Dokter Ari's Blog (@dokterari)

Peduli Terhadap Kejadian Sekitar

RSS Feed

In Memoriam Prof Biran Affandi pakar kesehatan reproduksi Dunia

Posted by Dr.Ari on 10th February and posted in Reportase

 

Seorang  guru besar FKUI, pakar reproduksi dunia, Prof Dr.dr.Biran Affandi SpOG (K) telah meninggalkan kita semua pada  usia 72 tahun, Rabu, 31 Januari 2018 jam 14.20. di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Beliau lahir di Manna Bengkulu 22 Februari 1946.

Beliau menempuh pendidikan kedokterannya di FKUI dan lulus pada tahun 1970. Kemudian melanjutkan ke program spesialis dengan mengambil spesialis Ilmu Obstetri dan Ginekologi di FKUI, lulus 1976.

Di tahun 1987, ia memperoleh gelar Doktor dalam ilmu kedokteran pada Universitas Indonesia, Jakarta, “sandwich program”dengan Karolinska Institutet, Stockholm- Swedia. Disertasi doktor beliau seputar kontrasepsi implant atau susuk KB menjadi tonggak sejarah pengembangan penggunaan susuk KB yang meluas bukan saja di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Pemerintah Indonesia di masa tahun 80an sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan program keluarga berencana, penelitian beliau seputar penggunaan susuk KB untuk orang Indonesia menjadi arahan yang baik untuk pemerintah Indonesia dan dunia untuk menjadi susuk KB atau implant menjadi alat kontrasepsi utama dalam program keluarga Berencana.

Dokter Puskesmas dan Bidan di seluruh Indonesia di latih bagaimana memasukan alat susuk ini ke para ibu yang ingin mengatur kehamilannya. Susuk KB sendiri merupakan alat KB yang ditanamkan pada bawah kulit wanita yang akan mengatur kehamilannya. Susuk akan efektif untuk mencegah kehamilan sampai 3-5 tahun.

Berbeda dengan suntik KB yang hanya 1-3 bulan. Keberhasilan melakukan susuk KB yang mendunia ini juga menjadikan beliau menjadi konsultan kesehatan produksi dan diminta untuk menjadi konsultan kesehatan reproduksi di berbagai negara lain.

Prof Biran sendiri di kenal luas oleh kalangan dokter di Indonesia, tulisan2 beliau seputar kontrasepsi menjadi bahan pembelajaran untuk para bidan, dokter, para calon dokter spesialis obstetri dan ginekologi. Beliau menjadi contoh bagaimana seorang dokter Indonesia berbuat untuk masyarakatnya.

Berbagai jabatan profesi pernah dipegangnya baik dilingkungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai Sekretaris Jenderal, Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia sebagai Ketua Umum, Ketua Kolegium Perhimpunan Obstetri Ginekologi Indonesia, beliau juga aktif di organisasi regional dan internasional dengan beberapa jabatan penting.

WHO juga menggunakan kepakaran beliau dalam program reproduksi dunia untuk mengendalikan jumlah penduduk dunia. Di lingkungan UI beliau pernah menjadi Ketua Dewan Guru Besar memimpin para Guru Besar UI, banyak terobosan yang beliau lakukan saat memimpin Dewan Guru Besar salah satunya menghadirkan para tokoh bangsa di FKUI menjelang pemilihan calon presiden yang lalu.

Beliau menjadi contoh seorang pendidik yang melaksanakan tri dharma pengguruan tinggi, pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Menjelang akhir hayatnya walau penyakit kanker sedang menyerang dirinya beliau tetap mengajar dan berbagi ilmu bukan saja di FKUI tetapi seluruh Indonesia. Beliau tetap menjadi penguji nasional untuk dokter-dokter yang akan meraih brevet spesialis Obtetri Ginekologi dan datang ke senter2 pendidikan di Indonesia walau kondisi kesehatan tidak fit. Integritas dan profesionalisme tidak diragukan lagi.

Penelitian beliau seputar susuk atau implant KB telah mencatatkan nama beliau pada hampir 50 publikasi internasional. Disisi lain pengabdian masyarakat beliau juga luar biasa, sering menjadi nara sumber di berbagai kesempatan baik di media cetak dan elektronik. Bahkan beberapa waktu lalu beliau masih bersedia dan dengan sangat semangat berbicara pada simposium awam di RSCM Kencana.

Jika kita simak google seputar kiprahnya untuk masyarakat, pendapat kepakarannya dibidang reproduksi kerap kali menjadi rujukan. Satu hal walau beliau ceramah tentang bagaimana mengatur kehamilan beliau tetap selalu menyampaikan bahwa alat kontrasepsi hormon seperti susuk KB hanya digunakan untuk yang sudah menikah dan tetap meminta anak muda untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

Prof Biran telah menjadi contoh buat civitas akademika FKUI dan UI dimana budaya FKUI RSCM Integritas, profesionalisme, Keunggulan, Kolaborasi dan Kepedulian yang telah menjadi bagian hidup dan kehidupannya menjadi contoh buat kita semua.

Keunggulan penelitian beliau dalam bidang reproduksi khususnya impant atau susuk KB telah membuat Indonesia menjadi rujukan untuk program keluarga berencana dunia. Kepedulian terhadap sesama terus berbagi ilmu baik untuk kalangan kedokteran baik dokter maupun bidan dan kalangan masyarakat awam harus menjadi contoh buat kita semua walaupun diadalam tubuh beliau sebenarnya kurang fit.

Salamat jalan Prof, selamat jalan guru besar Universitas Indonesia, guru yang selalu menginspirasi kita semua.

Salam sehat,

Dr.dr.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH,FINASIM, FACP.

Kenapa kita melakukan selfie?..Raih manfaatnya hindari risikonya..

Posted by Dr.Ari on 26th December and posted in opini for public

Kenapa kita melakukan selfie?..Raih manfaatnya hindari risikonya..

Kebetulan libur panjang saat ini saya tidak keluar kota. Saya hanya mengunjungi beberapa mall untuk makan bareng dengan keluarga. Ada satu hal yang menarik dalam observasi saya selama mengunjungi beberapa mall tersebut adalah selalu ada saja pengunjung yang melakukan selfie, bisa secara sendiri2 maupun dalam kelompok. Gaya saat berselfie tersebut ternyata macam-macam dengan mimik wajah yang juga dibuat macam-macam, ada yang dilakukan sendiri2 ada yang dilakukan secara berkelompok. Biasanya memang selfie dilakukan dengan riang gembira. Secara psikologi, tersenyum dan tertawa bisa mengurangi tekanan jiwa yang terjadi. Selain itu selfie juga meningkatkan kepercayaan diri. Disisi lain kalau saya amati berbagai media sosial sebagian besar orang juga melaporkan aktifitas selfienya dari tempat-tempat wisata lainnya. Karena dalam liburan panjang kali ini sebagian besar masyarakat banyak menghabiskan waktu untuk bersantai dan tentunya dengan berselfie ria.

Selfie atau mengambil foto diri secara mandiri dan membagikan melalui media sosial sudah merupakan budaya masyarakat zaman “now”, tujuannya macam-macam dan dianggap sebagai upaya pengembangan psikososial. Kegiatan selfie sudah mendunia dalam 5 tahun terakhir ini dan semakin meningkat drastis dalam 2 tahun terakhir. Semakin banyak pelakunya semakin banyak laporan kecelakaan yang berhubungan dengan pengambilan selfie tersebut.

Menurut peneliti dari Nottingham Trent University ada 6 motivasi kenapa seseorang melakukan selfie, yaitu meningkatkan kepercayaan diri dan menjadi berbahagia setelah melakukan selfie, mencari perhatian,meningkatkan mood, berhubungan dengan lingkungan sekitar, meningkatkan adaptasi mereka dengan kelompok sosial di sekitar mereka serta bisa juga untuk berkompetisi secara sosial.

Di satu sisi jelas bahwa selfie membawa dampak positif untuk mental seseorang. Tetapi ternyata jika selfie dilakukan secara berlebihan sehingga mereka menjadi obsesif untuk selalu mengambil gambar selfie dan melakukan upload ternyata dikelompokan pada gangguan kesehatan yang disebut selfitis.

Selfie sendiri jika tidak dilakukan secara hati-hati bisa membuat celaka bagi pelakunya. Berbagai penelitian dan laporan menyampaikan bahwa terjadi kecelakaan yang membuat pelaku selfie mengalami luka-luka bahkan sampai menyebabkan kematian misalnya jatuh pada satu ketinggian, serangan dari hewan liar, sengatan listrik, trauma pada kegiatan olahraga karena kurang konsentrasi kondisi sekitar saat sedang melakukan selfie, kecelakaan lalu lintas baik saat sebagai pengendara maupun saat sebagai pejalan kaki. Oleh karena itu, memang tidak dianjurkan untuk melakukan selfie ketika berada di ketinggian, saat sedang berolah raga, sedang berada disekitar hewan liar bahkan dibeberapa negara melarang masyarakatnya melakukan selfie saat mengemudi dan saat sedang berjalan kaki.

Menurut penelitinya, Dr.Janarthanan Balakrishnan, penyakit selfitis, yaitu seseorang yang sudah mengalami kecanduan untuk melakukan selfie, membagi selfitis menjadi 3 kelompok. Pembagian ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan di India salah satu negara dengan angka kematian tertinggi yang berhubungan dengan selfie. Pada penelitian tersebut, 34 % responden mengalami selfitis borderline, 40.5% mengalami selfitis akut dan 25.5 % mengalami selfitis kronis. Perlakuan pengambilan selfie secara obsesif lebih banyak pada laki-laki mencapai 57,5 % dibandingkan pada wanita yang hanya 42.5%. Pada penelitian ini juga mendapatkan bahwa kelompok umur 16-20 tahun lebih berisiko terjadinya selfitis. Sembilan persen responden mengambil selfie lebih dari 8 kali dalam sehari dan sekitar 25 % membagi sedikitnya 3 gambar ke sosial media setiap hari.

Selfitis sebagai suatu penyakit juga dibagi menjadi 3 tingkat penyakit:

  1. Boderline: mengambil gambar selfie sebanyak 3 kali dalam sehari tetapi tidak di posting ke sosial media
  2. Akut, mengambil foto selfie sebanyak 3 kali dalam sehari dan mempostingnya seluruh fotonya ke sosial media.
  3. Kronik, jika keinginan membuat foto selfie tidak terkendali dan memposting ke sosial media lebih dari 6 kali per hari.

Dengan berjalannya waktu dan semakin banyak dan seringnya orang melakukan selfie akan lebih banyak lagi peneliti untuk melakukan penelitian seputar selfie. Selfie di tempat rekreasi atau saat ada acara masih wajar tetapi tentu tetap harus berhati-hati dalam pengambilan gambar selfie. Selfie ternyata bisa menyebabkan ketagihan atau adiksi dan bisa menyebabkan penyakit selfitis seperti yang telah disebutkan diatas.

Di era berkembangnya tehnologi gadget yang semakin deras dengan kualitas gambar dan modifikasi gambar yang baik membuat fenomena selfie menjadi populer dan mendunia. Tetapi tetap kita harus menyikapi dengan bijaksana dan proporsional dalam melakukan selfie. Tetap harus fokus dan aktifitas selfie ini tidak mengganggu aktifitas rutin kita sehari-hari.

 

Salam sehat

Ari F Syam

Praktisi klinis dan Staf pengajar FKUI/RSCM

@dokterari

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28