Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Surat terbuka untuk Gubernur Ahok dan Anggota DPRD DKI Jakarta

Posted by Dr.Ari on 4th March and posted in opini for public

Surat terbuka untuk Gubernur Ahok dan Anggota DPRD DKI Jakarta

Saya sebagai orang yang bekerja di layanan kesehatan dan kebetulan di Jakarta merasa sedih melihat tingkah laku yang saat ini sedang dipertontonkan oleh Gubernur Ahok dan para anggota DPRD di tengah masyarakat. Apa yang sedang terjadi saat ini membuat pembangunan Jakarta menjadi “terhenti” karena belum turunnya dana APBD 2015. Saya yakin Bapak dan Ibu yang terhormat menyadari dampak dari tidak turunnya dana APBD 2015. Tetapi rasanya kurang berpikir lebih lanjut dampak jangka panjang keterlambatan dana APBD ini.

Dari data statistik diketahui bahwa peran DKI Jakarta dalam mensukseskan Millennium Development Goals (MDG) juga belum terlalu baik. Angka kematian bayi di DKI Jakarta yang masih 22 per 1000 kelahiran hidup serta angka kematian anak balita provinsi DKI Jakarta yaitu 31 kematian bayi per 1000 kelahiran menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) 2012. Propinsi DKI Jakarta sampai dengan September 2014 berdasarkan data Ditjen PP & PL Kemenkes RI masih menduduki tempat tertinggi di antara propinsi lain di Indonesia yaitu 32,782 kasus berkontribusi 20 % dari jumlah kasus HIV di Indonesia. Untuk penyakit TBC sendiri DKI Jakarta masih menjadi 5 besar dengan jumlah kasus TBC terbanyak.

 

Angka-angka statistik ini tidak akan membaik jika tidak ada dana APBD. Tidak adanya dana pembangunan dalam beberapa bulan terakhir ini jelas akan membuat status kesehatan DKI Jakarta menjadi buruk dan terus terpuruk dan ujung-ujungnya masyarakat khususnya masyarakat miskin terus menderita.

Saya yakin bahwa tujuan MDG bidang kesehatan sulit dicapai di Propinsi DKI Jakarta akibat terlambatnya dana APBD 2015 tersebut. Adapun 5 tujuan MDG bidang kesehatan tersebut antara lain terdiri dari : memberantas kemiskinan dan kelaparan, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV/AIDS dan penyakit lainnya serta melestarikan lingkungan hidup.

 

Berbagai Program peningkatan derajat Kesehatan Masyarakat (Kesmas) antara lain peningkatan kualitas kesehatan Ibu dan Anak (KIA), penanggulangan HIV/AIDS, TBC, Demam Berdarah Dengue dan penyakit menular lainnya pasti tertunda akibat ketiadaan dana APBD 2015.

 

Mustinya para penentu kebijakan di DKI Jakarta ini malu kepada kader kader kesehatan yang terus bekerja tanpa pamrih membantu melayani kegiatan posyandu dan membantu memberikan imunisasi, para jumantik yang terus mencari jentik nyamuk agar lingkungan mereka terbebas dari penyakit DHF walaupuan uang transport yang seharusnya menjadi hak mereka belum mereka terima. Saya salut kepada para petugas kesehatan di puskesmas dan RSUD yang terus memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat walaupuan tunjangan kinerja daerah dan tunjangan fungsional belum dibayarkan. Mereka tetap melaksanakan imunisasi baik ke Posyandu maupun ke sekolah-sekolah melalui UKS walaupuan dengan uang transport dari kantung sendiri.

Para petugas kesehatan terus bekerja menyelamatkan nyawa sebagian warga DKI walaupun tunjangan mereka belum dibayar. Sedihnya lagi sebagian masyarakat yang tidak sabar menunggu pelayanan mereka kadang kala menghardik mereka dan membentak mereka   tanpa mereka menyadari bahwa orang yang ada didepan mereka yang sedang memberikan pelayanan kesehatan tersebut belum mendapatkan tunjangan dan mungkin si petugas tersebut sedang galau dan sedang berpikir kemana pinjamam selanjutnya akan diajukan atau apa barang yang akan digadaikan besok agar mereka tetap bertahan hidup. Bahkan sebagian besar masyarakat yang tidak puas tersebut kadang kala mengancam akan melaporkan kepada Gubernur Ahok melalui hotline yang memang diberikan untuk masyarakat DKI yang akan mengeluh atas ketidakpuasan pelayanan. Ironis nya kadang kala keluhan tersebut ditanggapi dan petugas diancam akan dimutasi atau tunjangan dipotong padahal mereka juga lupa saat ini pun tunjangan tersebut belum dibayarkan.

Kondisi perekonomian pegawai pemda di bidang kesehatan khususnya golongan 2 akan semakin terpuruk karena tunjangan belum dibayarkan. Apalagi ditengah harga beras yang terus naik dan biaya transport yang tidak turun walaupun harga BBM sudah turun.

Angkat topi juga kepada para guru di DKI jaya yang terus menerus memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak Jakarta walaupun sekali lagi tunjangan mereka belum dibayarkan.

Akhirnya kalau bicara soal tenaga bagi pegawai PEMDA DKI khususnya yang bekerja langsung kepada masyarakat di bidang kesehatan dan pendidikan tentu akan terus mencurahkan waktu dan tenaganya karena mereka yakin tunjangan ini hanya terlambat diberikan.

Tetapi bagaimana untuk kegiatan yang memang perlu ada uangnya seperti pemberian makanan tambahan (PMT) kepada anak balita? Serta program2 lain yang memang perlu uang untuk membeli sesuatu tentu hal ini tertunda untuk dikerjakan. Simpel saja penjelasannya untuk PMT yang tertunda artinya anak-anak Balita DKI Jakarta yang memang dalam keadaan kurang gizi akan semakin kurang gizi dan ini tentu akan membuat angka kematian anak-anak balita akan semakin tinggi, cepat atau lambat keterlambatan APBD akan” membunuh” sebagian masyarakat DKI Jakarta. Saya yakin Bapak Gubernur dan anggota DPRD yang terhormat juga menyadari hal ini bahwa terlambatnya APBD akan membuat terlambatnya pembangunan Jakarta termasuk bantuan untuk masyarakat miskin DKI.

Pak Gubernur dan para anggota DPRD DKI, ingat janji-janji anda saat kampanye yang akan selalu memberikan yang terbaik untuk warga Jakarta, anda sekalian berjanji untuk membangun jakarta. Masih ingatkah akan sumpah yang anda sampaikan saat menerima jabatan saat ini. Stop pertikaian kembali istiqomah atas janji yang diucapkan, saya berdoa kekacauan APBD ini segera berakhir dan pembangunan Jakarta dapat kembali diteruskan.

Salam sehat,

Ari Fahrial Syam

 

 

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28