Didalam diri manusia yang yakin pada ada nya Allah pasti tidak hanya mempunyai ide tentang Allah, tetapi juga menerima ide itu sebagai pernytaaan realitas Allah.

I. Ide tentang Allah pada Orang yang Beragama

Semua orang yang beragama sepakat dalam emngartikan bahwa Allah sebagai yang Mahatinggi. Secara garis besar ada 3 golongan besar bentuk kepercayaan, yaitu :

  • Panteisme, menurutnya semesta alam, termasuk manusia merupakan sebagian dari Allah.

  • Politeisme, menurutnya terdapat banyak Allah, dimana alam semesta mempunyai segi-segi yang berbeda yang keemanya mencerminkan kekuatan ilahi.

  • Monoteisme, Allah itu satu dan tidak dapat dibagi kemuliaannya, jangan dicampur dengan hal dunia.

  • Namun jika melihat agama Hinda dan Budha hal ini sukar untuk ditentukan nilainya, karena agama-agama ini tidak merupakan kesatuan seperti agama-agama yang disebut diatas., yang menyatukan pengikut agama Hindau dan Budha adalah ide-ide tentang kehidupan yang merupakan sebagian dari suatu kebudayaan yang menyangkut seluruh manusia. Ide Allah dalam agama Hindu dan Budha tergantung dari dua faktor, pertama kuat tidaknya pengaruh filsafat dan kedua pengaruh aliran-aliran kepercayaan lain atau agama-agama lain.

    Dalam ajaran agama Hindu Allah dikenal sebagai sesuatu ang memiliki pribadi melebihi yang laindari yang ada didunia, dan merupakan suatu wujud yang transenden, yang serentak bersifat imanen di dalam hal-hal dunia juga. Sedangkan Buddhisme mula-mula merupakan lebih-lebih suatu kebijaksanaan hidup sebelum menjadi agama.

    Perkembangan kepercayaan manusia terhadap Allah sebenarnya berkembang dari mulai Politeisme, dimana perubahan evolusi ini dimulai dengan kepercayaan mereka tentang Allah, lalu mereka mendirikan tempat sembahyang dibeberapa tempat seperti berbentuk kuil, panteon, dan sebagainya. Dewa-dewa mulai diatur kekuasaannya dan keagungannya, dan akhirnya muncul satu dewa yang mengepali dewa-dewa lainnya. Dan pada akhirnya Allah muncul sebagai satu-satunya kekuatan, yang mempunyai asalnya sendiri dan menghancurkan segala dewa sebagai berhala.

    II. Allah yang Maha Esa

    Jika kita ingin mengetahui ke-esaan Allah maka kita perlu melihat pandangan Panteisme dalam hal ini. Panteisme seperti hal diatas telah diterangkan bahwa Allah menyatu dengan alam, jadi mereka menyangkal adanya perbedaan essensial antara alam dan Allah. Allah masuk kedalam dunia dan hanya duania yang diakui realitasnya, transenden Allah merupakan inti dari segala-galanya yang ada, dan Alam dipandang sebagai realitas dan manifestasi Allah.

    Ada dua hal yang menarik dalam panteisme yaitu semua adalah satu keseluruhan yang teratur karena prinsip imanen yang menyatukan semuanya, kedua, hidup manusia dialami sebagai suatu hidup yang menuju ke arah sesuatu yang lebih tinggi. Jika memang pandagan panteisme demikian maka ide ke-esa-an Allah bisa ditolak karena tidak ada bedanya antara Allah dengan alam.

    Demikian juga Politeisme yang mengatakan bahwa Allah itu banyak dan empunyai kekuasaan masing-masing, hal ini juga ditolak pengakuan mereka terhadap ke-esa-an Allah, karena Allah tidak mungkin esa apabila masih ada allah-allah yng lain, tidak ada Mahatinggi, Maha Sempurna, dans ebagainya

    Konsep ke-esa-an Tuhan hanya terdapat pada monoteisme, karena merka menganggap bahwa Allah itu satu dan berbeda dengan semesta alam, Allah sebagai pencipta alam semesta ini. Allah yang transenden itu bersifat imanen juga, bukan sebagai suatu kekuatan yang dicampurkan dengan alam melainkan sebagai suatu pribadi tersendiri yang sadar akan dirinya dan pekerjaannya, Allah yang pribadi itu dapat berkomunikasi dengan manusia.

    III. Kesadaran Manusia dan Wahyu

    Salah satu sumber kebenaran agama terletak pada wahyu, dan ide yang murni tentang Allah hanya dapat dimiliki oleh orang-orang yang percaya kepada wahyu, yaitu orang-orang yang beriman, aliran ini disebut fideisme.

    Bukti bahwa Alah ada dengan argument bahwa semua bangsa mengakui adanya Allah, mustahil semua bangsa keliru, maka Allah ada, atau dengan kata lain mustahilemua bangsa mengakui adanya Allah kalau memang Allah itu tidak ada.

    IV. Kekuatan Akal Budi

    Bagi orang yang tidak menganut fideisme, yakni bagi orang ang tidak menerima, bahwa smeua kebenaran hidup berasal dari wahyu saja, mereka mengatakan bahwa sumber pengetahuan tentang Allah itu adalah akal budi. Tokoh yang mengemukakan bahwa ide tentang allah itu berasal dari akalbudi adalah Descartes, namun menurutnya ide di dalam akalbudi itu bukanlah hasil rekayasa manusia tetapu berasal dari Allah itu sendiri, atau dikenal dengan ide bawaan (innate idea)

    V. Pengalaman Hidup

    Jika memang pengetahuan tentang keberadaan allah tidak hanya dari wahyu maka ada sumber alin yang bisa dipercaya, yaitu melalui jalan pengalaman yang serentak merupakan pengertian pula. Dalam pengetahuan terdapat dua segi yaitu pengalaman dan pengertian. Kata pengalaman dipakai untuk menyatakan suatu aspek pengetahuan yang tertentu, yaki adanya pengetahuan dalam hubungan langsung dengan hal yang riil. Kata pengertian dipakai untuk menyatakan suatu aspek lain dari pengetahuan, yakni bahwa dalam pengetahuan dilihat arti atau makna dari hal-hal tertentu, arti atau makna itu telah ada dalam setiap pengalaman.

    Jadi daat disimpulkan bahwa pengalaman yang diperoleh manusia lama kelamaan akan membentuk suatu pengertian dan tentang pengalaman manusia tentang Allah maka akan membentuk suatu pengertian tentang Allah dan akhirnya akan embentuk pengetahuan tentang Allah.

    Tulisan ini dirangkundari buku Mencari Allah: Pengantar ke Dalam Filsafat Ketuhanan