Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Abaikan Dampak Kabut Asap: Apatis atau Tidak Tahu

Posted by Dr.Ari on 23rd October and posted in opini for public

dampak asapSaya selama 2 hari di bulan Oktober berada di Palembang dan merasakan sendiri bagaimana dampak asap buat tubuh saya. Kebetulan saya mendarat jam 12.30 dan saat pesawat landing saja, asap sudah tercium dan pada saat keluar pesawat dan masih di garbarata, bau asap lebih menyengat memang saat masuk ke dalam airport udara terasa segar kembali. Saat keluar Bandara dan di udara terbuka memang tidak nyaman dan secara perlahan bau itu hilang mungkin karena penciuman saya sudah menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Di dalam kamar hotel memang terasa nyaman tetapi saat kita membuka pintu kamar hotel, di lorong hotel sudah terasa bau asap. Air di hotel memang tidak berbau asap tetapi teman2 bercerita bahwa air PAM sudah mulai berbau asap. Beberapa jam berada di dalam kamar hotel beberapa kali listrik mati ternyata di Palembang listrik menjadi masalah tentu dalam kondisi asap saat ini listrik bolak balik mati bisa memperburuk keadaan.
Bagaimana dengan kondisi masyarakat sekitar , sepertinya memang mereka cuek saja akan kondisi yang terjadi, mereka rasanya sudah apatis dengan kondisi ini. Saya amati masyarakat sekitar, tidak banyak dari mereka yang manggunakaan masker dan saya tengok keatas memang matahari tidak bisa kita lihat karena tertutup asap. Memang makin sore kondisinya semakin membaik. Saya juga menyempatkan diri untuk ke jembatan Ampera dan berada di tepi sungai saya juga melihat hanya beberapa orang saja yang menggunakan masker.
Apakah mereka tahu dampaknya terhirup asap? Saya yakin mereka sebenarnya tahu, saya coba tanya ke masyarakat sekitar:kenapa tidak pakai masker mereka menjawab sudah bosan…ah terserah sajalah kalau sakit tinggal ke dokter. Saya sendiri sekali-kali batuk dan mata memang terasa perih, terutama saat angin berhembus. Sedih memang kalau mengatakan ini tidak berbahaya, memang kalau kita cuma terpapar sehari atau dua hari rasanya badan tidak sakan secara langsung paling kita sekali-kali batuk atau mata terasa pedih, tapi kalau kita terpapar berbulan2 kita bisa prediksi dampak kesehatan buat mereka dikemudian hari. Memang kalau kita lihat saat ini tidak terjadi penumpukan pasien yang dirawat akibat dampak langsung akibat asap tetapi apakah kita
menunggu dulu sampai banyak jatuh korban langsung. Tetapi selalu ada saja pasien yang datang ke RS untuk diinhalasi karena asmanya kambuh dan kembali pulang kerumah setelah di Inhalasi. Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan memang beda dengan bencana gempa bumi atau banjir bandang karena jumlah korban bencana tampak jelas begitu juga dengan jumlah pengungsi. Dampak kabut asap, tinggal menunggu waktu dan akan berlangsung kronis yang justru akan membawa masalah kesehatan dikemudian hari.
Saya coba amati bagaimana bentuk dari partikel tersebut pada satu meja di restauran kami makan, kebetulan bertaplak plastik putih maka akan terlihat jelas partikel hitam akibat kiriman dari ladang atau hutan yang terbakar tersebut. Begitu juga kalau kita amati debu yang menutupi mobil yang terparkir dalam waktu beberapa jam. Bisa saja debu2 ini terhirup oleh pernafasan kita kalau kita tidak menggunakan masker. Memang perlu penelitian lebih lanjut komponen berbahaya apa yang ada dalam partikel debu akibat kebakaran hutan tersebut.
Isu mengenai pro kontra pilihan memilih jenis masker antara masker kue/surgical mask atau masker N95/respirator memang sebaiknya jangan dibesar-besarkan. Memang untuk pengunaan masker N95 ada ‘warning’ yang jelas pada masker tersebut bahwa jika salah menggunakan bisa berbahaya. Tetapi bukan berarti tidak bisa menggunakan masker jenis tersebut justru sebenarnya masker jenis ini lebih efektif untuk menyaring partikel jika digunakan dengan tepat dan pada orang serta tempat yang benar. Tentu jika didalam rumah tidak perlu menggunakan masker ini. Begitu juga untuk bayi dan anak2 balita,orang lanjut usia dan orang dengan gagal jantung dan gangguan paru yang berat tidak bisa menggunakan masker jenis ini.

Bagaimana dengan masyarakat yang terpapar dengan kabut asap? Tetap berupaya tidak terpapar langsung dengan asap, menghindari berada di luar rumah jika tidak perlu. Gunakan masker jika berada diluar rumah. Selalu menjaga agar tetap hidup sehat, tidak merokok, banyak menkonsumsi sayur dan buah-buahan, tetap berolah raga disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan yang ada serta tidur yang cukup. Bagi mereka yang sudah mempunyai masalah kesehatan segera berobat ke dokter. Kita tidak boleh menunggu orang sakit tapi cegah orang tidak jatuh sakit.
Salam sehat,
Peduli kabut asap,
Ari Fahrial Syam
Praktisi Klinis-Ketua PAPDI Jaya
Staf Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28