Sejak dahulu para ahli etika (sebelum Kant) merumuskan etika sebagai suatu yang baik atau suatu yang rasional. Kant sendiri mulai merubah cara berfikir seperti ini dengan berpendapat bahwa dalam menentukan suatu yang baik atau dalam konteks keadilan, untuk menentukan sesuatu yang adil, ada prosedur yang harus dipenuhi untuk mendapatkan apa yang dikatakan baik atau adil. Rawls meneruskan ide Kant ini dengan mengatakan What is the fair procedure to guarantee public conception of justice.

Semua konsep keadilan bias mencapai 1 kesepakatan atau dapat menjadi suatu public conception of justice oleh karena itu prosedurnya harus fair. Dan prosedur yang fair ni dapat tercapai salah satunya dengan mengawasi agar tidak satupun partisipan mengakali prosedur yang ada sehingga dapat menguntungkan dirinya atau kelompoknya. Krena terkadang ada kepentingan golongan masuk dalan public conception.

Menurut Kant prinsip moral itu diciptakan melalui prosedur, yaitu penguniversalisasian dan prinsip-prinsip itu tidak berhubungan langsung dengan kenyataan atau realitas. Menata atau melahirkan suatu prinsip keteraturan moral yang berkeadilan. Prosedur lainnya yaitu mengkaitkan prinsip moralitas dengan prinsip kesetaraan. Bagi Kant setiap orang mampu menggagas, menjalankan, merefisi prinsip-prinsip moral atau kebaikan secara bebas dan berkedudukan setara dengan sesameindividu. Namun Kant bukan orang yang Relativist karena Ia percaya bahwa dalam diri manusia ada akal budi praktis yang akan menghasilkan prinsip moral yang sama dengan cara universalization principles hal ini yang diasumsikan oleh Kant dapat menjamin kesimuln yang sama tentang keadilan atau kebaikan. Bagi Kant nilai-nilai itu dikonstruksi bukan ditemukan. Akal budi praktis mengkonstruksi hokum-hukum alam yang dihasilkan oleh akal budi teoritis (yang menemukan prinsip-prinsip pertama dari hokum alam)

Dari sini dapat dilihat perbedaan fundamental ntara Kant dan Rwals, yaitu pertama Kant menurut Rawls adalah orang yang solidsistik dimana Kant percaya orang dalam kesendiriannya dapat merefleksikan dengan mandiri dapat menghasilkan prinsip-prinsip moral (sifatnya self justify). Private justification harus jadi public justification. Bagi Rawls public justification bukan berasal dari private reflection tetapi harus dari public reflection.

Hal kedua yaitu Rawls sangat percaya bahwa orang tidak bias merenungkan kebaikan dalam kesendiriannya karena dalam masyarakat banyak konsep-konsep tentang kebaikan (good) yang saling bersinggungan dan saling konflik.

Bagi Rawls semua golongan harus ada jembatan teoritis yang memiliki konsep-konsep keadilan dan kebaikan, jadi tidak hanya menggunakan akal budi semata untuk mendapatkn konsep universal yang terpenting adalah bukan akal budi tetapi hasil akal budi itu sudah diterapkan dalam fair prosedur dan reason prosedur.

Rawls mengatakan adanya Original position yaitu suatu kondisi dimana orang pada posisi awal, diasumsikan ia tidak mengetahi konsep-konsep kebaikan atau keadilan yang akan dianut.

Bagi Rawls rasionalitas ada 2 bentuk yaitu Instrumental Rationality dimana akal budi yang menjadi instrument untuk mmenuhi kepentingan-kepentingan pribadi (self interest) dan kedua yaitu Reasonable, yaitu bukan fungsi dari akal budi praktis dari orang per orang. Hal kedau ini melekat pada prosedur yang mengawasi orang-orang yang menggunakan akal budi untuk kepentingan pribadinya untuk mencapai suatu konsep keadilan atau kebaikan yang universal. Disini terlihat ada suatu prosedur yang menjamin tercapainya kebaikan yang universal, dengan prosedur yang mengawasi orang per orang ini akan menghasilkan public conception of justice.

Rawls mengatakan kalau 1 konsep communitarian law menjadi konsep yang universal maka ada kesalahan reasonable pada keputusan (kebijakan). Prinsip keadilan harus dapat menjamin setiap subyek moral dan harus bebas dan setara. Untuk itu Rawls mengemukakan teori bagimana mencapai public conception, yaitu harus ada well ordered society (roles by public conception of justice) dan person moral yang kedunya dijembatani oleh the original position. Bagi Rawls setiap orang itu moral subjek, bebas menggagas prinsip kebaikan, tetapi bias bertolak belakang kalau dibiarkan masyarakat tidak tertata dengan baik. Agar masyarakat tertata dengan baik maka harus melihat the original position. Bagi Rawls public conception of justice bisa diperoleh dengan original position. Namun bagi Habermas prosedur yang diciptakan bkan untuk melahirkan prinsip public tentang keadilan tetapi tentang etika komnikasi, sehingga muncul prinsip public tentang keadilan dengan cara consensus melalui percakapan diruang public atau diskursus.