Perseroan Terbatas vs Koperasi

Federasi sepakbola sedunia (FIFA) telah merilis aturan baru tentang lisensi klub profesional yang tertuang dalam FIFA Club Licensing Regulations. Aturan baru yang diterbitkan pada 2007 telah diratifikasi oleh semua konfederasi, termasuk AFC yang selanjutnya diteruskan ke masing-masing asosiasi termasuk PSSI. Sebagai tindak lanjut salah satu aspek dalam aturan baru ini, yakni legalitas dimana salah satu criteria yang harus dipenuhi klub bahwa setiap klub klub sepak bola memiliki badan hukum. Aturan legalitas ini dianggap sebagai cara untuk menjaga adanya integritas setiap klub dalam mengikuti kompetisi. Secara umum, persyaratan berbadan hukum tersebut dimaksudkan agar aspek finansial dan bisnis memenuhi prinsip akuntabilitas dan transparansi. Sedangkan tujuan pembentukan klub berbadan hukum adalah untuk mendeteksi krisis keuangan potensial sedini mungkin dan menghindari krisis manajemen dari kebangkrutan (bubar).

Dua bentuk badan hukum yang sesuai dengan klub profesional adalah Perseroan Terbatas (limited company/corporation) dan koperasi (co-operative). Dalam UUPT 2007 perseron terbatas adalah badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal tertentu, yang seluruhnya terbagi dalam saham, dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang –Undang ini serta peraturan pelaksanaannya. Sedangkan dalam UU No 17 Tahun 2012 Tentang Perkoperasian adalah badan hukum yang didirikan oleh orang perseorangan atau badan hukum Koperasi, dengan pemisahan kekayaan para anggotanya sebagai modal  untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan  kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan prinsip Koperasi.

Dimensi Perseroan Terbatas Koperasi
Tujuan Mencari keuntungan, sebesar-besarnya. Selain mencari keuntungan juga meningkatkan kesejahteraan anggota
Pemilik/hak suara Pemegang saham Anggota
Pelaksanaan voting Menurut besarnya saham yang dimiliki melalui RUPS Setiap anggota memiliki satu suara dan tidak diwakilkan
Penerima keuntungan Pemegang saham secara proporsional Anggota sesuai dengan jasa/ partisipasi

Klub-Klub Spanyol Menjadi Model Koperasi Sepakbola

Di Eropa, umumnya klub berbadan hukum persero. Di Inggris, semua klub profesional berbadan hukum persero sedangka di Jerman sebagian besar klub menyertakan partisipasi suporter. Di Spanyol terdapat suatu yang tidak lazim, ada sejumlah klub yang berbadan hukum koperasi. FC Barcelona, FC Real Madrid, FC Athletico Bibao, dan FC Osasuna adalah klub-klub besar yang menjadi contoh model pengelolaan klub yang berbentuk badan hukum koperasi. Di klub-klub tersebut presiden dan staf hanyalah pelaksana sedangkan kepemilikan ada di tangan anggotanya.

FC Barcelona adalah klub sepakbola yang menjadi anak angkat dalam model koperasi moderen. FC Barcelona adalah sebuah contoh yang kongkrit tentang bagaimana sebuah klub sepakbola nyata-nayata bisa dijalankan dengan megikuti prinsip-prinsip kooperasi dan masih berhasil bersaing dengan klub-klub besar dunia yang berbadan hukum persero. Klub sepakbola koperasi FC Barcelonan yang sudah lama dikenal dan dimiliki oleh suporter yang jumlah anggotanya kini telah mencapai 175.000 orang.  Ini berarti, FC Barcelona adalah suatu organisasi sepakbola yang lebih dari sebuah klub (més que un club/more than a club). FC Barcelona memperlihatkan kepada dunia tentang struktur kepemilikan yang benar-benar berbeda dengan klub sepakbola pada umumnya

Dalam pasal-pasal koperasi internasional sebagaimana juga dapat diperhatikan dalam  Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian disebutkan bahwa koperasi bertujuan meningkatkan kesejahteraan Anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, sekaligus sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tatanan perekonomian nasional yang demokratis dan berkeadilan. Pada  Pasal 5 dinayatakan bahwa nilai yang mendasari kegiatan Koperasi yaitu: a. kekeluargaan, b. menolong diri sendiri, c. bertanggung jawab, d. demokrasi, e. persamaan, f. berkeadilan, dan  g. kemandirian. Sedangkan  nilai yang diyakini Anggota Koperasi yaitu: a. kejujuran, b. keterbukaan, c. tanggung jawab; dan d. kepedulian terhadap orang lain. Selanjutnya dalam Pasal 6  dinyatakan bahwa Koperasi melaksanakan Prinsip Koperasi yang meliputi:

  1. Keanggotaan Koperasi bersifat sukarela dan terbuka,
  2. Pengawasan oleh Anggota diselenggarakan secara demokratis,
  3. Anggota berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi Koperasi,
  4. Koperasi merupakan badan usaha swadaya yang otonom, dan independen,
  5. Koperasi menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi Anggota, Pengawas, Pengurus, dan karyawannya, serta memberikan informasi kepada masyarakat tentang jati diri, kegiatan, dan kemanfaatan Koperasi,
  6. Koperasi melayani anggotanya secara prima dan memperkuat Gerakan Koperasi, dengan bekerja sama melalui jaringan kegiatan pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional; dan
  7. Koperasi bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya melalui kebijakan yang disepakati oleh Anggota.

FC Barcelona diyakini sebagai klub sepakbola berbentuk koperasi. Futbol Club Barcelona adalah perkumpulan masyarakat Catalan di bidang olahraga yang berstatus privat (swasta), non profit, berbadan hukum dan didirikan pada 29 November 1899. Sebagai klub koperasi, cara-cara pengelolaannya berpedoman pada tujuh prinsip umum koperasi. Sejumlah pasal dalam statuta FC Barcelona yang mengindikasikan prinsip-prinsip koperasi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka (Article 9: On the Club Members)
  2. Pengawasan oleh Anggota secara demokratis (Article 10.1-10.7: Rights of Club Members; 51.1-51.5: Vote of no confidence).
  3. Anggota berpartisipasi aktif  (Article 11: Obligations of Club Members; Article 72-76: Extinction and Dissolution of the Club, Merger, Absorption, Segregation, Liquidation)
  4. Badan usaha swadaya yang otonom dan independen (Article 19: Competences of the General Assembly; Article 60-62: Annual Accounts, Auditing, Right of Disposal of the Board of Directors)
  5. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan dan memberikan informasi (Article 4: Functional area)
  6. Melayani anggotanya secara prima dan memperkuat Gerakan Koperasi (Article 5: Territorial area; Article 15: Fans’ clubs)
  7. Bekerja untuk pembangunan berkelanjutan bagi lingkungan dan masyarakatnya (Article 4: Functional area)

‘Barcelona Effect’ di Inggris

Akhir-akhir ini di Inggris telah muncul ke permukaan keinginan suporter ingin memiliki di klub-klub idolanya. Tujuan mereka untuk menunjukkan bagaimana model koperasi dapat berjalan efektif bagi semua kepentingan yang terlibat. Sekretaris Jenderal Koperasi Inggris, Ed Mayo mengatakan bahwa sepakbola adalah permainan internasional dan sama seperti kita bisa belajar taktik di lapangan, dan karena itu kita juga bisa belajar dari rekan sesam a klub sepakbola tentang model kepemilikan klub di luar lapangan. Kita perlu klub menjadi sebuah klub nyata. Dan untuk itu, kita membutuhkan klub-klub itu menjadi koperasi. Izin akan diberikan jika klub memenuhi berbagai kriteria, yang dapat mencakup secara finansial bertanggung jawab, transparan tentang kepemilikan mereka dan melibatkan pendukung dalam pengambilan keputusan mereka.

Tokoh-tokoh sepakbola Inggris semakin percaya bahwa si sejumlah klub di Spanyol dan sebagian besar klub-klub di Jerman terdapat etos kerja kolektif daripada yang terlihat di Inggris. Banyak klub yang kepemilikannya telah jatuh ke tangan investor asing, sebut saja Manchester United, Chelsea dan Menchester City dan lain sebagainya. Mencermati kasus yang pernah ada, kepemilikan Leeds United, yang sebagian besar saham dipegang oleh sebuah perusahaan terdaftar di India, tetapi kemudian dimiliki oleh tiga perusahaan di Swiss. Namun siapa pemilik perusahaan tersebut tidak diketahui oleh pengurus klub ketika seorang anggota legislatif Inggris menanyakannya pada sebuah rapat komite di parlemen. Anggota legislatif itu lantas menyimpulkan bahwa kepemilikan anonim jelas berbahaya dan menimbulkan keprihatinan atas transparansi.

Sementara itu seorang direktur klub memberikan bukti, bahwa tidak melihat ada perwakilan suporter bergabung dengan tanpa lebih dahulu membeli saham sebuah dan ia mengatakan: “Sejumlah dari kita memiliki kekhawatiran tentang kepemilikan asing dari klub”, dan dia secara aktif berusaha untuk mendorong kepercayaan pendukung ‘untuk membeli 25% saham dan memilih direktur ke papan. Sedangkan seorang ketua kelompok supporter di Inggris meyakini bahwa suporter memiliki “berbagai keterampilan” dan bisa berkontribusi besar terhadap klub idolanya. Atas kasus ini, komite akan merekomendasikan perlunya reformasi terhadap badan-badan sepak bola dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Inggris dan Wales, dalam kaitannya untuk meningkatkan keterlibatan supporter dalam pengambilan keputusan di klub. Ini sesuai dengan janji pemerintah koalisi untuk mendukung kepemilikan koperasi klub sepakbola oleh pendukung.

Gerakan untuk menanamkan klub di masyarakat semakin meluas di Inggris. Model klub Spanyol mulai diintroduksi untuk klub sepak bola Inggris dengan terbitnya buku saku yang berjudul: Barca: Fan ownership and the future of football, yang ditulis oleh Dave Boyle dan diterbitkan pada tahun 2010. Dalam buku ini diuraikan dengan jelas bagaimana cara untuk meningkatkan sepak bola di Inggris melalui pendekatan klub Spanyol terkemuka, FC Barcelona  dan menyerahkannya kepada suporter mereka. Peluncuran buku saku ini dilakukan pada 15 Juli 2010 oleh Koperasi Inggris.  Menariknya, di dalam buku saku ini juga diuangkapkan hasil survei terbaru, yang dilakukan oleh Koperasi Inggris bahwa 56% responden di seluruh Inggris percaya bahwa klub mereka akan berada di tangan yang baik jika itu dimiliki secara kooperasi oleh para suporter. Yang lebih menarik adalah sebanyak 83% dari suporter Manchester United dan 72% dari penggemar Liverpool yang menyatakan pendapat merasa klub mereka akan berada di tangan yang baik jika itu dimiliki secara koperasi. Saat yang bersamaan dengan peluncuran buku saku ini juga diedarkan terjemahan bahasa Inggris pertama kali dari statuta FC Barcelona (anak angkat koperasi sepakbola). Inilah yang disebut se bagai Barcelona Effect.

Barcelona Effect ini sesungguhnya tidak hanya di Inggris tetapi juga di Spanyol sendiri. Pada awalnya klub-klub di Spanyol mengalami kesulitan keuangan kemudian berubah menjadi perusahaan privat. Beberapa klub seperti FC Barcelona tetap dijinkan melanjutkan bentuk kepemilikan ala supporter. Namun setelah melihat performa FC Barcelona, pada masa Sini justru banyak kelompok suporter mengusulkan dan melobi Parlemen Spanyol agar klub-klub diperbolehkan kembali menjadi klub yang berbasis keanggotaan suporter. Barcelona Effect juga terjadi di markas Konfederasi Sepakbola Eropa (UEFA). Hal ini dikaitkan dengan pernyataan di dalam dokumen UEFA’s ‘Vision Europe’ Strategy yang menyebutkan bahwa: “Dalam dunia yang ideal… semua klub akan dikontrol dan dijalankan oleh anggota mereka–misalnya supporter–menurut prinsip-prinsip demokrasi ‘. Ini berarti model kepemilikan Barcelona telah menjadi inspirasi dalam memperkenalkan struktur kepemilikan klub yang baru yang mau tak mau pada akhirnya juga diakui oleh UEFA.

Koperasi Sepakbola di Indonesia

Di Indonesia, pembentukan klub menjadi berbadan hukum tengah mengalami proses. Sebagian sudah membentuk PT (perseroan terbatas), sebagian yang lain masih mengupayakan. Namun dalam perkembangannya, belum satupun klub yang diketahui memilih badan hukum koperasi. Di Indonesia sekalipun badan usaha koperasi telah dikenal luas sejak lama, namun perkembangannnya masih disbanding bentuk usaha perseroan terbatas. Gerakan koperasi yang telah dicanangkan pemerintah di masa lalu kini hanya diperepsikan identik dengan pengembangan usaha di level skala kecil dan menengah. Oleh karenanya proaktif masyarakat untuk berkoperasi kurang populer.

Introduksi koperasi sebagai badan usaha pengelola klub sepakbola diharapkan menjadi salah satu opsi dalam pembangunan industri sepakbola di tanah air. Start koperasi dibanding bentuk badan usaha lain seperti perseroan terbatas masih kecil kesenjangannya. Ini jelas sebuah momen untuk tumbuh kembangnya koperasi di masa-masa awal pembangunan industry sepakbola di Indonesia. FC Barcelona, klub raksasa yang tetap berbadan hokum koperasi ketika yang lainnya beralih ke perseroan terbatas justru menjadi model terbaik pengelolaan klub sepakbola masa kini. Bercelona Effect yang kini berdengung  di Inggris ada baiknya pula bergetar di negara kita ini, negeri yang konon juga disebut sebagai negeri ‘gotong royong’ [Akhir Matua Harahap]

Artikel terkait:

http://akhirmh.blogdetik.com/

Sumber:

  • FIFA Club Licensing Regulations, 2007
  • Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian
  • Undang-Undang Nomor  Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas
  • FC Barcelona Statutes, 2009
  • Barca: Fan ownership and the future of football, 2010 (by Dave Boyle)