Renungan Akhir Tahun
 2012 Jangan tinggalkan Masyarakat untuk Pembangunan Kesehatan

In: opini for public

30 Dec 2012

Renungan Akhir Tahun
 2012

Jangan tinggalkan Masyarakat untuk Pembangunan Kesehatan

Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2012, berbagai permasalahan kesehatan muncul di tengah masyarakat. Permasalahan kesehatan Indonesia masih didominasi oleh masalah kesehatan akibat bencana alam atau kecelakaan transportasi, angka terjadinya penyakit infeksi yang masih tinggi, kematian bayi dan ibu melahirkan  yang masih tinggi dan penyakit non infeksi yang angka kejadiannya terus bergerak naik misal obesitas, DM dan kanker. Disisi lain masyarakat juga masih terpapar dengan makanan yang tidak sehat karena diawetkan oleh bahan beracun seperti formalin. Indonesia merupakan negara dengan angka “tranmisi tinggi” mencapai 37 % untuk infeksi malaria (data WHO 2010). Penyakit DHF masih endemis di Indonesia dan Indonesia masih di cap sebagai negara dengan resiko tinggi untuk penularan DHF.

Sepanjang tahun 2012, terjadi berbagai bencana alam di bumi tercinta ini. Sebagian besar bencana yang terjadi karena bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor. Sepanjang tahun ini berdasarakan data dari  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia diguncang oleh 730 bencana alam dengan korban jiwa sebanyak 487 orang. Beruntung sepanjang tahun 2012 tidak ada bencana besar yang dikategorikan bencana nasional. Tetapi bencana yang ada terutama banjir telah menyebabkan pengungsian besar-besaran dan membuat banyak orang termasuk orang tua dan anak-anak terpapar dengan berbagai penyakit pasca bencana. Bencana alam yang terjadi telah membuat masyarakat menjadi terpuruk secara ekonomi. Karena dengan hilangnya atau rusaknya harta benda  bahkan tempat usaha mereka membuat mereka bertambah miskin dan tentu pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan keluarga mereka. Disisi lain ketika mereka berada di pengungsian dengan lokasi ala kadarnya dan dengan konsumsi makan dan minum yang tidak teratur membuat mereka menjadi rentan dengan berbagai penyakit. Bencana banjir sebenarnya  bisa kita antisipasi kejadiannya tidak seperti bencana alam gempa bumi dengan atau tsunami yang memang terjadi tiba-tiba. Berbagai terobosan harus dilakukan agar banjir bisa dikurangi dan kita bisa berkompromi dengan banjir. Beberapa minggu terakhir banjir di Jakarta telah merepotkan semua orang karena dimana ada banjir disitu akan terjadi kemacetan yang bertambah parah.

Penyakit infeksi masih mendominasi sebagai penyakit yang menyebabkan masyarakat kita sakit. Di akhir tahun 2012 kita dikagetkan oleh terjadinya peningkatan kasus flu burung atau Avian Influenza (AI) pada unggas yang juga sempat menyebabkan penemuan kasus infeksi pada manusia yang diduga ditularkan oleh infeksi dari unggas tersebut. Telah terjadi kematian ratusan ribu unggas dan ternyata penyebab dari flu burung ini oleh virus flu burung baru yaitu dari virus flu burung baru yaitu virus AI sub-tipe H5N1 clade 2.3.2.1. Tentu kita berharap virus flu burung jenis baru ini tidak  menginfeksi manusia walau tetap kita harus terus mewaspadai berkembangan virus ini.

Penyakit infeksi tropis seperti malaria dan demam berdarah juga masih mendominasi beberapa propinsi di Indonesia. Penyakit infeksi yang ditularkan oleh nyamuk ini bisa dicegah dan sebenarnya bisa dikendalikan. Tetapi pada kenyataannya kasus ini masih terus kita temukan di tengah masayarakat walau memang angka kematiannya bisa kita tekan karena sebagian besar masyarakat kita dan dokter-dokter kita sudah paham bagaimana menatalaksana penyakit ini.  Penyakit infeksi HIV AIDS masih merisaukan buat kita yang berada di Indonesia. Mengingat penyakit HIV AIDS masih mengalami pertumbuhan yang pesat di bumi tercinta dimana dinegara lain tetangga kita pertambahan kasus HIV AIDS tidak sepesat di negara kita.

Peran pemerintah


Melihat kondisi kesehatan masyarakat kita saat ini memang komitmen pemerintah harus tinggi. Kebetulan menteri kesehatan kita yang baru  Dr. Nafsiah Mboi SpA, MPH adalah seorang dokter yang pernah menjadi salah satu Direktur di WHO dan merupakan salah satu Pimpinan Komisi Nasional penanggulangan HIV-AIDS. Pengalaman dan sepak terjak beliau dibidang pemberantasan penyakit  HIV-AIDS bisa menjadi modal untuk menuruskan cita-citanya memberantas penyakit HIV AIDS karena saat ini tanggung jawab ini memang ada di tangan beliau sebagai orang nomor satu di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI).

Disisi lain saat ini sebagian besar masyarakat dibuat mudah aksesnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis melalui program Jamkesmas atau seperti program Kartu Jakarta Sehat    yang digulirkan oleh Gubernur Jokowi-Ahok. Bahkan dengan ditetapkannya undang-undang tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional (SJSN), pemerintah akan menanggung pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat secara bertahap sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. Tetapi walau seberapa besar jaminan pelayanan kesehatan yang diberikan,  masyarakat harus juga diingatkan bahwa “mencegah lebih baik dari mengobati”. Slogan “memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat“ harus dipopulerkan kembali. Makanan sehat harus juga dipopulerkan kepada masyarakat.  Disisi lain masalah otonomi juga merupakan salah satu faktor yang menjadi alasan kenapa masalah penanganan kesehatan tidak optimal. Pembangunan kesehatan di daerah dengan Puskesmas sebagai ujung tombak tergantung kepeminatan  atau kepedulian pemimpin daerah terhadap pembangunan kesehatan didaerahnya. Saat ini sebagian besar Puskesmas terutama yang di kota-kota besar lebih berperan sebagai rumah sakit kecil ketimbang sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Pemerintah daerah termasuk jajaran kesehatan sepertinya lupa bahwa diadakannya Puskesmas baik ditingkat kelurahan maupun kecamatan bukan saja sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama tetapi Puskesmas juga bisa berperan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan dan pusat pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup mandiri khususnya dibidang kesehatan.

Antisipasi berbagai bencana harus dilakukan mengingat tahun depanpun bangsa ini tidak bisa terhindar dari berbagai bencana alam. Masyarakat harus diberdayakan untuk siap menghadapi bencana. Tim bantuan untuk menanggulangi bencana baik dari unsur pemerintah dan masyarakat termasuk institusi pendidikan harus selalu siap dan tetap dalam koordinasi pemerintah jika sewaktu-waktu terjadi kembali bencana.
 Program pembangunan kesehatan seharusnya tidak saja indah diatas kertas tapi juga harus dilaksanakan. Puskesmas harus lebih diberdayakan untuk melaksanakan peran sebagai ujung tombak pembangunan dan pusat pemberdayaan masyarakat. Jika komitmen untuk memfungsikan Puskesmas sudah ada pasti akan terus diupayakan untuk selalu mencukupi tenaga-tenaga kesehatan bekerja di Puskesmas termasuk didaerah-daerah terpencil. Situasi politik negeri yang didominasi oleh kasus-kasus korupsi  sebaiknya tidak melibatkan gerakan massa sehingga masyarakat tetap fokus untuk menjalankan kehidupan sehari-harinya. Korupsi memang harus diberantas karena akibat korupsi uang rakyat menjadi terampas dan hak-hak rakyat menjadi terkoyak.

Budaya gotong royong harus dihidupkan kembali. Kegiatan kerja bakti baik di tengah masyarakat dan disekolah harus dihidupkan kembali. Masyarakat harus mampu bergerak sendiri. Masyarakat sebaiknya berkemampuan mengidentifikasi masalah kesehatan seputar mereka dan mampu mengkomunikasikannya dengan petugas kesehatan terutama yang berada di Puskesmas. Masyarakat harus dimotivasi untuk selalu hidup sehat. Buang sampah tidak boleh sembarangan, program hidup sehat dan bersih (PHBS) harus menjadi prioritas. Sebagaimana kita ketahui,  PHBS di Rumah Tangga yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi ASI eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan tidak merokok di dalam rumah. Aktifitas PHBS ini harus disosialisasikan dan dilaksanakan oleh masyarakat.

Law enforcement juga harus ditegakkan misal denda untuk orang yang buang sambah sembarangan, denda untuk merokok di tempat umum dan peraturan-peraturan lain yang ditetapkan harus ditegakkan. Ironis misalnya kita bisa mematuhi berbagai peraturan saat kita berada di negeri orang tetapi lupa menerapkannya ketika kembali berada di negeri sendiri. Pada akhirnya komitmen kita semua harus tinggi untuk memperbaiki permasalahan kesehatan yang kadang kala tidak menjadi prioritas ini.

Salam sehat,

Ari Fahrial Syam

Dosen, Praktisi Kesehatan dan aktivist organisasi profesi

Comment Form

You must be logged in to post a comment.

Tentang Blog Ini

Blog staff Universitas Indonesia.

December 2012
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
December 2012
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31