Kutanam Selasih untuk Pulang

Kutanam selasih
Kutanamkan di hujung halaman
Mengenangkan kasih wahai sayang yang kutinggalkan

Kusiram selasih
Kusiramkan di hujung halaman
Mengenangkan kasih aduh sayang lambing percintaan
(Rafaeh Buang&Ahmad Jais)
….rasanya ini syair cinta tiga penjuru

Sepenggalan lagu itu saat ini akrab di telingaku yang kadang tidak bisa kompromi dengan beberapa struk kalimat dalam bahasa Melayu lama tersebut.

Rasanya malam ini aku sangat bersahabat dengan secangkir kopi dan lagu Melayu. Entah apa dikata, efek dari Billy Amanda Tanjung dan Ken Miryam yang selalu bersinggungan dengan lagu-lagu lama….bagian dari pengobatan jiwa yang sedang melanglang buana entah kemana, tak menjejak tanah sekalipun.

Menjadi seseorang adalah hal sangat dilematis untukku. Pastinya ini termasuk masalah eksistensialisme diri yang tak kunjung tergarap jua. Baru saja kulewati masa gemilang berkurangnya kesempatan hidup di dunia ini, dan aku belum juga dapat menyadari apa yang aku tuju.

Terakhir ini aku hanya merasa mungkin dapat memenuhi 2 dari 3 mimpiku, yaitu menyelesaikan sekolah dan membangun rumah panggung kecil tempatku pulang. Dan yang ketiga sudah pasti tak dapat terpenuhi…ini mimpi yang agak konyol, yaitu punya tempat permanen di luar Jawa untuk mudik, kandas di saat-saat aku sendiri jauh dari bumi pertiwi yang kucinta.

Dua dari ketiga mimpiku adalah rumah. Rumah tempat pulang.
Rumah panggung saja adalah tempat yang kuimpikan sejak aku mengenal budaya Sunda dengan tidak sengajanya aku terdampar di Kampung Sindangbarang Bogor. Peristiwa ini membawa banyak dampak kerinduan untuk mendirikan tempat pulang yang sesungguhnya.

Tempat mudik di luar Jawa juga berhubungan dengan rumah. Belum lagi dimulai, impian rumah mudik ini pun harus segera dicoret dari daftar mimpi. Atau setidaknya akan tetap menjadi mimpi tanpa perlu berpengharapan lagi bahwa mimpi yang ini dapat terwujud kecuali ada Jin lampu Aladin yang bersedia membantu.

Dua-dua impian ini bertujuan agar dapat pulang suatu saat nanti. Karena ku sudah rindu untuk pulang.
Pun di sini jauh di rantau, rindu pulang pun ada. Namun tak serindu pulang yang sesungguhnya….(dan aku masih takut menghadapi pulang yang sejatinya). Ingin pulang ini hanya sebatas kerelaan hati sahaja untuk mengucap ‘aku bersedia’…bersedia pulang.

Belajar dari pesan Ken dan Laura, pulang tidak berarti menetap, pulang juga bisa hanya dengan menatap.

Saat impian untuk pulang itu tiada lagi…hanya dengan menatap pun rasanya sudah dapat pulang. Imagined Home….seperti Imagined Community….

Kau tetap kan pulang di sisiku
Sayang membawa harapan

Freiburg, pas tengah bulan Januari 2010
Menunggu gajian

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *