Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Harapan Ibu seorang Dokter Wanita

Posted by Dr.Ari on 30th December and posted in opini for public

*Harapan Ibu dari seorang Dokter Wanita*

Curhat orang tua seperti ini kembali terulang. Biasanya memang dari ibu tapi kadang juga dari Bapak. Ya curhat atas anak wanitanya yang dokter tapi tidak boleh praktek oleh suaminya. Tapi kali ini memang lebih terenyuh, saya punya anak dokter tapi tidak pernah praktek sebagai dokter, Dok? Kata seorang ibu yang kebetulan jadi pasien saya. Karena alasan klasik tidak boleh praktek dan tidak boleh ambil spesialis dan hanya cuma jadi ibu rumah tangga oleh suaminya.
Kebetulan suaminya memang merasa mampu membiayai istri dan anaknya tanpa perlu istrinya bekerja. Mungkin si suami lupa bekerja sebagai dokter bukan semata2 menghasilkan uang ada sisi sosial yang besar ketika seseorang menolong orang sakit dan meringankan penderitaan orang lain.
Anak saya pintar dan dapat beasiswa Dok.._imbuh ibu tadi_.
Kadang kala kata si Ibu tadi, _anak saya menangis kalau ingat teman2nya sudah jadi spesialis dan menjadi dokter favorite_. Kalau pasiennya banyak kan artinya bisa menolong banyak orang. Mungkin juga ibu tadi merasa lebih senang kalau menerima uang dari jerih payah anaknya sendiri dan bukan dari pemberian suami anaknya. Saya terdiam dan mengingat2 lagi bagaimana susahnya seseorang bisa diterima sekolah di FK dan perjalanan panjang menjalani hari2 sebagai mahasiswa kedokteran baik pre klinik maupun ketika menjadi ko ass atau dokter muda. Tawa dan tangis bergantian saat hari2 menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran untuk mencapai berbagai kompetensi untuk bisa meraih gelar dokter dan rata2 ini berlangsung selama 5.5 – 6 tahun. Buat seorang ibu juga bukan perjalanan yang mudah mendampingi ananda tercinta ketika menjadi sesorang mahasiswa, seberapa sering doa yang dipanjatkan kepada Yang Maha Kuasa sehabis Sholat atau di tengah malam ketika menemani ananda belajar untuk ujian atau menemani menyelesaikan tugas. Sejatinya fakultas, universitas maupun negara juga memberikan subsidi yang besar ketika membiayai seorang mahasiswa menjadi dokter. Saya yang saat ini menjadi dosen juga ikut kecewa, karena gelar dokter yang merupakan amanah dan dipertegas saat dokter tadi mengucapkan sumpah dokter tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya oleh anak ibu tadi peserta didik kami.
Salah satu hal yang memang harus diingat oleh para dokter saat sumpahnya yaitu ” _Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan peri kemanusiaan_”.
Oleh karena itu pada berbagai sambutan angkat sumpah dokter, saya mengingatkan kepada para dokter wanita baru untuk minta komitmen calon suami untuk tetap bisa praktek atau kalau memang memilih menjadi scientist atau tetap bekerja walau bukan sebagai klinisi karena tadi begitu besar pengorbanan yang dikeluarkan baik materil maupun non material untuk bisa meraih gelar dokter.
Kasus curhatan ibu dan ibu2 lain terhadap anaknya yang dokter yang hanya berujung sebagai ibu rumah tangga setelah meraih gelar dokter bisa menjadi pelajaran buat calon dokter atau dokter baru. Ngobrol dengan baik kepada orang tua, ketika memang calon suami atau suami minta hanya menjadi ibu rumah tangga agar mereka tidak mengalami penyesalan yang berkepanjangan dan berakibat mengalami penyakit psikosomatik seperti ibu tadi yang curhat kepada saya.
Ini memang bukan persoalan mudah tetapi persoalan ini tidak akan muncul kalau sudah diantisipasi dari awal. Karena saya sebagai dosen dan para orang tua dari para dokter tersebut berharap titel dokter dapat dimanfaatkan sebagai mana semestinya. Ini juga bisa menjadi kebanggaan buat anak2 mereka kelak bahwa ibunya tetap bisa menjadi ibu yang baik dan tetap bisa berbagi ke sesama melalui tangan dinginnya sebagai dokter.
*Terima kasih untuk membaca tulisan saya ini, mohon maaf kalau ada hal yang tidak berkenan*..

Salam sehat,

Ari F Syam

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28