Beberapa latar belakang mengapa seseorang mempunyai orientasi seks pada sejenis, diantaranya: (Zastrow, 2004,487-489)

1. Teori Biologi

Teori ini menerangkan bahwa seseorang mempunyai orientasi seks pada sejenis karena mereka mempunyai beberapa penyebab, diantaranya bisa dilihat dari genetika, anatomi (terutama bagian otak) serta hormonal.

Penyebab dari gentika melihat bahwa homoseksualitas telah diprogram melaui gen-gen. Lain halnya dengan anatomi, faktor ini melihat bahwa ukuran otak orang yang mempunyai orientasi seks pada sejenis lebih kecil dari orang yang mempunyai orientasi seks pada lawan jenis. Namun teori ini telah dibantah karena argumennya didukung oleh bukti yang tidak kuat untuk mendukung teori ini. Selain itu penyebab dilihat dari sisi hormonal melihat bahwa homoseksualitas terjadi karena tingkat perkembangan hormon tidak seimbang terutama yang terjadi pada masa remaja dan juga ada yang berpendapat perkembangan hormon yang abnormal pada masa anak dalam kandungan.

2. Teori Psikososial

Teori ini menerangkan bahwa homoseksualitas dapat muncul karena manusia mempunyai hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Teori ini menerangkan bahwa setiap manusia selalu belajar dan melakukan adaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Manusia dalam kehidupan selalu dihadapkan pada stimulus dan respon, dan ketika hal in berlangsung terus menerus individu mengalami penguatan (reinforcement) dan kepribadian seseorang terbentuk.

Penjelasan di atas dapat di lihat bahwa homoseksualitas dapat disebabkan oleh 2 hal yaitu dari biologis dan psikososial. Kebebasan memang tidak boleh melihat berdasarkan 2 penyebab ini, karena menurut deklarasi HAM semua orang mempunyai kedudukan yang sama, mereka dapat menentukan sendiri baik dalam memilih agama, pekerjaan, pendidikan bahkan dalam memilih orientasi seksnya.

Jika dilihat dari teori biologis seseorang pasti menjadi homoseks bukan kemauannya, atau dalam dunia kedokteran disebut sebagai patologi. Jika hal ini terjadi maka tidak boleh terjadi diskriminasi pada mereka. Karena mereka menjadi homoseks bukan atas keinginan mereka dan mereka menerima ”penyimpangan” ini apa adanya tanpa bisa melakukan perlawanan.

Demikian halnya orang-orang yang mempunyai orientasi seks pada sejenis dikarenakan psikososial, mereka juga tidak boleh di diskriminasi karena mereka mengalami sosialisasi nilai yang berbeda, mereka mendapatkan pengalaman yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Semua orang mempunyai kesamaan dalam hak, karena semua manusia mempunyai akal dan dilengkapi dengan hati nurani. Bukan berarti manusia yang selalu dikatakan ”menyimpang” tidak mempunyai akal dan hati nurani. Mereka tetap mempunyainya, bukan berarti mereka guy atau lesbian otomatis mereka tidak mempunyai hati nurani dan akal.

Sebagai manusia, mereka yang mempunyai orientasi seks pada sesama jenis harus juga diperhatikan sebagai manusia yang mempunyai hak asasi yang sama. Mereka tidak boleh dibedakan karena orientasi seks mereka berbeda dengan orang kebanyakan. Karena dalam deklarasi HAM pada pasal 2 dikatakan bahwa manusia semua sama tidak boleh dibedakan berdasarkan ras, warna kulit, agama dan sebagainya termasuk orientasi seksnya.

Mereka harus tetap mempunyai kebasan dalam berekspresi, baik kebebasan positif yang menekankan pada kemampuan mereka untuk melakukan tindakan bebas yang berorientasi bagaimana mereka bisa membantu orang lain. Tentunya dengan berbagai cara seperti mengikuti organisasi pelayanan dan sebagainya. Atau kebebasan negatif yang lebih berorientasi pada kepentingan pribadi, yaitu kebebasan untuk mengekspresikan mereka dan menunjukkan eksistensinya baik kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, pekerjaan dan sebagainya.

Daftar Pustaka

 Zastrow, Charles H, Karen K. Kirst-Ashman, Understanding Human Behavior and The Social Environment, 6th ed, Thomson, USA, 2004