Catatan si Geulis: Ekspedisi Trike Wanadri – Menegpora ‘Ewer Agats’

Ewer – Agats: Kisah Dewa Udara dari Tanah Jawa 

agni malagina

 “Bapak, kita semua sudah menjaga landasan ini. Kalo ada apa-apa itu orang kami tombak! Kami ingin melihat Pirsimbit* (Pemimpin salah satu suku di Agats Asmat)  

Setelah di Timika Kang Ujang mengalami perbaikan blade (baling-baling) dan propeler pesawatnya, titik persinggahan PKS 205 selanjutnya adalah Ewer – Agats. Kang Ujang berangkat dari Timika pukul 09.40 WIT, dikarenakan cuaca baru terbuka cerah saat itu. PKS 205 sampai di Ewer – Agats pada pukul 11.20 WIT  dengan menggunakan bahan bakar sejumlah 47 liter Pertamax Plus. Tiba di Ewer, 2 orang groundcrew – Sarbini (WK 095) dan Isra Yandi ’Ulil’ (W 751 KL) sudah menanti dengan kisah perjuangan masuk Ewer – Agats  yang cukup menegangkan.          Ulil membagi kisah perjalanannya masuk Ewer. Ulil, suami Rovina yang juga ikut mengabadikan perjalanan PKS 205 sepanjang lintasan Sabang – Merauke, awalnya mengaku masuk tim ekspedisi Wanadri – 92 Pulau Garis Depan Indonesia. Ketika ada tawaran masuk Ekspedisi Trike sebagai groundcrew, Ulil langsung bergabung walaupun belum tau akan ditempatkan di posisi mana. Ulil sempat terkejut ketika namanya tercetak dalam lembaran posisi groundcrew dengan posisi daerah di Agats. Tak sempat tau letak daerah tersebut, tapi ia bertekad akan menjalankan tugasnya demi Wanadri. “Awalnya saya berangkat ke Lampung pada tanggal 1 Mei  2008 untuk menjalankan tugas Dorlog BBM jalur barat Jakarta – Lampung – Palembang – Jambi – Pekanbaru – Dumai – Medan – Lokshemawe – Sabang. Selesai bertugas tanggal 18 Mei 2008, kemudian mendapat tugas ke Agats,” jelas Ulil mendahului kisahnya sampai tiba di Agasts bersama Sarbini. Seharusnya Ulil dan Sarbini berangkat tanggal 5 Juni 2008, namun pemberangkatan dimajukan menjadi tanggal 2 Juni 2008. Dari Jakarta mendarat di Timika dan sempat disambut oleh Kapten Adryana (pilot helikopter Airfast yang juga menjadi supervisor teknis dalam Ekspedisi Trike). Malamnya Ulil dan Sarbini harus bergerak menuju Ewer. Meraka menyangka sudah ada kapal on position yang sudah siap berangkat menuju Ewer. Ternyata, mereka masih harus menunggu beberapa hari. ”Saya pikir kapalnya ukuran besar, nyaman enak. Ternyata tidak. Kita naik kapal perintis. Kapal kayu kecil. Informasinya kapal akan berlayar selama 12 jam. Ternyata di lapangan sampai 20 jam. Dihantam badai dan ombak besar pula. Kami sampai tidak bisa berdiri,” jelas Ulil dan Sarbini.  Kemudian kapal memasuki Teluk Flamingo. Sore hari sekitar pukul 5, kapal masuk perairan Flamingo. Ulil menceritakan bahwa di tengah laut kapal diutar-putar oleh ombak. Ternyata arus bawah membuat kapal berputar-putar sampai 3 kali putaran. Nahkoda sempat menjelaskan bahwa kapal harus mengikuti putaran tersebut. Tidak boleh melawan karena kapal akan terbalik. Sekitar 1 jam, kapal terlepas dari putaran dan kemudian masuk perairan Agats. Masuk Agats, kapal menghadapi 3 muara besar. Kapal pun diputar arus kembali, tapi kali ini Ulil dan Sarbini mengaku sudah tidak panik lagi. Pukul 6.30 sore, kapal sudah merapat di Agats. Kapten kapal dan ABK langsung berdoa, ”Alhamduliah Bapak bisa selamat.” Katanya kapal itu belum pernah membawa orang lain. Duo Wanadri ini sempat terkejut. Namun apa daya, mereka telah selamat tiba di Ewer. Akhirnya kapal bisa bersandar dan dijemput taksi air – sejenis kapal kecil yang menjembut penumpang dari kapal besar untuk menuju dermaga. Diperlukan biaya sebesar Rp 50.000 menuju dermaga ferry. Begitu turun taksi air, Ulil dan Sarbini sudah ditunggu orang – orang angkut dengan gerobak. Mereka berdua berusaha menjelaskan bahwa mereka sedang dalam perjalanan ekspedisi, namun para kuli angkut pelabuhan tidak peduli dan berkata, ”Bapak orang luar to! Hati – hati Bapak bisa mati!” Tak ada hujan tak ada angin Ulil dan Sarbini hanya bisa saling pandang dengan menebar senyum. Mereka memutuskan untuk segera menuju hotel setelah mengontak Kepala Bandara Ewer yang kebetulan sedang berada di Merauke. Kepala Bandara meminta mereka untuk menghubungi perwakilannya, Bapak Philipus. Tak lama menunggu, Bapak Philipus datang dan mengantar mereka menuju hotel Asmat. Mereka mengambil kamar VIP. ”Harganya lumayan. Saya pikir dengan Rp 375.000,- bisa mendapat fasilitas bagus. Wah, tetapi hanya mendapat kipas angin,” ujar Ulil.Pak Tori, Wakil Bupati Agats, menyambut mereka dengan sangat baik. Waki Bupati Agats ini bercerita tentang Ekspedisi Trike yang dikabarkan akan memasuki daerah Timika, tetapi Pemda Agats tidak mengira bahwa daerah mereka menjadi salah satu titik persinggahan pesawat tersebut. Setelah mereka selesai bercerita, barulah Ulil dan Sarbini mengeluarkan surat tugas Ekspedisi Trike dan menjelaskan misi mereka. Wakil Bupati dan jajarannya terkejut seperti layaknya akan kedatangan menteri atau presiden.”Daerah kita masuk to, mau didatangi pesawat to, harus bagaimana kita?” kata sang Wakil Bupati. Sontak mereka sibuk dan mengadakan kontak dengan pelbagai pihak di Agats dan luar Agats, seperti Timika dan Merauke. ”Ini kesempatan besar, merupakan jembatan memperkenalkan Agats kepada luar!” tambah Pak Tori bersemangat. Tanpa diminta mereka membantu memberikan beragam informasi, fasilitas, dan kemudahan lainnya. Mereka (PEMDA) mengatakan akan memberikan semua yang diperlukan oleh tim Ekspedisi Trike.Setelah 2 hari di Agats, mereka menemui masalah ganti rugi tanah di sekitar Bandara Ewer. ”Awalnya, perang suku memperebutkan tanah bandara. Ada tradisi di Ewer, jika kita membeli tanah pada A, 20 tahun kemudian anak si A akan menagih urusan tanahnya. Pada saat itu perjanjian jual beli tanah antara bandara dengan si A sudah habis. Dan tanah itu bukan urusan si A lagi, tapi sudah menjadi urusan anak si A. Bandara tersebut dipalang dan dipagari, orang – orang  perhubungan hendak kabur malam itu, baru pagi harinya orang dinas perhubungan menyelematkan diri, keluar Agats dengan menggunakan speed boat,” jelas Ulil. Ketika Ulil sampai di Bandara Ewer, ia mengira ada penyambutan khusus untuk tim groundcrew yang datang. ”Ada warga sudah dengan tombak dan panah mengarah pada kami. Saya tidak bertanya lagi apakah ini penyambutan untuk saya. Saya bertanya pada keamanan. Dijelaskan bahwa suasana panas. Saya pikir panas karena cuaca. Ternyata mereka sedang demo!” Ulil menjelaskan ternyata saat itu ada demo menuntut ganti rugi tanah bandara sampai mencapai nominal 60 milyar rupiah. Akhirnya dengan kesepakatan, turun menjadi 2 M. Selama beberapa hari mereka bolak balik Agats – Ewer – Agats untuk menyelesaikan urusan koordinasi.Mereka memberi laporan dari perkembangan situasi di Ewer – Agats kepada Puskodal di Jakarta. Sempat mereka diperingati Pemda Agats untuk segera meninggalkan Agats  apabila selesai bertugas. Namun pesan dari Puskodal mengatakan mereka belum bisa menginggalkan Agats sebelum pesawat mendarat di Merauke. Setelah itu Bupati dan staffnya mengadakan rapat. Pemda mengatakan kepada warganya bahwa akan ada pahlawan dari udara, membawa pesawat kecil, dan akan mendarat di Ewer. Saat itu masyarakat antusias untuk mendukung. Bersamaan dengan itu permasalahan pembebasan tanah sudah dalam posisi aman. Pesawat tiba di Bandara Ewer – Agats pada tanggal 17 Juni 2008, pukul 11.20 WIT. Sambutan warga sangat luar biasa. Mereka datang dari pelosok-pelosok Agats menuju Bandara Ewer.  