Nilai-nilai luhur budaya Bali, yaitu hal-hal yang dianggap baik dan berharga dalam kehidupan masyarakat dan kebudayaan mencakup satu rentangan unsur-unsur abstrak (intangible culture, unsur budaya tak benda) yang terdiri dari :

1. Unsur Filosofis
Merupakan unsur yang paling dasar dan paling abstrak, berisi hakekat dan kebenaran dasar

2. Unsur Nilai
Merupakan unsur dasar tentang hal-hal berharga dalam kehidupan, umumnya sebagai representation collective

3. Unsur Konsep
Merupakan unsur yang lebih instrumental dan lebih dekat ke tataran implementatif

4. Unsur Norma dan Aturan
Merupakan unsur yang terkait dengan kehidupan nyata sehari-hari dan bernilai praksis.

Dalam nilai budaya Bali terdapat konsep Bhuana Agung (makro kosmos) dan Bhuana Alit (mikro kosmos), yang selalu dijaga keselarasan keduanya. Dari dua konsep inilah di turunkan menjadi suatu pendekatan dalam tata ruang yang kemudian memberikan pengertian adanya jiwa dalam penataan ruang di Bali yang dikenal dengan konsep Tri Hita Karana yang terdiri dari unsur jiwa, tenaga dan fisik atau nisa dikaitkan dengan Parahyangan (hubungan antara Sang Maha Agung dengan Manusia), Pawongan (hubungan sesama manusia) dan Palemahan (hubungan antara manusia dan alam).

Landasan sistem nilai terdapat tata ruang memberikan penekanan pada makna, dalam konteks penataan ruang yang berbudaya, secara taksonomi dibedakan atas dasar dan nilai instrumental.

  • Nilai Dasar, yang mencakup nilai religius, nilai estetis, nilai solidaritas (gotong royong) dan nilai keseimbangan.
  • Nilai instrumental, yang mencakup seperangkat sistem nilai yang mendukung dinamika adaptif (supel-luwes-dinamis) dan fleksibel sesuai dengan adigium desa, kala, patra.

Landasan struktural tata ruang memberikan penekanan pada pola keteraturan tata ruang baik secara vertikal maupun horiontal. Dalam kebudayaan Bali, satu struktur di samping mencerminkan adanya keterbukaan yang dinamis.

Konsep-konsep pokok yang berkaitan dengan struktur ruang antara lain :

  • Konsep Tri Hita Karana yang terdiri dari Parhyangan (Tuhan, yang berkaitan dengan tempat ibadah/ tempat suci); Pawongan (Manusia, tempat aktivitas masyarakat) serta Palemahan (Lingkungan)
  • Konsep Rwa Bhineda memberikan orientasi (Luan-Teben, Kaja-Kelod) dan juga Laxokeromi (Sakral-Profan, Baik-Buruk)
  • Konsep Tri Bhuwana dan Tri Angga membberikan orientasi vertikal Bhur-Bhwah-Swah dan Uttama, Madhyama, Kanishta
  • Pola Tri Mandala yang memberikan orientasi horizontal Uttama-Madhyama-Kanishta
  • Konsep Nawa Sanga dan Padma Bhuwana memberikan kekuatan dan simbol pada struktur yang menggambarkan adanya pola struktur dan keterikatan antara komponen struktur.
  • Konsep Dinamika yaitu struktur dalam kebudayaan Bali yang berkaitan dengan ruang, diartikan selain memiliki pola dan keteraturan, juga memiliki sifat supel, luwes dan dinamis.

Arah orientasi ruang dalam skala wilayah yang lebih luas dan berkeseimbangan secara keseluruhan dalam propinsi Bali, dengan konsep arah orientasi yang berdasarkan mata angin (pengide-ider) yang bersifat universal, dan yang berdasarkan konsep segara-gunung yang bersifat lokal. Sumbu ritual timur-barat (surya-sewana) berorientasi ke arah matahari terbit dan terbenamnya matahari, dimana orientasi timur tempat matahari terbit lebih utama dari barat. Sumbe yang kedua adalah konsep sumbu natural spiritual Kaja-Kelod yang dikaitkan dengan arah orientasi kepada gunung dan lautan (Nyegara gunung, Segara-wukir), luan-teben, sekala-niskala, suci-tidak suci dan sebagainya. Segala sesuatu yang dikategorikan bersifat suci dan bernilai sakral akan menempati letak di baian Kaja (utara) mengarah ke gunung seperti : letak pura, arah sembahyang, arah tidur dan sebagainya. Sebaiknya, segala sesuatu yang dikategorikan kurang suci dan bernilai profan, akan menempati letak bagian kelod (selatan), seperti : letak kuburan, letak kandang, tempat pembuangan sampah/ kotoran,dan sebagainya bagi mereka yang tinggal di bagian Bali Selatan dan kelod berarti utara. Perbedaan ini tidak saja terbatas pada penunjukkan arah, tetapi juga dalam beberapa aspek kehidupan.

