curhatan sabtu: dekonstruksi kepercayaan, falsifikasi “percaya”

ngomong-ngomong tentang kepercayaan
sepertinya agak berat ya?
begitu mendengar kata kepercayaan
rasanya kok ya seperti ada montase-
montase yang berkeliaran di kepala.
seperti gambar-gambar hurup bersambung
yang muncul “kepercayaan terhada Tuhan
Yang Maha Esa”, “kpercayaan terhadap
pasangan”, “Kepercayaan terhadap
pemimpin” dll
masalah kepercayaan sepertinya salah
satu dasar dari pergaulan sosial kali
ya?
“gw percaya sama cowok gw kok”, “gw
percaya sama dia kok”, “gw percaya
sama cintanya”, “saya percaya dengan
komitmennya” dll
percaya…percaya…percaya…
sebuah komitmen yang harus diungkapkan?
sebenarnya sampai mana kita bisa
percaya?
ada hukum rimba…ada kepercayaan akan
ada penghianatan!

Percaya pada kekasih, kadang
ditelikung dengan penghianatan
(selingkuh, mendua, poligami?)

Percaya pada pemimpin, sering
dikhianati dengan kebohongan
publik…janji yang tidak
ditepati…korupsi…

Percaya yang dikhianati akan membawa
kekecewaan

lain dengan halnya percaya pada Tuhan.
Percaya pada Tuhan sepertinya tidak
hanya disaingi oleh penghianatan,tapi
juga oleh “tidak percaya Tuhan”
pergulatan ini sangat manusiawi ya?

saya teringat percakapan dengan
seorang kawan yang bernama Rio,
saat dia meminta “tunjukkan bahwa
Tuhan itu ada!” maka saya
menjawab “Tunjukkan bahwa Tuhan itu
tidak ada”
dan pembicaraanpun terhenti
tiada kekecewaan terhadap Tuhan
hanya ada kecewa pada diri sendiri

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *