Belajar dari Merapi : seputar dampak debu bagi masyarakat dan lingkungan sekitar

In: Disaster Management

22 Nov 2010

Merapi saat masih menyemburkan isi perutnya

Belajar dari Merapi : seputar dampak debu bagi masyarakat dan lingkungan sekitar

Ari Fahrial Syam

-Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM


Meletusnya gunung merapi diakhir Oktober dan bulan November 2010 ini telah membuat kecemasan bagi masayarakat baik yang sudah terpapar maupun yang belum terpapar debu tersebut. Disisi lain informasi kandungan dari debu juga simpang siur yang menambah kecemasan bagi masyarakat. Kondisi Meletusnya Merapi  saat ini diinformasikan lebih buruk dari letusan-letusan sebelumnya. Apalagi info yang beredar saat ini bahwa debu vulkanik tersebut mengandung silica sesuatu bahan yang cukup berbahaya. Saat inipun kondisi merapi memang sudah menurun. Ratusan ribu pengungsi telah kembali kerumahnya masing-masing. Bencana alam Merapi ini menyisakan kepedihan yang luar biasa. Bencana ini telah membuat rumah, ladang penduduk menjadi rusak bahkan hancur berat. Belum lagi ternak banyak yang tidak terurus serta mati dan semua ini membuat kondisi perekonomian masyarakat menjadi terpuruk.

Pertanyaan yang timbul sehubungan debu ini adalah apa kandungan dari debu vulkanik ini, bagaimana dampaknya bagi kesehatan baik saat ini maupun jangka panjang, bagaimana sumber air bersih yang terkontaminasi apakah layak digunakan, bagaimana tanaman dan hewan yang terpapar dengan debu vulkanik, ini belum lagi jika peralatan listrik dan mesin-mesin yang terkena debu ini apakah akan rusak.

Fakta yang ada saat ini, memang bahwa debu  vulkanik akan menyebabkan perih pada mata dan menimbulkan gangguan pernafasan berupa batuk dan sesak nafas. Pada kulitpun menyebabkan gatal-gatal jika kita terpapar dengan debu vulkanik ini. Debu vulkanik telah menyebabkan jalan-jalan raya di beberapa kota seputar Merapi menjadi licin dan berlumpur setelah hujan tiba dan menyebabkan beberapa kecelakan. Bandara Adisucipto sempat ditutup sekian lama karena debu vulkanik masih menutupi landasan disisi lain debu vulkanik tersebut akan merusak mesin dan menutupi pandangan sehingga tentu akan membahayakan penerbangan itu sendiri.

Pertanyaan seputar dampak akan debu ini musti dijawab. Perlu dilakukan survey kesehatan dan observasi  yang terus menerus di rumah-rumah sakit dan tempat-tempat mengungsian mengenai kasus-kasus penyakit yang ditemukan. Secara khusus penyebab kematian dari 100an korban akibat Merapipun segera didentifikasi apa penyebab kematiannya. Dari kasus-kasus yang ada korban meninggal akibat terpapar langsung dengan awan panas menyebabkan terjadinya asfiksia Sulit bernafas sampai tidak bisa bernafas sekali dan luka bakar yang luas. Awan panas telah membuat korban-korban yang meninggal sulit diidentifikasi.

Dampak buruk akibat debu panas ini harus segera diidentifikasi, ini merupakan tugas pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dibantu oleh lembaga-lembaga penelitian yang ada khususnya dari institusi pendidikan. Institusi pendidikan juga harusnya peka atas bencana Merapi ini, Merapi telah menyemburkan awas panas, erupsinya saat beberapa minggu, debunya telah menyebar luas kemana-mana, tinggal kita mempelajari bagaimana dampak debu ini bagi kesehatan masayarakat secara luas baik dampak langsung maupun dampak tidak langsung. Merapi telah memberikan pelajaran kepada kita semua dan sekarang apakah kita bisa menggali pengetahuan  dibalik bencana Merapi kali ini.

Seperti telah disebutkan diatas bencana Merapi telah menyebabkan sebagian besar penduduk yang tinggal diseputar Merapi kehilangan rumah sehingga mereka harus mengungsi. Permasalahan kesehatan para pengungsi harus diidentifikasi sehingga langkah-langkah yang tepat harus dilakukan. Permasalahan kesehatan yang muncul seputar pengungsi adalah kondisi pengungsian baik fisik maupun psikis. Kondisi pengungsian yang terbatas seperti keterbatasan tempat tidur yang layak, sarana air bersih khususnya untuk Mandi,Cuci dan Kakus yang terbatas jelas akan berdampak bagi kesehatan para pengungsi selain itu faktor kejiwaan para pengungsi juga akan terganggu. Karena  terdapat faktor-faktor yang dapat mencetuskan terjadinya stress bagi para pengungsi. Hidup dipengungsian yang tidak jelas, masa depan yang juga tidak jelas. Hal ini akan menyebabkan kondisi kejiwaan para pengungsi akan menurun.

Beberapa hal yang bisa diidentifikasi mengingat masyarakat akan kembali kerumah segera setelah kondisi aman.  adalah :

  1. Apa  kandungan debu vulkanik tersebut?
  2. Bagaimana dampak jangka pendek dan jangka panjang bagi sesorang  akibat terpapar dengan debu vulkanik ini?
  3. Bagaimana pengaruh ternak yang terpapar dengan debu vulkanik ini?
  4. Bagimana pengaruh sumber air yang terpapar dengan debu vulkanik?
  5. Pemeriksaan kesehatan dan observasi pada kasus-kasus yang datang pada fasilitas kesehatan primer dan RSU sekitar Merapi harus terus menerus dilakukan.
  6. Bagi penduduk yang mengungsi harus juga diobsevasi adanya peningkatan kasus-kasus infeksi seperti ISPA, Diare, Campak, Deman Berdarah Dengue dan juga gangguan kejiwaan seperti depresi atau psikosis akut.

Banyak hal yang bisa dipelajari dan didiskusikan untuk mencari solusi dan langkah-langkah lanjutan seputar kesehatan akibat debu vulkanik dan kondisi kesehatan masyarakat baik yang berada dipengungsian maupun yang tidak.

Kementerian kesehatan, Lembaga Penelitian Kesehatan, Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten, Institusi pendidikan khususnya  para ahli kesehatan masyarakat, para klinisi dan pakar biomedik harus bahu membahu untuk bisa mendapatkan data dan informasi sebanyak-banyaknya dan jelas ini merupakan informasi penting yang juga perlu dipublikasi baik secara nasional maupun internasional sehingga masyarakat kesehatan kita dan dunia bisa mempelajarinya dan mengantisipasi berbagai hal terutama untuk masalah kesehatan saat ini maupun juga permasalahan yang timbul jika terjadi bencana yang serupa di Bumi Pertiwi yang tercinta ini.

Merapi telah memberikan pelajaran buat  kita semua untuk mendalami lebih lanjut dampak akibat Merapi tersebut. Kepedulian para pakar kesehatan harus ditunjukkan dengan terjun langsung dan mempelajari dampak kesehatan apa yang terjadi akibat Meletusnya Merapi tersebut.

Kita harus belajar dari bencana-bencana lain dari belahan dunia yang lain seperti Bencana Mt Helena 1980 di Amerika Serikat, Sofriere Hill di Pulau Montserrat 1995, Meletusnya Iceland di Eropa tahun 2004 , yang telah menghasilkan berbagai publikasi seputar bencana tersebut.

Kalangan masyarakat kedokteran Indonesia  harus mengambil hikmah sebesar-besarnya dari bencana ini. Dana penelitian yang ada harus diarahkan untuk program-program seputar bencana mengingat Bumi pertiwi kita ini rentan dari berbagai bencana. Kepedulian bagi kalangan kedokteran tidak sekedar mengirim tim medis untuk membantu pengungsi atau memberikan bantuan  finansial atau barang-barang lain yang dibutuhkan. Sumbangan pemikiran untuk melakukan berbagai penelitian harus dicurahkan untuk melihat dampak bencana ini sehingga langkah-langkah yang tepat dapat dilakukan untuk menyelematkan masyarakat akibat debu ini dan juga tentu untuk mengantisipasi dampak kesehatan kepada masyarakat akibat bencana alam selanjutnya.

Comment Form

You must be logged in to post a comment.

Tentang Blog Ini

Blog staff Universitas Indonesia.

November 2010
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
November 2010
M T W T F S S
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930