Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Berbagai Info Seputar Puasa Ramadan

Posted by Dr.Ari on 12th May and posted in opini for public

Puasa Ramadhan akan mengurangi lemak tubuh anda

(Hasil penelitian di FKUI RSCM tahun)

Beberapa tahun lalu  kami melakukan penelitian pada kelompok orang normal yang merupakan staf medis rumah sakit dengan judul penelitian “The Ramadan fasting decreased body fat but not protein mass in healthy individuals”. Penelitian ini dilakukan di RSCM. Objek penelitian terdiri dari dokter, perawat dan ahi gizi. Hasil penelitian ini sendiri dalam proses publikasi pada jurnal ilmiah dan akan dipresentasikan pada Kongres Gastroenterologi Asia Pasifik akhir tahun ini di Bali. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dengan dibantu tim ahli gizi Instalasi Gizi RSCM Jakarta. 

Efek Ramadan bervariasi tergantung wilayah  dan lamanya puasa. Penelitian yang menilai dampak kesehatan biasanya pada daerah dengan  waktu puasa Ramadhan yang berlangsung belasan jam seperti puasa Ramadhan yang dilakukan umat muslim yang berada di Indonesia.  Berbagai penelitian menunjukkan bahwa selama Ramadhan akan terjadi penurunan berat badan, kadar gula darah menjadi terkontrol, kolesterol total akan menurun begitu pula dengan kolesterol jahat (LDL). Tidak banyak penelitian yang melihat secara lengkap perubahan komposisi tubuh, asupan makan dan dampak setelah Ramadhan seperti penelitian yang kami lakukan ini sebelumnya.

Penelitian ini sendiri di lakukan di RSCM pada 43 orang sehat  (staf medis) yang melakukan ibadah puasa Ramadhan pada tahun 2013. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan komposisi tubuh secara lengkap dengan menggunakn alat khusus yaitu GAIA 359 PLUS (Jawon Medical, South Korea), pemeriksaan antropometri dan analisa asupan makan harian. Pemeriksaan dilakukan pada hari pertama Ramadhan, hari ke-28 dan 4-5 minggu setelah puasa Ramadhan. Subjek penelitian diberi kebebasan untuk menkonsumsi makanan seperti biasa saat mereka puasa dan begitu pula untuk aktifitas tidak ada pembatasan Mereka tetap bekerja seperti biasa sesuai profesi masing-masing dokter, perawat dan ahli gizi.  

Pengukuran berat badan, tinggi badan, dan komposisi tubuh dengan menggunakan alat untuk mengukur komposisi tubuh dengan sistim pengukuran  BIA (Bio Impedance Analysis). Melalui alat ini dapat diukur massa protein, mineral, air, lemak tubuh dan ratio pinggang dan panggul. Subjek penelitian ini terdiri dari perempuan sebanyak 86 % dan 44 % subjek penelitian  memiliki berat badan lebih atau kegemukan (IMT > 23 kg/M2). Rata-rata umur subjek penelitian 34 tahun dengan rentang +/- 11 tahun. Indeks Massa Tubuh (IMT) subjek penelitian 23,7 kg/M2dengan rentang +/- 4 kg/M2.

Selama Ramadhan ternyata terjadi penurunan berat badan dan perubahan komposisi tubuh kecuali massa protein tubuh. Begitu pula pada ratio pinggang dan  pinggul terjadi penurunan. Yang menarik asupan kalori ternyata tidak berubah pada hari pertama dan hari terakhir puasa. Tetapi aktifitas yang berhubungan dengan ibadah menjadi meningkat misal peningkatan jumlah sholat sunat dan sholat Taraweh. Artinya pengeluaran energi akan meningkat selama Ramadhan. Hal ini yang menyebabkan terjadi penurunan lemak tubuh walaupun asupan makan tetap sama. Asupan makan sebenarnya bisa kita kurangi selama puasa dan tentu hal ini akan membawa dampak yang lebih baik untuk kesehatan.

Penurunan berat badan terjadi lebih besar pada laki-laki dari pada wanita. Rata-rata penurunan berat badan pada laki-laki mencapai 1,4 kg dengan rentang +/- 1 kg, sedang penurunan pada wanita hanya 0,8 kg dengan rentang +/- 0,8 kg.  Pengurangan lemak tubuh mencapai 0,5 kg dengan rentang +/- 0,6 kg. Puasa sendiri ternyata tidak menyebabkan penurunan protein tubuh. Hal ini merupakan hal yang baik bahwa walau terjadi penurunan berat badan dan penurunan kadar lemak tubuh tetapi ternyata tidak menyebabkan penurunan protein. Protein sendiri memang dibutuhkan untuk kekuatan otot baik otot anggota gerak, maupun otot untuk pernafasan dan otot jantung. Puasa yang berlangsung 14 jam tidak akan menyebabkan gangguan kesehatan tubuh bahkan sebaliknya justru akan memperbaiki tubuh karena yang dibakar hanya lemak tubuh dan tidak membakar protein. 

Cuma memang disayangkan  lanjutan pemeriksaan pada subjek penelitian  setelah 4-5 minggu pasca  puasa Ramadhan menunjukkan bahwa berbagai paramater komposisi tubuh dan berat badan kembali kesedia kala seperti saat hari pertama puasa. Naiknya kembali berat badan setelah Ramadhan ini konsisten dengan penelitian di luar negeri bahkan beberapa penelitian lain mendapatkan bahwa kenaikan berat badan kembali setelah beberapa hari setelah Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa komitmen untuk tetap mempertahankan berat badan selama Ramadhan tidak konsisten dan tidak beralangsung lama.

Akhirnya puasa Ramadhan sebenarnya memberi kesempatan kepada kita untuk hidup sehat, masalahnya apakah kondisi sehat yang telah kita capai selama puasa Ramadhan ini bisa kita optimalkan dan tetap kita pertahankan setelah  Ramadhan nanti. Apalagi sajian lebaran yang biasanya begitu menggoda sehingga upaya sehat yang telah dilakukan selama Ramadhan tidak berlangsung lama.

Salam sehat,

Dr.Ari Fahrial Syam

Ketua Tim Peneliti.

Berbagai Info Seputar Puasa Ramadan

Posted by Dr.Ari on 12th May and posted in opini for public

Siapa saja yang tidak dianjurkan untuk berpuasa Ramadan?

Perjalanan puasa Ramadhan bagi kaum muslim sudah memasuki pertengahan perjalanan. Ada beberapa pasien yang sudah tumbang dan batal puasa bahkan ada yang sampai dirawat. Ada pasien yang memaksakan diri untuk puasa padahal tidak dinajurkan untuk berpuasa akhirnya mengalami komplikasi dari penyakitnya padahal sudah diingatkan untuk tidak berpuasa. Sebaliknya bagi masyarakat yang tidak masuk kelompok tersebut diperbolehkan untuk berpuasa. 

Adapun 11 kelompok pasien yang tidak boleh puasa Ramadan adalah:

  1. Pasien dalam perawatan rumah sakit dan dalam keadaan di infus baik infus cairan maupun makanan atau pasien yang sedang mendapat transfusi darah. Pemberian infus makanan dan darah membatalkan puasa. Termasuk pasien PDP dan positif covid-19 dalam perawatan.
  2. Seseorang yang sedang dalam infeksi akut misal radang tenggorokan berat, demam tinggi, diare akut, pneumonia, infeksi saluran kencing dan infeksi  lain yang menyebabkan demam tinggi. 
  3. Seseorang dengan migren atau vertigo dimana kondisi sakitnya akan bertambah buruk jika pasien tersebut tidak makan atau minum obat.
  4. Pasien dengan gangguan pernafasan akut seperti asma akut, penyakit paru obstruksi kronis yang berat.
  5. Pasien jantung dengan gagal jantung.
  6. Pasien sakit maag yang sedang dalam keadaan akut misal muntah-muntah hebat dan nyeri hebat sampai keluar keringat dingin.
  7. Pasien kanker yang sedang dalam pengobatan atau belum diobati.
  8. Pasien dengan gangguan liver kronis lanjut misal sirosis hepatis grade B atau C. 
  9. Pasien dengan gagal ginjal kronis yang sedang menjalani cuci darah atau peritoneal dialisis.
  10. Pasien kencing manis dimana gula darahnya belum terkontrol atau kalau pun terkontrol tetapi dengan kebutuhan insulin masih tinggi lebih dari 40 U per hari.
  11. Orang tua usia lanjut dengan menderita pikun (Alzhaimer), dimana sulit mengingat apakah sudah makan atau sudah minum.

Mudah2an dengan informasi ini kita bisa mengingatkan anggota keluarga kita yang masuk pada kelompok yang tidak dianjurkan puasa ini untuk tidak berpuasa. Agar tidak mengalami gangguan kesehatan yang berat. Sebaiknya pada masyarakat yang tidak masuk kelompok tersebut mustinya bisa melaksanakan puasa Ramadan.

Salam sehat,

Dr.Ari F Syam

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28