Inti dari kehidupan beragama adalah adanya pengakuan bahwa Allah itu sungguh-sungguh ada, dan pengakuan ini disebut percaya.

I. Pengalaman Religius

Pengalaman hidup merupakan titik tolak hidu beragama, pada mulanya manusia menganggap Allah itu sebagai suatu yang melampaui daya tangkap manusia karena mereka melihat pada alam sekitar mereka, dan muncullah konsep yang Kudus atau yang Suci, dan kata ini sekaligus menandakan adanya perbedaan atau pemisahan dari kehidupan yang biasa.

Dalam pengalaman Religius muncul yang Kudus merupakan rahasia yang menakjubkan yang menakutkan sekaligus menarik, dan Yang Kudus ini merupakan inti tiap-tiap agaman.

Mircea Eliade menunjukkan beberapa benda yang seringkali dianggap sakral, yaitu, Langit, yang mnunjuk pada yang transenden dan abadiyang berbeda dengan bumi tempat tinggal manusia. Matahari, merupakan prinsip kosmis yang menghidupkan, merupakan sumber kehidupan.Salah satu benda atau mahluk hidup, biasanya dalam bentuk binatang buas, benda-benda hidup yang berukuran besar, benda-benda mati.Ruang, Bentukan alam, seperti gunung yang besar.Waktu, biasanya dikaitkan dengan waktu yang istimewa dan dikaitkan dengan mitos atau kejadian yang sangat dasyat.

II. Intuisi Religius

Ada beberapa pengalaman manusia yang dapat menjadi pengalaman religius, dinataranya Pengalaman ketakutan, seolah-olah manusia kehilangan pegangan hidup, pengalaman tentang diri sendiri sebagai mahluk yang hidup tak menentu, pengalaman yang tidak sesuai dengan objek pengalaman, seperti bilamana di hadapan kematiannya seseorang tidak merasa takut, tetapi merasa bebas sekali dari segala ikatan akan hal-hal duaniawi. Pengalaman manusia tentang dirinya sebagai mahluk yang bertanggung jawab terhadap hidup dan semseta alam, pengalaman dalam menghadapi orang lain yang meminta bantuan, pengalaman cinta yang dihayati sebagai suatu anugerah yang diberikan secara percuma dan pengalaman yang ada pada seseorang yang dalam dirinya merasa suatu kerinduan akan yang sempurnya.

Percaya akan Allah termasuk pengertian berupa intuisi itu, dan mengerti secara intuisi itu manusia menimba kekuatan untuk menghadapi segala tantangan hidup dengan gagah dan berbesar hati, sebab ia insaf bahwa ia hidup dalam kebenaran. Intuisi menimbulkan harapan yang tak dapat dipadamkan akan kekuasaan yang muncul dalam menghadapi realitas.

Ada jalan menuju kearah Allah yang dikemukakan oleh Durckheim yaitu jalan Satori, yang mempunyai beberapa tahapan, tahap pertama, kewaspadaan kritis, dimana terdapat hubungan palsu yang melekat pada hidup pribadinya psikis dan jasmani.Tahap kedua, pelepasan, sesudah melihat jalan yang benar, perlu melepaskan diri sebagai aku-subjek. Tahap ketiga, Persatuan dengan dasar, orang yang hidup dari dalam aku-subjek memecahkan hubungannya dengan “ada” sebab “ada” itu hanya muncul melalui wujudnya yang sebenarnya. Tahap keempat, pembaharuan, kesatuan dengan “ada” tidak berarti menghilangkan aku-subjek, melainkan suatu pembaharuan hidup.Tahap kelima, latihan dalam hidup sehari-hari, sesudah memperoleh bentuk hidup baru, maka besarlah tantangan untuk beristirahat dalam model hidup ini. Jalan ini menurut Durckheim tidak begitu bisa dijalankan di dunia barat sebab mereka disibukkan dengan aktifitas yang begitu padat namun di dunia timur hal ini bisa dijalankan terutama para penganutagama Budha.

Beberapa kriteria yang memastikan adanya pengalaman religius yang sejati. Realitas yang dihadapi harus ada realitas yang terakhir yang tak terbatas. Realitas yang dihadai harus dapat dimengerti sebagai jawaban atas manusia sebagai eksistensi, yakni sebagai person total. Pengalaman religius yang sejati harus intensif, harus termasuk pengalaman-pengalaman yang terdalam yang mungkin dalam hidup. Pengalaman religius yang sejati mengajak manusia untuk menjalankan hidup moral sesuai dengan panggilan Allah.

III. Percaya : Pilihan dan Rahmat

Percaya merupakan suatu proses, percaya bisa merupakan suatu proses pilihan diamna ada dua kemungkinan yaitu menerima yang mutlak itu sebagai tanda ke hadirat allah atau menolaknya. Jika orang sampai mengaku bahwa yang mutlak itu menyatakan ke hadirat Allah orang sampai pada percaya. Hal yang paling baik adalah apabila orang dihadapkan pada dua pilihan dan ada dua keungkina mereka bisa percaya dan tidak percaya, bukan dibesarkan pada lingkungan yang sudah percaya.

Ada seorang ahli, william James, mengatakan bahwa sebaiknya orang percaya, bukan karena telah diketahui tentang kebenaran adanya Tuhan, akan tetapi karena keuntungannya. Dalam memilih agama biasanya mmanusia mengkaitkan dengan perasaan-perasaannya sehingga manusai beragama karena ingin dilindungi dari bahaya yang mengancamnya di dunia, sehingga mereka membutuhkan perlindungan dari yang maha kuasa, mereka mmebutuhkan rahmat.

Kierkegaard menyelidiki bentuk percaya yang sungguh-sungguh, yang bisa dipaparkan sebagai berikut.

  1. Percaya secara sungguh-sungguh merupakan suatu perbuatan eksistensial, artinya perbuatan ini keluar dari manusia sebagai suatu keseluruhan, bukan dari salah satu bagian dirinya.

  2. Percaya itu menghasilkan suatu pengertian tentang Allah, pengertian tentang Allah mempunyai persamaan dengan pengertian-pengertian lainnya.

  3. Percaya itu menghasilkan suatu pengertian tentang Allah yang memperlihatkan daya tarik-Nya, sehingga dalam percaya tampaklah suatu “naluri” bagi kehadiran Allah.

  4. Percaya itu melibatkan dirinya dalam suatu lompatan dari suatu hidup yang berakar dalam pengertian dan kematian sendiri ke arah suatu kehidupan yang berakar dalam kehendak Tuhan.

  5. Percaya kepada Allah itu merupakan suatu rahmat, hubungan anatar Tuhan dan manusia makin menyadarkan manusia bahwa Tuhan yang dihampirinya, merupakan suatu misteri yang melampaui batas dirinya.

IV. Agama Sebuah Ilusi

Keyakinan tentang adanya Allah yang merupakan inti kepercayaan, mengalami tantangan dari suatu teori psikologis, yang bermaksud menerangkan stuktur dan cara bekerja jiwa manusia, yakni teori psikologi dalam Freud. Ia mengatakan mula-mula manusia menghadapi alam dengan membayangkan bahwa alam itu mempunyai tabiat manusiawi seperti dirinya sendiri, dan lama-kelamaan berkembang yang menghasilkan bayangan-bayangan yang mencakup seluruh hidup, yang bertujuan untuk mencapai yang maha tinggi.

Ada beberapa komentar tentang ajaran Freud ini, pertama, agama muncul karena manusia primitif membutuhkan figus ayah untuk melindungi mereka dari mara bahaya di dunia ini. Freud percaya bahwa setiap orang pasti mendambakan figus ayah yang bertindak sebagai pelindung, sedangkan menurut C.G. Jung bahwa agama tidak bisa diterangkan dengan menggabungkannya dengan sifat-sifat jiwa yang sangat umum itu, karena tidak semua orang empunyai pengalaman kejiwaan yang sama apalagi teori Freud ini merupakan studi pada orang-orang yang mengalami neurosis.

Bantahan kedua tentang ajrana Freud adalah kegunaan agama bagi kehidupan manusia, orang primitif membutuhkan agama sebab agama memberikan hiburan, perlindungan dan cahaya, akan tetapi pada zaman modern ini orang sebaiknya jangan terikat pada agama sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

V. Percaya dan Kebenaran

Percaya memang wajar sebab Allah itu benar-benar ada, bila Allah tidak ada, manusia modern tidak akan mengakuinya juga, sebab ia tidak mau ditpu. Percaya akan allah sebagai suatu bentuk perasaan batin yang hanya menyangkut subjek sendiri

Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian terutama yang menyangkut kebenaran dalam beragama, yaitu :

  1. Sumber kebenaran yang utama itu bukan akalbudi yang berfikir secara rasional dan ilmiah, melainkan pengalaman hidup, karena dalam pengalaman hidup kita mengerti tentang hidup kita di antara orang-orang lain dan benda-benda lain, lagipula kita insaf tentang macam-macam hubungan dengan mereka.

  2. Percaya bersifat intuitif seperti halnya dengan engetahuan tentang orang lain, percaya akan Allah menyerupai pengetahuan sesorang tentang orang lain, orang lain dikenal sebagai pribadi yang penuh rahasia, yang jika ingin mmbukanya dibutuhkan suatu keterbukaan.

  3. Percaya akan Allah mengandung unsur-unsur rasional juga, yang terkandung dalam evidensi,mengakui Allah merupakan hasil suatu naluri ilahi yang muncul dalam diri manusia, ketika ia bertemu dengan peristiwa-peristiwa hidup yang tertentu, dan merasa bahwa di belakang segala peristiwa itu Allah berada pada dirinya dan mengundangnya. Proses pikiran, kepercayaan disertai suatu proses pikiran, sering kali proses ini agak rasional juga.Kepastian, Kepercayaan menghasilkan suatu kepastian tentang Allah, akan tetapi kepastian itu merupakan suatu kepastian eksistensial, bukan rasional

Tulisan ini dirangkum dari buku Mencari Allah: Pengantar ke Dalam Filsafat Ketuhanan