Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

Pengalaman terberat setelah 30 tahun sebagai Dokter

Posted by Dr.Ari on 6th April and posted in opini for public

Pengalaman terberat setelah 30 tahun sebagai Dokter


Saya sudah 30 tahun menjadi dokter. Berbagai pengalaman hidup telah saya lalui dalam perjalanan panjang sebagai dokter. Tetapi pengalaman saya menjadi dokter saat pandemi global COVID-19 merupakan pengalaman hidup terberat saya sebagai dokter.
Karir dokter saya awali sebagai dokter jaga pada klinik 24 jam dan lanjut menjadi dokter puskesmas terpencil di daerah Sumatera. Dalam perjalanan awal sebagai dokter memang saya pernah menghadapi hari2 berat dan berisiko, sebagai dokter di daerah terpencil saya pernah hampir mengalami kecelakaan   speed boat, dan pernah terkatung-katung di sungai Batang Hari di tengah arus sungai yang dalam. Saya pernah berjalan2 di tengah rimbunnya pohon di kegelapan malam setelah pelayanan rumah pasien dengan risiko di gigit ular atau diserang binatang buas. Saya sempat mengalami infeksi malaria karena memang daerah tempat saya bekerja merupakan daerah endemis, penyakit malaria yang saya dapat di tempat bekerja sempat kambuh selama satu tahun kemudian.


Selanjutnya sebagai dokter spesialis tidak banyak pengalaman pahit yang saya alami. Semua berjalan dengan lancar. Alhamdulillah saya sempat menjadi relawan di Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Gempa Sumatera Barat, Banjir Jakarta dan relawan bencana lain dimana bisa saja terjadi berbagai  risiko  apabila gempa berulang atau pasokan makan yang sulit pada daerah2 bencana tadi ketika saya menjadi relawan. Sebagai relawan pada berbagai bencana tersebut saya tetap bekerja secara optimal sebagai relawan dokter karena logistik yang cukup dan memadai. Tetapi di saat bencana non alam seperti saat ini yaitu pandemi global covid-19 hati saya ciut dan ini merupakan hari2 terberat saya sebagai dokter. Kita ketahui bahwa infeksi COVID-19 ini menular secara cepat dari satu orang ke orang lain.


Tetapi memang kita harus menyadari sebagian dari kita mempunyai sense of crisis yang rendah sehingga kita abai dalam mengantisipasi pandemi global ini. Saat ini di seluruh dunia menghadapi pandemi global semua akan mempunyai kebutuhan yang sama. Semua membutuhkan masker, semua membutuhkan alat pelindung diri, semua membutuhkan dokter dan perawat semua sedang mencari obat dan vaksin. Dalam kondisi saat ini semua negara mempunyai permasalahan yang sama maka kalaupun obat dan vaksin ditemukan pada satu negara, pemenuhan utama akan diprioritaskan untuk negara dan bangsanya sendiri.


Menjadi motivasi buat kita semua bahwa kemandirian bangsa bukan hanya jargon yang diucapkan tapi harus dilakukan dan diwujudkan dikemudian hari.

Pandemi global COVID-19 ini memang luar biasa dan saya sebut hari2 tersulit saya sebagai dokter. Kondisi dimana kita tidak bisa bergerak dengan leluasa, kita tidak berinteraksi langsung dan melakukan pertemuan atau rapat dalam satu ruang tertutup untuk koordinasi mengatasi masalah ini karena kita harus juga menerapkan social distancing sesama kita kondisi dimana kita sebagai petugas kesehatan dapat tertular langsung dari pasien yang sedang kita layani baik di poliklinik dan maupun di rawat inap. Terus terang ini juga sudah saya prediksi, bahwa model penyebaran kontak langsung seperti saat ini membuat petugas kesehatan bisa menjadi korban, mungkin saat ini virus COVID-19 belum menghinggap di tubuh kita tetapi bisa saja beberapa waktu ke depan virus ini hinggap di tubuh kita dan menyerang paru2 kita. Hal yang membuat hati kecil saya lebih ciut adalah ketika mendengar ada perawat yang meninggal diduga karena COVID-19 dan lanjut mendengar ada dokter yang meninggal dan juga ada dokter gigi yang meninggal karena COVID-19 ini tentu mereka sebagian besar tertular dari pasien2 mereka. Belum lagi setiap waktu ada saja saya mendengar bahwa rekan sejawat saya dokter positip COVID-19 dan ada teman yang melakukan isolasi mandiri karena pasien yang ditangani di awal pada akhirnya diketahui menderita COVID-19. Sekali2 lagi kondisi2 ini memang membuat hati saya ciut. Apalagi di tengah keterbatasan masker, alat pelindung diri dan hand sanitizer. Disisi lain dalam kondisi keterbatasan sebagai praktisi klinis saya tetap menerima pasien, saya tetap melakukan endoskopi dan saya tetap merawat pasien dan hal yang tidak mungkin tidak harus saya lakukan dan teman2 sejawat kerjakan. Sebagai dokter senior saya harus memberikan contoh kepada teman2 dan junior atau peserta didik saya bahwa saya tetap berada ditengah2 pasien dan memberi semangat kepada teman2 sejawat dan junior saya untuk tetap berada di tengah2 pasien dan tetap untuk tidak meninggalkan gelanggang walau nyawa taruhannya.

 
Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengingatkan kepada kita semua untuk berperang melawan COVID-19, virus yang menyebar antar manusia dan virus yang dapat menyebar dengan cepat antar manusia melalui droplet. Virus yang berdasarkan data pada tanggal 18 Maret 2020 menyebabkan kematian pada 1 dari 12 pasien yang positif virus penyebab penyakit ini. 


Oleh karena itu saya berharap semua pihak mengikuti ajakan Bapak Presiden untuk belajar dari rumah, bekerja di rumah dan beribadah dari rumah. Dengan cara mengurangi pergerakan manusia dan mencegah interaksi antar manusia secara langsung angka penyebaran virus ini bisa kita tekan. Selain itu semua pihak harus menyadari bahwa penanggulangan pandemi global ini harus dilakukan secara gotong royong semua pihak termasuk juga kalangan sesuatu. Peduli sesama, kesetian kawan harus dimunculkan. Karena tinggal menunggu waktu kita menjadi pasien berikutnya dari virus ini.


Berbagai sarana dan prasarana agar dokter bisa bekerja tenang harus diadakan. Pengadaan masker, alat pelindung diri, hand sanitizer harus diadakan dan harus segera di distribusikan kepada rumah sakit2 dimana para dokter bekerja. Tentu bukan saja rumah sakit rujukan tetapi juga pemenuhan pada berbagai pelayanan kesehatan tempat para dokter perawat dan petugas kesehatan lainnya berhadapan dengan pasien2 yang setiap saat menularkan virusnya kepada kita para petugas kesehatan. Selain itu memang berbagai peralatan diagnostik untuk menegakkan diagnosis COVID-19 harus segera dihadirkan agar diagnosis yang tepat dan cepat dapat ditegakkan. Kita harus memutus mata rantai penyakit ini, pergerakan orang harus dicegah untuk menekan penyebaran virus ini. Social distancing harus konsisten dilaksanakan pada berbagai lini sendi2 aktifitas masyarakat. Dampak ekonomi yang muncul akibat masyarakat tidak bergerak harus dikalahkan oleh dampak kesehatan masyarakat yang dahsyat yang akan melumpuhkan semua segi ketika kita menghadapi sumber daya petugas kesehatan yang sakit atau sumber daya yang sedang melakukan isolasi diri. Alhamdulillah di era tehnologi informatika yang tinggi ini kita bisa dengan mudah berkomunikasi secara online, belajar secara online dan bekerja secara online, tatap muka tanpa bertemu. Kita tetap bisa produktif walau berada di rumah. Kasih kesempatan agar dokter dan petugas kesehatan dapat bekerja dengan tenang, tetap semangat, kita pasti bisa mengalahkan virus ini,kita musti kompak dan saling mengerti sesama.


Salam sehat,


Ari Fahrial Syam

Akademisi dan Praktisi Klinis

Dekan FKUI

NB Tulisin ini sudah tayang sebagai Opini pada Koran Bisnis Indonesia

Selamat Jalan Bang Joserizal

Posted by Dr.Ari on 23rd January and posted in opini for public

SELAMAT JALAN Bang…

Berita seputar meninggalnya Dr.Joserizal SpOT, terus menghiasi beberapa WhatsApp  Group dan di harian Kompas walau sedikit berita kepergian almarhum juga ada pada terbitan tanggal 21/1/20. Sebagai junior almarhum di FKUI, saya juga mengikuti sepak terjang beliau dibidang kemanusiaan. Pada beberapa kesempatan acara yang berhubungan dengan simposium atau workshop bencana beberapa kali saya ketemu almarhum.Ya senyumnya yang khas selalu muncul saat berjumpa.

Saya mendengar khabar menjelang saya berangkat Umrah kalau almarhum di rawat di ICU dan saya sempat cek&ricek tentang keberadaan almarhum ke teman sejawat yang bekerja di RS Jantung Harapan kita, di berbagai WA grup pun ramai memberitakan bahwa Dr.Joserizal di rawat di ICU RS Jantung Harapan Kita, saya juga sempat mendoakan almarhum agar bisa kembali sehat.

Saya juga baru tahu kalau beliau sudah mempunyai masalah jantung dalam 2 tahun terakhir tetapi tidak mengendorkan aktifitas kemanusiaannya. Bahkan info dari teman almarhum saat memberi sambutan di pemakaman menyampaikan bahwa almarhum sempat membaik pada perawatan terakhir ini, beliau sempat menyampaikan untuk membantu korban banjir Jakarta.. Masya Allah..

Dua atau tiga hari menjelang kepergian almarhum, saya juga sempat teringat akan kondisi almarhum dan akhirnya di Senin pagi saya mendapat khabar tentang kepergian almarhum. Saya teguhkah hati untuk turut hadir pada pemakaman almarhum dan membatalkan beberapa acara,  Alhamdulillah saya dapat hadir di pemakaman. Hujan gerimis yang turun menjelang kadatangan jenazah dan berhenti saat jenazah sampai di lokasi pemakaman seperti menyambut kedatangan almarhum membuat lokasi pemakaman tidak terlalu panas.

Salam,

Ari F Syam

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28