Road to Holy Land: Malagina berdiri di atas Malagina

Seri Road to Holy land Agni Malagina Malagina yang satu ini ditemukan pada tanggal 13 Juni 2007. Lokasinya terletak di tepi sungai Ciapus dukuh Kemang Sindangbarang…. Di atas Malagina saya berdiri. Malagina berdiri di atas punden Malagina.  Tempat yang saya injak waktu itu pernah dijadikan tempat sakral. Diduga pernah terjadi aktivitas keagamaan yang intensif di sekitar daerah Sindangbarang pada abad 14-15. Dan salah satu punden itu sekarang diberi nama saya, Malagina. Hahaha….nama punden Malagina ini diberikan kepada sebuah situs batu temu gelang yang saya temukan. Pak Agus Aris Munandar spontan memberi nama Malagina pada situs itu…”malagina saja, kalo diberi nama agni nanti jadi nama yang berhubungan dengan Hindu.”Saya hanya tersenyum, punden itu namanya Malagina…Sesaat saya berdiri di tengah batu temu gelang yang melingkari saya. Saya pandangi…saya rasai…angin…suara angin yang menyentuh telinga saya. Ia datang dan bergesekan dengan pohon dahan ranting dan daun yang menutupi situ situ. Ada suara air mengalir mendesak bebatuan di bawah sana…di sungai Ciapus.  Punden Malagina itu tidak sebesar punden Majusi atau punden Surawisesa ataupun punden Pasir Eurih. Mungkin hanya berdiameter 3 meter. Dan berundak 3. Punden itu adalah punden yang pertama saya temukan…dan diberi nama belakang saya. Saya berpikir…hebat benar…nama Malagina ada di tepi sungai. Tesembunyi. Dan pernah menjadi tempat ritus keagamaan Sunda Kuna. Saat berdiri sendiri setelah ditinggalkan Pak Agus yang turun ke sungai Ciapus, saya masih terdiam dan berpikir, dulu, orang Sunda jaman dulu mencari Tuhan sampai di tempat ini. Memberi persembahan pada karuhun dan Hyang di tempat ini. Mendapatkan Hyang, Tuhannya dalam rupa yang maha sempurna. Asli yang seasli-aslinya, Jujur yang sejujurnya. Saya merasakan alam sesungguhnya. Ada angin dan matahari yang mencekam dalam kesepian. Ada air dan batu yang menelan sunyi sendiri pagi itu. Mungkin juga ada tangis dan gumam yang terkatakan di masa lalu kepada batu-batu berlumut yang jumawa ini.  Fantasi saya bermain dalam montase-montase terpotong-potong dalam kepala saya. Mungkinkan di masa lalu ada orang-orang yang datang ketempat ini membawa persembahan. Dengan tujuan memuja leluhur dan Sang Hyang Taya. Besar pengorbanan mereka untuk sampai ke tempat ini tentunya. Begitu jauhya perjalanan mencari Tuhan. Saya masih berdiri. Tegap. Memandang bongkahan batu-batu besar  di sekeliling saya. Di sini…di sini pernah ada pemujaan. Pemujaan terhadap karuhun dan Hyang. Hyang yang muncul dalam bentuk Guriang Tujuh. Tujuh batu yang mengelilingi saya…..angka tujuh…misterius.  Pencarian Tuhan sampai ke kaki Gunung Salak. Membuat punden dan batu temu gelang. Saya membayangkan saya adalah peziarah yang datang ke punden itu…entah dulu namanya apa. Mungkinkah dulu ada seorang yang berdiri tegap di tempat saya berdiri sekarang? Sambil memandang batu yang sama, melihat sungai yang sama, melihat pohon yang sama, dan mendengar bisik angin yang sama? Mungkinkah dia dulu juga berpikir hal yang sama? Berpikir tentang Tuhan dan leluhurnya? Mungkinkah dia juga berpikir: dimanakah Tuhan? Adakah Tuhan tau aku sudah hilang rupa dan binasa? Dan aku ada di sini menemukan Tuhanku, dalam bentuknya yang asli dan jujur. Dan aku tidak dapat berpaling dari Tuhanku. Ingatan saya terhenti pada buku tulisan Pak Agus Aris tentang penelitian awal situs Sindangbarang. Karuhun dan Hyang yang disebut-sebut begitu sangat dihormati oleh masyarakat Sunda Kuno pada waktu itu. Karuhun, leluhur…membuat saya berpikir saat melangkah meninggalkan punden Malagina. Saya terlahir sebagai anak Janda (Jawa-Sunda). Dan itu membuat saya bertanya….darah Sunda yang saya punya datangnya darimana? Saya bertanya pada ibu saya, “ooo…itu eyang yang tau. Tapi kalo tidak salah eyang pernah bilang, kita ini keturunan dari Pakwan Pajajaran.”Halah….kok bisa? Saya bertanya pada nenek, dan beliau menjawab,”wah…kalo silsilah keluarga kita panjang. Sampai juga di keluarga Pakwan Pajajaran. Keluarga kita, contohnya Ibumu itu dilindungi oleh leluhur kita.”Saya bertanya, “dalam bentuk apa?”

Dijawab, “harimau putih.”

 Sejurus berlalu….saya tidak percaya hal itu. Namun tiba-tiba saya teringat salah satu situs yang dituliskan dalam buku Pak Agus yaitu Paniisan Meong Bodas (tempat harimau putih ngadem lah…itu adalah simbol seorang raja Pajajaran yang mengundurkan diri dan bersuci).

Saya berpikir lagi, benarkah leluhur saya sampai sejauh itu asalnya? Tergelitik saya ingin mencari siapa saya dan dari mana darah Sunda yang mengalir dalam tubuh ini. Sekali lagi, tampaknya benar-benar akan menjadi perjalanan panjang untuk mencari leluhur…..seperti Road to Holy Land ini.   

 Pencarian saya dan beberapa orang kawan tentang leluhur tentunya akan sangat panjang. Beruntung kami bisa memulai pencarian jati diri kami ini berangkat dari Sindangbarang. Sebelumnya saya selalu kebingungan, dari mana harus memulai perjalanan mencari jati diri. Dalam beberapa celotehan kecil bersama kawan-kawan, kami selalu kebingungan jika bertanya…siapakah aku? Darimana aku berasal? Darimana mulai mencari pun menjadi semacam lingkaran setan yang tidak ada ujung pangkal. Mungkin sama dengan lingkaran hermeneutik yang selalu kebingungan mencari ujung pangkal sebuah penafsiran. Dalam lingkaran ini mungkin tidak ada benar salah….semuanya absolut? Atau anomali? Entah lah…kami akan mencarinya….berangkat dari Sindangbarang.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *