Pengantar

Metafisika merupakan salah satu cabang dari ilmu filsafat. Metafisika terkenal sebagai cabang ilmu filsafat yang rumit dan sulit, hal ini dikarenakan dalam bermetafisika dibutuhkan tenaga intelektual yang sangat banyak karena harus melakukan bastraksi. Ditambah lagi dalam bermetafisika permasalahan yang dibahas terkadang sangat abstrak jauh dari materi dan angka-angka. Jadi jangan berharap dalam bermetafisika kita dapat mengukur, membuktikan secara pasti seperti ilmu-ilmu pengetahuan yang menganut metode positivis.

Dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai pembahasan apa yang dimaksud dengan metafisika dan aplikasinya dengan fenomena-fenomena yang ada, sehingga diharapkan dari tulisan ini dapat menunjukkan bahwa metafisika tidak serumit dan sesulit yang kita bayangkan selama ini.

Metafisika: Suatu Permulaan

Metafisika sebagai ilmu mempunyai obyeknya sendiri. Hal inilah yang membedakannya denganpendekatan rasional yang lain. Sebelum dibahas lebih lanjut maka ada baiknya kita tilik arti metafisika secara lebih lanjut dengan menilik dari karya Aristoteles, yaitu (Bagus: 17-19)

  1. Metafisika sebagai atiket bibliografis atas karya Aristoteles. Setelah aristoteles meninggal dia meninggalkan pula banyak karya-karya filsafat. Sampai akhirnya karya-karya tersebut jatuh ke tangan Andronikos dari Rodi, dimana dia menemukan 14 buku yang ditulis oleh Aristoteles setelah ”Fisika” tidak mempunyai judul. Maka ke 14 buku itu diberi nama buku-buku yang datang setelah fisika (ta meta ta physica).didalam buku ini ditemukan pembahasan mengenai realitas, kualitas, kesempurnaan, yang-ada, yang tidak terdapat dalam dunia fisik, tetapi menguasai dunia fisik.

  2. Metafisika juga dapat ditinjau dari segi pedagogis, dimana dalam dunia pendidikan terbiasa untuk menerangkan hal yang mudah terlebih dahulu baru kemudian pelajaran yang sulit. Karena metafisika merupakan cabang ilmu filsafat yang sukit maka diajarkan sesudah yang fisik.

  3. Metafisika dalam arti filosofis, dimana metafisika diartikan oleh kaum skolastik sebagai ilmu tetntang yang-ada karena muncul setelah dan melebihi yang fisik (post physicam et supra physicam). Isitilah setelah/ sesudah dimaksudkan bahwa obyek metafisika berada pada abstraksi ketiga setelah abstraksi fisika dan matetatika atau dengan kata lain metafisika menduduki tingkat abstraksi paling tinggi atau paling akhir.

Metafisika dapat dikatakan sebuah usaha sistematis, reflektif dalam mencari hal yang ada di belakang hal-hal yang fisik dan bersifat partikular. Ini berarti usaha mencari prinsip-prinsip dasar yang mencakup semua hal. Yang-ada merupakan prinsip dasar yang dapat ditemukan pada semua hal. (Bagus:20)

Dalam beberapa hal ada keengganan orang untuk bermetafisika, hal ini dikarenakan oleh banyak sebab diantaranya: (Bagus: 1-2)

  1. Ditengah dunia modern berkat teknologi, metafisika nampaknya tidak mempunyai tempat. Metafisika dianggap sebagai ilmu lesu dan telah mati sehingga mempelajarinya hanya membuang waktu. Metafisika dianggap sebagai ilmu yang membutuhkan suatu ketekunan dan disiplin diri tersendiri, sementara saat ini ke-instan-an sedang mendominasi.

  2. Akibat pengaruh dari pemikiran positivisme, sehingga ada kecenderungan manusia modern mendapat pengaruh bahwa setiap hasil studi harus dapat diukur, semua perlu dibuktikan. Metafisika tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut, karena metafisika membahas hal yang umum dan tidak praktis.

  3. Metafisika dipandang sebagai khayalan, penuh imajinasi dan ilmu klenik. Metafisika dipenuhi dengan istilah-istilah yang sulit dipahami dan bersifat esoteris, hal ini dikarenakan pembahasan metafisika selalu membahas permasalahan yang non statistik dan non material sehingga disamakan dengan yang basurd dan tidak rasional.

  4. Dalam bermetafisika orang dituntut untuk mengadakan bastraksi dan itu membutuhkan konsentrasi tenaga intelektual.

Selain keenggana orang untuk bermetasisika terdapat pula keragu-raguan dalam bermetafisika. Diantaranya (Bagus: 21)

  1. Kaum Skeptisisme mempunyai keraguan atas kemampuan kognitif manusia. Paham ini tidak percaya bahwa manusia mampu sampai ke abstraksi yang begitu jauh.

  2. Kaum Empirisme atau Positivisme mereduksikan pengetahuan manusia di luar pengetahuan indrawi sulit diterima sebagai pengetahuan yang sahih.

  3. Kaum Materialisme mereduksikan realitas pada tatanan materi

  4. Filsafat Analitis atau Filsafat Bahasa, khususnya dari kelompok Positivisme Logis menolak ungkapan metafisika sebagai ungkapan bahwa seorang metafisikus ibarat seorang musikus, yang pandai memainkan instrumen tetapi tidak mempunyai bakat musikal.

Keraguan terhadap metafisika ini kemudian dijawab oleh kaum yang pro atau setuju dengan keberadaan metafisika diantaranya (Bagus: 21-22)

  1. Bila metafisika ditolah maka semua cabang ilmu filsafat harus ditolak karena semua cabang tersebut memuat unsur metafisika, tetapi dilihat dari bidang tertentu, dimana setiap pembahasan filsafat selalu mencari hal yang ada dibelakang yang fisik atau mencari hakikat dari segala sesuatu.

  2. Alasan lainnya adalah dilihat dari kebutuhan manusia sebagai mahluk rasional, metafisika merupakan jawaban sistematis yang paling luas dan sekaligus paling dalam dari kehausan intelektual manusia. Itu berarti manusia ingin mencapai prinsip-prinsip yang mampu menyatukan banyak hal yang pada akhirnya manusia ingin mencapai prinsip yang paling dasar yang mampu menyatukan semua hal dan satu sistem.

Dalam memahami metafisika terdapat beberapa pertanyaan yang biasa diajukan oleh metafisikus, diantaranya pertanyaan seputar metafisika adalah:

1. Apa itu yang nyata/ realitas. Pertanyaan ini berkisar pada hal yang mempertanyakan antara yang nyata dengan yang tidak nyata atau yang mungkin nyata. Atau dengan kata lain pertanyaan yang menanyakan tentang keberadaan suatu fenomena. Dan biasanya pertanyaan yang diajukan akan membawa kita langsung kepada inti permasalahan metafisika.

2. Apa itu Realitas yang ultima/ absolut/ akhir. Apa yang menjadi dasar penentu suatu realitas. pertanyaan yang mempertanyakan tentang bahan dasar pembentuk suatu fenomena atau kenyataan atau suatu realitas. dengan harapan jika kita bisa memikirkan dengan mempertanyakan basic contituents dari suatu realitas maka kita bisa menemukan hakekat dari realitas tersebut yang dikenal sebagai ultimate reality.

3. Pertanyaan terakhir biasanya menanyakan kedudukan manusia dalam kenyataan atau relaitas tersebut.

Dalam mengkaji suatu realitas dalam metafisika dapat dilihat dari beberapa komponen dasar yang menandai bahwa sesuatu itu sebagai suatu realitas. adapun komponen Realitas dalam Metafisika adalah

1. Entitas, mencakup segala sesuatu yang ada dan mungkin ada. Entitas ini dapat dilihat sebagai Entitas Material (Materialisme) dan Entitas Mental (Idealisme) bahkan kedua-duanya (Dualisme).

2. Eksistensi dan Hakekat individual, disebut pula partikular

3. Property tertentu. Dapat diartikan sebagai sesuatu yang melekat pada sesuatu yang memberi nilai tertentu dan mencirikan sekaligus membedakan sesuatu dari yang lain. Seperti ukuran, bentuk, isi dansebagainya.

4. Relasi. Suatu realitas mempunyai konsekuensi pada relasi yang lain. Sehingga bukan hanya sesuatu yang sekedar kaitan tambahan belaka.

5. Hakekat Ruang dan Waktu. Melihat apakah ruang dan waktu merupakan hal-hal individual yang ’terkandung’ dalam individual biasa (ordinary individual)

Dalam memahami realitas maka ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk menganalisa kedudukan suatu realitas diantaranya:

1. Commonsense Realism, pada dasarnya menganggap suatu kebenaran itu hadir ketika obyek-obyek fisik itu ada dan sungguh-sungguh memiliki ’properties seperti yang dipersepsikan oleh manusia (Hasker: 82). Sehingga suatu mobil dia dilihat sebagai suatu kenyataan yang memiliki roda, berbadan besi dan aluminium, yang merupakan alat transportasi yang digerakkan oleh mesin berbahan bakar bensin, dan memiliki pintu, jendela dan berbagai atribut atau properti yang melekat pada diri mobil itu yang menandai bahwa realitas itu dikatakan sebuah mobil.

2. Realisme Universal. Realisme universal dilukiskan sebagai berikut” hal-hal seperti ’properties’ dan ’attributes’ sungguh ada menurut ’ada mereka sendiri’ (exist ’on their own’) terpisah baik, dari obyek-obyek yang ’mewakilinya’ (obyek yang merupakan contoh ’perwujudan’-nya) maupun dari ’pikiran’ (minds) yang dapat menangkapnya” (Hasker:85). Sehingga manis itu sungguh-sungguh ada terpisah dari gula yang manis maupun dari pikiran yang menikmati manisnya gula tersebut. Sehingga manis itu bukan melulu milik atau properti dari gula semata tetapi juga dapat sebagai properti dari tebu dan seterusnya. Properti yang ada bersifat universal.

3. Scientific Realism. Realitas dikatakan sebagai realitas jika sudah memenuhi ketentuan ilmiah.

4. Idealisme. Idealisme mempunyai pandangan yang sangat berbeda dengan realisme, mereka tidak mempersoalkan pandangan orang biasa bahwa benda-benda material itu memang ada, tetapi mereka menolak lebih pada analisa dari benda material yang diberikan beberapa filusuf, dimana benda material itu sama sekali independen dari akal budi.

Berbicara mengenai Metafisika maka kita tidak akan lepas dari pembahasan mengenai Ruang dan Waktu. Bagi Taylor dalam bukunya Metaphisics, dikatakan bahwa waktu dikatakan misteri adalah akibat dari memikirkan waktu sebagai sesuatu yang bergerak. Hal inilah yang mendorong manusia untuk berfikir bahwa waktu itu terus bergerak maju tanpa berhenti dan tidak dapat dihalangi. (Jolasa:58). Namun beberapa metafisikawan mengenaggp lain. Ada beberapa dari mereka yang mengatakan bahwa waktu adalah sesuatu yang unreal dan waktu adalah sekedar ilusi belaka (Jolasa:58).

Taylor pernah mengatakan mengeai ruang dan waktu, dimana dikatakan bahwa (dalam Jolasa:59)

Kecuali kenyataan bahwa waktu sepertinya sesuatu yang sedang bergerak – suati sifat yang sedang bergerak – suatu sifat yang sering dihubungkan dengan ’temporal passage’ dan dilukiskan sebagai ’proses menjadi’ (becoming) – ruang dan waktu adalah sangat mirip satu sama lain dalam banyak aspek

Dalam membicarakan ruang dan waktu kita akan membicarakan ide tentang berada di suatu ’tempat’ (being at place) dapat mengungkapkan entah pikiran tentang ’spatial’ atau ’temporal’ atau kedua-duanya. (Jolasa:59). Konsep lain yang penting dalam raung dan waktu adalah adanya ’distance’ atau suatu ’interval’. Dan dalam konteks ini pula bisa hadir konsep ”being present” yang sering diberi arti untuk mengungkapkan entah konsep ”being here” yang merujuk pada tempat atau ”being now” yang menunjuk pada waktu, atau dapat keduanya ”berada disini sekarang”(Jolasa:59)

Akhirnya perlu dicatat bahwa konsep tentang ’physical object’ berkaitan dengan dimensi ruang dan waktu, karena ‘benda yang demikian itu’ memiliki baik dimensi ‘panjang’ maupun ’ekstensinya’ dan kedua dimensi dari bagian-bagian ’obyek fisik’ itu.(Jolasa:60)

Dari penjelasan diatas maka akan dicoba menganalisa suatu kenyataan dari sudut pandang metafisika. Kenyataan atau realitas yang akan dibahas adalah mengenai Dunia Maya atau Cyber World

Cyber World: Suatu Kenyataan atau Ilusi Belaka

Dewasa ini, dengan adanya perkembangan teknologi yang begitu pesat, teknologi komunikasi sudah mencapai suatu kemajuan yang pesat dan tidak dapat dihindari lagi. Seakan manusia sudah harus menerima ’keterpenjaraannya’ dalam arus teknologi.

Salah satu bentuk kemajuan adalah adanya kemajuan internet, dan muncullah apa yang dikenal dengan Cyber World atau dunia maya. Sekarang manusia modern dapat mengakses semua hal melalui dunia internet.

Banyak konsekuensi yang muncul dengan adanya dunia maya ini atau Cyber World. Dari sisi positifnya manusia modern dapat mengkases semua hal dari rumah mereka atau hanya berada dari ruang sudut rumah yang mungil. Mereka sudah tidak memerlukan ruang dan waktu yang banyak lagi, mereka dapat menembus dinding-dinding penyekat yang selama ini membatas gerak mereka. Sebagai contoh seorang ibu rumah tangga dapat menjadi ibu rumah tangga yang full time sekaligus sebagai pengusaha yang berjualan melalui internet. Ibu tersebut dapat memasarkan barang dagangannya melalui internet. Dan banyak lagi kemudahan yang diberikan oleh dunia maya ini.

Namun dunia maya ini tidak bisa terlepas dari sisi negatif. Salah satunya mereka tidak perlu berinteraksi lagi dengan manusia lain. Bahkan intensitas mereka berinteraksi dengan manusia lain dapat berkurang bahkan sama sekali hilang. Belum lagi tindak kriminal yang bisa dilakukan dari dunia maya ini, ditambah tidak ada atau belum adanya aturan hukum yang dapat menjaring mereka. Hal ini dikarenakan pembuktian yang masih lemah serta pelacakan jejak yang masih sulit.

Jelas sudah bahwa Cyber World telah hadir ditengah kehidupan manusia sehingga segala hal sudah sulit untuk dibendung. Cyber World dapat hadir menemani manusia modern dimana saja dan kapan saja, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Dari fenomena yang dihadirkan diatas maka dapat dipertanyakan apakah cyber World dapat dikatakan sebagai suatu kenyataan atau realitas atau suatu ilusi belaka yang tidak mengandung suatu kenyataan.

Jika kita menilik dari pertanyaan-pertanyaan yang selalu diajukan dalam mengkaji metafisika, dimana pertanyaan yang selalu ditanyakan adalah berkaitan dengan kenyataan sehingga dapat dipertanyakan apakah Cyber World merupakan suatu kenyataan. Jika kita tilik dari komponen yang harus ada pada setiap realitas maka Cyber World merupakan suatu kenyataan. Dari sisi entitas, Cyber World mempunyai entitas, dapat dikatakan bahwa Cyber World suatu realitas yang hadir di tengah-tengah manusia bahkan mempunyai pengaruh yang cukup besar pada kehidupan manusia modern. Sedikit banyak Cyber World telah mempengaruhi sistem kehidupan dai manusia modern, baik secara positif maupun negatif.

Jika kita tilik dari sisi properties, Cyber World mempunyai properti yang jelas nyata secara materi dia terwujud dalam seperangkat komputer yang terdiri dari Software dan Hardware yang berlaku sebagai penerima (reciever) lalu terdapat jaringan komunikasi berupa kabel ataupun jaringan optik serta sebagai provider-nya adalah stasiun-stasiun pemancar yang ada. Hal ini sesuai dengan penilaian kenyataan menurut sudut pandang Commonsense Realism. Secara Ideal atau pun Universal Cyber World juga dapat dikatakan sebagai suatu kenyataan, atau dengan meminjam istilah metafisika bahwa Cyber World merupakan suatu yang ada. karena Cyber World hadir ditengah manusia sebagai suatu perangkat yang memudahkan manusia untuk melakukan segala aktifitasnya. Secara ideal dia telah hadir ditengah kehidupan manusia, baik itu diwakili oleh seperangkat komputer, mobile phone, PDA atau apapun bentuk reciever-nya Cyber World telah berada bagi manusia dengan fungsi dan peran yang sama.

Dari sudut ada tidaknya relasi, jelas sudah bahwa Cyber World mempunyai relasi sebab akibat yang amat sangat dengan kehidupan manusia. Bahkan secara sekilas keduanya saling menyebabkan dan saling mengakibatkan. Cyber World merupakan bentukan manusia modern namun setelah Cyber World ada, manusia modern pun menjadi sangat tergantung dengan keberadaannya, bahkan sehari tidak menggunakan internet dapat membuat dunia menjadi chaos. Banyak perdagangan, transaksi perbankan dan segala saluran komunikasi menjadi terganggu. Bahkan kita dapat memulai peperangan melalui Cyber World. Begitu dasyatnya peran dan pengaruh dari Cyber World.

Jika kita tilik dari sisi ruang dan waktu, Cyber World memang masih dalam perdebatan. Jika kita terikat dengan konsep ruang dan waktu yang berupa jam, dinding, kelas, keluarga, masyarakat atau ruang dalam bentuk negara. Maka Cyber World sudah mulai meninggalkannya. Dalam Cyber World tidak lagi dikenal batas-batas yang mengandung makna teritori. Dari sisi waktu saja Cyber World tidak terikat olehnya, kapan pun dan dimana pun kita bisa mengaksesnya. Dari sisi ruang Cyber World pun tidak berhingga. Bahkan ini yang berimplikasi pada sulitnya untuk menjerat pelaku kejahatan yang menggunakan fasilitas internet, atau yang lebih dikenal dengan Cyber Crime. Namun bukan berarti sesuatu yang tidak ber-ruang dan ber-waktu bukan kajian metafisika. Selama dia ada dan mungkin ada dia masuk dalam kajian metafisika. Justru dari kenyataan yang ada, dalam hal ini kehadiran Cyber World, kita bisa membahasnya dan menentukan kedudukannya dalam kehidupan manusia. Dari sini bisa dilanjutkan kembali pembahasannya ke dalam cabang ilmu filsafat lainnya seperti epistemologi dan yang terpenting adalah dari sisi etika.

Ruang dan waktu dalam dunia maya tidak bisa kita samakan dengan ruang danwaktu yang selama ini dipahami oleh orang kebanyakan. Dalam Cyber World ia tentunya menduduki ruang namun tidak nyata, yang dimaksud disini tidak memiliki property seperti benda lainnya. Ia berada ketika ia masuk ke dalam benda lain, yaitu perangkat komputer. Sedangkan komputer bukanlah cyber world, komputer hanyalah perwujudan dari suatu kenyataan atau realitas lain. seperti halnya tubuh dan jiwa, tubuh hanyalah perwujudan dari realitas lain yaitu jiwa.

Menyangkut waktu, cyber world juga mempunyai pendekatan yang lain. waktu dalam dunia maya tidaklah mempunyai konsep panjang, sapsial, dan konsep-konsep lain. dalam cyber world waktu tidaklah terbatas, kita bisa ’menembus’ waktu. Waktu tidak lagi terikat pada ruang atau spatial tertentu. Kita bisa mengakses kapanpun, dimanapun, bahkan dari tempat yang berlainan kita dapat melakukan hubungan secara langsung atau dengan kata lain kita bisa berada disini sekarang (here and now). Rentang waktu dalam Cyber space tidak begitu berlaku dikarenakan waktu yang berkenaan dengan jam, menit dan detik tidak berlaku pada dunia maya. Waktu yang demikian itu hanya berlaku bagi pelaku yang terlibat dalam cyber space, yaitu manusia.

Setelah kita membahas fenomena Cyber World ini maka jelaslah kedudukannya. Dimana Cyber World merupakan suatu realitas yang hadir di tengah manusia, bahkan mau tidak mau dia telah membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan manusia modern. Namun yang perlu diingat adalah sejauhmana kita dapat menyebut Cyber World sebagai dunia maya. Karena dari penjelasan diatas Cyber World bukanlah dunia maya yang mengandung konotasi dunia yang tak berwujud, tidak jelas, absurd. Mengingat peranan pengaruh Cyber World sangatlah diluar dari penamaannya. Mungkin perlu ditinjau kembali dari penamaan. Karena definisi merupakan hasil dari aktifitas metafisika, dimana setelah menemukan realitas yang ultim (ultimate reality) maka baru diciptakan label atau nama untuk fenomena yang telah dikaji tersebut.

Kesimpulan

Mungkin kita tidak lagi menamakan Cyber World sebagai dunia maya, yang mempunyai konotasi dunia yang tak berwujud, tidak jelas, absurd. Mengingat peranan pengaruh Cyber World sangatlah diluar dari penamaannya.

Secara jelas bahwa Cyber World merupakan suatu kenyataan baik dipandang dari sudut pandang realisme maupun idealisme. Namun jika ditilik dari sisi ruang dan waktu memang Cyber World tidak terikan oleh keduanya. Walaupun demikian bukan berarti sesuatu yang tidak ber-ruang dan ber-waktu (seperti yang dipahami oleh orang kebanyakan) bukan kajian metafisika. Selama dia ada dan mungkin ada dia masuk dalam kajian metafisika. Justru dari kenyataan yang ada, dalam hal ini kehadiran Cyber World, kita bisa membahasnya dan menentukan kedudukannya dalam kehidupan manusia. Dari sini bisa dilanjutkan kembali pembahasannya ke dalam cabang ilmu filsafat lainnya seperti epistemologi dan yang terpenting adalah dari sisi etika. Setelah kita secara jelas membahas kedudukan Cyber World pada kehidupan manusia termasuk pengaruhnya. Kita baru dapat menentukan sisi etika dari Cyber World dalam kehidupan manusia dan akan lebih memudahkan kita untuk melakukan pembahasan mengenai kedudukan hukum yang pada akhirnya dapat melakukan tuntutan pada manusia yang melakukan Cyber Crime.

Cyber World tidak dapat dipungkiri lagi akan kehadirannya, ia merupakan suatu fenomena/ kenyataan/ realitas yang hadir di tengah manusia. Walaupun keberadaan secara fisik (seperti yang ditekankan oleh commonsence realism) tidak memiliki persyaratan, namun jika dikaji kembali cyber world adalah suatu realitas yang turut mempengaruhi manusia terutama manusia yang menyebut dirinya sebagai manusia modern. Cyber world hadir memenuhi kehidupan manusia, bahkan terkadang manusia dewasa ini tidak dapat hidup tanpa kehadirannya. Cyber World tidak mempunyai konsep ruang seperti yang kita paami selama ini, Ia dikatakan mempunyai ruang tetapi sifatnya sangat temporal dan harus terkait dengan realitas yang lain. keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari realitas lain (dalam hal ini perangkat komputer). Jika dikaitkan dengan ruang yang berada di dunia maya maka ruang bersifat tak terbatas, manusia dapat memasuki dunia mana saja tanpa terikat pada konsep spatial yang ada. manusia dapat melakukan semua kegiatannya tanpa harus bergerak dan terikat oleh ruang, manusia dalam hitungan detik dapat menempati ruang maya yang berada di negara-negara yang berlainan Jika dari sudut pandang waktu, dunia maya ini tidak memiliki batasa waktu yang jelas, ia memiliki konsep waktu yang tak terbatas.

Tugas metafisikawan lah untuk membahas keberadaan cyber world ini karena hal ini akan berdampak pada realitas yang lain, seperti keberadaan manusia serta akan terkait erat dengan nilai, norma serta aturan yang berada dalam masyarakat.

Analisa Kritik

Metafisikan merupakan suatu cabang ilmu filsafat yang memang membutuhkan energi ekstra untuk mendalaminya. Tidak semua orang menyenanginya. Bahkan filsafat modern saat ini sudah mulai meninggalkan metafisika, karena menganggap metafisikan suatu ilmu yang tidak berguna, tidak aplikatif, dan sulit untuk dilakukan.

Namun dengan metafisikan kita dapat, salah satunya, menentukan suatu fenomena itu ada atai mungkin ada atau bahkan tidak ada. jika dapat kita menentukan hal ini maka kedepannya kita dapat menetukan hal lainnya, seperti halnya Cyber World, banyak orang tidak ambil pusing memikirkan apakah ia ada atau mungkin ada atau bahkan dianggap tidak ada. namuan setelah terjadi suatu cyber crime dimana kejahatan dapat dilakukan melalui dunia maya ini, maka orang mulai sama-sama memikirkan tentang kebradaannya dan mencarikan dasar hukum yang dapat menjerat pelaku kejahatan tersebut.

Dengan pembahasan metafisika maka kondisi seperti ini dapat dihindari. Jika suatu fenomena itu dinilai keberadaannya sebagai suatu yang ada maka itu akan memiliki konsekuaensi lain seperti nilai dan etika dalan cyber world, lalu dasar hukum yang dapat menjamin keamanan dan kenyamanan penggunanya dan lain sebagainya.

Bibliografi

  1. Bagus, Loren. 1991. “Metafisika”. Jakarta: PT.Pustaka Gramedia
  2. Bagus, Loren.1996. ”Kamus Filsafat”. Jakarta: PT.Pustaka Gramedia
  3. Bakker, Anton. 1997. “Ontologi: Metafisika Umum”. Yogyakarta: Kanisius
  4. Hasker, William. ”Methaphysics: Construction a World View”. England: Inter Varsity Press
  5. Soemargono, Soejono.1988.”Berfikir Secara Kefilsafatan”. Yogyakarta: Nur Cahaya
  6. Taylor, Richard. 1999.”Metaphysics”. New Jersey: Prentice-Hall,Inc
  7. Jolasa, Vincent Yohanes. 2006. Bahan Kuliah Metafisika. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.