereka juga belum dapat menjalankan fungsinya sebagaimana konsep penyiaran publik yang sebenarnya.

Radio dan TV komunitas seolah-olah hanya untuk main-main. Mereka dibiar tumbuh seadanya. Jika sedang ada yang berminat mengerjakannya, mereka siaran, kalau penggiatnya sudah tidak ada, maka lembaga penyiaran ini dibiarkan mati saja.

Kalau kita belajar dari negara maju tentang lembaga penyiaran komunitas, maka lembaga penyiaran jenis ini pun dapat berperan besar dalam membangun kebudayaan warga. Sebagai contoh, di Amerika Serikat lembaga penyiaran komunitas tumbuh subur dan sekaligus menjadi public access broadcasting, yaitu tempat publik atau warga yang ingin belajar media penyiaran dengan biaya yang seminim-minimnya atau gratis. Public access center ini menjadi tempat untuk belajar, menampung karya-karya warga, serta sekaligus sebagai tempat menyiarkan siaran hasil produksi warga. Jadi lembaga ini berfungsi sebagai tempat untuk melakukan media literacy dan serkaligus sebagai wadah siaran suara warga. Tempatnya sangat memadai dan fasilitasnya lengkap sebagai sebuah stasiun televisi. Penyediaan tempat dan fasilitas ini semuanya ditanggung dari anggaran negara bagian atau pemerintah lokal (semacam APBD), tetapi pengelolaannya diserahkan kepada lembaga independen. Pemerintah lokal sama sekali tidak ikut campur dalam pengelolaannya. Jadi pemerintah lokal selalu mengalokasikan dana untuk pos public access ini dalam mata anggaran tahunan yang sumbernya diambil dari pajak media komersial. Selain itu, outlet lain dari karya warga di public access broadcasting ini adalah saluran TV berlangganan. Jadi setiap saluran TV berlangganan yang bersiaran di sebuah kota, diwajibkan oleh peraturan pemerintah, menyediakan dua kanalnya untuk menampung siaran pendidikan dan siaran agama hasil karya public access broadcasting.

Public Broadcasting Service (PBS) dan National Public Radio (NPR) yang berkembang di Amerika Serikat telah menjadi media alternatif dan penyeimbang bagi isi siaran televisi dan radio komersial. Siaran-siaran pendidikan yang bermutu atau siaran hiburan yang mencerahkan telah banyak lahir dari kedua lembaga penyiaran ini.

Bangsa Indonesia bisa belajar dari kedua contoh kasus di atas. Pembangunan karakter bangsa melalui media massa dapat dilakukan melalui kedua lembaga penyiaran yang kita miliki ini. Terdapat dua saluran yang dapat dimanfaatkan dengan baik. Ini sebenarnya kesempatan yang tidak pernah kita gunakan. Kesempatan itu masih terbuka lebar.

Melalui kedua lembaga penyiaran tersebut, kita juga dapat melakukan counter culture terhadap arus globalisasi yang deras. Dalam menghadapi globalisasi, pikiran kita harus out of the box. Kita harus keluar dari cengkraman arus kuat tadi. Jadikan arus globalisasi itu menjadi arus balik untuk menglobalisasikan kebudayaan lokal kita.

Tayangan sinetron legenda yang membodohkan yang disiarkan stasiun televisi swasta kita banyak digemari di negeri jiran seperti Malaysia dan Singapura. Musik dangdut banyak disukai warga Jepang. Kesenian daerah banyak dipelajari dan digemari oleh orang asing lainnya. Ini merupakan bukti bahwa salah satu kesenian kita bisa diterima bangsa lain.

Melalui upaya yang sungguh-sungguh dan professional, kita dapat melakukan arus balik globalisasi melalui antara lain media penyiaran publik dan komunitas. Pemanfaatan lembaga penyiaran publik dan komunitas ini adalah sebagai landasan dasarnya, sebagai tempat berpijak untuk melompat membalikan arus atau minimal melawan arus globalisasi.

Sebagai contoh kasus kecil. Di sebuah kota metropolitian sebesar Los Angeles saja ada sebuah stasiun TV yang hidup sehat secara bisnis, padahal televisi tersebut adalah stasiun televisi multietnik. Siaran-siarannya, selain berbahasa Inggris, juga menggunakan bahasa Mandarin, Tagalog dan India. Isi siarannya banyak menampilkan kesenian ketiga negara tersebut. Ini stasiun televisi swasta komersial, bukan televisi publik atau komunitas. Fenomena ini adalah sebuah contoh kecil, bahwa materi-materi lokal (indigenous knowledge) itu bisa dijual, jika dikemas dan dikelola secara profesional.

Jika kita mau, kita dapat melakukannya. Bahkan potensi kita untuk melakukan hal tersebut sangat besar. Namun upaya yang dilakukan harus sistematis dan berjangka panjang, tidak dilakukan secara sporadis dan hanyalah sebuah proyek belaka. Energi generasi muda pun dapat disalurkan dalam wadah seperti ini. Generasi muda dapat menjadi objek sekaligus subjek upaya membalikkan arus globalisasi. Hal seperti itu secara terbatas dan dalam skala kecil sudah dicoba oleh Grabag TV (stasiun televisi komunitas) di Magelang, Jawa Tengah. Stasiun televisi ini mencoba membuat siaran-siarannya sebagai counter terhadap serbuan siaran televisi Jakarta yang sampai saat ini masih bersiaran secara nasional. Grabag TV melibatkan kaum muda (pelajar SMU) sebagai kreator dan kru untuk memproduksi siaran-siarannya. ***

Kampanye tentang Sampah ala Klungkung

Posted 9 years, 5 months ago at 10:03 am. 2 comments

klungkung-spanduk.jpg

Copy spanduk ini sangat khas. Kata-katanya dikemas dengan pendekatan informal. Permainan katanya mirip tulisan-tulisan dalam kaos Joger pabrik kata-kata. Spanduk ini ditemukan terpampang di daerah wisata Goa Lawa, Klungkung, Bali pada 17 Agustus 2006.