Usulan untuk Parpol dan Caleg Konsep pencegahan penyakit untuk Indonesia yang lebih sehat

In: opini for public

19 Mar 2014

Usulan untuk Parpol dan Caleg

 

Konsep pencegahan penyakit untuk Indonesia yang lebih sehat

 

 

 

Indonesia dihadapkan dengan pemasalahan kesehatan   baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Kasus HIV AIDS mengalami peningkatan kasus tercepat di negara-negara Asia Tenggara. Demam berdarah Dengue (DHF) masih menjadi endemis dan kasusnya selalu ditemukan sepanjang tahun terutama dikota-kota besar. Sampai saat ini untuk penanganan kasus TBC dan HIV/AIDS kita masih belum optimal mengingat kasus yang ditemukan ditengah masyarakat masih tinggi. Indonesia masih menjadi penyumbang terbesar kasus TBC dunia.

 

Disisi lain, kasus penyakit tidak menular kita juga tinggi. Penyakit jantung koroner masih menjadi pembunuh utama dinegara kita. Angka kejadian obesitas dan DM terus bergerak naik. Pimpinan dan pejabat negara termasuk para anggota dewan baik di tingkat II,I dan Propinsi harus menjadi contoh dengan memiliki berat badan ideal dan rutin berolah raga. Kegemukan bukan lagi menunjukkan kemakmuran tetapi menunjukkan sumber penyakit.  

 

Rokok tampaknya juga tidak terkendali di bumi yang tercinta ini. Data riset kesehatan dasar Departemen Kesehatan tahun 2010,  menunjukkan bahwa lebih dari 30 % masyarakat kita merokok. Rokok menjadi penyebab utama terjadinya penyakit tidak menular ini. Hasil Riset kesehatan Dasar Depkes bahkan menunjukkan angka perokok Indonesia terus bergerak naik bahkan untuk penduduk diatas 15 tahun angka perokok orang Indonesia sudah mencapai  36,3 %.

 

Sebagian besar penyakit baik penyakit infeksi maupun penyakit degeneratif merupakan penyakit yang dapat dicegah. Penyakit tidak menular  jelas berhubungan dengan gaya hidup dari masyarakat kita yang berubah sehingga penyakit degeneratif lebih banyak ditemukan pada usia yang lebih muda. Peningkatan penyakit degeneratif ini  berhubungan dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang cenderung mengkonsumsi makanan tinggi lemak  dan kurang melakukan aktifitas olah raga.

 

Saat ini memang telah diluncurkan sistim jaminan kesehatan nasional (JKN). Sistim ini kedepan akan memungkinkan seluruh masyarakat Indonesia tercover dengan asuransi (universal coverage). Sistim ini harus diikuti oleh program-program promosi dan prevensi penyakit agar sistim JKN ini dapat dilaksanakan sesuai dengan harapan.

 

Pada masa kampanye saat ini masyarakat juga bisa berdialog langsung dengan partai politik dan para calon legeslatifnya bagaimana konsep mereka tentang penyelenggaraan pembangunan kesehatan kedepan. Kalau ada kampanye yang menyampaikan akan memberikan pengobatan gratis jika menang, jelas menunjukkan bahwa si Caleg  tersebut tidak mengetahui perubahan yang sedang terjadi dalam sistim kesehatan nasional. Dukungan pelaksanaan JKN oleh parpol dan para caleg baik ditingkat kabupaten/kotamadya, propinsi dan pusat adalah mendorong pemerataan peralatan kesehatan dan distribusi dokter baik dokter layanan primer maupun dokter spesialis. Harus  ada upaya yang konstruktif agar dokter bisa terdistribusi di seluruh Indonesia.

 

Jika melihat  permasalahan kesehatan  yang muncul dipermukaan sepanjang 5 terakhir  dapat dissimpulkan bahwa permasalahan kesehatan yang timbul didominasi penyakit-penyakit menular dan penyakit-penyakit tidak menular dan hal ini akan tetap berulang dalam 5 tahun kedepan kalau tidak ada upaya-upaya untuk melakukan pencegahan penyakit. Kita akan gagal kalau upaya  promosi kesehatan hanya sebatas slogan.

 

Peran pemerintah

 

Melihat kondisi kesehatan masyarakat kita saat ini memang komitmen pemerintah harus tinggi. Pemerintahan harus fokus untuk  memperbaiki keterpurukan yang terjadi saat ini. Apalagi badan dunia  telah menargetkan pencapaian Millenium Development Goals (MDG’s) untuk waktu yang tidak terlalu lama. Masyarakat jangan dijejali pemahaman dengan Konsep pengobatan gratis yang menjadi trend didaerah-daerah. Para Caleg disaat masa kampanye  seharusnya menyampaikan prgram kerja yang akan membuat  masyarakat bisa Hidup Sehat dan tidak sakit. Untuk mengatasi masalah kesehatan ini komitmen pemerintah harus tinggi dan harus menjadikan   penanganan masalah kesehatan sejajar dengan masalah lain seperti masalah politik,  ekonomi  dan keamanan. Ditingkat global saja masalah kesehatan sudah menjadi pilar diplomasi (Global Health Diplomacy).

 

Upaya-upaya yang telah dilakukan yang hanya bersifat  reaktif saja seharusnya sudah ditinggalkan. Konsep pembangunan kesehatan adalah Masyarakat Hidup Sehat Tanpa Sakit. Disisi lain masalah desentralisasi juga merupakan salah satu faktor yang menjadi alasan kenapa masalah penanganan kesehatan tidak optimal.  Pusat merasa bahwa masalah Puskesmas sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan rakyat adalah masalah daerah disisi lain masyarakat juga berharap pusat dapat melaksanakan programnya langsung kedaerah. Saat ini  sebagian besar  Puskesmas terutama yang di kota-kota besar  lebih berperan sebagai rumah sakit kecil ketimbang sebagai ujung tombak pembangunan.  Pemerintah daerah termasuk jajaran kesehatan sepertinya lupa bahwa diadakannya Puskesmas baik ditingkat kelurahan maupun kecamatan  bukan saja sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama tetapi Puskesmas juga bisa berperan sebagai ujung tombak pembangunan dan pusat pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup mandiri khususnya dibidang kesehatan.

 

Keadaan ini bisa berubah, target-target pembangunan kesehatan harus jelas untuk memperlambat pertambahan penyakit baik penyakit menular  dan maupun  penyakit tidak menular termasuk penyakit degeneratif dan  termasuk penyakit akibat gangguan jiwa karena faktor stress.

 

Terkenalnya bangsa ini akibat tetap tingginya berbagai penyakit infeksi antara lain malaria, Demam Berdarah, Hepatitis baik A, B dan C,  TBC dan HIV/AIDS harusnya bisa dirubah.  Program pembangunan kesehatan seharusnya tidak saja indah diatas kertas tapi juga harus dilaksanakan. Puskesmas harus lebih diberdayakan untuk melaksanakan peran sebagai ujung tombak pembangunan dan pusat pemberdayaan masyarakat. Jika komitmen untuk memfungsikan Puskesmas sudah ada pasti akan terus diupayakan untuk selalu mencukupi tenaga-tenaga kesehatan bekerja di Puskesmas termasuk didaerah-daerah terpencil. Anggaran yang diberikan untuk masalah kesehatan  baik dipusat maupun didaerah jangan melulu untuk proyek-proyek pengobatan  tetapi juga membuat program-program bagaimana masyarakat Tetap Sehat dan Tidak Sakit. Skrining kesehatan harus ditingkatkan. Deteksi dini kasus HIV harus ditingkatkan untuk menjaring kasus-kasus baru agar dapat diobati dan tidak menjadi sumber penularan panyakit. Upaya-upaya skrining penyakit lain termasuk TBC seperti pemeriksaan pemeriksaan sputum basil tahan asam (BTA) gratis juga harus ditingkatkan. Upaya deteksi dini  berbagai penyakit baik penyakit menular maupun  tidak menular seperti kanker usus, kanker payudara harus ditingkatkan. Konsep ”Pencegahan lebih baik dari pada Mengobati” harus terus digelorakan agar masyarakat tetap sehat dan tidak sakit.

 

Iklan-iklan rokok harus dibatasi dan begitu pula iklan-iklan yang membuat masyarakat menjadi lebih konsumtif dan menkonsumsi makan dan camilan yang tidak sehat menjadi berlebihan. Konsumsi gula masyarakat harus dibatasi. Kota-kota harus menyediakan taman kota sehingga masyarakat dapat berolah raga. Jalan-jalan di kota juga harus menyediakan jalan untuk sepeda sehingga memberi akses bagi masyarakat yang ingin sehat dengan cara bersepeda untuk beraktifitas atau berolah raga.

 

Korupsi dibidang kesehatan terutama pengadaan alat-alat kesehatan baik ditingkat daerah dan pusat harus dicegah. Tidak ada lagi alat kesehatan yang tidak terpakai karena memang tidak ada yang mengerjakan atau peralatan yang dibeli merupakan peralatan yang cepat rusak. Korupsi  harus diberantas karena akibat korupsi uang rakyat menjadi terampas dan hak-hak rakyat menjadi terkoyak. Korupsi telah memiskinkan masyarakat kita. Harapan besar berada pada para petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) yang baru terpilih. Amanah besar berada dipundak mereka untuk memberantas korupsi dan melakukan upaya penyecegahan agar orang tidak korupsi.

Parpol dan para caleg juga harus berjanji untuk menghidupkan budaya gotong royong. Kegiatan-kegiatan kerja bakti baik di masyarakat dan disekolah harus dihidupkan kembali.  Masyarakat harus didorong untuk mampu bergerak sendiri. Masyarakat sebaiknya berkemampuan mengidentifikasi masalah kesehatan seputar mereka dan mampu mengkomunikasikannya dengan petugas kesehatan terutama yang berada di Puskesmas. Gerakan hidup sehat seperti senam pagi massal yang dulu pernah menjadi budaya hidup masyarakat kita sebaiknya dihidupkan kembali. Apalagi jika kegiatan tersebut dibarengi dengan pemeriksaan kesehatan sederhana seperti   pemeriksaan tekanan darah dan nadi yang juga bisa dikerjakan oleh kader yang terlatih.

 

Saat ini dimana lapangan pekerjaan yang terbatas banyak  ibu-ibu yang tidak bekerja dan hanya berada dirumah mengurus rumah tangga dan dan rasanya mereka tersebut masih bisa berbagi waktu untuk sesama. Harus diciptakan para kader-kader kesehatan yang bisa menjadi motivator untuk selalu berbudaya hidup sehat. Upaya-upaya hidup sehat dan bersih harus selalu tertanam didalam masyarakat  dalam rangka mewujudkan konsep pencegahan penyakit lebih baik dari pada   mengobati. Masyarakat harus dimotivasi untuk bisa berdiri sendiri tanpa menunggu bantuan dari luar untuk melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit tersebut. Pada akhirnya komitmen kita semua harus tinggi untuk memperbaiki permasalahan kesehatan yang kadang kala tidak menjadi prioritas dalam kehidupan sehari-hari.

 

Sekali lagi parpol dan para caleg nya harus mendorong upaya Pencegahan penyakit.

 

Dr.dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,MMB,FINASIM,FACP (@DokterAri)

 

Dosen dan Praktisi kesehatan.

 

 

 

 

Comment Form

You must be logged in to post a comment.

Tentang Blog Ini

Blog staff Universitas Indonesia.

March 2014
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
March 2014
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31