Pemikiran Kung Fu Tze yang terkait dengan Hak Asasi Manusia dapat dilihat dari pemikirannya tentang kebajikan (Benevolence). Karena Kebajikan merupakan ide utama dari pemikiran yang dikemukakan oleh Kung Fu Tze. (Hayden, 2001, 271) Baginya kebajikan dapat diekspresikan melalui pelaksanaan Li yang mengacu pada hubungan antara sesama manusia yang mengacu pada Ritual dan Tata Krama yang berlaku dalam masyarakat. Dalam menerapkan kebijakan didalamnya termasuk perlakuan yang menghargai satu sama lain dan kesopanan dimana pegawai pemerintahan harus memperkuat atau mengusahakan untuk mewujudkankebajikan itu sendiri termasuk di dalam diri aparat pemerintahan. (Hayden, 2001, 271)

Kung Fu Tze juga mengajarkan pemerintah harus melakukan kebajikan, ajaran etika dari Kung Fu Tze menitikberatkan pada hubungan hirarki antara individu dalam masyarakat dan tuntutannya terhadap kepatuhan. (Hayden, 2001, 271)

Kung Fu Tze pun percaya bahwa setiap manusia mempunyai tugas masing-masing dalam membentuk persatuan dan harmonisasi dalam masyarakat. (Hayden, 2001, 271)

Berikut ini beberapa kutipan yang disadur dari kitab Lun Yu (Analects) terkait dengan pemikiran Kung Fu Tze tentang Hak Asasi Manusia.

Yu Tzu berkata ”Orang yang penuh pengabdian sebagai seorang anak dan menyayangi sesama cenderung jarang menyakiti orang yang lebih tua. Orang yang cenderung suka mengganggu cenderung suka membuat gusar orang yang lebih tua. Seorang satria rajin memupuk akarnya. Dengan akar yang kokoh, tunas pun tumbuh. Bukankah pengabdian seorang anak dan menyayangi sesama merupakan akar sifat budiman?” (Analects, 1,2)

Tseng Tzu berkata ”Setiap hari aku memeriksa diriku mengenai tiga hal: apakah aku setia atau tidak kepada mereka yang kuwakili; apakah aku dapat dipercaya atau tidak sewaktu berurusan dengan teman; apakah aku mengamalkan atau tidak hal-hal yang sudah kupelajari.” (Analects, 1, 4)

Kung Fu Tze berkata ”Didalam rumah, anak-anak harus patuh dan di dunia luar, harus menyayangi sesama. Mereka harus waspada dan dapat dipercaya. Mereka harus mengasihi semua orang dan akrab dengan orang budiman. Setelah itu, sisa kekuatan mereka harus digunakan untuk mempelajari kesusasteraan.” (Analects, 1, 6)

Tzu Hsia berkata “Mengagumi kebijakan, bukan kecantikan; mengabdi sepenuhnya kepada orang tua; bersedia mati demi membela majikan; berbicara jujur saat berurusan dengan teman; walaupun ada yang mengatakan bahwa hal-hal ini tidak perlu diajarkan, menurutku justru harus.” (Analects, 1, 7)

Kung Fu Tze berkata “pada usia lima belas, aku terdorong untuk belajar. Pada usia tiga puluh aku mengukuhkan pendirianku. Pada usia empat puluh aku tidak lagi bermimpi. Pada usia lima puluh aku tahu tujuan hidupku. Pada usia enam puluh aku mengenali kebenaran dalam semua hal yang kudengar. Pada usia tujuh puluh aku dapat mengikuti kata hatiku tanpa berbuat salah.” (Analects, 2, 4)

Kung Fu Tze berkata “Tsán, jalan yang kutempuh memiliki satu prinsip pemersatu.” Tseng Tzu berkata “ya.” Setelah Kung Fu Tze berlalu, muridnya bertanya, “Apa yang dimaksudkannya?” Tseng Tzu menjawab, “JAlan yang ditempuh Guru semata-mata hanyalah kesetiaan dan sikap pemaaf.” (Analects, 4, 15)

Kung Fu Tze berkata, “Seorang satria memahami kebenaran, orang biasa memahami keuntungan.” (Analects, 4, 16)

Kung Fu Tze berkata,”Kenalilah orang yang arif dan pikirkanlah cara untuk mengimbanginya. Kenalilah orang yang tidak arif dan kajilah dirimu sendiri.” (Analects, 4, 17)

Kung Fu Tze berkata, “Di kala mengabdi kepada orang tua, sampakan saran dengan bertenggang rasa, dan jika harapanmu tak terpenuhi, tetaplah hormat dan jangan membangkang, tanggunglah beban dan jangan mengeluh.” (Analects, 4, 18)

