Tjan Tjoe Siem: Islamolog dan Javanolog dari Universitas Indonesia

Tjan Tjoe Siem lahir di Solo pada tanggal 3 April 1909, dari keluarga Cina Muslim Solo. Keluarganya cukup terkenal di Solo setelah Tjan Kong Sing (paman dari Tjan Tjoe Sim) berjasa membantu Pangeran Diponegoro pada tahun 1825 – 1830, kemudian berganti nama menjadi Prawirasetja dan menikah dengan salah satu kerabat Pangeran Diponegoro.

 

Siem muda berangkat ke Universitas Leiden pada tahun 1930 setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya. Pada tahun 1940-an, Universitas Leiden hanya tercatat dua nama etnis Cina dari Indonesia, Tjan Tjoe Siem (1930) dan Tjan Tjoe Som (1936), Siem dikenal sebegai javanolog dan islamolog, sedangkan Som sang kakak dikenal sebagai seorang sinologi sekaligus ahli hokum Islam yang sama-sama mengabdi di Universiteit Indonesie sekembalinya dari belajar di Leiden.[1]

  Sosok yang memiliki perhatian pada hukum Islam ini mempertahankan disertasinya yang berjudul Hoe Koeroepati zich zijn vrouw verwerft “Lakon sang Kurupati rabi” di Universitas Leiden, pada 1938 sekaligus memperoleh gelar Phd bidang Oriental Studies. Siem mengambil naskah terakhir dari 6 naskah Jawa kuna sebagai bahan disertasinya. Naskah tersbut berkisah tentang lakon wayang pernikahan Suyudana atau Duryudana, raja para Kurawa yang diambil dari Mahabharata.Sepulangnya dari Leiden, Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem menjadi taalambtenaar (pegawai negeri di bidang bahasa) di yogyakarta sempat menjadi guru di Algemeene Middelbare School  (AMS) Yogyakarta, salah satu muridnya yang terkenal adalah Rosihan “The last Mohican of Indonesian Journalists” Anwar. Pada tahun 1954 – 1958 Tjan Tjoe Siem menjadi guru besar Bahasa Jawa Moderen di Jurusan Nusantara Fakulteit Sastra Universitet Indonesia. Selanjutnya Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem terpilih menjadi Dekan Fakulteit Sastra Universiteit Indonesia pada tahun 1960 – 1965.

Siem dalam kenangan murid-murid angkatan-angkatan awal jurusan sasatra Jawa (1950) merupakan sosok yang sangat sederhana dan membumi. Alhi hukum Islam ini pun dikenal sebagai pribadi yang ramah, terbuka dan berwawasan luas. Siem yang dijuluki sarjana  yang sujana(berkarakter baik) ini merupakan ahli Jawa kuna termuka pada masanya. Satu-satunya ‘non pribumi’ yang menjadi ahli Jawa. Menguasi bahasa jawa kuna, sekaligus falsafah jawa. Ruapanya kegemaran ibunda kandung Siem yang menguasai sastra Jawa sekaligus ahli kitab (al Quran) menurun padanya. Sebagai ahli Jawa, Siem pun menguasai ‘nembang’ dengan sangat baik. Ia pun sering ‘nembang’ untuk murid-muridnya.

 Beberapa muridnya mengungkap kenangan mereka bersama ’Pak Siem’, diantaranya adalah Ibu Sukesi Adiwimarta, Ibu Parwatri Wahjono, Bapak Singgih. Pak Siem gemar mengajak mahasiswa untuk menyaksikan pertunjukkan wayang yang pada waktu itu sering juga disaksikan oleh pejabat pemerinah Indonesia, diantaranya adalah presiden Soekarno. Pak Siem pun gemar membawa mahasiswanya berdarma wisata keluar kota seperti Puncak (Jawa Barat) dan Solo (Jawa Tengah). Atau hanya sekedar jalan-jalan santai ke Pecinan di Kota Tua, Glodok.  

Gerakan 30 S/PKI menjadikan ahli Bahasa Jawa dan hukum Islam ini berada dalam titik terendah kehidupannya. Pada tanggal 10 November 1965 berdasarkan surat Dekan FS UI  No: S/18/FS/XI/Pedek.II/65 mengenai pembebasan sementara dari segala tugas dan kewajiban di FS UI bagi mahasiswa di lingkungan FS UI dan dilanjutkan dengan surat rektor No: S/17/FS/XI/65 tertanggal 13 November 1965 lampiran nama para dosen, Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem bersama sang kakak Tjan Tjoe Som dinonaktifkan dari dunia akademisi. Mereka kemudian disebut oknum-oknum kontrarevolusioner. Dalam seruan tersebut disebutkan kategori para oknum yaitu orang yang menjadi ketua/anggota pengurus pusat HSI, anggota pimpinan Universitas Republica, pengajar Aliareham, Ronggowarsito, Multatuli, Universitas Rakyat dan Lekra. [2]

 

Sementara sang kakak dipecat dari posisinya sebagai guru besar di Universitas Indonesia karena dianggap berhubungan dengan salah satu gerakan underbow PKI, Tjan Tjoe Siem pun didesak mengundurkan diri dari Fakultas Sastra. Karir Tjan Tjoe Siem pun berlanjut di Singapura menjadi guru besar bidang ‘Malay Studies’ Universitas Nanyang – Singapura. Pada tahun 1969, Siem menikah dengan Soelastri Soerowardoyo. Siem dan Soelastri sudah bersahabat sejak lama. Pada saat Siem menjadi dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1954, Pak Siem dekat dengan Soelastri yang menjadi sekretaris fakultas. Perasaan Pak Siem yang sangat halus kepada Soelastri pun sempat terhalang karena sulastri tidak diijinkan menikah dengan seseorang dari golongan etnis tionghoa. Sehari-harinya, Pak Siem menjuluki sulastri sebagai Dewi Sembodro (subadra) yang kerap ia sebut dan nyanyikan tembang tentang Subadra. Tak lama setelah orang tua Sulastri meninggal dunia, Pak Siem menikah dengan Sulastri Soerowardoyo pada tahun 1969. Siem sendiri tidak datang untuk menghadiri acara akad nikahnya, karena beerada di Singapur, Siem hanya diwakili oleh sebilah keris. Tak lama, Sulastri menyusul ke Singapura sebagai istri yang sah. Penantian Tjan Tjoe Siem untuk menikah dengan Sulastri akhinya selesai, ia pun dijuluki Eeuwige de bruidegom (pengantin abadi). 

 

Pada tahun 1973 Tjan Tjoe Siem pensiun dan kembali ke Indonesia. Jiwa akademisinya mendorong dia untuk terus mengabdi di bidang pendidikan, kali terakhirnya ia mengajar di IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1978. Tak lama kemudian, pada tanggal 30 Desember 1978, Tjan Tjoe Siem meninggal dunia di usia 69 ketika mengambil air wudlu. Tjan Tjoe Siem dimakamkan di Solo, berdampingan dengan Tjan Tjoe Som sang kakak yang meninggal pada tahun 1969.

      Buku-buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Tjan Tjoe Siem: 1938, Hoe Koeroepati zich zijn vrouw verwert. Leiden:Luctor et Emergo. Disertasi Universitas Leiden. 1941, Javaansche kaartspelen: bijdrage tot de beschrijving van land en volk. Bandoeng: Nix 1960, Masques Javanais 1963, Azas-azas hukum Islam: dikuliahkan untuk tingkat sardjana muda pada Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan, Universitas Indonesia. Berasama Amir Hamzah (penulis). Jakarta: t.n 1965, Kumpulan kuliah-kuliah: Studies of Islam pada Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Jogjakarta, tahun adjaran 1955/1956. Bersama Zaini Muchtarom.


 

[2]Lihat SERUAN Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro, tertanggal 11 Desember 1965. Arsip Program Studi Cina, FIB UI.

Share

One thought on “Tjan Tjoe Siem: Islamolog dan Javanolog dari Universitas Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *