Antisipasi penyakit Paska Tragesi Situgintung

In: Disaster Management

31 Mar 2009

Antisipasi Penyakit Paska Tragedi Situgintung

Antisipasi penyakit paska Tragedi Situ Gintung
Ari Fahrial Syam
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM/
Humas Papdi Medical Relief (PMR)

Sebagai bangsa Indonesia sekali lagi kita diberi cobaan oleh Tuhan yang Maha Esa atas cobaan yang cukup dahsyat berupa Jebolnya Situ Gintung yang dikenal dengan Tragedi Situ Gintung. Sampai saat ini sudah delapan puluhan orang ditemukan tewas dan ratusan orang belum ditemukan. Yang tersisa saat ini adalah rumah-rumah yang hancur, sampah yang berserakan dan lumpur dimana-mana. Selain itu paku dan benda tajam yang potensial melukai kaki dan tangan masayarakat sekitarnya. Belum lagi ular yang sudah ditemukan dilokasi. Jelas kondisi ini harus diantisipasi oleh masyarakat baik yang menjadi korban maupun yang datang untuk mengunjungi kerabat atau memang hanya datang untung menonton bencana yang menyerupai Tsunami ini.
Berbagai wabah penyakit dapat terjadi akibat kondisi yang tidak baik ini. Lingkungan yang tidak sehat berpotensi untuk terjadinya peningkatan berbagai infeksi khususnya infeksi usus seperti kasus diare baik yang disebabkan oleh kuman E coli, shigella, amuba dan lain-lain yang berasal dari makanan dan minuman yang tercemar oleh bakteri-bakteri tersebut. Selain itu penyakit demam tifus juga harus diantisipasi pada masyarakat yang tinggal pada lokasi bencana. Apalagi apabila masyarakat sekitar tidak memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi dari daerah sekitar bencana. Saat ini sumber air bersih yang ada potensial sudah tercemar air limbahan dari Situ Gintung yang sudah terpapar dengan berbagai kotoran tersebut.
Penyakit leptospirosis juga potensial terjadi pada daerah tersebut. Sebagai mana kita ketahui bahwa penyakit ini disebabkan oleh kuman leptospira yang yang berasal dari urin tikus. Biasanya kuman ini tetap bertahan pada lumpur dan sampah-sampah yang menumpuk. Kondisi ini potensial terjadi pada lokasi bencana Tragedi Situ Gintung dimana sebagian daerah tertutup lumpur dan sampah berserakan dimana-mana. Luka terbuka merupakan daerah potensial untuk masuknya kuman tersebut kedalam tubuh manusia. Oleh karena itu pengunaan alas kaki khususnya sepatu boot dan sarung tangan harus selalu digunakan jika kita akan membersihkan dan berada pada lokasi bencana ini. Disisi lain pecahan kaca, paku dan seng juga potensial berada pada lokasi tersebut yang bisa menyebabkan kulit kita luka sehingga potensial masuknya bibit penyakit seperti kuman tetanus dan leptospira tersebut. Perlu diketahui bahwa masa inkubasi ini berlangsung 5-14 hari sehingga penyakit ini baru terjangkit beberapa hari kedepan.
Selain itu akibat banyaknya reruntuhan dan banyaknya korban yang tertusuk dan terkena paku serta benda tajam lain penyakit Tetanus juga harus diwaspadai terjangkit pada para korban bencana ini. Antisipasi akan berbagai penyakit ini harus dilakukan sehingga para korban dan masyarakat yang kebetulan dapat ketempat bencana terhindar dari berbagai penyakit yang bisa dicegah ini.
Beberapa hal yang harus menjadi perhatian antara lain :
1. Pembersihan reruntuhan secepat mungkin mengingat kondisi rerentuhan bisa menjadi tempat hidupnya tikus yang merupakan sumber penyakit leptospirosis yang berbahaya tersebut.
2. Dalam pembersihan lokasi reruntuhan para masyarakat harus selalu menggunakan alas kaki yang baik agar tidak tertusuk paku atau bahan tajam lainnya atau terinjak secara langsung sisa kotoran tikus.
3. Penguburan kaleng-kaleng bekas dan pecah belah agar tidak menjadi tempat hidup nyamuk aedes agypti pembawa virus DHF.
4. Air bersih dan tempat Mandi Cuci Kasus (MCK) harus disediakan untuk mencegah penyebaran penyakit diare. Selain itu sumber air bersih diusahakan tidak mudah tercemar oleh kotoran manusia agar sumber air bersih tidak terkontaminasi dan tetap dalam keadaan baik.
5. Makanan yang disediakan bagi pengungsi harus dalam keadaan baru dan dalam wadah yang bersih sehingga mencegah terjadinya keracunan makanan yang setiap saat dapat terjadi mengingat kondisi fisik para pengungsi yang tidak baik. Mengingat proses penyimpanan makanan tersebut sangat terbatas karena fasilitas yang tidak memungkinkan di lokasi tempat bencana makanan untuk para pengungsi atau korban harus segera diberikan.
6. Jika mengalami luka, maka luka tersebut harus segera dibersihkan dan diberi antiseptik dan ditutup agar tidak terpapar dengan berbagai kuman. Kalau kebetulan mengalami luka tusuk maka luka tersebut harus dibersihkan terutama oleh petugas kesehatan yang kebetulan memang banyak ditemukan di lokasi tragedi Situ Gintung tersebut. Karena luka tusuk potensial untuk menyebabkan terjadinya tetanus.
Demikian informasi kami mudah-mudahan masyarakat sekitar dan kita semua yang kebetulan berada dilokasi dapat selalu mengantisipasi berbagai penyakit yang terjadi seputar lokasi bencana Situ Gintung tersebut. Bencana sudah terjadi dan jangan karena kelengahan kita, kita menjadi terjangkit dengan berbagai penyakit yang bisa dicegah ini.

Comment Form

You must be logged in to post a comment.

Tentang Blog Ini

Blog staff Universitas Indonesia.

March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
March 2009
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031