Pendahuluan

Dalam filsafat digunakan dua model penyelidikan tentang manusia yaitu model esensi yang mendekati objek penyelidikannya dengan cara yang abstrak, memandang manusia lepas dari situasi dan perkembangannya. Mereka hanya memperhatikan apa yang disebut kodratnya. Model kedua yaitu eksistensi yang berpendapat bahwa manusia baru dikenal dalam keseluruhannya dan kodrat manusia itu dimiliki manusia untuk diwujudkan dalam hidup (Theo, 1991, 15)

Dalam filsafat citra manusia dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu manusia barat dan manusia timur. Menurut Denis de Rougemont, istilah timur dan barat lebih bersifat simbolis daripada berdasarkan pada kenyataan geografis.(To, 1984,4)

Ada beberapa ciri khas yang membedakan manusia timur[1] dan manusia barat[2]. Dalam perolehan pengetahuan manusia barat lebih mengutamakan akal sebagai alat penalaran dan memperoleh pengetahuan. Proses abstraksi sangat penting dalam memahami hidup. Bagi manusia barat pengetahuan berguna untuk menguasai dunia. Orientasi berfikir manusia barat lebih mengarah pada kejelasan, distingsi, determinasi, absolut dan abastrak. Manusia barat mempunyai pemikiran yang kompleks sehingga berkonsekuensi pada spesialisasi dan begitu sedikit pengetahuan manusiawi. Dari segi kepemilikan kebendaan, manusia barat lebih mementingkan pilihan sebanyak mungkin atas kebendaan demi diri sendiri. Yang lebih penting baginya adalah supaya orang harus tahu sebanyak mungkin dan memiliki sebanyak mungkin.( Stephanus, 1990, 38). Sebaliknya manusia timur lebih mengutamakan hati yang merupakan alat pemersatu akal dan intuisi atau intelegensi dan perasaan. Manusia lebih menekankan pada simbol yang sifatnya kongkret. Manusia timur beranggapan bahwa pengetahuan berguna untuk menjadi bijaksana dalam menghadapi hidup yang sulit. (To, 1984,69).

Perbedaan lain antara manusia barat dan timur bisa dilihat dari sikap mereka terhadap Alam. Manusia barat mempunyai motivasi untuk menguasai alam, karena manusia barat selalu berjarak dengan alam hal ini akhirnya mengakibatkan adanya eksploitasi dan ekspansi. Sedangkan manusia timur lebih menghormati alam karena menganggap alam dan manusia merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan (holistik) dan lebih mementingkan harmonisasi. (To, 1984,73-75).

Cita-cita hidup manusia barat dan manusia timur pun berbeda. Manusia barat mempunyai sikap aktif, mereka aktor dari kehidupan dan terus berpetualang dalam hidupnya. Bagi manusia timur nilai tertinggi dalam hidup datang dari dalam, menerima keadaan, mengumpulkan pengalaman, mengintegrasikan diri dan waktu demi kesempurnaannya(To, 1984, 76-77).

Mengenai status persona, manusia barat lebih menghargai hak individu sehingga membentuk pribadi yang percaya diri, terus terang, relistis, dan “berani menjadi”. (To, 1984,79). Sedangkan manusia timur lebih melihat bahwa keberadaan manusia baru berarti apabila ia tidak memisahkan diri dari masyarakat dan berpikir secara sosial-kolektif. Karena itu manusia selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan masyarakat dan anggota-anggotanya. (Stephanus, 1990,31)

Manusia barat mempunyai beberapa ciri sebagai berikut, dari segi pemikiran, salah satu keistimewaan filsafat timur dibandingkan filsafat barat adalah adanya kecenderungan bahwa pada umumnya filsafat Cina atau timur condong untuk bersifat praktis dan duniawi yang menjadi perhatian adalah soal moral dan duniawi, dan yang ditekankan adalah keharmonisan (Titus,1984,484)

Selain dari perbedaan-perbedaan yang telah diungkapkan diatas, ada beberapa kesamaan antara manusia timur dan manusia barat terutama tampak dalam pandangan mereka bahwa alam ini mengandung keaktifan dan mengalami perubahan terus-menerus; dalam proses alamiah tetap mempertahankan identitasnya dan semua proses itu membutuhkan satu keseluruhan bahwa dalam alam terdapat pertentangan-pertentangan dan unsur-unsur yang saling bergantung dan secara organis membentuk keseluruhan itu (Stephanus, 1990, 36). Persamaan lainnya adalah mengakui adanya suatu yang absolut yang merupakan sumber dari segala sesuatu (penyebab pertama), dan juga sama-sama menghadapi pertanyaan dasar tentang manusia dan mempunyai wawasan yang sama tentang dimana manusia dapat menemukan pemenuhannya. (To, 1984,85)

Kung Fu Tze: Hidup dan Mati

Kung Fu Tze lahir pada tahun 551 sebelum masehi di kota Tsou negara bagian Lu yang sekrang merupakan propinsi Shantung. Ayahnya bernama Shuliang Ho, pernah menjabat sebagai walikota dan merupakan orang kuat dan pemberani. Ibunya bernama Yen Cheng-tsai seorang wanita yang berpendidikan dan sangat berpengaruh pada semangat Kung Fu Tze dalam menempuh pendidikannya. Pada proses kelahirannya banyak mitos yang beredar, ada beberapa literatur yang menceritakan ketika Kung Fu Tze lahir banyak dewa yang menyaksikan dan memberi restu padanya.

Diusia 15 tahun Kung Fu Tze memutuskan untuk menjadi pelajar, dan belajar dengan giat dari guru-guru yang ternama pada saat itu. Hampir semua pelajaran Ia kuasai. Empat tahun kemudia Ia memutuskan untuk menikah dan bersamaan dengan itu karirnya di dunia politik dimulai, ditandai dengan masuknya Kung Fu Tze dijajaran aparat pemerintahan negara bagian Lu yang bertanggung jawab sebagai penguasa tanah milik umum.

Pada tahun 525 SM datanglah seorang cendekia yang bernama Tan Tzu kenegara bagian Lu, darinyalah Kung Fu Tze belajar tentang sistem pemerintahan Cina Kuno. Pada saat ini Kung Fu Tze sudah mulai mengajarkan hal-hal yang penting terutama mengenai bagaimana menjadi manusia ideal (Chun Tzu) pada beberapa muridnya, termasuk anak dari Penguasa Lu yaitu Meng Yi dan Nan Kung Ching Shu.

Pada tahun 518 SM Kung Fu Tze mulai meninggalkan negara bagian Lu untuk belajar tentang li pada Lao Tzu, dan menurut sejarah setelah ia kembali ke negara Lu makin banyak murid yang belajar padanya. Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Fung Yu Lan, Lao Tzu bisa berarti nama seseorang atau kitab. Menurutnya Lao Tzu bisa jadi bukan nama seseorang, tetapi bisa jadi itu merupakan nama seseorang. Tetapi dari beberapa sumber yang dikumpulkan oleh Fung Yu Lan, Lao Tzu sebagai kitab ditulis setelah Lao Tzu wafat. Namun menurut dugaan jika Lao Tzu seorang manusia maka ia lebih tua dari Kung Fu Tze.

Satu tahun kemudian Kung Fu Tze pergi ke negara bagian Ch’i bersama adipati Chao dari negara bagian Lu. Adipati Chao adalah adipati yang pasukannya dikalahkan oleh pasukan gabungan dari tiga raja Lu yaitu raja P’ing dari Chi, raja Meng dan raja Shu Sun. akhirnya negara bagian Lu dikuasai oleh adipati Ting. Saat kepemimpinannya Kung Fu Tze merasa tidak puas karena sistem kepemimpinannya dibidang politik dan sosial yang tidak memperhatikan rakyat kecil. Akhirnya Kung Fu Tze lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mengajar.

Pada tahun 510 SM Kung Fu Tze memutuskan untuk kembali ke negara bagian Lu. Pada saat itu Lu sedang mengalami masa Chaos dalam segala bidang terutama dari segi politik, sosial dan moral. Kung Fu Tze memutuskan untuk tidak terlibat lagi dalam pemerintahan, dan Ia memutuskan untuk berhenti menuntut ilmu dan memilih untuk mengedit buku-buku puisi, sejarah, upacara dan musik. Jumlah muridnya makin lama makin bertambah yang berdatangan dari dalam dan luar negara bagian Lu.

Tahun 502 terjadi lagi pergolakan di negara Lu, terjadi beberapa penangkapan penguasa yang dianggap tidak layak lagi menjadi pemimpin. Akhirnya untuk mengatasi masalah yang rumit ini Kung Fu Tze diminta melakukan negosiasi, dan hasil dari negosiasi ini beberapa muridnya mendapatkan kedudukan yang baik di pemerintahan seperti Tzu Lu. Pada tahun ke 14 dari kekuasaan adipati Ting, Kung Fu Tze dipromosikan untuk menduduki jabatan perdana menteri, namun setelah 3 tahun Ia merasa sudah tidak sejalan lagi dengan adipati Ting. Akhirnya Kung Fu Tze mengundurkan diri dari jabatannya dan pergi ke negara bagian Wei.

Kung Fu Tze akhirnya memutuskan untuk memusatkan perhatiannya pada kegiatan mengajar, dan melakukan perjalanan dari negara bagian yang satu ke negara bagian yang lain. Dalam catatan sejarah disebutkan beberapa negara bagian yang dilaluinya diantaranya, Wei, Ch’en, Ts’ai, Ts’ao, Sung, Cheng dan perbatasan Chin.

Pada usia 68 tahun Kung Fu Tze memutuskan untuk kembali ke Lu dan mengajarkan ajarannya disana. Dan mulai tahun 481 SM Kung Fu Tze mengalami hal-hal yang buruk terutama dengan meninggalnya beberapa murid kesayangannya. Dan pada tahun 479 SM diusianya ke 73 tahun Kung Fu Tze menghembuskan nafas terakhirnya.

Inti Ajaran Kung Fu Tze

Ajaran Kung Fu Tze tentang manusia, karena inti dari ajarannya adalah mencapai suatu keharmonisan antara manusia dengan lingkungan sosialnya sehingga perlu memahami dengan tepat konsep manusia menurut Kung Fu Tze. Walaupun konfusianisme adalah ajaran moral yang didasarkan pada tradisi-tradisi tua (Bagus,1996,477) namun demikian banyak dari ajaran-ajarannya yang masih perlu menjadi perhatian kita dalam menjalani kehidupan saat ini. Kung Fu Tze berpendirian bahwa pada hakekatnya manusia adalah mahluk sosial. Dalam batas-batas yang sangat jauh (meskipun tidak sepenuhnya) manusia dibentuk seperti keadaannya oleh masyarakat. Di lain pihak, karena masyarakat sekedar merupakan keadaan saling mempengaruhi di antara manusia, maka masyarakat dibentuk seperti keadaannya, oleh orang seorang yang menyusunnya. Kung Fu Tze berpendirian bahwa hati nurani orang seorang tentu melarangnya untuk menarik diri dari masyarakat, tetapi juga melarangnya untuk menyerahkan pertimbangan moralnya kepada masyarakat. (Creel,1990,33). Ajaran diatas menunjukkan bahwa manusia dibentuk oleh masyarakat dimana ia tinggal dan demikian sebaliknya masyarakat pun dibentuk oleh manusia-manusia yang ada di dalamnya.

Kung Fu Tze juga menekankan betapa pentingnya pendidikan moral bagi masyarakat, dikatakan bahwa pendidikan harus tersedia bagi semua orang karena pendidikan merupakan hal yang terpenting untuk menjadi manusia ideal. Kung Fu Tze mengatakan bahwa bila ada pendidikan maka tidak ada lagi perbedaan kelas. Dan Kung Fu Tze juga menganjurkan untuk mendidik masyarakat setelah mereka sudah kaya. (Dawson,1992,27). Dalam menuntut ilmu, kita tidak perlu memandang dari siapa ilmu itu datang, semua ilmu yang baik pasti akan bermanfaat bagi kehidupan manusia, seperti yang diungkapkan oleh Kung Fu Tze dalam analects “Kalau aku berjalan dengan dua orang lain, aku selalu menerima pelajaran dari mereka. Aku memilih sifat-sifat baik dan mengikuti mereka, serta menghindari sifat-sifat buruk”. Dan dilain kesempatan ia juga mengatakan bahwa Di hadapan orang baik, berusahalah menyamainya. Di hadapan orang yang tidak berharga, arahkan pandanganmu ke dalam dirimu sendiri. (Dawson,1992,25). Demikian pula pendapat Kung Fu Tze tentang kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dimana ia berpendapat bahwa setiap orang sama potensinya dalam perkembangan moral (Dawson,1992,64)

Kung Fu Tze mengajarkan bahwa untuk mendidik masyarakat harus melalui latihan moral, dan standar isi pendidikan terdiri dari enam seni, yaitu : upacara agama, musik, panahan, seni penguasaan perang, penulisan dan matematika. (Dawson,1992,30). Ajaran Kung Fu Tze mementingkan ajaran-ajaran lama dari leluhurnya, ia menekankan pentingnya upacara keagamaan dan musik karena menurutnya apabila orang dapat memimpin sebuah negara dengan upacara keagamaan dan rasa hormat, maka tidak ada lagi yang perlu dikatakan; tetapi bila orang tidak dapat memimpin sebuah negara dengan upacara keagamaan dan rasa hormat, lalu apa yang harus dilakukan orang dengan upacara keagamaan?” (Dawson, 1992,39). Atau dengan kata lain apabila seseorang tidak mengerti budaya dan tata krama bangsanya sendiri bagaimana ia bisa mengerti bangsanya itu secara menyeluruh dan bagaimana ia bisa memimpin bangsanya tersebut.

Kung Fu Tze berpendapat bahwa sebelum menjadi pemerintah sebaiknya setiap orang harus belajar memerintah dirinya sendiri (Smith, 1999,190) karena menurutnya memerintah artinya membetulkan (Dawson, 1992, 102). Menurut Kung Fu Tze modal terpenting untuk menjadi manusia yang unggul (Chun Tzu) apabila mereka tetap berpegang teguh dan mempertahankan tradisi moral yang baik dan tidak merugikan orang lain, serta yang terpenting adalah kesetiaan dan kejujuran. (Dawson, 1992,31). Kung Fu Tze percaya bahwa seseorang tidak mungkin tidak berbuat apapun, karena bagi setiap orang ada sesuatu yang seharusnya ia kerjakan. (Soemargono, 1990,56)

Berikut ini kutipan pidato Kung Fu Tze dalam bukunya Ta Hsueh, yang menurut To Thi Anh merupakan pidato pengukuhannya : (To, 1984, 10)

“Orang-orang purba yang ingin melindungi watak yang murni dan bersih dari manusia di dunia, pertama-tama harus mengatur hidup bangsanya. Mereka yang ingin mengatur hidup bangsanya, pertama-tama harus mengatur hidup keluarganya. Mereka yang ingin mengatur hidup keluarganya, harus membudayakan hidup pribadinya, harus membentuk hati mereka secara benar… jika hati mereka telah dibentuk secara benar, maka kehidupan pribadi sudah dibudayakan; jika kehidupan pribadi telah dibudayakan, maka hidup keluarga sudah teratur, jika hidup keluarga telah teratur, maka kehidupan bangsa pun teratur; jika kehidupan bangsa teratur maka akan ada damai di dunia”

dari kutipan diatas maka jelas sekali Kung Fu Tze menekankan betapa pentingnya peran individu dalam melakukan perubahan dalam masyarakat. Penekanan ajaran Kung Fu Tze memang untuk mencapai suatu kehidupan yang harmonis, namun untuk mencapai keharmonisan tersebut haruslah dimulai oleh pribadi individu yang unggul, yaitu dengan mencapai tahapan Chun Tzu.

Ajaran Kung Fu Tze dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi, yaitu pemikiran Kung Fu Tze tentang Manusia dan pemikirannya tentang Masyarakat. Kedua ajaran ini, Manusia dan Masyarakat, mengarahkan pada bentuk yang ideal.

Pemikiran ini muncul setelah Kung Fu Tze melihat kekacauan dalam masyarakat, dimana terdapat banyak peperangan, yang berakibat muncul masalah anarki sosial. Satu sisi Kung Fu Tze tidak setuju dengan pemikiran pada realis yang mendahulukan kekuatan atau kekerasan dalam menegakkan kepatuhan. Dilain pihak Kung Fu Tze juga tidak terlalu setuju dengan konsep cinta kasih yang dipaparkan oleh kaum Mohisme karena cinta kasih yang tidak mengenal perbedaan akan menyebabkan kemerosotan nilai.

Kung Fu Tze melihat ada satu titik terang dalam mengatasi masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya pada saat itu, yaitu menemukan kembali “lem perekat” yang selama ini telah hilang. Perekat yang dapat menyatukan kembali setiap elemen yang ada dalam masyarakatnya agar kembali berfungsi sebagaimana layaknya sebuah masyarakat.

Kung Fu Tze menyadari bahwa “lem perekat” tersebut adalah Adat Istiadat. Ada dua fungsi penting adat istiadat, pertama adalah kemampuan adat istiadat yang luar biasa untuk mengendalikan perbuatan-perbuatan yang bersifat asosial. Kedua, tahap sosialisasi dari adat istiadat ini berjalan dengan spontan tanpa pemikiran khusus. Anggota masyarakat menerima adat istiadat itu tanpa bertanya dan tanpa sadar. (Smith,1999,197)

Pada masa Kung Fu Tze, seperti telah diceritakan pada bab terdahulu, terjadi banyak peperangan dan penurunan moral. Kejadian ini disebabkan karena telah menurunnya rasa kebersamaan yang diwujudkan dalam bentuk adat istiadat atau tradisi. Walter Lippmann mengatakan bahwa ketika tradisi mulai ditinggalkan dalam masyarakat maka masyarakat tersebut dalam keadaan terancam. Dan jika terputusnya kesinambungan tradisi itu tidak diperbaiki maka masyarakat tersebut akan terjerumus kedalam peperangan antar golongan.

Kung Fu Tze sadar bahwa antara manusia dan masyarakat merupakan suatu elemen yang tidak dapat dipisahkan seperti yang diungkapkan oleh Chen Jingpan bahwa Masyarakat harus menyesuaikan diri pada individu untuk menghindari stagnasi, dan individu pun harus menyesuaikan diri pada masyarakat untuk menjadi manusia, dan individu tidak bisa hidup atau berkembang tanpa bantuan masyarakat. (Jingpan, 1994, 175).

Kung Fu Tze pun sangat sadar bahwa adat istiadat atau tradisi yang merupakan sumber perekat dalam masyarakat. Ia sendiri amat tertarik akan tradisi, sebagai jawaban sebenarnya terhadap masalah sosial. Kung Fu Tze percaya bahwa bangsa Cina pernah mengalami masa keselarasan yang agung dan tradisilah yang menciptakan abad gemilang tersebut.

Kung Fu Tze memang memimpikan kejayaan masa lampau, dan menginginkan agar masa itu terulang kembali, namun Ia sungguh hidup dalam zamannya, yang waspada melihat hal-hal baru yang menyebabkan zamannya berbeda dengan zaman yang lampau. Kung Fu Tze sadar bahwa tidak semua tradisi lama itu bisa diterapkan terus untuk masa sekarang. Tradisi harus mengalami penyesuaian sedangkan yang harus dijaga adalah kesinambungan tradisi itu agar terus hidup dalam masyarakat.

Kung Fu Tze selalu mempertimbangkan hal-hal baru yang mnyebabkan tradisi lama tidak bisa lagi dijalankan, kemudian Ia melakukan penafsiran kembali yang disertai perubahan-perubahan. Bukti otentik dari penyesuaian itu Ia mengeluarkan 6 buah kitab klasik yang Ia rangkum dari banyak tradisi-tradisi masa lampau yang Ia nilai masih relevan terhadap kehidupan di masanya.

Tradisi ini akan berjalan baik dalam masyarakat apabila ada kesadaran dalam diri manusia yang ada dalam masyarakat. Dengan kata lain tradisi akan berjalan jika manusia yang ada dalam masyarakat mau menjalankannya secara sukarela tanpa paksaan dan sadar bahwa tradisi itu penting bagi kehidupannya dalam masyarakat. Hal ini sesuai dengan ujaran Kung Fu Tze bahwa Orang-orang purba yang ingin melindungi watak yang murni dan bersih dari manusia di dunia, pertama-tama harus mengatur hidup bangsanya. Mereka yang ingin mengatur hidup bangsanya, pertama-tama harus mengatur hidup keluarganya. Mereka yang ingin mengatur hidup keluarganya, harus membudayakan hidup pribadinya, harus membentuk hati mereka secara benar… jika hati mereka telah dibentuk secara benar, maka kehidupan pribadi sudah dibudayakan; jika kehidupan pribadi telah dibudayakan, maka hidup keluarga sudah teratur, jika hidup keluarga telah teratur, maka kehidupan bangsa pun teratur; jika kehidupan bangsa teratur maka akan ada damai di dunia (To, 1984, 10).

Penjelasan diatas menunjukkan bahwa dibutuhkan orang-orang yang cinta akan kebenaran, patuh terhadap adat istiadat, dan selalu melakukan kebajikan. Maka untuk mewujudkan suatu bentuk masyarakat yang ideal dibutuhkan suatu wujud manusia yang ideal pula. Manusia ideal disini adalah manusia yang sangat sadar akan keberadaannya didalam masyarakat. Mereka adalah manusia yang telah mengerti akan jalan hati, rahasia transformasi benda-benda, sebab dari yang misterius dan kudus, lalu menyesuaikannya dengan sumber dan prinsip peredaran (prinsip yang mengatur hidup dan mati ). Hanya oleh ini manusia direalisasikan. Jadi seorang mengetahui “jalan langit” dan dalam hidupnya melaksanakan kebijakan kemanusiaan yang sempurna (jen) dan keadilan dalam hubungan antarpribadi (yi); ia menghiasi dirinya dengan ritus dan musik. Kemanusiaan, keadilan, ritus dan musik: inilah kebajikan dari orang yang telah mewujudkan dirinya; pengetahuan akan prinsip spiritual tentang transformasi: inilah yang menunjukkan keberhasilan kuasanya. Manusia seperti inilah yang oleh Kung Fu Tze dinamakan Chun Tzu.

Dalam bukunya, Huston Smith mengemukakan ada 5 buah garis besar jawaban yang dihimpun dalam 5 (lima) istilah kunci ajaran Kung Fu Tze, yaitu, pertama, Jen dapat diartikan sebagai kebajikan dari segala kebajikan. Jen mencakup suatu perasaan manusiawi tehadap orang lain dan pengorbanan terhadap diri sendiri. Dari Jen ini selanjutnya akan berkembang secara otomatis sikap-sikap kemurahan hati, percaya, dermawan, sikap hormat, tidak mementingkan diri sendiri dan dikaruniai kemampuan merasakan perasaan orang lain. Kedua,Chun Tzu adalah isitilah ideal bagi hubungan ideal antara semua manusia. Manusia yang telah mencapai Chun Tzu umumnya mempunyai sikap tenang dan terhadap kehidupan secara keseluruhan ia mempunyai sikap bagaikan tuan rumah yang memahami lingkungannya sedemikian rupa sehingga benar-benar bersikap tentram. Sikap Chun Tzu yang tentram dan tenang telah mengarahkannya untuk menentramkan dan melayani orang lain. Ketiga, Li mempunyai dua arti, pertama tentang cara bagaimana seharusnya segala sesuatu harus dilakukan. Arti kedua adalah ibadat, karena seluruh hidup pribadi seseorang telah ditata kedalam suatu ritus yang kaya, cermat dan penuh dengan upacara. Keempat, Te secara harfiah diartikan sebagai kekuatan untuk memerintah manusia. Dalam konteks ajaran Kung Fu Tze kekuatan untuk memerintah ini baru dapat muncul pada pemimpin yang mengabdi secara jujur, dan memiliki watak yang mendorong timbulnya penghormatan. Jadi kekuatan tidak muncul melalui kekuatan fisik melainkan melalui kesan akan kepribadian yang luhur.kelima, WenWen berkaitan dengan musik, seni lukis, puisi, rangakian budaya dalam bentuknya yang estetis. Kung Fu Tze berpendapat bahwa kemenangan akhir terletak pada negara yang mengembangkan Wen yang paling tinggi. Peradaban yang paling mulia, yaitu negara yang mempunyai kesenian yang paling halus, filsafat yang paling mulia, syair yang paling hebat dan membuktikan lewat kesadarannya bahwa “watak moral dari suatu lingkungan itulah yang memberikan kemuliaan kepadanya.” berkaitan dengan seni perdamaian.

Dari kelima kunci pokok ajaran Kung Fu Tze diatas beberapa akan banyak disinggung dalam penjelasan selanjutnya terutama yang berkenaan dengan konsep Li, Chun Tzu danKesimpulan dari penjelasan diatas adalah, dalam rangka mewujudkan suatu masyarakat yang ideal dibutuhkan suatu wujud manusia ideal yang sadar akan tradisi masyarakat dimana ia tinggal. Jen.

Ajarannya berisi tentang kebahagiaan manusia dalam relasinya yang harmonis dengan masyarakat. Kung Fu Tzu mengajarkan hubungan yang erat antara dunia atas – dunia bawah dan manusia. Semuanya membentuk satu kesatuan yang harmonis. Setiap usaha yang mengganggu keharmonisan akan mendatangkan bencana dan malapetaka (To 1975, 11-12) (Stephanus, 1990, 32-34). Menurutnya pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan baik. (Giles, 1915, 236)

Sifat khas ajaran Kung Fu Tze yakni berkorban demi kepentingan orang lain, altruisme, berdisiplin, sopan, setia pada hukum, serta akrab dalam pergaulan. Kodrat manusia adalah suatu hadiah dari langit. Hukum kodrat tidak dipisahkan dari keseluruhan tata dunia. Manusia diciptakan sebagai bagian dari alam dunia. Karena itu ia harus menyesuaikan diri dengan keseluruhan tata dunia (Stephanus, 1990, 85)

Kung Fu Tze bukanlah seorang pecinta damai. Ia percaya bahwa ada waktunya kekuatan harus digunakan oleh orang moral, dalam rangka mencegah diri mereka dan dunia dari perbudakan. Argumentasi tersebut merupakan satu-satunya yang dapat diterima dan ditolerir. (Creel,1953,26-27)

Kung Fu Tze sadar bahwa setiap orang dapat menjadi Chun Tzu asalkan saja mereka mau belajar dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Kung Fu Tze mempunyai cita-cita luhur untuk membuat semua muridnya menjadi Chun Tzu. (Creel,1951, 86-87)

Ditataran pribadi yang ideal, Kung Fu Tze berkata,”Jika aku merasakan dalam hatiku bahwa aku salah, aku harus berdiri dalam ketakutan sekalipun lawanku bukanlah orang yang hebat. Tetapi jika hatiku mengatakan bahwa aku benar, aku akan tampil ke depan bahkan ketika lawanku berjumlah seribu dan sepuluh ribu”. Pada tingkatan yang semakin praktis, ia percaya bahwa suatu angkatan perang tidak bisa berjuang secara efektif kecuali jika tentaranya mengetahui mengapa mereka berperang dan mempunyai keyakinan bahwa penyebab mereka berperang adalah karena adanya ketidakadilan. Ia percaya bahwa moril itu bergantung pada hukuman moral.

Jika disimak secara seksama maka ajaran Kung Fu Tze tentang manusia dapat dibagi menjadi 3 (tiga) karakter dasar manusia, yaitu, Sheng Jen (Sage) atau Manusia Bijaksana, bentuk karakter manusia kedua yaitu Chun Tzu (Superior Man) atau Manusia Superior dan bentuk ketiga yaitu Hsiao Jen (Inferior Man) atau Manusia Inferior. Dalam menerangkan ajarannya tentang Chun Tzu dan Hsiao Jen Kung Fu Tze sering melakukan perbandingan di antara keduanya, atau dengan kata lain karakter manusia Chun TzuHsiao Jen. merupakan lawan atau kebalikan dari karakter manusia

Kung Fu Tze tidak mengajar banyak tentang langkah hidup ideal atau bagaimana menjadi manusia bijaksana (Sheng Jen), sebab ia mengetahui bahwa akan terlalu jauh dari genggaman para muridnya, dan terlalu jauh di luar pengalaman intelektual dan praktis umum mereka. Meskipun demikian, ia menyebutkan karakteristik penting tentang hidup seperti itu, sebagai nafas idealisme untuk mengilhami orang-orang untuk mendesak lebih maju lagi ke arah sesuatu yang lebih baik dan lebih tinggi.

Salah satu karakteristik pemimpin orang bijaksana adalah bahwa ia bisa menganugerahkan manfaat pada semua orang dunia, membantu mereka dalam berbagai kesulitan, dan “usaha pembebasan secara universal”; ia adalah, dalam beberapa hal, seorang “juru selamat dunia”. Dalam pemikiran Kung Fu Tze tidak pernah ada orang bijaksana sebelum dia, bahkan Yao dan Shun sekalipun. Mereka adalah tokoh masa lampau yang telah dihormati sebagai Sage-Kings.

Orang bijaksana pasti telah mencapai prestasi dalam segala kehidupannya. Ia dapat dimasukkan dalam kategori yang sama dengan ilahi di mana manusia superior selalu berdiri dengan perasaan kagum. (Analects, 16,8,1) ia adalah, singkatnya, bentuk ideal hidup sebagai manusia, dan standard yang paling tinggi untuk manusia.

Kung Fu Tze cukup puas dengan melihat orang yang bisa hidup sebagai Chun Tzu, suatu langkah lebih rendah menuju standard hidup yang paling tinggi. Manusia chun tzu, atau manusia superior banyak dijelaskan olehnya dalam analects. Guru berkata , orang bijaksana bukan keinginanku untuk melihat perwujudannya, dengan aku bisa melihat orang menjadi manusia superior, itu akan cukup memuaskan aku’ ( analects, 7, 25,1)

Sebaliknya Kung Fu Tze sangatlah bersemangat untuk mengajarkan bagaimana menjadi Chun Tzu. Menurutnya setiap orang dapat menjadi Chun Tzu melalui usaha dan proses belajar yang panjang. Seorang Chun Tzu dikenal melalui kesadarannya akan jalan langit dan pratek kebijaksanaannya, dimana yang utama adalah Jen. Jen berarti suatu relasi antara manusia dengan manusia berdasarkan pengakuan kesamaan peri kemanusiaan. Dan ini telah diwujudkan melalui sikap yang baik, kemurahan, kelemahlembutan serta kebajikan lainnya. Semuanya berusaha mengekspresikan rasa kemanusiaan dalam kesempurnaan dan keistimewaannya. (Stephanus, 1990, 87)

Daftar Pustaka

  1. Anh, To Thi, Nilai Budaya Timur dan Barat, cet 1, PT. Gramedia, Jakarta, 1984
  2. Bagus, Loren, Kamus Filsafat, ed.1, PT Gramedia Pusaka Utama, Jakarta, 1996
  3. Creel,H.G, Chinese Thought : From Confucius to Mao Tse Tung, 1st ed, The University of Chicago Press, USA, 1953
  4. Creel,H.G, Confucius : The Man and The Myth, 1st ed, Routledge & Kegan Paul Ltd, London, 1951
  5. Creel,H.G, Alam Pikiran Cina : Sejak Confucius sampai Mao Zedong, cet.2, PT. Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, 1990
  6. Dawson, Raymond, Kung Hu Cu : Penata Budaya Kerajaan Langit, Jakarta, 1992
  7. Fernandez, Staphanus Ozias, Citra Manusia Budaya Timur dan Barat, cet 1, Penerbit Nusa Indah, Flores, 1990
  8. Giles, Herbert A, Confucius and Its Rivals, 1st ed, Williams and Norgate, London, 1915
  9. Huijbers, Theo, Manusia Merenungkan Dirinya, Cet. 3, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1991
  10. Jingpan, chen, Confucius As A Teacher, 2nd Ed, Foreign Languages Press, Beijing 1994
  11. Legge, James, The Four Books : Confucius Analects, The Great Learning, The Doctrine of The Mean and The Work of Mencius
  12. Smith, Huston, Agama-agama Manusia, ed.5, Yayasan Obor Indonesia, 1999
  13. Titus, Harold H., et al, Persoalan-persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta, 1984


[1] Manusia Timur adalah bangsa-bangsa yang dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, Budha, Konfusionis dan Taois. Kebudayaan ini tersebar luas ke seluruh Asia terutama dalam memajukan sistem pendidikan, agama, kesenian, sastra, perundang-undangan, tata tertib sosial yang menjadi sumber kehidupan bangsa-bangsa Asia.

[2] Manusia Barat adalah bangsa-bangsa yang dipengaruhi oleh kebudayaan Eropa, Amerika, Kanada, Australia, dan Selandia Baru yang mengacu pada pemikiran Yunani Kuno, Romawi Kuno, serta pemikiran manusia Kristen.