Percakapan Dengan Kurir Tuhan

Suatu hari aku ingin berbual dengan TuhanDan ingin sampaikan salam untuk Tuhan Ku kirim:    Nenekku sayang, tolong sampaikan pada Tuhan bahwa aku lelah.

Dibalas:  Siapa ini?

Ku kirim:  Maaf, saya salah kirim pesan. Pesan itu untuk nenek saya yang sudah meninggal.

Dibalas:  Siapa nama kamu?

Ku kirim:  Bukan siapa-siapa, hanya salah kirim pesan. Kamu kurir Tuhan kan? Maaf ya…

Dibalas:  Rasanya tidak adil kalau kamu tau saya tapi tidak kebalikannya. By the way, saya juga dekat dengan Tuhan. Akrab lagi, jadi permohonan kamu sudah saya sampaikan pada Tuhan.

Ku kirim:  Terima kasih wahai sang kurir Tuhan!

Dibalas:  Baru saja Tuhan bertanya, mengapa kamu lelah? By the way, Tuhan juga tidak tahu nama kamu!

Ku kirim:  Aku lelah berpikir. Tapi aku tidak boleh berhenti berpikir kan? Kalau aku berhenti, maka aku akan menjadi tidak ada.  Tuhan tahu namaku. Tanya pada-Nya saja.

Dibalas:   Dasar penganut Descartes. Data masukan kurang, sehingga proses identifikasi gagal! Harap beritahu nama kamu!

Kukirim:  Aku lelah berhadapan dengan dunia dan cinta. Aku ingin berhenti sejenak. Apa boleh? Nanti akan kulanjutkan lagi perjalananku. Apa Tuhan masih di sana? Sampaikan pada-Nya, supaya menjaga nenekku di atas sana :p

Dibalas:  Sepertinya lebih baik Tuhan menjaga kamu daripada nenek kamu. Kecuali kamu tidak cengeng lagi.

Ku akhiri dalam hati:  Terima kasih ya, 2000 menit lalu aku lelah, tetapi setelah bercakap denganmu, aku tidak lelah lagi. Descartes telah mati.          17 Desember 2004

thanks to Rio Sahala SiagianSahala adalah bagian yang kusuka!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *