Singkawang: kami juga ingin hidup tenang

Serentetan demo dan peristiwa mencekam yang diduga dilakukan oleh sekelompok oknum dari organisasi radikal muncul di Singkawang, mulai dari demo pembangunan patung naga pada tahun 2008 sampai peristiwa demo patung naga 2010 yang juga dipicu oleh tulisan Hasan Karman – walikota Singkawang – bertepatan dengan Hari Raya Waisak 28 Mei 2010. Mengapa hal ini terjadi? Apakah isu etnisitas menjadi latar terjadinya peristiwa ini? Bagaimana dengan kontestasi perpolitikan di Singkawang?

Berikut adalah catatan lapangan dari Agni Malagina, mahasiswa FIB Universitas Indonesia yang sedang melakukan penelitian soal minoritas di Singkawang, sengaja dimunculkan dalam rubrik testimoni, karena tak satupun narasumber yang mau diwawancarai untuk rubrik ini.

Suasana kota Singkawang sempat muram pasca demo perobohan patung naga dan tuntutan ormas Melayu agar Hasan Karman meminta maaf kepada segenap warga Melayu dan mundur dari jabatannya. Peristiwa ini terjadi ketika makalah Hasan Karman pada tahun 2008 tentang Sejarah Melayu  dikritisi sekelompok orang yang meradang ketika mendapatkan Hasan Karman mengutip keterangan dari sebuah sumber tertulis yang mengatakan bahwa pada masa kolonial, sekelompok orang Melayu adalah perompak.

Demo juga diakhiri dengan aksi pelemparan batu terhadap patung Naga Emas yang oleh kelompok radikal dianggap sebagai symbol religi etnis Tionghoa. Aksi pelemparan pun berbuntut ditangkapnya sejumlah pelaku oleh pihak berwajib. Padahal, bagi sejumlah orang Tionghoa Singkawang, mereka hanya menganggap patung Naga Emas itu hanya tugu penghias lampu di tengah kota.

Peristiwa ini dengan segera menjadi bahan pembicaraan hangat di pelbagai kalangan, mulai dari politisi daerah sampai kaum intelektual dan masyarakat umum yang berkepentingan. Sejumlah media lokal pun mengangkat pelbagai opini publik baik pro dan kontra terhadap peristiwa Naga Emas Singkawang. Desakan terhadap Hasan Karman semakin kuat. Sejumlah politisi menghimbau agar Hasan Karman meminta maaf resmi kepada masyarakat luas melalui media, beberapa pihak di Kesultanan Sambas pun mendesak HK untuk meminta maaf secara adat, sekiranya akan diadakan pada tanggal 16 Juni 2009.

Bola panas terus bergulir. Sejumlah peristiwa mencekam muncul di Singkawang, mulai dari isu demo besar-besaran oleh orang Melayu sampai pelemparan bom molotov di pemukiman. Peristiwa di atas tampak seperti terjadi gesekan etnis antara Melayu dan Tionghoa.

Hasil observasi lapangan yang diselingi obrolan di warung kopi oleh sejumlah warga kalangan etnis Tionghoa dan Melayu menunjukkan bahwa peristiwa kutipan HK bukanlah penyebab yang utama. Pertarungan di panggung politik lah yang menjadi salah satu bumbu isu utama terjadinya aksi perobohan patung Naga Emas. Politik praktis pun agaknya mempunyai peran dalam mengangkat isu etnisitas di Singkawang.

Ketika saya berbicara dengan berapa orang dari kalangan Melayu, banyak di antara mereka tidak merasa keberatan dengan kutipan dalam makalah HK. Mereka menganggap hal tersebut adalah bagian sejarah orang Melayu. Benarlah adanya jika masa lalu orang Melayu tentu ada yang berprofesi sebagai perompak bukan perampok menurut para peneliti Eropa pada masa itu. Mereka menyayangkan sikap kelompok orang yang membaca makalah ilmiah dengan latar sentimen etnis atau politis.

Baba Atjiong dan Bapak Kadri, dua orang yang saya mintai pendapat, menyesalkan adanya demo Patung Naga Emas yang sempat mengganggu perekonomian dan pariwisata Singkawang. Mereka menganggap gerakan kelompok agama radikal ini  sama sekali tidak mewakili aspirasi warga Singkawang yang tidak puas terhadap kinerja pemerintahan HK. “Entah apa yang mereka wakili, yang jelas mereka tidak mewakili suku Melayu, Tionghoa dan Daya di Singkawang. Mungkin benar mereka hanya mewakili suku Melayu Sambas,” ujar Baba A Kiong. Bapak Kadri pun membenarkan bahwa pada demo patung Naga 2010 sama sekali tidak ada orang Singkawang.

Catatan panjang sejarah masa Kolonial dan Republik Indonesia membuat etnis Tionghoa termarjinalkan sekaligus terstigmatisasikan. Termarjinalkan karena hanya diberi ruang gerak sebagai motor penggerak perekonomian, terstigmatisasikan sebagai kelompok minoritas yang eksklusif. Padahal, mereka hanya ingin damai, sebagaimana kata Ace A Bun, “Kami hidup berdampingan bersama suku Melayu dan Dayak di Singkawang. Kami pernah juga terluka pada tahun 1967, kami hanya ingin hidup damai di Singkawang.”

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *