Jangan lengah di Minggu Pertama terkonfirmasi Covid-19

Jangan lengah di Minggu Pertama terkonfirmasi Covid-19

Peningkatan jumlah kasus yang terjadi saat ini memang mencemaskan kita semua. Penambahan kasus per hari sudah diatas 40.000 kalau kondisi ini terus terjadi di akhir Juli 2021 angka terkonfirmasi kita akan tembus 3 juta kasus. Saat ini kita juga mengetahui bahwa jumlah kasus kematian karena Covid-19 setiap hari diatas 800 orang, dengan angka kematian 2.6%. Sedih mendengar saat ini ketika pasien memburuk bahkan meninggal saat melakukan isolasi mandiri.

Secara umum, konsep penanganan bencana yang terpenting dan utama adalah korban sakit ditolong agar kondisinya tidak bertambah buruk. Kita juga memaklumi bahwa dengan peningkatan kasus yang luar biasa saat ini akan berdampak pada bed occupacy rate (BOR) rumah sakit rujukan, keterisian rumah sakit yang sudah diatas 100 %. Hal ini akan menyebabkan pasien yang harusnya di rawat di RS hanya berada di rumah, di satu sisi jumlah kasus yang  sedang melaksanakan isolasi mandiri  juga cukup tinggi. Oleh karena itu perlu arahan yang jelas buat masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri. Karena sebagian besar masyarakat isolasi mandiri di tempat masing-masing. 

Konsep terjadinya infeksi termasuk juga virus SARS-COV-2 dipengaruhi oleh 3 hal yaitu daya tahan tubuh, jumlah atau keberadaan virus dan faktor lingkungan. Penanganan kasus inipun meliputi ketiga hal ini. Saat virus masuk kedalam tubuh, daya tahan tubuh akan melawan keberadaan virus tersebut sampai timbul gejala yang kita sebut masa inkubasi. Oleh karena itu penting sekali mengobservasi diri kita sendiri untuk mengetahui perubahan yang dialami pada tubuh di masa pandemi ini. Oleh karena itu  minggu pertama saat seseorang  sudah bergejala merupakan kunci penting apakah kita bisa sembuh atau sebaliknya kondisi kita semakin buruk. Oleh karena itu WHO mengeluarkan rekomendasi untuk pasien yang terinfeksi virus dan tanpa gejala cukup isolasi mandiri selama 10 hari dan bisa dikatakan sembuh dan bisa lepas isolasi. Karena jika dalam 10 hari masih tetap tanpa gejala, bisa dikatakan bahwa sebenarnya  daya tahan tubuh kita bisa menghancurkan virus tersebut. Makanya untuk pasien tanpa gejala tidak perlu minum antivirus, cukup dengan vitamin-vitamin. Vitamin yang biasanya direkomendasikan adalah vitamin D, vitamin C dan vitamin E.

Begitu pun untuk pasien dengan gejala ringan , diusahakan agar tetap dipertahankan  tidak memburuk khususnya pada minggu pertama tersebut. Masa isolasinya 10 hari ditambah tiga hari tanpa gejala demam, karena dianggap bahwa pasien tersebut sudah berhasil mengatasi infeksinya. Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, kuncinya adalah istirahat, banyak tidur, tidak stress tetap makan dan minum yang cukup. Ketika badan sudah tidak nyaman segera istirahat jangan dipaksakan untuk tetap bekerja atau beraktifitas. Pasien juga harus bisa mengendalikan stress agar nafsu makan tetap terjaga dan kualitas tidur tetap dipertahankan dengan baik. 

Karena pada minggu pertama, kita harus memberikan  kesempatan daya tubuh kita bisa melawan virus tersebut. Pada pasien dengan gejala ringan dan sedang yang sedang isoman biasanya diberikan antivirus seperti oseltamivir atau  favipirafir dan obat azitromisin. Favipiravir atau oseltamivir sebagai obat anti virus untuk mengurangi jumlah virus sedang azitromisin berperan  sebagai anti radang dan imunomodulator untuk  melawan virus tersebut.   Obat-obat ini diberikan tentu sesuai arahan dokter. Kadang kala pasien yang mempunyai masalah lambung, lambungnya kambuh akibat mengonsumsi obat2 ini, saya mengajurkan mereka mengosumsi obat yang biasa diminum.

Perlu diketahui bahwa kriteria sedang pasien Covid-19 ditetapkan  jika sudah ada infeksi paru tetapi saturasi oksigen masih baik, sedang kriteria berat jika infeksi pneumonia yang terjadi sudah menyebabkan penurunan saturasi oksigen. Oleh karena penting juga tersedia oksimeter saat melakukan isolasi mandiri.

Hati-hati obat dexamethasone

Observasi saya atas kasus yang memburuk salah satu nya adalah  mengonsumsi dexamethasone baik generik maupun merk dagang. Beberapa waktu yang lalu ada edaran yang  viral tentang daftar  obat untuk pasien isoman salah satunya untuk  mengosumsi  dexamethasone, saya juga menemukan resep dari platform telemedicine yang  juga memberikan dexamethasone. Tentu hal ini tidak tepat jika dexamethasone diberikan pada pasien tanpa gejala atau gejala ringan-sedang. 

Ilmu kedokterkan berbasis bukti menyebut dexamethasone tidak berguna untuk pasien tanpa gejala, begitupun untuk gejala ringan dan sedang. Saya pernah menyampaikan mengenai  dampak buruk mengonsumsi dexamethasone ini, saya sebut obat ini  sebagai pisau bermata dua. Untuk yang tanpa gejala, gejala ringan dan sedang khususnya diawal penyakit yang dibutuhkan adalah peningkatan daya tahan tubuh. Dexamethasone membuat daya tahan tubuh kita menjadi lemah, sehingga membuat virus menjadi mudah meraja lela, untuk pasien dengan hipertensi dan kencing manis, dexamethasone bisa membuat gula darah menjadi tidak terkendali, untuk yang menderita hipertensi tekanan darah menjadi tidak terkontrol, kedua ini akan memperburuk pasien dengan kedua penyakit ini yang memang menjadi komorbid untuk pasien Covid-19. Efek samping dexamethasone juga menyebabkan pasien menjadi mudah cemas dan insomnia, hal yang harus dihindari saat kita menderita Covid-19. Belum lagi dexamethasone membuat kita menjadi mual dan perih di lambung membuat kita kurang nafsu makan. Hal ini harus menjadi catatan buat para isoman bahwa pemberian dexamethasone dapat membuat kondisi pasien bertambah buruk. Pada pasien dengan Covid-19  sedang dan berat  memang kadang kala  membutuhkan dexamethasone untuk mengurangi peradangan yang terjadi. Mudah-mudahan  info ini bermanfaat khususnya untu pasien yang sedang isolasi mandiri.

Salam sehat,

Ari Fahrial Syam

Guru Besar Ilmu Panyakit Dalam FKUI 

Leave a Reply