masih adakah tempat untukku di antara feodalisme dan kapitalisme?

Beberapa hari ini aku berpikir tentang kehidupan sosialisasi antar keluarga, antar teman, antar kolega….yang mungkin dapat ditarik ruang lingkupnya menjadi lebih besar lagi.

 

Bisa disebut aku ini produk jadul yang menyaksikan dan merasakan sistem ‘feodalisme’ dan mengalami proses autofeodalism sekaligus besar berkembang di negara yang terinterfensi kapitalisme. Beberapa kali aku melihat banyak penyelenggaraan acara lingkup keluarga atau pekerjaan yang selalu ditekankan untuk seremoni yang agak berlebihan. Yang terpenting adalah pencitraan, bukan esensi kehidupan yang menyentuh nurani dan kemanusiaan. Aku merasa sistem feodal yang mengutamakan pencitraan itu membuat kehilangan makna, makna hidup. Lalu kehilangan arah dan pegangan untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Jangankan bersikap welas asih dan pengertian – manusia hanya dibikin jadi robot yang sibuk ngurus urusan permukaan demi untuk kepentingan diri sendiri – poles sana poles sini sambil kehilangan HATI! apalagi ditekan dengan kata ‘KOMITMEN’ dalam penyelenggaraan sebuah acara seremoni.

 

Ini kehidupan yang tragis jika sudah menjadi seperti ini. Ini “neraka”nya kehidupan. Dimana manusia sudah tak bisa lagi membedakan mana yang pantas dan tidak – mana yang manusiawi dan tidak. Pendapat ini tentu jauh dari penilaian ‘baik’. Malah terbaca seperti pendapat ekstrimis. Namun itulah satu pendapatku yang melihat feodalism atas nama tradisi tetap dipertahankan tidak lagi dengan rasio, tapi dengan menyandera nama ketimuran. Saat ini, feodalism bagiku sama mengerikannya dengan sistem kapitalisme yang gencar mendapat serangan dari para aktivis di Indonesia. Kupikir, feodalisme dan kapitalisme sama-sama membuat manusia menjadi robot….

 

Ya tapi sudahlah – kurasa aku cukup menggarisbawahi bahwa aku cukup mengerti kehidupan itu bisa

seperti itu – manusia bisa tersesat dan masuk kedalam kegelapan seperti itu. Kita tidak perlu terganggu – malah harus merasa iba terhadap mereka yang mengalami hidup seperti itu. Dan manusia seperti

itu tidak mesti orang lain tapi juga saudara atau teman dekat kita – dan bahkan orang tua kita sendiri! Dan mungkin aku juga bersikap demikian adanya. Disini hati manusia harus berbicara- jika kita manusia berhati kita akan mencoba mengerti dan memaklumi.

 

Kupikir, kita tak perlu sampai membuat kita gusar apalagi ‘mangkel’ berkepanjangan. Ibuku berkata: “Manusia berhati selalu sanggup untuk memahami dan mengampuni siapapun yang menyakitinya. Selalu sabar mengahadapi sisi kehidupan yang menjengkelkan dan tidak sesuai dengan selera ataupun nilai-nilai kita.”

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *