Sebuah Kutukan yang Menghidupkan Lasem

Makam Han di Desa Babagan, Lasem. (Foto oleh Feri Latief)

Makam Han di Desa Babagan, Lasem. (Foto oleh Feri Latief)

 

Tuturan kisah legenda Han Wee Sing di Lasem merupakan salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Lasem. Sebuah makam yang terletak di Desa Babagan Lasem, dengan batu nisa (bong) batu yang dicat warna putih menjadi penanda berkembangnya kisah mistis yang dituturkan sejak berabad silam.

Dikisahkan Han Wee Sing merupakan saudagar kaya yang memiliki dua anak laki-laki. Ia dikenal sebagai pekerja keras, suka membantu orang di sekitarnya, dan ia tak suka menghamburkan kekayaannya di meja judi atau untuk jual beli candu. Karakternya yang berintegritas ini rupanya tak diikuti oleh kedua anak lelakinya Han Te Su dan Han Te Ngo yang suka berjudi. Kegemaran anak-anak Han Wee Sing beradu dadu rupanya mengakibatkan keluarga Han jatuh miskin. Sang ayang pun wafat membawa derita dan nelangsa.

Bangkrutnya Han Wee Sing menyebabkan pemakamannya tak kunjung terlaksana. Uang sumbangan para pelayat pun masih saja digunakan anak-anaknya untuk bertaruh nasib di meja judi. Suatu hari, anak-anaknya membungkus jenasah Han Wee Sing dan bermaksud menguburkannya dengan cara seperti itu. Dalam perjalanan menuju tanah makam, rombongan yang membawa jenasah dirundung mendung. Awan hitam menggelantung. Tak lama hujan petir menyambar dan jenasah ditinggalkan begitu saja. Ketika mereda, muncullah gundukan tanah makam. Tak lama berselang, terdengar suara mengutuk datang dari dalam makam itu yang menyebutkan bahwa keturunan Han tidak boleh tinggal di Lasem. Apabila melanggar akan jatuh miskin. Tak ayal, kedua pemuda Han ini pun berlari meninggalkan Lasem. Keturunan Han menyebar di beberapa kota besar, terutama Surabaya. Tengoklah rumah abu keluarga Han di Surabaya, ya dari Lasemlah mereka berasal! Legenda ini sampai sekarang masih terus berdengung dan menjadi semacam urban legend di Lasem. Magis mistisnya menjadi daya tarik oran-orang yang berkunjung ke Lasem untuk mendatangi makam ini.

Siapakah Han Wee Sing sesungguhnya? Mari, saya mengajak Anda membaca nisan legendaris tersebut. Nama yang tertera dalam nisan itu adalah Han Du Chun. Ia dikenal dengan nama Han Siong Kong. Pada nisan tersebut tertera informasi waktu pendirian nisan yaitu tahun ke 33 masa pemerintahan Kaisar Qian Long (1735-1796) dari Dinasti Qing, tepatnya adalah tahun 1768. Informasi selanjut menyebutkan bahwa Han De Chun berasal dari Tian Bao (Fujian) dan pada saat nisan itu dibuat memiliki lima orang anak laki-laki, belasan cucu dan tiga orang buyut.

Sejatinya, pada tahun 1991, Claudine Salmon telah mempublikasikan artikelnya yang berjudul The Han Family of East Java Entrepreuneurship and Politics (18th-19th Century) pada jurnal Archipel volume 41. Salmon melacak asal-usul keluarga Han di Pulau Jawa sampai ke Tianbao, Zhangzhou-Fujian, tempat nenek moyang marga Han berasal. Didapatinya rumah keluarga Han Siong Kong terletak di daerah Ximenzhai, Tianbao-Fujian.

Han Siong Kong lahir di Lubianshe, Tianbao, pada tahun 1673. Menurut Salmon yang membaca papan arwah di Rumah Abu Keluarga Han – Surabaya, Han Siong Kong menetap di Lasem dan meninggal di Rajegwesi (sekarang Bojonegoro) pada tahun 1743. Selanjutnya menurut Salmon yang menggali tradisi lisan lokal menyebutkan bahwa pada saat pemakaman Han Siong Kong, terjadi hujan lebat dan petir hebat. Peti mati Han Siong Kong dibiarkan teronggok di jalanan karena para pengantar jenasah berhamburan mencari tempat berteduh. Cerita berlanjut dengan terkuburnya peti mati tersebut secara misterius. Dipercaya bahwa arwah Han Siong Kong mengutuk keturunannya karena telah tidak berbakti dengan menelantarkannya di jalanan. Maka sejak saat itu, keturunan Han dipercaya meninggalkan Lasem. Namun, ternyata dua dari anak lelaki tertua Han Siong Kong memilih tetap tinggal di Lasem, yaitu Han Tjoe Kong dan Han Kien Kong. Sementara Han Bwee Kong menuju Surabaya dan menjadi Kapitan Cina. Seorang anak Han yang bernama Han Tjien Kong memeluk agama Islam, memiliki nama Soero Pernollo dan menetap di Besuki, demikian pula dengan Han Hien Kong turut bermukim di Besuki. Sedangkan kedua putri Han Siong Kong yaitu Pien Nio dan Poen Nio tidak diceritakan lebih lanjut. Menurut catatan keluarga Han di Surabaya, kelima anak Han Siong Kong lahir di Lasem. Tiada papan arwah sang ibunda diabadikan di Rumah Abu Keluarga Han. Diduga, istri Han Siong Kong adalah wanita Lasem, bukan keturunan Cina.

Sekali lagi, Lasem menjadi salah satu tempat yang layak untuk diperjuangkan menjadi daerah cagar budaya nasional mengingat begitu banyak warisan tinggalan leluhur mulai dari bangunan, akulturasi budaya sampai kumpulan kolektif memori. Kisah keberadaan Han Siong Kong salah satunya, tak dapat disangkal sebagai salah satu kisah pusaka Lasem.

 

Agni Malagina/Program Studi Cina FIB UI

Kontributor National Geographic Indonesia

Artikel: http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/03/sebuah-kutukan-yang-menghidupkan-lasem

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *