Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Lagi-lagi Hoax Seputar Terompet

Posted by Dr.Ari on 1st January and posted in opini for public

Seperti tahun-tahun sebelumnya selalu saja di akhir tahun ini beredar isu mengenai berbagai penyakit berbahaya termasuk kanker mulut, kanker lidah, kanker darah, hepatitis, HIV, TBC dan penyakit2 menular lain yang ditularkan melalui terompet.

Jika membaca informasi tersebut orang awampun sebenarnya sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa berita tersebut tidak benar. Karena kanker termasuk kanker mulut, lidah atau kanker darah tidak dapat menular dari satu orang ke orang lain. Betul memang penyebab dari kanker mulut disebabkan oleh virus yang kita namakan virus Human Papilloma (HPV). Virus ini memang bisa menyebabkan kanker lidah, kanker amandel atau kanker tenggorongan Tetapi penularan virus tersebut melalui mulut terutama melalui aktifitas seksual misalnya oral seks, sedang penggunaan alat makan atau sedotan secara bersamaan tidak akan menularkan penyebaran virus tersebut. Termasuk juga orang yang meniup terompet yang habis ditiup oleh orang yang terinfeksi virus ini tidak dapat tertular infeksi tersebut Begitu pula penularan virus HIV penularan juga tidak mudah harus melalui hubungan seksual, jarum suntik, atau komponen darah yang ditansfusi dari satu pasien ke pasien lain.

Bagaimana seputar info penularan kuman TBC melalui terompet?

Kuman TBC ditularkan dari satu orang kepada orang lain bukan melalui kontak yang singkat. Tidak seperti infeksi virus influenza bahwa seseorang dapat tertular dengan orang yang sedang mengalami flu dengan sekali kontak. Untuk penularan TBC butuh kontak yang lama dan terus menerus. Selain itu kuman ini ditularkan melalui udara, bukan langsung dari air liur seperti misal setelah meniup terompet. Biasanya orang tertular penyakit TBC jika tinggal serumah dengan orang yang sedang mengalami TBC paru aktif atau teman sekantor dimana kita selalu kontak dengan teman sekantor tersebut dalam ruangan tertutup. Pembantu rumah tangga yang menderita TBC paru aktif dapat menularkan infeksi TBC kepada anak-anak yang diurusnya. Ujung terompet memang bisa jadi sumber penularan penyakit melalui droplet atau air liur yang tersisa pada ujung terompet tetapi tentu bukan penyakit TBC atau penyakit lain yang disebutkan dari informasi yang beredar tersebut.

Disisi lain ternyata ada klaim bahwa untuk mengetes apakah terompet ini suaranya nyaring atau tidak pembuat terompet tidak perlu meniup langsung terompet tersebut tapi dengan bantuan alat yang bisa menghasilkan hembusan sehingga dapat menghasilkan suara. Tetapi bisa saja bahwa coba2 suara terompet itu terjadi di pihak pembeli.

Kalau memang info yang tidak benar seputar terompet ini diyakini oleh masyarakat benar adanya, maka masyarakat akan berpikir dua kali untuk membeli terompet dan akhirnya kasihan para penjual dan pembuat terompet yang kebetulan juga sangat berharap mendapat keuntungan di penghujung tahun ini.

Bagaimana agar kita tidak tertular penyakit yang ditularkan melalui ujung terompet tersebut? Bersihkan dulu ujung terompet yang akan kita gunakan kalau perlu gunakan penyaring khusus ketika ujung terompet tersebut akan kita gunakan kalau kita ragu apakah telah beberapa mulut mencoba terompet tersebut.

Tetapi yang penting buat masyarakat di akhir tahun merupakan kesempatan kita melakukan perenungan apa yang telah kita kerjakan di dalam tahun 2018 dan rencana dan target pribadi untuk tahun 2019.

Selamat tahun baru 2019,

Semoga kesuksesan selalu menyertai anda di tahun depan.

Salam sehat,

Ari F Syam

Hari AIDS Sedunia HIV/AIDS, Kenali Gejalanya dan Hindari Risikonya

Posted by Dr.Ari on 9th December and posted in opini for public

Tanggal 1 Desember 2018 di peringati sebagai hari AIDS sedunia. Penetapan tanggal ini telah berumur 30 tahun. Virus HIV akan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga pasien yang terinfeksi oleh kuman HIV ini akan mengalami berbagai infeksi oportunistik yang bisa mematikan penderitanya.

Saat ini data di Indonesia menyebutkan bahwa penderita HIV/AIDS mencapai hampir 650 ribu penduduk. Jakarta masih dilaporkan terbanyak jumlah HIV di Indonesia.

Menjadi PR kita semua mengingat Jakarta sebagai ibu kota negara mustinya kesadaran masyarakat sudah tinggi agar tidak terhindar dari penyakit HIV AIDS penyakit virus yang bisa dicegah penularannya.

Pada hari AIDS dunia ini, saya diingatkan kembali akan kasus HIV AIDS yang saya diagnosis pertama kali.

Sebagian besar pasien-pasien ini sudah berobat ke dokter, tapi diagnosis HIV belum terpikirkan oleh dokter-dokter sebelumnya.

Umur pasien juga bervariasi. Ada yang baru berumur 25 tahun. Bahkan ada yang berumur 65 tahun.

Profesinya juga macam-macam dari mulai penjaja seks sampai ibu rumah tangga. Jadi boleh dibilang bahwa HIV, dapat diderita oleh siapa saja dan dari semua kalangan.

Sebagian besar pasien datang dengan diare kronis, diare yang sudah berlangsung lebih dari 2 minggu. Sebagian besar pasien datang dengan berat badan turun.

Faktor risiko menjadi tidak jelas ketika pasien bukan pengguna narkoba jarum suntik, bukan pelaku seks bebas baik dengan lawan jenis maupun sejenis.

Gejala-gejala pertama yang muncul bisa macam2-maca ada juga pasien yang terdiagnosis setelah tindakan endoskopi ditemukan jamur pada kerongkongannya (esofagus).

Lidah yang putih akibat jamur disertai berat badan turun juga perlu diduga disebabkan oleh virus HIV.

TBC paru pada pasien dengan risiko tinggi menderita HIV AIDS harus dievaluasi kemungkinan terinfeksi HIV.

Kadang kala terjadi gangguan kulit pasien yang terjadi terutama pada tangan pasien bisa menjadi gejala awal HIV AIDS.

Bahkan ada pasien yang datang sudah kejang-kejang akibat virus HIV sudah mengenai otaknya.

Dengan semakin banyak kasus HIV di tengah masyarakat mestinya kemampuan dokter untuk mendeteksi kasus ini tinggi. Semakin cepat diobati semakin cepat kita mencegah komplikasi yang terjadi.

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28