Sepakbola telah mendunia. Dunia sepakbola tidak hanya sebatas ruang stadion. Secara teknik, dunia sepakbola tidak lagi sekadar ‘game’, tetapi secara ekonomik, dunia sepakbola sudah menjadi bagian dari ekonomi dunia. Karena itu, sepakbola tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga sungguh menjanjikan untuk meningkatkan welfare. Inilah alasannya:

  • Ketika pemain sepakbola menjadikan kegiatan sepakbola menjadi pekerjaan utamanya dan mengharapkan manfaat daripadanya berupa upah (wage);
  • Ketika klub dikelola secara bisnis dan mengharapkan keuntungan (profit);
  • Ketika investor menanamkan dananya di dalam membiayai klub dan mengharapkan imbal balik yang jelas berupa return; serta
  • Ketika pemerintah (pusat dan daerah) mendapatkan manfaat langsung atau tidak langsung dari pemangku kepentingan sepakbola (stakeholder) berupa pajak-pajak atau retribusi dan lapangan kerja baru,

maka kegiatan sepakbola itu sudah melakukan transformasi sendiri menjadi industri sepakbola. Selanjutnya,

  • Ketika hak siar diperebutkan dan dilelang berdasarkan nilai penawaran tertinggi oleh berbagai broadcast (tv, radio dan lainnya);
  • Ketika sponsor dan pemasang iklan bersedia membayar;
  • Ketika masyarakat mulai aktif menonton sepakbola di televisi atau langsung di stadion,

maka industri sepakbola akan dimungkinkan cepat tumbuh dan berkembang. Berikutnya,

  • Ketika infrastruktur sepakbola mulai diminati investor;
  • Ketika klub-klub semakin mampu membangun stadion sendiri;
  • Ketika unit-unit bisnis jasa penunjang sepakbola, seperti agen dan sekolah atu akademi sepakbola semakin profesional, serta
  • Ketika kegiatan usaha pembuatan peralatan/perlengkapan sepakbola dan lain sebagainya telah tumbuh dan berkembang,

maka industri sepakbola semakin diakui dan berpotensi untuk memberikan kontribusi (share) yang signifikan dalam PAD (Pendapatan Asli Daerah).

  • Inilah substansi dari ekonomi sepakbola, sebagai sebuah sektor baru dalam perekonomian nasional Indonesia.Sumber: http://akhirmh.blogdetik.com/