Kung Fu Tze berkata,”Seorang satria berkeinginan untuk lamban berbicara, tetapi gesit bertindak.”(Analects, 4, 24)

Kung Fu Tze berkata,”DEngan kebijakan, kita takkan mengenal sepi, selalu ada yang menemani.”(Analects, 4, 25)

Tzu Kung berkata,”Aku tak ingin dipaksa orang lain, dan tak ingin memaksa orang lain.” Kung Fu Tze berkata,”T’su, engkau bukan orang seperti itu.”(Analects, 5, 11)

Fan Chíh bertanya tentang kebajikan. Kung Fu Tze menjawab,”Melakukan sesuatu yang benar untuk rakyat, dan menghormati arwah dan dewa dari kejauahn, dapat dianggap kebajikan.” Fan Chíh bertanya tentang sifat budiman. Kung Fu Tze menjawab,”Menjadi orang pertama yang menghadapi kesulitan dan orang terakhir yang menuai imbalan dapat dianggap sifat budiman.” (Analects, 6, 20)

Kung Fu Tze berkata, ”Seorang Satria membaca banyak buku, ditempa oleh tata krama, dan hampir tak mungkin tersesat.”(Analects, 6, 25)

Kung Fu Tze berkata,”Keseimbangan sebagai kebajikan memang sungguh istimewa. Sudah lama hal itu jarang ditemukan di kalangan rakyat.”(Analects, 6, 27)

Tzu Kung bertanya,”Jika kebutuhan rakyat disediakan dengan berlimpah, dan rakyatnya dibantu, bagaimana menurut pendapat Guru? Apakah tindakan itu bisa disebut budiman?” Kung Fu Tze menjawab,”Apa hubungan dengan sifat budiman? Yang jelas itu tindakan yang amat luhur. Bahkan Yao dan Shun pun sulit melakukannya. Yang dinamakan orang budiman, dia menerpakan aturan bagi orang lain yang juga berlaku bagi dirinya sendiri. Dia membimbing orang lain untuk berprestasi seperti prestasi yang diraihnya. Kemampuan untuk menularkan milik kita kepada orang lain dapat dipandang sebagai jalan menuju sifat budiman.” (Analects, 6, 28)

Kung Fu Tze berkata, ”Ada orang yang menciptakan sesuatu yang tak mereka ketahui. Aku tidak begitu. Menyimak dengan sungguh-sungguh, memilih untuk mengikuti yang benar, mengamati dengan seksama untuk memetik ilmu, inilah pengenalan ilmu.”(Analects, 7, 27)

Kung Fu Tze berkata, ”Penghormatan tanpa tata krama adalah pekerjaan sia-sia. Keadilan tanpa tata krama adalah kecanggungan. Kebenaran tanpa tata krama adalah kekacauan. Kejujuran tanpa tata krama adalah ketergesaan. Jika seorang satria menjunjung tinggi keluarganya, rakyat akan tergugah untuk bersifat budiman. Jika dia tak mengabaikan tradisi lama, rakyat takkan melakukannya secara diam-diam.”(Analects, 8, 2)

Kung Fu Tze berkata,”Pegang teguh keyakinanmu dan tekunlah belajar. Pertahankan Jalan Kebenaran sampai mati. Jangan memasuki negeri yang berbahaya. Jangan tinggal di negeri yang kacau. Manakala semua yang ada di bumi sudah menganut Jalan Kebenaran, tampilkan dirimu. manakalaJalan Kebenaran tiada, berlindunglah. Manakala suatu negeri menganut Jalan Kebenaran, menjadi miskin dan tak berarti adalah hal yang memalukan. Manakala suatu negeri tidak menganut Jalan Kebenaran, menjadi kaya dan menduduki jabatan adalah hal yang memalukan.” (Analects, 8, 13)

Kung Fu Tze berkata,”Junjunglah kesetiaan dan sifat dapat dipercaya. Tak usah berteman dengan orang yang tak setara denganmu. Jangan ragu mengkoraksi kesalahan.” (analects, 9, 24)

