Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Dampak buruk asap bisa mengenai semua organ

Posted by Dr.Ari on 13th September and posted in opini for public

Dampak buruk asap bisa mengenai semua organ

Permasalahan kabut asap tampaknya belum juga usai, padahal Presiden Jokowi sudah turun tangan langsung mengatasi masalah kabut asap ini.  Sampai hari ini asap masih menjadi masalah beberapa negara di Sumatera terutama di Pekan Baru, Jambi, Palembang dan beberapa kota di Kalimantan. Bahkan negara Singapurapun sudah menerima kiriman asap dari Indonesia. Secara resmi Singapuranpun sudah mengeluh atas penanganan asap yang dilakukan pemerintah Indonesia yang tidak kunjung berhasil. Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) menyatakan indeks standar pencemaran udara di beberapa kota di Indonesai telah mencapai level berbahaya.

Selain dampak langsung dari asap mengganggu pernafasan, mengiritasi mata dan kulit, kondisi asap akan menyebabkan penurunan kadar oksigen udara luar yang akan membawa dampak buruk buat kesehatan.

Dampak kabut asap di beberapa kota di Indonesia dapat dihubungkan dengan kekurangan oksigen atau hipoksia pada masyarakat yang terpapar dengan kabut asap tersebut, juga perlu diketahui oleh masyarakat.

Kekurangan oksigen atau hipoksia adalah suatu keadaan kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan permasalahan kesehatan karena akan berpengaruh pada organ-organ tubuh kita. Hipoksia bisa terjadi karena kadar oksigen yang kurang dari udara. Didalam tubuh kita sebenarnya keseimbangan oksigen dijaga oleh sistim kardiovaskuler dan sistim pernafasan. Oleh karena itu kondisi hipoksia juga dapat terjadi jika kita mengalami kerusakan pada sistim jantung dan pembuluh darah dan sistim pernafasan. Berbagai keadaan yang membuat kadar oksigen disekitar kita rendah dapat membuat  kita mengalami hipoksia. Kondisi yang membuat kadar oksigen sekitar kita rendah adalah jika kita berada diatas ketinggian seperti  di pegunungan, berada di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik atau sirkulasi udara baik tetapi dipenuhi asap rokok. Seorang perokokpun akan mengalami hipoksia kronis yang jelas akan mengganggu kesehatannya. Penelitian pada manusia menunjukkan bahwa pada kelompok orang yang sering berada di ketinggian, yang terpapar dengan kadar oksigen yang rendah, ternyata lebih sering mengalami perdarahan lambung dibandingkan kelompok orang yang berada lebih rendah dari ketinggian.

Hipoksia seperti dijelaskan merupakan sesuatu yang seharusnya kita hindari apalagi pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pada pembuluh darahnya baik pada pembuluh darah otak maupun pembuluh darah jantung. Kadar oksigen yang rendah pada seseorang yang memang sudah mempunyai sumbatan pada pembuluh darah jantung jelas akan menyebabkan jantung akan mengalami penurunan suplai oksigen yang berat yang akan menyebabkan jantung akan mengalami iskemia (kekurangan oksigen) bahkan sampai terjadinya infark (kematian jaringan). Begitu pula pada orang yang sudah mempunyai permasalahan pembuluh darah otak maka kekurangan oksigen juga akan lebih memperburuk penurunan oksigen pada otak sehingga pasien menjadi tidak sadar. Organ-organ lain juga jelas akan mengalami gangguan jika terjadinya hipoksia. Pada orang-orang yang memang sudah biasa tinggal pada daerah pada ketinggian atau daerah dengan kadar oksigen rendah biasanya tubuh sudah dapat mentoleransi akan kebutuhan oksigen tersebut.

Faktor usia juga hal yang tidak bisa diabaikan pada seseorang yang mengalami hipoksia. Umur 60 tahun merupakan umur yang dimasukan pada kelompok usia lanjut, umur 60 tahun juga digunakan sebagai patokan (cut off ) untuk menetapkan faktor resiko terjadinya penyakit. Dengan semakin tuanya umur, maka yang paling berpotensi terganggu adalah sistim pembuluh darah atau sistim vaskuler kita antara lain sistim vaskuler diotak, sistim vaskuler di jantung dan pembuluh darah seperti yang saya sebutkan sebelumnya.

Model hewan coba hipoksia yang menjadi model penelitian Doktor saya, yang telah berhasil dibuat membuktikan bahwa kondisi hipoksia dapat menyebabkan kerusakan pada hati, ginjal, jantung dan lambung jika mengalami hipoksia sistemik kronik. Hal ini harusnya menjadi perhatian kita semua baik untuk pasien yang berada di RS maupun masyarakat umumnya bahwa kondisi hipoksia sebenarnya memang harus dihindari.

Pertanyaannya adalah berapa persen penurunan kadar oksigen yang terjadi akibat asap yang menutupi kota-kota di Sumatera dan Kalimantan. Hal ini yang harus dijawab terlebih dahulu sehingga kita bisa memprediksi terjadinya hipoksia pada masyarakat akibat dari turunya kadar oksigen dari udara tersebut. Disisi lain komponen asap akibat kebakaran hutan juga harus dianalisa sehingga dapat diprediksi dampaknya buat kesehatan.

Akhirnya memang perlu penelitian lebih lanjut mengenai kandungan asap yang ada dan dampak penurunan kadar oksigen sehingga dampak pada masyarakat dapat diprediksi dan diantisipasi. Untuk sementara memang masyarakat dianjurkan untuk tidak terhirup asap dan mencegah untuk tidak berada di luar rumah saat jumlah asap masih tinggi agar kita terhindar dampak langsung dari terhirup asap tersebut.

Salam sehat,

Dr. Ari Fahrial Syam

 

 

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28