Pada bagian tengah Pulau Bali dari timur ke barat terbentang pegunungan/ perbukitan dengan puncak-puncaknya antara lain : Gunung Agung, Bunung Batur, Gunung Batukaru, yang menurut konsep diatas merupakan arah orientasi sumbu natural spiritual yang utama dari aktifitas kehidupan masyarakat Bali. Manifestasi atau kekuatan-kekuatan Tuhan (siwa) dalam mata angin (pengider-ider) yang mengambil posisi dik widik, mendasari konsep dewata bawa sanga dan dijabarkan lagi menjadi konsep eka dasa rudra. Konsep ini, disamping mendasari sumbu yang bersifat universal juga mendasari pola ruang sanga mandala. Sedangkan posisi gunung-laut, disamping mendasari sumbu linier kaja-kelod, juga mendasari pola ruang tri mandala. Dari dasar pola ruang tri mandala, dapat dijabarkan juga menjadi pola ruang sangga mandala dengan memasukkan faktor terbit matahari sebagai orientasi nilai utama sebagai pembagi masing-masing mandala dalam tri mandala menjadi tiga bagian. Pola sanga mandala yang lain didasarkan atas konsep, pengider-ider/ dewata nawa sanga. Dalam pola sanga mandala jenis ini maka mandala di tengah (madyaning madya) menjadi paling utama dan menjadi pusat orientasi.

Secara umum, konsep tata ruang tradisional Bali, orientasi sangat menentukan pnataan zoning baik lingkungan rumah banjar maupun lingkungan desa. Orientasi tradisional merupakan orientasi ruang yang dibentuk oleh tiga sumbu yaitu :

  1. Sumbu Religi, berorientasi pada lintasan terbit dan terbenamnya matahari dengan arah kangin sebagai nilai utama (arah terbitnya matahari) dan arah kauh sebagai nilai nista (arah terbenamnya matahari), sedangkan nilai Madya ada di tengahnya.

  2. Sumbu Bumi, berorientasi pada gunung dan laut. Gunung sebagai arah kaja (utara) bagi masyarakat Bali bagian selatan bernilai Utama dan laut atau arah kelod bernilai Nista sedangkan bagi masyarakat Bali utara Kelod adalah ke selatan karena pegunungan ada di tengah-tengah pulau Bali. Arah kelod adalah arah yang menuju ke laut, ke utara di Bali utara dan ke selatan di Bali selatan. Nilai utara ada di arah gunung atau kaja sedangkan nilai nista ada di daerah laut atau kelod, dengan Madya ada di tengahnya.

  3. Sumbu Kosmos, merupakan varian dari sumbu religi dan sumbu kosmos, mempunyai pengertian menek (naik) dana Tuwun (turun), dengan tiga tingkatan tata nilai yang menek (utama), tengah (Madya) dan tuwun (nista).

Ada tiga pola tata ruang permukiman tradisional religius Bali, yaitu :

  1. Pola Perempatan Agung, Pola ini terbentuk dari perpotongan sumbu Kaja dan Kelod (ke gunung dan ke laut) dan sumbu Kangin dan Kauh (arah terbit dan tenggelam matahari). Berdasarkan konsep sembilan mata angin (Nawa Sanga) maka daerah timur (kaja-Kangin) yang mengarah ke Gunung Agung diperuntukkan bagi bagian suci (Pura Desa). Pura yang berkaitan dengan kematian (Pura Dalem) dan kuburan desa berada di Barat daya yang mengarah ke laut (kelod-kauh) sedangkan permukiman berada di antara Pura Desa dan Pura Dalem.

  2. Pola Linier, pola ini, konsep sembilan pendaerahan (Nawa Sanga) tidak banyak berperan. Orientasi kosmologi lebih didomonasi oleh arah gunung dan laut (kaja-Kelod) dan sumbu terbit dan tenggelamnya matahari (kangin-kauh). Bagian ujung utara (kaja) suatu permukiman, dperuntukkan bagi Pura Desa, dan di ujung selatan (kelod) diperuntukkan bagi kuburan (Pura Dalem). Di antara batas desa utara dan selatan tersebut merupakan permukiman penduduk dan fasilitas umum berupa Bale Banjar dan Pasar. Pada umumnya pola linier ini terdapat di desa-desa pegunungan.

  3. Pola Kombinasi, merupakan perpaduan antara pola linier dengan pola perempatan agung. Pola permukimannya menggunakan Pola Perempatan Agung, sedangkan sistem peletakkan massa bangunannya mengikuti pola linier. Perumahan dan fasilitas umum terletak pada ruang terbuka yang berada di tengah-tengah permukiman, akan tetapi lokasi daerah yang bernilai utama terletak pada ujung utara (kaja) dan lokasi yang bernilai nista terletak pada ujung selatan (kelod).