Ulil dan Sarbini hanya berpesan pada petugas bandara agar pesawat jangan didekati untuk menjaga kemungkinan yang tidak diinginkan. Ulil menceritakan bahwa saat itu warga sangat kooperatif. Ulil mengenang kata-kata salah seorang pemimpin suku yang datang ke Ewer, “Bapak, kita semua sudah menjaga landasan ini. Kalo ada apa-apa itu orang kami tombak!” Sarbini menambahkan bahwa banyak tentara yang sudah berjaga-jaga di sekitar bandara. Namun, masyarakat yang berjaga lebih banyak dari tentara. Dan mereka ingin melihat sang pahlawan yang datang dengan pesawat kecil itu. Sekali lagi, mereka mengatakan ingin melihat Dewa Udara. Dewa Udara yang datang dari tanah Jawa. Saat itu warga hanya dapat melihat sang Dewa Udara dari jendela. Ulil menjelaskan bahwa julukan Dewa Udara ini merupakan suatu penghargaan besar dari masyarakat Agats Asmat untuk Kang Ujang, sang pemberani. Tanggal 18 Juni 2008, PKS 205 bergerak menuju Merauke pukul 06.03 WIT. Setelah pesawat lepas landas, mereka (pimpinan) datang menemui Ulil dan minta ijin untuk pulang. Ulil pun masih bisa mengingat saat itu banyak sekali masyarakat yang keluar dari pinggir-pinggir hutan. Mereka bergerak beriringan berjalan meninggalkan Bandara Ewer untuk kemudian bayangan mereka pun hilang di balik pepohonan rindang. Masih ada beberapa kelompok masyarakat yang masih setia menanti di Bandara Ewer sampai Kang Ujang sampai di Merauke pada pukul 10.23 WIT. Kegembiraan terpancar di wajah-wajah mereka saat Ulil meneriakan bahwa Dewa Udara sudah mendarat selamat sampai di Merauke. “Apa yang saya dapat dari masyarakat sungguh di luar dugaan. Kita dikatakan telah menyentuh hati masyarakat Agats Asmat. Walau hanya dengan makan bersama mereka, makan dengan daun, minum dengan batok kelapa. Hal itu sama dengan menghargai mereka. Dekat dengan 1 keluarga maka akan dekat dengan seluruh warga suku tersebut. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketakutan saya ada 2, pertama ketakutan dari awal datang sampai pesawat berangkat dari Agats menuju Timika. Kedua, takut mengahadapi masayarakat yang konon masih suka memakan daging orang. Termasuk takut terkena malaria tropicana yang tersohor mampu mematikan korbanya dalam hitungan 1 hari saja. Cerita – cerita seram itu seketika hilang semua, saat selesai misi PKS 205.” Ulil masih sempat mengamati kehidupan masyarakat Agats Asmat yang terkenal dengan kerajinan ukiran kayunya. Totem – totem yang begitu terkenal hingga mancanegara. Harga barang – barang di Agats sangat mahal. Biaya hidup sehari-hari pun cukup tinggi. Untuk sekali makan dengan menu sederhana bisa mencapai harga Rp 45.000,- sampai Rp. 65.000,-. Sarbini menambahkan bahwa di Agats juga tidak ada transportasi angkutan. Masyarakatnya juga tidak mengenal mobil dan motor. Mereka lebih akrab dengan speedboat dan twin otter – sejenis kapal udara pengangkut penumpang dengan kapasitas kecil. Mata pencaharian masyarakat Agats pada umumnya adalah menjadi nelayan, pengrajin ukiran dan penjual anggrek. Dalam pandangan Ulil dan Sarbini, perjalanan menjadi groundcrew Ekspedisi Trike lintas Sabang – Merauke mempunyai makna tersendiri. Mereka mengaku dapat melihat keberagaman yang dimiliki Indonesia dan mereka belajar untuk menghargai kebiasaan masyarakat setempat. Bahkan mereka mengatakan bahwa mereka menjunjung tinggi peribahasa yang mengatakan ”lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya” dan ”dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Agaknya peribahasa ini pun sangat kental dirasakan oleh para groundcrew yang bertugas di semua lintasan  PKS 205. BRAVO!!! 


* Pirsimbit (Bahasa Asmat) memiliki arti Dewa Udara

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *