Use your widget sidebars in the admin Design tab to change this little blurb here. Add the text widget to the Blurb Sidebar!

SIAK NG Online – Membawa Kebiasaan Buruk Baru

Posted: August 27th, 2010 | Author: | Filed under: mumblings, universitas indonesia | 4 Comments »

Pengalaman menjadi pembimbing akademis selama sistem masih manual (mengisi bulat-bulatan seperti SPMB atau UAN), kemudian sistem siakad, dan akhirnya sistem siak-ng, ternyata memberikan pengalaman yang menarik. Salah satu yang saya amati adalah kebenaran akan perkataan seorang professor ketika saya kuliah dulu tentang bahaya komputerisasi dan sistem informasi, yaitu jika yang diproses adalah salah, maka kecepatan untuk berbuat salah akan semakin cepat, akibatnya perbuatan salah juga akan semakin banyak.

Kebiasaan Buruk 1: Selalu Siaga. Saya mengamati dalam siak-ng membuat saya setiap saat harus menjadi “PA Siaga” (meminjam istilah suami siaga), karena pertemuan tatap muka yang biasa terjadwal untuk bimbingan akademis pada masa lalu dianggap kuno dan ditiadakan melalui online saja. Seakan-akan kita lupa bahwa yang namanya waktu dalam sehari itu 24 jam. Apalagi jika terjadi “penundaan” batas waktu, sehingga saya kira sudah selesai ternyata diperpanjang. Benar-benar mirip suami siaga yang ternyata mendapatkan alarm palsu ketika istrinya akan melahirkan tapi nggak jadi. Setiap kali saya melihat pengumuman perpanjangan waktu SIAK-NG, saya langsung membayangkan berbagai macam sms, email dan telpon yang akan masuk karena mahasiswa “berubah” pikiran.

Sehari saya mendapatkan email, sms untuk meminta disetujui, dikembalikan untuk tidak disetujui dulu, bahkan saya diminta menjelaskan sistem SIAK NG yang jelas-jelas bukan saya yang mendesainnya (ternyata tahun 2010 ini SIAK-NG mengubah kebiasaan antrian mata kuliah menjadi sistem “hilang”, yaitu jika penuh mata kuliah tersebut hilang, sebelumnya masih bisa dipilih untuk masuk ke “antrian”, siapa tahu mahasiswa lain ditolak oleh PAnya). Memang bagi mahasiswa, hubungan mereka ke saya adalah one-to-one, mereka mana mau mengerti bahwa sebenarnya hubungan saya ke mereka adalah one-to-many

Kebiasaan Buruk 2: Kemudahan merubah, merupakan ciri utama komputerisasi yang menimbulkan kebiasaan buruk kedua. Kita sendiri ketika menggunakan mesin tik manual akan berhati-hati dalam melakukan pengetikan, karena jika salah, harus lama mengulang dengan menggunakan tip-ex untuk menghapusnya. Dengan aplikasi komputer, kita nggak peduli dengan salah, yang penting cepat dulu, toh nanti sebelum di”print” bisa diperbaiki. Kondisi ini membuat jadwal kuliah yang berubah-ubah, layaknya jadwal kereta api atau busway. Seolah-olah para admin lupa bahwa sebuah jadwal yang dipublikasikan merupakan komitmen. Kelihatannya terjadi proses: diterbitkan aja dulu, tunggu protes. Ketika diprotes, marah-marah karena kita dianggap “tidak mengerti” sama “sulitnya” pekerjaan yang harus dilakukan. Loh gimana? Memang kebiasaan birokrasi masih melekat, jadi pemahaman akan ‘pelayanan’ berbeda dengan kita.

Siapa menuai angin, akan menabur badai. Pepatah yang seingat saya dikeluarkan bapak bangsa Ir. Soekarno, adalah pepatah yang saya sering gunakan dalam mengajar di Teknik Industri. Saya ingatkan mahasiswa, bahwa desainlah sebuah sistem yang menyeluruh, sehingga tidak timbul badai dimasa yang akan datang. Jika merancang sistem informasi, pahamilah bahwa “software” adalah bagian termudah dalam pengembangannya, yang sulit adalah penciptaan proses bisnis baru dan manajemen perubahan dari seluruh penggunanya. Kembali software adalah sebuah alat yang GIGO – garbage in-garbage out, jika yang diinput sudah salah, yang keluar pasti salah. Yah lumayan lah, daripada jadi GIGOLO (GIGO – Longer Output) udah salah, lama pula.

regards,

yang masih menjadi PA Siaga hingga 00.00 malam ini.


Kritik Website Universitas Indonesia

Posted: September 8th, 2008 | Author: | Filed under: universitas indonesia | Tags: | No Comments »

Universitas Indonesia sebagai universitas terkemuka di Indonesia saat ini memiliki website yang secara kualitas tidak sesuai dengan kemampuan yang seharusnya bisa ditampilkan. Mari kita lihat dari berbagai segi1. Penampilanpenampilan “kuning” yang ditampilkan oleh website ui tidak terlihat elegan, dengan kombinasi antara huruf dan kualitas gambar header (resolusi yang pecah), background heading tidak menunjukkan suatu selera yang klasik dan elegan font yang dipilih juga terlihat tidak proporsional, dan tidak memiliki konsistensi antara menu, link terakhir (terpopuler), dan sebagainya. menu malah tidak bold, tetapi bagian seperti bursa malah dibuat bold. Nggak ngerti seleranya.Kalau dihilangkan soal selera, pemilihan warna tidak menunjukkan kejelasan. Bahkan membuat website pake aplikasi gratis wordpress aja terdapat variasi yang lebih elegan.Warna kuning UI memang memiliki keterbatasan perpaduan yang serasi dengan warna lain: hitam, abu-abu, coklat tua. Putih-hitam memiliki kesan partai. Penggunaan gradasi warna pada header menu yang terlihat tidak menarik2. KontenSetahu saya dari setiap hari memasuki kampus UI, tidak ada hari dimana tidak ada acara di UI ini. Tetapi seolah2 yang terjadi di UI adalah selain acara rektor tidak memiliki acara. UI perlu membuat tim editor copyright yang tangguh terdiri atas minimal 2 orang, kemudian memiliki minimal 4 reporter FULL-TIME yang setiap reporternya bertugas untuk membangun komunikasi dengan humas 3 fakultas termasuk melakukan peliputan investigasi rutin.  4 reporter akan mengirimkan artikel ke editor untuk dilihat kelayakan untuk memasuki halaman utama, artikel yang tidak memasuki halaman utama tetapi ditampilkan dalam berita lain2. Setiap reporter wajib mengirimkan 2 berita perhari yang layak tayang dengan fotonya. Setiap seminggu 2 kali dilakukan rapat editorial untuk membahas strategi pemberitaan yang diinginkan untuk ditampilkan, misalny selama 4 bulan kedepan membahas tentang sepeda way.Jika perlu ada bagian agenda “events happening in UI” yang berdasarkan hubungan baik dengan humas fakultas dan tim reporter yang proaktif menjadi sumber berita acara di UI Semoga UI bisa lebih baik