Tokwi Lasem, Perjalanan Kain Tradisi Peranakan Cina Jawa

Kain Tokwi sulam awal abad 20 milik keluarga Tjan, Batik Kidang Mas Lasem.

Kain Tokwi sulam awal abad 20 milik keluarga Tjan, Batik Kidang Mas Lasem.

 

Pada kesempatan mengunjungi Klenteng Cu An Kiong di Lasem saat perayaan Cioko atau sembahyang arwah pada tanggal 28 Agustus 2015 lalu, perhatian saya tertumpu pada selembar kain bermotif naga pada meja persembahan. Kembali saya mengingat bahwa altar-altar keluarga pemilik rumah kuna di Lasem yang saya kunjungi juga memasang kain penutup bagian depan meja bermotif naga, naga – burung hong, Delapan Dewa, kilin dan berbagai motif simbolik lainnya. Tak hanya di Lasem, kain batik dengan motif tradisional Cina ini digunakan oleh kaum peranakan untuk menghiasi meja altar persembahan mereka terutama di sepanjang pesisir pantai utara seperti Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Tuban.

 

Kain batik penutup altar berukuruan 100×90 cm ini disebut Tokwi dalam Bahasa Hokkian. Dalam Bahasa Mandarin disebut Zhuo Wei 桌围.Awalnya kain Tokwi di Cina merupakan kain penutup altar yang menggambarkan perpaduan antara motif Taois dan Buddhis. Diduga, kain Tokwi ini populer pada masa Dinas Tang (abad 8-9 M), tokwinya dibuat dengan menggunakan teknik sulaman. Penggunaan kain penutup altar terus bertahan melintasi berbagai masa dinasti dengan penggunaan aneka warna benang sulam, merah, hijau, kuning, biru, ungu, hitam, putih, dan emas. Tokwi dengan detil sulaman yang memenuhi motif-motif simbol religius semakin mewah dan banyak digunakan oleh kalangan bangsawan Cina dan kaum saudagar. Dalam perkembangannya, motif Tokwi Cina diperkaya dengan kombinasi dengan hiasan ikatan benang, penggunaan manik-manik, cermin, dan metal yang menambah kemewahan kain Tokwi. Seiring dengan migrasi orang Cina ke penjuru dunia, Tokwi pun menyebar ke mancanegara. Demikian pula dengan migrasinya ke Asia Tenggara, Tokwi pun turut serta, bahkan berubah rupa. Tokwi batik menjadi ikon peranakan Cina di Asia Tenggara terutama di Indonesia, Singapur dan Malaysia. Namun satu hal yang tak dapat dipungkiri, kreasi cipta bakti Tokwi merupakan karya yang muncul dari tanah Nusantara. Munculnya Tokwi di Indonesia menggambarkan bentuk adaptasi budaya cina dalam batik nusantara yang telah menjadi tren sejak abad 19.

 

Batik Tokwi yang digunakan kaum peranakan Cina untuk menghias altar pada pelbagai kesempatan upacara daur hidup keluarga yaitu ulang tahun, pernikahan, kematian serta upacara-upacara tradisional Cina seperti sembahyang harian dan tahun baru Imlek memiliki pakem motif yaitu Tiga Dewa (Fu Lu Shou), Delapan Dewa, naga, burung hong, singa, kilin, kelelawar, kupu-kupu, motif geometris, flora, fauna lainnya, buah-buahan yang biasa muncul sebagai pusat motif dan motif tepi dalam kombinasi dan berulang kali. Batik Tokwi pun seolah ingin tampil beda, penggunaan elemen lokal membuat Tokwi asal pesisir utara Jawa ini berbeda dengan Tokwi asli tanah leluhur. Adaptasi warna dan motif pun terjadi dengan munculnya warna sogan, merah bata, motif hewan laut, motif flora fauna lokal yang berpadu dengan motif pakem tradisi Cina.

 

Terdapat beberapa motif yang dapat ditemukan dalam kain Tokwi. Motif utama yang menjadi pusat Tokwi biasanya menggambarkan tiga dewa (san xing tiga bintang) Fu Lu Shou, Dewa Keberuntungan, Dewa Kemakmuran, Dewa Panjang Umur pada bagian utama kain Tokwi. Motif lainnya adalah Naga yang biasanya digunakan sebagai simbol kekaisaran juga bermakna keagungan, kekuatan, kewaspadaan, dan kebaikan. Motif burung Hong sering digunakan sebagai simbol keindahan, kecantikan, perdamaian dan kemakmuran. Motif Naga dan burung Hong sering muncul bersama sebagai simbol harmonisasi Yin dan Yang, keagungan dan keindahan, kekuatan dan kecantikan, keduanya sering pula menjadi simbol kebahagiaan dalam upacara pernikahan.  Biasanya Towki juga memiliki motif Delapan Dewa pada bagian atas penampang Tokwi. Hal ini dimaknai terdapat dunia atas yang ditinggali oleh oleh para dewa dan dunia bawah yang diisi oleh aneka mahluk, flora dan fauna.

 

Saat ini penggunaan Batik Tokwi sangat terbatas. Pembatik-pembatik unggul Lasem menyatakan bahwa Tokwi berbahan batik saat ini kurang diminati. Sigit Witjaksono menyebutkan bahwa ia hanya membuat batik Tokwi berdasar pesanan. “Dulu kami produksi Tokwi banyak ya, sekarang hanya tunggu pesanan saja. Kebanyakan yang pesan sih kolektor,”ujar maestro batik Lasem itu. Senada dengan Sigit, Henry Ying menyebutkan bahwa Tokwi klasik Lasem tak banyak lagi yang menghendaki. “Mungkin karena yang produksi juga sedikit jadi orang-orang juga sulit mendapatkan Tokwi ya. Lalu Tokwi impor tampaknya lebih megah ya?,”ujar Henry Ying yang sempat menunjukkan koleksi Tokwi warisan buah karya sentuhan tangan dingin sang ayah.
Batik Tokwi di ujung perjalanannya, mungkin saja akan tersingkir karena Tokwi impor. Namun sepanjang masyarakat lokal masih setia menggunakan batik Tokwi, jika pada awalnya batik toksi merupakan buah adaptasi budaya Cina Jawa, maka ia akan bertahan menjadi saksi sejarah perubahan jaman dan dinamika kehidupan multikultur di tempat ia berkembang.

 

Artike ini: http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/09/tokwi-lasem-perjalanan-kain-tradisi-peranakan-cina-di-jawa

Agni Malagina/Program Studi Cina FIB UI

Kontributor National Geographic Indonesia

 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *