Gejala klinis dan komplikasi  serta  upaya pencegahan COVID-19

Sejak COVID-19 pertama kali ditemukan sampai saat ini, total kasus terkonfirmasi di seluruh dunia telah mencapai 29 juta. Di Indonesia, sampai dengan 24 September 2020, dijumpai 262.202 kasus terkonfirmasi dengan penambahan kasus pertanggal tersebut 4.634 dan hampir seperempatnya berada di Jakarta. Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang angka pertumbuhan kasus terkonfirmasinya terus meningkat diatas 10% dibandingkan 7 hari sebelumnya.  Oleh karena itu saya merasa perlu untuk mengingatkan dan juga memberikan update mengenai perjalanan penyakit ini dan komplikasinya serta upaya pencegahan yang efektif. 

COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus SARS-CoV-2. Dibandingkan dengan virus corona lain, seperti SARS atau MERS, virus SARS-CoV-2 lebih mudah menular. Penularan virus ini terjadi melalui droplet, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya melalui percikan droplet penderita saat bersin, batuk, atau menghembuskan napas yang mengenai orang lain secara langsung dalam jarak kurang dari 1 meter. Sementara itu, penularan secara tidak langsung biasanya terjadi ketika droplet yang dikeluarkan penderita menempel pada permukaan benda-benda dan orang lain menyentuh permukaan tersebut, lalu memegang bagian wajahnya. Penggunaan face shield menjadi upaya agar kita tidak mudah untuk otomatis menyentuh bagian wajah kita. Penelitian di luar negeri juga menunjukkan bahwa penggunaan face shield cukup efektif untuk mencegah penularan melalui kontak tidak langsung. 

Tidak hanya menular melalui droplet, pada bulan Juli 2020, WHO mengeluarkan peringatan bahwa COVID-19 juga dapat menular melalui airborne.

Manifestasi klinis dari COVID-19 juga beragam. Jika saat awal-awal kasus COVID-19 ditemukan, manifestasinya berkisar pada saluran pernapasan, seperti batuk dan sesak napas, saat ini banyak ditemukan kasus dengan manifestasi tidak khas di organ lain. Pasien COVID-19 bisa datang dengan keluhan saluran gastrointestinal, bahkan keluhan di mata atau kulit. Oleh karena itu, COVID-19 disebut juga sebagai the Great Imitator. Dalam perjalanan klinisnya pasien COVID-19 bisa mengalami terjadi kekentalan darah yang dapat mencetuskan terjadinya serangan jantung dan stroke. Oleh karena itu bisa saja pasien yang diawal diketahui sebagai penderita stroke ternyata juga menderita COVID-19. 

Ada berbagai macam pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis COVID-19, antara lain pemeriksaan darah (meliputi pemeriksaan DPL, hitung jenis, CRP, prokalsitonin, LDH, D-dimer, feritin, fungsi organ); pencitraan (radiografi dan CT scan toraks); serta rapid test antibodi atau antigen. Walaupun begitu, pemeriksaan PCR dari spesimen hasil swab hidung dan mulut tetap menjadi pemeriksaan utama dalam penegakkan diagnosis COVID-19.

Virus COVID-19 dapat menyerang siapa saja, termasuk anak-anak. Salah satu faktor risiko seseorang terkena COVID-19 dan mengalami perburukan adalah keberadaan komorbiditas atau penyakit penyerta. Data di Indonesia menunjukkan hipertensi sebagai komorbiditas terbanyak yang ditemukan pada penderita COVID-19, yaitu mencapai 51,1% diikuti dengan diabetes melitus (34,5%) dan penyakit jantung (20,5%). Umumnya, komorbiditas pasien-pasien ini berada dalam keadaan tidak terkontrol. Kondisi kekhawatiran masyarakat untuk datang ke RS  menyebabkan pasien dengan penyakit kronis ini tidak kontrol kondisi penyakitnya bahkan ada yang tidak lagi mengonsumsi obat yang seharuskan obat tersebut harus di konsumsi.

Mereka dengan komorbiditas memiliki risiko lebih tinggi untuk mencapai composite end point, artinya risiko pasien tersebut berakhir masuk ke ICU, dipasang ventilator, atau meninggal meningkat. Pada titik ini, komplikasi seperti gagal napas, masalah jantung dan kardiovaskular, tromboemboli, inflamasi, dan infeksi sekunder sangat mungkin ditemukan. Jika sudah sampai pada tahap ini, tentu prognosis pasien tersebut dapat dikatakan buruk. Selain komorbiditas, prognosis seseorang yang mengalami COVID-19 dapat dipengaruhi faktor-faktor, seperti usia, komplikasi, dan nilai laboratorium. Obesitas ternyata juga merupakan salah satu prediktor terjadinya perburukan pada pasien COVID-19. 

Saat ini, angka persentase kematian pasien COVID-19 di Indonesia mencapai 4%, lebih tinggi dibandingkan dunia yaitu 3,1%. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab dari tingginya angka kematian ini adalah keterlambatan penanganan pasien, ketidaksiapan RS menghadapi peningkatan jumlah penderita, sikap abai masyarakat terhadap protokol kesehatan, banyaknya sumber informasi yang tidak dapat dipercaya, keberadaan komorbiditas, dan belum adanya obat yang disetujui WHO sebagai terapi utama COVID-19.

Oleh karena itu, tindakan pencegahan menjadi fokus utama pemutusan rantai penyebaran COVID-19. Hal yang dapat dilakukan untuk meminimalkan penularan COVID-19 adalah dengan selalu menerapkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Posisikan diri sendiri dan orang sekitar sebagai orang tanpa gejala agar kewaspadaan tetap ada di manapun dan kapanpun. Menurut saya ini merupakan upaya pencegahan yang paling efektif agar kita tetap harus waspada akan orang yang berada disekitar kita.

Melihat masih rendahnya kewaspadaan dan pengetahuan masyarakat mengenai COVID-19, peran tokoh-tokoh masyarakat sangat dibutuhkan untuk membantu memberikan edukasi. Masyarakat yang taat menerapkan protokol kesehatan didukung dengan ketersediaan informasi dan penegakkan hukum yang tepat diharapkan mampu memutus rantai penyebaran COVID-19.

Salam sehat,

Ari Fahrial Syam

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM

Tulisan ini juga terbit sebagai Opini dalam Koran Nasional..

Leave a Reply