Yen Yuen bertanya tentang sifat budiman. Kung Fu Tze menjawab ”Mendisiplinkan diri sendiri untuk menerapkan tata-karma adalah sifat budiman. Di kala pendisiplinan diri sudah menerapkan tata-krama, semua yang ada di bumi akan bersifat budiman. Sesungguhnyalah, penerapan sifat budiman berasal dari diri sendiri dan bukan dari orang lain!” Yen Yueh bertanya, ”Bolehkah aku mendapatkan penjelasan yang lebih rinci?”. Kung Fu Tze menjawab,” Jangan melihat hal-hal yang tak sesuai dengan tata-krama; jangan mendengarkan hal-hal yang tak sesuai dengan tata-krama; jangan berbicara jika tak sesuai dengan tata-krama; jangan bertindak jika tak sesuai dengan tata-krama.” Yen Yuen berkata,” Hui, meskipun tidak cepat mencerna pelajaran, akanberusaha melakukanhal-hal yang sesuai dengan ajaran ini.”(analects,12,1)

Chung Kung bertanya tentang sifat budiman. Kung Fu Tze menjawab,”Di luar rumahmu, berprilakulah seakan bertemu dengan tamu penting. Dalam mempekerjakan orang, berperilakulah seakan melakukan persembahan penting. Hal yang tak kauinginkan untuk diri sendiri, jangan kaulakukan pada orang lain. dalam negara takkan ada keluhan, dalam keluarga takkan ada keluhan.” Chung Kung berkata,”Yung meskipun tidak cepat mencerna pelajaran, akan berusaha melakukan hal-hal yang sesuai dengan ajaran ini.”(analects, 12, 2)

Kung Fu Tze berkata,” Kajilah kesusastraan dengan tekun, padaku dengan tata-krama, maka kecil kemungkinan engkau akan tersesat.”(analects, 12, 15)

Chi K’ang Tzu bertanya kepada Kung Fu Tze tentang cara memerintah. Kung Fu Tze menjawab, ”Memerintah sama seperti bersikap benar. Tuan, jika engkau memerintah dengan benar, siapa yang akan berani berbuat tidak benar?”(analects, 12, 17)

Kung Fu Tze berkata,”Jika dia sendiri sudah benar, orang akan bertindak tanpa menunggu perintahnya. Jika dia sendiri tidak benar, dia takkan dipatuhi sekalipun mengeluarkan perintah.” (analects, 13, 6)

Kung Fu Tze berkata,”Jika orang yang mendahulukan kepentingan orang lain memerintah suatu negeri selama seratus tahun, keberingasan dapat diatasi dan pembunuhan dapat dihapuskan. Betapa nyatanya kata-kata ini!”(analects, 13, 11)

Kung Fu Tze berkata,” Jika dia sudah bersikap benar pada dirinya, kesulitan apa pula yang akan dihadapinya di pemerintahan? Jika dia tak bisa memperbaiki dirinya sendiri, bagaimana dia bisa memperbaiki orang lain?” (analects, 13, 13)

Pangeran Yeh bertanya tentang cara memerintah. Kung Fu Tze menjawab,”Orang yang berada di dekatnya merasa puas, orang yang berada di tempat jauh ingin berkunjung.” (analects, 13, 16)

seseorang bertanya,”Balaslah keluhan dengan kebajikan, Bagaimana menurut Guru?”. kung Fu Tze menjawab,” Dan bagaimanakah kebajikan harus dibalas? Balaslah keluhan dengan kejujuran, dan kebajikan dengan kebajikan.” (analects 14, 36)

Kung Fu Tze berkata,”Dengan memegang teguh sikap benar dalam kalbunya, seorang satria bertindak sesuai dengan tata-krama, mengungkapkan dirinya dengan kerendahan hati, dan merasa utuh jika menampilkan sifat dapat dipercaya. Inilah yang namanya satria sejati!” (analects, 15, 17)

Tzu Kung bertanya,”Apakah ada kata yang dengan kata itu kita bertindak serasi seumur hidup?” Kung Fu Tze menjawab,”Kata itu adalah ’sifat pemaaf’. Hal yang tak kauinginkan terjadi pada dirimu jangan kaulakukan pada orang lain.” (analects, 15, 23)

Tzu Chang bertanya kepada Kung Fu Tze tentang sifat budiman. Kung Fu Tze berkata,”Mampu menerapkan lima hal di mana di bumi adalah sifat budiman.” Ketika diminta unutuk menjelaskannya Kung Fu Tze berkata,”Rasa hormat, bertenggang rasa, dapat dipercaya, cepat mengerti, dan bermurah hati. Dengan bersikap hormat takkan ada cemoohan. Dengan bertenggang rasa, ada dukungan dari rakyat. Dengan dapat dipercaya, rakyat akan menyerahkan tanggung jawab. Dengan cepat mengerti, akan bermanfaat. Dengan bermurah hati, rakyat akan bersedia diberi perintah.” (analects, 17, 6)

Rujukan

Hayden, Patrick. (2001). The Philosophy of Human Right. 1st Ed. USA: Paragon House