Catatan si Geulis: Ekspedisi Wanadri – Menegpora ‘Kisar’

Catatan dari Kisar: Eksotika Kisar yang Penuh Pesona

                                        agni malagina 

 Ketika Telipae menemukan pulau ini (Pulau Kisar) sebagai Pulau yang berdiri sendiri lalu dia menyebutnya Pulau Yotowawa Taihuli (baca: Deihuli) artinya pulau karang yang terpencil yang dapat dilewati ketika berlayar, dan tidak ada tempat berlabuh yang aman tetapi dia menyebutnya Lailuli Ilimaran artinya ‘dia keramat dan berahmat’. Orang dapat hidup dengan tenang dan aman tanpa terganggu oleh ancaman apapun. Ililitutulu watulalai artinya dia beribawa dan terhormat, dia dapat dihargai dan dikagumi dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan. Semua ini dijadikan sebagai sumpah suatu ucapan sacral terhadap Pulau Kisar.” 

Pada tanggal 16 Mei 2008, dari hasil evaluasi operasi harian yang dilakukan oleh Erwin Gumay, Andreas Ariano, dan Anthony ’Anset’ Setiawan. Diputuskanlah Anset untuk stay di Pulau Kisar, setelah di tinggal oleh 2 orang Senior setengah gaek. Anset merasa kesepian yang biasanya tidur bareng bertiga tiba-tiba harus dihadapkan dengan keadaan harus berjuang menghadapi Kisar seorang diri.            Kegiatan Anset di Kisar pada masa awal kesendiriannya, Pak Athen mengajak ronda-ronda (jalan-jalan) keliling Pulau Kisar dan ke Pantai Kiashar dengan menggunakan motor polisinya dan sepanjang jalan Pak Athen menceritakan kalau di Kisar sendiri setiap rumah di sekitarnya pasti ada kebun. Suasana kota Kisar tidak terlalu ramai. Warganya ramah dan selalu saling menyapa. Sampai-sampai Anset kewalahan menjawab semua sapaan yang selalu dilontarkan orang yang ia jumpai. Hal yang paling disukai Anset untuk membunuh rasa sepinya adalah jalan-jalan ke pasar Yotowawa pada hari pasarnya yaitu Senin, Kamis, dan Sabtu. Selain ke pasar, Anset megaku senang ’nangkring’ di Pelabuhan Wonreli melihat pemandangan laut sekaligus menikmati keramaian Pantai Nama yang bisa melihat langsung negara tetangga Timor Leste.. Hampir setiap hari Anset mengunjungi pantai-pantai di Kisar. Salah satu yang terindah adalah Pantai Jawwalan melihat indahnya Pantai Jawwalan juga biasa dipakai sebagai pelabuhan alternatif bila terjadi angin barat. Selain jalan-jalan, Anset juga mendapati bahwa penduduk Kisar gemar meminum Sophie – semacam arak khas Maluku Tenggara Barat – sambil memakan daging bakar.             Tanggal 29 Mei – 30 Mei 2008, Anset harap-harap cemas menanti kedatangan Sobirin. Dua hari menunggu tapi Sobirin tidak juga muncul batang hidungnya. Ternyata Sobirin masih berada di Ambon dan mengalami beberapa hambatan menuju Kisar.  Sobirin bergabung dengan Anset dengan alternatif penerbangan yang dipilih adalah Jakarta-Ambon-Kisar. Anggaran waktunya hanya 8 hari. Sobirin berangkat dari Jakarta menuju Ambon pada tanggal 27 Juni 2008. Pesawat dari Ambon ke Saumlaki. Karena cuaca pesawat berputar2 dan sempat kembali ke arah Saumlaki. Perjalanan Ambon-Kisar yang biasanya ditempuh 1 jam, kali ini ditempuh 3 jam. Refueling di bandara kecil dengan alat manual yang biasa dipakai memompa minyak tanah, seharusnya menggunakan mesin pemompa. Pada saat itu keadaan cuaca di Saumlaki buruk, ketakutan di kisar lebih buruk. Delay penerbangan. Baru besoknya ke Kisar. Mencari alternatif kapal. Mencari info di pelabuhan. Ternyata Abadi Permai sudah berangkat 29 Mei 2008. Dan baru ada keberangkatan lagi pada tanggal 19 Mei 2008. Keberangkatan pesawat pun menunggu cuaca. Informasi menyebutkan bahwa jika cuaca buruk maka kemungkinan pesawat Merpati akan kembali ke Maluku. Alternatif terburuk bagi Sobirin adalah bertahan di Saumlaki dengan charger satphone untuk anset di Kisar. Namun keesokkan harinya cuaca cerah baik Kisar maupun Saumlaki. Sobirin pun bisa sampai Bandara Jhon Backker, Kisar pada tanggal 31 Mei 2007. Proses koordinasi dengan Bapak Athen Jesayas (polisi Wonreli untuk bandara), Bapak Ipi (pelaksana harian di Bandara Kisar), Bapak Josef (parkir pesawat) dan Nona Atha (ATC bandara kisar) mengenai kebutuhan yang harus dipersiapkan oleh pihak bandara berjalan lancar. Begitu pula koordinasi dengan Pemda Kisar juga sudah aman. Koordinasi dengan Syarifudin (Dan Pos AL), mengenai Emergency Rescue Prosedure tidak mengalami kendala, juga koordinasi dengan Puskesmas Wonreli pun lancar. Pelbagai fasilitas yang memungkinkan dapat disediakan dengan maksimal. Koordinasi penyambutan pun sudah berjalan dengan baik, begitu pula dengan acara diskusi pilot dengan siswa SMP/SMA Kisar sudah didengungkan.             Tanggal 4 Juni 2008, PKS 205 sudah tiba di Kalabahi untuk recovery sampai tanggal 5 Juni 2008, sebenarnya keberangkatan dari Kalabahi tertunda karena tracking byru pesawat rusak dan akan di datangkan alat yang baru dari Jakarta ke Kalabahi, pada saat itu pun hujan deras turun. Penyambutan di Kisar pun sebenarnya sudah siap pada tanggal 5 Juni 2008. Beruntunglah karena seluruh masyarakat Kisar yang bersiap menyambut kedatangan PKS 205 mengerti dengan kendala teknis dan keadaan cuaca. Kisar pun bersiap menyambut Kang Ujang esok hari. Tanggal 6 Juni 2008, Kang Ujang terbang dari Kalabahi pada pukul 06.09 WITA dan sampai di Kisar pukul 10.15 WIT.             PKS 205 mendarat dengan mulus di Jhon Backker. Kang Ujang disambut dengan upacara pemberian kain adat yang diselendangkan oleh perwakilan Pramuka. Semua segera bergeser menuju kantor Camat Kisar. Selama perjalanan menuju kantor Camat, Kang Ujang disambut oleh anak TK, SD, SMP, SMA yang berjajar di sepanjang jalan. Bak pagar hidup siswa/siswi melambaikan bendera merah putih dengan senyum yang ramah, gembira dan tulus. Setelah tiba di pendopo Camat, Kang Ujang beramah tamah dengan jajaran Muspika Kisar. Acara kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi antara pilot dengan siswa SMA 1 Wonreli. Setelah acara selesai, Kang Ujang beristirahat. Malam itu pesawat dijaga oleh 10 orang dan dibantu oleh penduduk setempat. Pukul 23.15 WIT terjadi gempa sekitar ± 15 detik yang diperkirakan berkekuatan 5,5 SR. Penduduk telah berkumpul di lapangan kantor Camat, Alhamdullilah tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan ujar Anset.            Tanggal 7 Juni, pukul 04.30 WIT dilakukan persiapan cek pesawat dan Refueling BBM sebanyak 50 liter. Acara pelepasan Kang Ujang dipimpin oleh Sekretaris Camat Bapak Hendrid Mosses disertai pemberian kenang-kenangan kain adat kornelehe dan dilepas dengan doa bersama PKS 205 lepas landas  pukul 06.36 WIT. Semua pihak di Bandara Kisar memantau penerbangan Kang Ujang sampai PKS 205 mendarat di Saumlaki pukul 11.01 WIT. Segera setelah PKS 205 mendarat, tim Kisar menuju tempat Camat dan memberitahukan bahwa PKS 205 telah tiba di saumlaki dengan selamat. Saat itu Kang Ujang diberi gelar Resitulu Merelanik artinya Perkasa di Angkasa oleh Latupati (Ketua Adat) dan Pdt.Rex.Y.R Amos.            Tanggal 8 Juni 2008 tim Kisar berpamitan dan berterimakasih kepada Muspika Kisar, Sekcam, Pos AL, BKO, Bu dokter, ATC, Kepala sekolah SMA 1 Wonreli, Latupati (Kepala adat) Desa Wonreli, Polsek, Dikpora dan masyarakat Kota Wonreli pulau Kisar, pulau-pulau terselatan Maluku Tenggara Barat.Hari senin tanggal Senin 9 Juni 2008 menuju Ambon dan tiba di Bandara Pattimura pukul 12.08 WIT dan langsung menuju tempat penginapan. Awalnya jadwal kepulangan dari Kisar menuju Ambon tanggal 12 Juni 2008 dikarenakan ada pesawat carteran yang sudah masuk  maka jadwal kepulangan menuju Ambon dipercepat hari ini dikarenakan menghindari pembatalan tiket dari Ambon menuju Jakarta resikonya harus menginap lagi di Ambon 4 hari dan bertambah biaya kostnya.Tidak ada pergerakan yang dilakukan di Ambon hanya berkoordinasi dengan tim Saumlaki menanyakan keberangkatan PKS 205 dan membantu untuk menanyakan data ke Merpati mengenai koordinat, radio ssb, air band, contact person yang ada di bandara Larat. Jalan – jalan ke Kota Ambon yang cukup jauh dari penginapan ± 2 jam perjalanan melalui jalur darat, tetapi bisa memotong jalur lewat kapal ferry hanya memakan waktu 15 menit.Tanggal 13 Juni 2008, tim Kisar kembali ke Jakarta dengan membawa semua kisah dan kenangan. Sobirin dengan 18 operasinya dan Anset dengan 37 hari operasinya mengaku memiliki kesan mendalam dapat menjadi bagian dari Ekspedisi Trike Wanadri Menegpora Lintas Sabang – Merauke. Beratnya perjalanan memasuki Kisar, sulitnya melawan kesendirian pun dapat menjadi kenangan indah bersama dengan rekaman keindahan alam Kisar, keramahan masyarakat Kisar, kecantikan nona-nona Kisar, dan bangkitnya Nasionalisme di kalangan pemuda Kisar.   Tidak ada kata yang bisa di ucapkan lagi untuk saudaraku Soleh Soedrajat. Kang’ Kau telah membuka mata dunia, membuka mata bangsa Indonesia dan membuka mata Saudara-saudaramu wanadri, masih ada orang seperti dirimu, kami bangga bisa terlibat dalam Ekpedisi ini dan kami bangga menjadi bangsa Indonesia.Wanadri Jasamu Abadi!!!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *