Berkenalan Dengan Kebebasan

Sebelum masuk pada pokok bahasan yang utama ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang arti dan makna kebebasan.

Adapun pengertian kebebasan pada umumnya adalah keadaan tidak terpaksa atau ditentukan oleh sesuatu dari luar, sejauh kebebasan disatukan dengan kemampuan internal definitif dari penentuan-diri.(Lorens Bagus,1996, 406)

Ada hal penting dari kebebasan yaitu adanya kemampuan dari seseorang pelaku untuk berbuat atau tidak berbuat sesuai dengan apa yang disukai, atau menjadi penyebab dari tindakan-tindakan sendiri. Kebebasan ini didorong dan diarahkan oleh motif, ideal, keinginan dan dorongan yang dapat diterima sebagaimana dilawankan dengan, paksaan, atau rintangan (kendala) eksternal atau internal. (Loren Bagus,1996,406)

Jadi terlihat adanya kemampuan manusia untuk melakukan pilihan dan terbukanya kesempatan untuk memenuhi atau memperoleh pilihan itu.

Salah satu arti paling dasar kebebasan berkisar pada ide pilihan yang berarti, atau dengan kata lain adanya kebebasan untuk memilih diantara banyak pilihan yang ada atau ditawarkan. Penekanan dari kebebasan ini terkadang harus mengikuti hati nurani atau suara hati sendiri tanpa hambatan yang tentunya tidak mengecualikan kewajibanuntuk membentuk suara hati sendiri sesuai dengan kaidah-kaidah objektif dan untuk menghargai hak-hak dasar orang lain.

Kebabasan itu juga tidak akan terlepas dari tanggung jawab baik tanggung jawab terhadap diri tiap individu dan juga pada masyarakat. Selain itu pula melibatkan pada pertimbangan rasional karena dengan pertimbangan rasional ini tentunya dapat diterima oleh orang lain.(Roger S,1994,231)

Perseteruan Antara Kebebasan Positif dan Kebebasan Negatif

Secara garis besar kebebasan yang dibahas dalam makalah ini lebih difokuskan pada Kebebasan Positif dan Kebebasan Negatif.

Adapun pengertian kebebasan positif secara garis besar adalah lebih mengarah pada apa yang bisa saya perbuat untuk orang lain atau orang banyak. Kata kuncinya adalah Freedom to dan lebih ditekankan pada masyarakat banyak yang tentunya relasi yang ada dalam masyarakat itu diatur melalui hukum. Menurut Thomas Aquinas dan St. Agustinus yang merupakan filusuf dari abad pertengahan mengatakan bahwa perbuatan yang bebas menuntut suatu konotasi normatif, sehingga kebebasan berarti berbuat apa yang harus diperbuat.. Hal senada juga diungkapkan oleh Boutrouxyang mengatakan bahwa kebebasan yang sebesar-besarnya harus ditemukan dalam kehidupan moral (Lorens Bagus,1996,411).

Penekanan dari kebebasan positif ini adalah diri pribadi saya bukan sesuatu yang saya dapat lepaskan dari hubungan saya dengan orang lain. Karenanya, ketika saya menginginkan untuk bebas dari ketergantungan status politik atau sosial, apa yang saya ingin adalah perubahan perlakuan terhadap saya dari mereka yang beropini dan bersifat mambantu menentukan gambaran tentang diri saya sendiri.

Ada banyak tokoh yang mengungkapkan pemikirannya tentang kebebasan positif, namun tokoh yang perlu mendapat perhatian kita adalah Jeremy Bentham. Ia mengungkapkan bahwa alam menempatkan manusia dibawah dua kekausaan yang berdaulat, yakni rasa sakit dan kesenangan. Ia tidak hanya sibuk dengan ajaran bahwa semua orang digerakkan untuk bertindak karena ditarik oleh kesenangan dan karena mau menjauhi rasa sakit, namun juga berusaha menetapkan tolok ukur objektif untuk moralitas, untuk sifat moral tindak tanduk manusia.Ajaran yang terkenal dari Bentham adalah kesenangan yang paling besar adalah yang jumlahnya paling banyak (The greatest happiness of the geratest number). Hal lain yang ditekankan oleh Bentham adalah orang tidak boleh melakukan hal-hal atau tindakan yang melawannya, atau yang tidak membawanya ke tujuan tersebut (JS. Mill,1996,xii).

Apabila seseorang, misalnya, berusaha menetapkan dan memastikan kadar suatu kesenangan atau rasa sakit, haruslah ia memperhatikan faktor-faktor berikut : intensitasnya, lamanya, pasti atau tidak pastinya, jauh atau dekatnya kesenangan atau rasa sakit itu untuk seseorang. Selain itu masih ada faktor subur dan murninya kesenangan untuk orang yang bersangkutan. Tindakan tertentu itu subur apabila cenderung menghasilkan rasa senang yang lebih lanjut. Murni, apabila tidak tercampur dengan perasaan atau rasa yang berlawanan dengannya.

Rousseau juga mengatakan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat kita sebagai individu harus dengan sukarela menyerahkan sebagian kebebaran kita untuk mencapai suatu keharmonisan dalam hidup bermasyarakat (Isaiah B,1958).

Sedangkan pengertian kebebasan negatif lebih ditekankan pada kebebasan dari segala tekanan (menekankan pada state of nature dan individu). Kata kuncinya adalah Freedom from lebih menekankan pada pentingnya keberadaan individu jadi sifatnya subjektifisme.

Kebebasan ini terpusat pada tindakan yang lahir dari motif-motif internal dan bukan eksternal. Alternatif ini menuntut suatu doktrin tentang manusia sedemikian sehingga manusia mempunyai hakekat dasariah, atau diri, yang memungkinkan bertindak, dan bukan bertindak sesuai dengan dunia luar.

Tokoh yang perlu dipehatikan dalam pendekatan kebebasan negatif adalah Immanuel Kant. Ia mengatakan bahwa ada kebebasan yang ia sebut sebagai kebebasan intelijibel yang tercapai karena fakta bahwa kehendak, yang tidak tergantung pada pengaruh semua dorongan indera, ditentukan oleh akal budi murni belaka.(Lorens Bagus,1996407)

Sehingga tidak mengherankan apabila Kant mengatakan bahwa dalam mengidentifikasikan kebebasan bukanlah penghapusan keinginan namun daya tahan terhadapnya dan menguasainya. Kant mengatakan bahwa Aku ini bebas, karena aku berhak mengurus kepentinganku sendiri. Kebebasan itu adalah ketaatan, tapi ketaatan terhadap hukum yang kita tentukan sendiri dan tak ada orang yang dapat memperbudak dirinya sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa “Tak ada yang bisa memaksaku untuk bahagia dengan caranya sendiri”.(Isaiah B,1958)

Tokoh lain yang juga cukup besar pengaruhnya dalam mengemukakan kebebasan negatif ini adalah John Stuart Mill. Gagasan yang terkenalnya adalah individualitas, yang berarti pengembangan diri pribadi, dan hal ini lebih merupakan usaha untuk mengintegrasikan semua daya di dalam diri seseorang secara harmonis. Ia mengatakan bahwa setiap orang bebas untuk mengembangkan daya-dayanya sesuai dengan kehendak dan keputusan atau penilaiannya sendiri (JS.Mill,1996,xvi). Namun dilain pihak Mill juga mengungkapkan ada beberapa ketentuan agar kebebasan individu itu tidak mengganggu kestabilan masyarakat yaitu pentingnya memberlakukan paksaan terhadap seseorang karena paksaan ini berguna untuk mencegah dia merusakkan atau merugikan orang-orang lain. Dengan demikian Mill juga merasa yakin bahwa kebahagiaan umum akan bertambah apabila setiap orang mengembangkan dirinya dengan cara seperti itu. Atau dengan kata lain jika individu merasa bebas maka masyarakat secara umum pun bebas pula.

Kebebasan Bagi Penyandang Cacat : Suatu Kenyataan

Jika kita lihat dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kebebasan positif itu mengacu pada Freedom to atau dengan kata lain kebebasan yang ditentukan dengan melihat apa yang bisa saya perbuat untuk orang lain. Sedangkan kebebasan negatif atau yang mengacu pada Freedom from atau dengankata lain lebih merujuk pada kebebasan yang terlepas dari segala tekanan atau mengacu pada the state of nature.

Penyandang cacat merupakan manusia atau sosok individu yang selalu dianggap kurang atau tidak lengkap, seperti halnya Aristoteles memandang wanita sebagai manusia yang tidak lengkap. Sehingga penanganan terhadap mereka pun begitu timpang, terkesan tidak serius.

Namun kalau kita menyadari dan lebih memahami mereka sesungguhnya penyandang cacat adalah sosok manusia individual yang mempunyai banyak potensi dan kelebihan yang tentunya dapat bermanfaat bagi kehidupannya bermasyarakat (terutama dalam pembanguan).

Kebebasan memang dirasakan perlu oleh para penyadang cacat jika dilihat dari keberadaan mereka yang terkungkung oleh stigma yang mengekang mereka sehingga mereka tidak dapat bergerak bebas di dunia ini, dan otomatis mereka tidak dapat mengembangkan dirinya secara optimal.

Kebebasan yang dapat diwujudkan bagi para penyandang cacat adalah dilengkapinya sarana dan prasarana bagi para penyandang cacat agar mereka dapat beraktifitas tanpa mengalami keterbatasan-keterbatasan yang cukup mengganggu, seperti fasilitas kendaraan umum, tempat parkir khusus bagi para penyandang cacat, fasilitas tangga dan sebagainya, yang kesemuanya itu merupakan sarana yang dapat menunjang mereka dalam berkreasi.

Persamaan hal juga merupakan hal yang paling penting. Mereka adalah manusia yang juga ingin bereksistensi secara menyeluruh. Mereka membutuhkan pendidikan yang sama dengan manusia normal, mereka juga memunyai kemampuan yang sama bahkan terkadang melebihi manusia normal. Janganlah mereka selalu dijadikan Objek tetapi pandanglah mereka sebagai subjek yang berkemauan dan berketerampilan.

Seperti Doktrin yang selalu dielu-elukan oleh kaum eksistensialis bahwa kebebasan ada;ah sesuatu yang tidak terelakkan dan terkadang mendatangkan penderitaan. Para Penyandang cacat juga ingin berkesistensi, pendidikan juga merupakan hal yang terpenting, saat ini kondisi pendidikan bagi mereka sangatlah menyedihkan keadaannya. Memang sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh mereka membutuhkan biaya yang sangat besar dan mahal sehingga perlulahkiranya peran serta dari masyarakat dan negara untuk mendukung hal ini, sebab mereka adalah anggota dari masyarakat kita, dan seperti doktrin yang diungkapkan oleh kebebasan positif, bahwa kebebasan akan kita peroleh dengan berbuat kebaikan untuk orang lain, karena jika kita menelantarkan para penyandang cacat maka secara otomatis akan terganggu keseimbangan atau harmonisasi yang ada dalam masyarakat. Dari sudut pandang kebebasan negatif para penyandang cacat juga ingin terbebas dari segala tekanan baik stigmayang mereka dapatkan dari masyarakat sekitarnya juga keterbatasan fasilitas yang ada didalam masyarakat sehingga mereka tidak secara maksimal dapat mengembangkan kemampuannya, dan ini otomatis telah melanggar kebebasan secara negatif atau dengan kata lain telah terlanggarlah ahak asasi manusia.

Jadi dapat dikatakan bahwa kebebasan yang dibutuhkan oleh para penyandang cacat adalah kebebasan mereka untuk bisa bereksistensi dan beraktualisasi dan tentunya mereka juga ingin berperan untuk negara dan bangsa mereka, karena dengan merasa dirinya bermanfaat bagi banyak orang maka ia telah merasa bebas secara positif, karena para penyandang cacat itu juga mempunyai banyak sumbangan yang sangat bermanfaat bagi masyarakatnya.

Pendamaian

Kebebasan yang terpenting adalah adanya keadilan dan persamaan karena dengan keadilan dan persamaan ini dapat menjadi suatu kontrol sosial yang dapat menghindarkan masyarakat dari penindasan kaun yang lemah dan bodoh oleh kaum yang kuat dan lebih yang semangat.

Dalam melakukan kebebasan tentunya setiap individu harus mengacu pada hukum baik yang ditentukan oleh diri pribadi (dari sudut pandang kebebasan negatif) atau hukum yang ditentukan oleh masyarakat (dari sudut pandang kebebasan positif). Hal ini diungkapkan oleh John Locke yang mengatakan bahwa kebebasan tidak akan ada apabila tidak ada hukum yang mengaturnya. Dipertegas lagi oleh Montesquieu dengan mengatakan bahwa kebebasan politik diperlukan bukan untuk melegitimasikan keinginan kita tetapi lebih pada apa yang seharusnya kita inginkan, jadi ada unsur penyesuaian antara keinginan kita dengan masyarakat pada umumnya.

Kebebasan harus dijalankan dengan baik dan rasional, kebebasan seperti ini dapat dilakukan dengan pendidikan, karena dengan pendidikan dapat mewujudkan suatu manusia yang rasional dan secara otomatis pula akan melahirkan suatu masyarakat yang rasional dengan hukum-hukum yang rasional. Fichte mempertegas hal ini dengan mengatakan bahwa pendidikan dapat membantu manusia untuk menemukan alasan-alasan mengapa kita harus melakukan sesuatu hal (Isaiah B,1958). Dengan pendidikan kita dapat mengetahui hal-hal mana yang rasional dan mengapa hal tersebutharus kita lakukan. Dengan pendidikan kita dapat mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya. Sage juga mempertegas lagi dengan mengatakan bahwa dengan pendidikan kita dapat memperoleh pengetahuan tentang diri kita yang sesungguhnya dengan lebih baik dan juga kita dapat mengetahui secara jelas tujuan apa yang akan kita capai. Dengan pendidikan kita tidak akan mungkin dibudaki oleh keinginan yang tidak rasional.

Daftar Pustaka

Bagus, Lorens, Kamus Filsafat, Ed.1, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996
Berlin, Isaiah, Fours Essays on Liberty: Two Concept of Liberty, Clarendon Press, Oxford University,1958
Coleridge, Peter, Pembebasan dan Pembangunan : Perjuangan Penyandang Cacat di Negara-negara Berkembang, cet.1, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997
Mill, John S, On Liberty : Perihal Kebebasan, ed.1, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1996
Scruton, Roger, Modern Philosophy : An Introduction and Survey, Penguin Books, New York, 1994