Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Dubur nyeri setelah di sodomi

Posted by Dr.Ari on 4th May and posted in Gastrointestinal Problem

Dubur nyeri setelah di sodomi

Kemarin saya mendengarkan acara tayangan TV yang menghadirkan 2 orang tua yang anaknya menjadi korban sodomi oleh Emon di Sukabumi Jawa Barat. Emon mengakui bahwa dia merupakan korban sodomi dan akhirnya sekarang menjadi pelaku sodomi. Sampai sejauh ini memang sudah ada puluhan orang tua yang melaporkan anaknya menjadi korban sodomi. Data terakhir sudah ada 55 korban sodomi Emon. Informasi dari kedua orang tua yang anaknya menjadi korban sodomi menyampaikan bahwa anak-anak mereka yang mengalami perlakukan sodomi mengeluh sakit saat buang air besar (BAB). Ini merupakan gejala akut akibat perlakuan sodomi kepada anak-anak tersebut. Kita tahu bahwa dubur tidak siap untuk menerima masuknya benda dari luar maka jika masuknya benda tersebut dilakukan secara dipaksa dan tanpa diberikan lubricant (pelumas) maka akan menyebabkan dinding anus dan bagian poros usus (rektum) rentan untuk luka. Tentu perlu dievaluasi dan pemeriksaan lebih lanjut oleh tim medis gangguan yang telah terjadi pada anak-anak tersebut. Apakah telah terjadi luka atau juga telah terjadi robekan.

Lanjutan dari perlukaan yang terjadi pada dubur anak-anak tersebut juga perlu dievaluasi. Kondisi luka tersebut akan memudahkan tertularnya berbagai infeksi dari pelaku sodomi tersebut. Pastinya anak-anak yang disodomi berada pada posisi di paksa sehingga secara fisik dan psikis tidak siap untuk menerima perlakukan sodomi tersebut. Berbagai infeksi bisa terjadi pada korban sodomi jika memang si pelakua sodomi mengalami infeksi. Pemeriksaan yang lengkap juga harus dilakukan pada pelaku sodomi meliputi pemeriksaan darah dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui penyakit infeksi yang ada dan kemungkinan penularan pada korban sodomi tersebut. Berbagai penyakit infeksi karena hubungan seksual yang mudah ditularkan melalui sodomi ini antara lain HIV, herpes simplex, hepatitis B, hepatitis C dan human papiloma virus (HPV) perlu diidentifikasi. Selain itu infeksi bakteri juga perlu diskring pada pelaku tersebut antara lain meliputi infeksi gonorea, khlamidia, syphilis dan shigelosis. Kasus sodomi pada anak berulang kembali, korban sodomi selain akan mengalami guncangan psikis, kondisi fisik juga akan berisiko terjadinya berbagai penyakit.

Secara psikis, informasi dari orang tua, menyampaikan bahwa anak-anak mereka mengalami perubahan perilaku lebih banyak diam, bahka ada satu anak yang lebih memilih untuk menyendiri. Satu anak dilaporkan sering mengigau. Pemerintah daerah harus melakukan bantuan kepada seluruh korban baik untuk trauma healing maupun pengobatan medis bagi korban-korban sodomi, karena informasi dari laporan orang tua korban jelas bahwa secara fisik dan psikis para korban telah mengalami guncangan hebat. Tim medis harus terdiri dari dokter anak, dokter bedah, dokter kulit kelamin, dokter kesehatan jiwa (psikiater) dan psikolog. Penanganan harus dilakukan secara tim karena dampak yang terjadi pada anak tersebut juga multi patologi.

Bagi pelaku harus dilakukan hukuman yang setimpal karena dampak dari perlakuan ini merusak masa depan anak-anak tersebut yang bisa saja mengalami trauma psikis dan fisik jangka panjang. Belum lagi kalau akhirnya korban sodomi menjadi pelaku sodomi dimasa depan seperti pengakuan Emon pelaku sodomi di Sukabumi kalau dia melakukan sodomi karena pernah menjadi korban sodomi.

Orang tua harus mengambil pelajaran atas kejadian ini agar selalu mengawasi kemana anak-anaknya bermain dan selalu mengamati perubahan yang terjadi pada anak-anak. Rasa curiga memang tidak boleh berlebih-lebihan tetapi waspada harus selalu diberikan pada orang-orang dewasa yang ikut bermain dengan anak-anak kita.

Mudah2an informasi ini bermanfaat.

Salam sehat,

Dr. Ari F Syam

 

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28