Catatan si geulis: Ekspedisi Trike Wanadri – Menegpora ‘dorlog larantuka – dobo’

Kisar, Babar, Saumlaki, Tual, Dobo:

Kalwedo Kinabela! Kita Semua Bersaudara!

 agni malagina

”Mereka masuk ke titik yang tersulit. Jika mereka tidak bisa tembus maka ekspedisi gagal. Anset terpaksa ditinggal di Kisar. Andreas langsung ke Babar dan Saumlaki, Erwin bergerak ke Tual dan Dobo. Tanpa mereka operasi di timur gagal.”  Yemo Wakulu. W 638 TORA (Ketua Ekspedisi Trike) Pada hari Kamis, tanggal 8 Mei 2008 diberangkatkan 3 orang anggota Wanadri yaitu Erwin Gumay (WK 078), Andreas Ariano (W 640 BARA), dan Anthony”Anset”Setiawan (W 793 ARA) dari Jakarta menuju Kupang untuk menyambung dorongan logistik (dorlog) BBM dari Larantuka ke arah Timur Indonesia yaitu Pulau Kisar, Pulau Babar, Saumlaki (Kep. Tanimbar), Tual (Kep. Kei)sampai titik terakhirnya Dobo (Kep. Aru). Sebelumnya, dorlog BBM Jakarta – muaLarantuka sudah dilakukan oleh tim dorlog BBM yang terdiri dari Budiono (W 372 RL), Rizal (WK) dan Didi Supriadi (W 789 ARA).Di sela-sela waktu senggang mereka setelah menunaikan tugas ekspedisi, kami berhasil mendapatkan kisah-kisah behind the scene yang tak mungkin terungkap dalam laporan teknis ekspedisi. Ekspresi, mimik, air muka dari kenangan perjalanan pun menjadi kunci pengungkapan kisah tersembunyi. Penggalan-penggalan kisah riang gembira, haru biru, suka duka, menjadi satu dan  tak mungkin terlepas dari perjalanan Ekspedisi Trike Wanadri-Menegpora RI. Kupang – Maumere – LarantukaErwin, Andreas dan Anset berangkat dari Jakarta 09.13 WIB. Berbekal perlengkapan tempur dan surat sakti dari Presiden RI serta Menegpora, mereka sampai di Kupang pukul 13.05 WIT. Pesawat Sriwijaya Air  yang mereka tumpangi sempat transit di Surabaya untuk kemudian melanjutkan perjalan ke Kupang. Sesampainya di Kupang mereka melakukan koordinasi dengan pelbagai pihak, salah satunya adalah Dinas Pemuda dan Olah Raga. Pergesaran tim ini diawali dengan pergerakan pada hari Jumat 09 Mei 2008, menuju Maumere dengan menggunakan pesawat Trigana Air, yang sempat transit di Ende. Tiba di Maumere tim dorlog timur sudah dijemput tim dorlog Budiono dkk. Setelah makan siang mereka berpisah. Tim segera bergeser ke Larantuka menggunakan jalur darat dengan menyewa mobil seharga empat ratus ribu rupiah. Sesampainya di Larantuka, mereka segera berkoordinasi dengan Syahbandar untuk mencari kapal menuju Kalabahi, Pulau Alor. Usaha untuk mencapai Kalabahi agaknya merupakan salah satu momen tersulit yang dialami oleh tim ini, karena tidak ada kapal yang bergerak ke Kalabahi dalam waktu dekat. Dalam kondisi tertahan di Larantuka untuk mencari kapal menuju Kalabahi, mereka dihadapkan dengan resiko jarak tempuh yang jauh dan ombak besar. Keadaan tersebut menyebabkan jarang ada kapal yang ke Kalabahi, apalagi untuk sampai ke Kisar. Untuk sementara, mereka bertiga ”menghapus” kata Kisar dari kamus perjalanan mereka. Sebelumnya ada masukan dari Pak Boy staff Dispora Kupang untuk tarik mundur ke Kupang bila ingin melanjutkan perjalanan ke Pulau Kisar, karena kapal yang ke Pualu Kisar ada dari Kupang. Masukan itu kita terima tetapi tidak kita lakukan, mengingat waktu yang akan terbuang. Begitu lama lagi bila kita harus ke Kupang dulu. ”Pokoknya bagaimana caranya ke Kalabahi! Budget tidak mencukupi untuk menyewa kapal yang sangat mahal, pun belum ada kapal yang mengakut orang dan BBM!” sambung Anset dengan nada khawatir. Kasak punya kusuk, mereka mendapat informasi penyewaan kapal nelayan dengan bermacam variasi harga, dari harga 7 juta sampai harga 50 juta. Erwin mengakui pada saat itu kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk menyewa kapal besar yang bernilai sampai puluhan juta. Beruntung Pemda Larantuka yang menunjuk  Bapak Isack (Kabag Umum) sangat membantu kelancaran pengiriman BBM ke Kalabahi. Setelah mendapat kapal nelayan yang siap untuk disewa menuju Kalabahi, Pemda Larantuka membantu pembiayaan kapal sebesar Rp. 3.500.000,- dari total biaya Rp. 7.500.000,-. Segera kapal yan membewa 13 orang ABK (anak buah kapal) dan tiga orang Wanadri beserta muatannya meluncur menuju Kalabahi, melalui laut luas dengan ombak yang cukup tinggi – 3 sampai 4 meter.  Larantuka – Kalabahi (Pulau Alor)Dari Larantuka dengan membawa 15 jerigen Pertamax Plus, mereka tiba pukul 06.00 pagi. Ketika akan memasuki Kalabahi, kapal harus melewati celah yang panjang. Malam itu hujan turun, berkabut dan gelap di sekeliling menambah suasana mencekam dalam kapal. Kapal hanya dibekali GPS (global posistion system) sederhana. Tiada peralatan canggih, setengah manual. Beberapa abk berdiri di depan untuk menerangi jalur dengan lampu senter. ”Kita takut terjadi sesuatu, dalam hati bertanya, akankah sampai di Kalabahi?” ujar Erwin dengan suara sedikit tercekat mengenang perjalanan saat itu. Andreas menambahkan bahwa dalam kondisi sekeliling yang gelap dan hanya berpegang pada GPS, diketahui bahwa di depan telah menanti sebuah pulau karang, pulau yang tersohor dengan nama Pulau Buaya. Entah jalur mana yang harus dilewati. Hanya berbekal pengalaman sang kapten biasa disebut dengan juragan mengemudikan kapalnya melalui medan sulit tersebut dalam tempo 3 – 4 jam untuk mencapai posisi aman. Kecepatan kapal pada saat itu juga diperlambat. Kapten tidak berani memacu kapalnya lebih cepat lagi karena takut menabrak karang. ”Itu pengalaman yang menegangkan, kita tidak bisa tidur. Ombak tinggi memaksa kapal bergoyang kian kemari dalam kecemasan tiada tara. Cemas akan kemungkinan kapal menabrak pulau karang,” Erwin menambahkan. ”Belum lagi kondisi jerigen sudah dalam keadaan menggembung. Kami takut tejadi ledakan. Merokok saja kami harus jauh-jauh dari kamar BBM,” sambung Anset.Setibanya di Kalabahi, kordinasi dengan Syahbandar juga dilakukan guna memperhitungkan kedatangan kapal untuk perjalanan selanjutnya. Saat itu didapat informasi kapal Nemberala dari Kupang masuk Kalabahi pada hari Rabu tanggal 14 Mei 2008. Tim kembali bergerak. Bergerak menuju Kisar pada hari itu juga pukul 19.31 WITA.  Kalabahi – Kisar Lepas maghrib menjelang malam, pada hari Kamis tanggal 15 Mei 2008, mereka sampai di Pulau Kisar pukul 18:45 wit yang memiliki nama asli Pulau Yotowawa Taihuli (baca: Deihuli) artinya pulau karang yang terpencil yang dapat dilewati ketika berlayar. ”Kita menyewa kamar dua ratus ribu rupiah, kamar kapten, untuk menyimpan BBM, Supaya BBM tetap aman dan tidak menarik  perhatian banyak orang. Belum lagi kami harus memakai trik dengan mengatakan jerigen tersebut berisi oli kapal. Kan tidak boleh membawa BBM menggunakan kapal reguler yang mengangkut penumpang,” ujar Andreas. Setibanya di Kisar, tim melakukan koordinasi ke syahbandar dan pada saat itu mereka memperoleh informasi bahwa akan ada kapal Abadi Permai masuk Pelabuhan Kisar. Tim yang baru tiba di Kisar malam hari mengakui sangat sulit mengenali medan Kisar saat itu. Beruntung koordinasi dapat dilakukan dengan bantuan Babinsar – Pak Athen. Keesokan harinya tim berkoordinasi untuk kegiatan drop BBM. Sayang pada saat itu tidak ada kegiatan penerbangan di bandara Kisar – hanya senin, kamis dan jumat ada penerbangan. Pada saat itu juga kepala bandara Kisar Bpk. Josua Surlia sedang berada di Tual. Serah terima BBM dilakukan dengan bantuan Pak Athen dan Nona Atha. Segera Pak Athen menghubungi Nona Atha sebagai ATC dan petugas harian yang membantu kelancaran di lapter (lapangan terbang). Malam itu juga tim ini mengadakan evaluasi pergerakan dan rencana keberangkatan esok hari dengan kapal Abadi Permai yang  akan segera berlabuh di Kisar menuju Pulau Babar.Dengan memperhatikan perhitungan waktu, tim akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Anset di Pulau Kisar, seorang diri saja. Sebelumnya sempat ngobrol dengan Bapak. Ampi (Dephub Darat Saumlaki) di penginapan Vilien Jaya, karena beliau sudah 2 minggu terdampar di Pulau Kisar disebabkan salah perhitungan transportasi yang tidak bisa ditebak kapan kapal berlabuh dan kapan kapal berlayar, sedangkan Andreas dan Erwin akan melanjutkan perjalanan menuju Pulau Babar, Saumlaki, Tual, dan Dobo. Keputusan tersebut diambil karena apabila mengikuti rencana awal, bila Anset mengikuti perjalanan ke Pualu Babar, Saumlaki, dan Tual, maka Anset yang bertugas di Kisar akan datang pada hari yang sama ketika PKS 205 tiba di Kisar. ”Saat itu bisa kejadian Anset yang disambut Kang Ujang lho…! Kalau Anset tidak tinggal mungkin akan terjadi Kang Ujang yang menyambut kedatangan groundcrew, bukan groundcrew yang menyabut PKS 205!” celoteh Erwin Gumay. Disambung dengan celetukan Pangkodal,”Hayang ditampiling kitu ku Kang Ujang (Mau ditempeleng oleh Kang Ujang?).” Derai tawa saat wawancara berlangsung pun tak terelakkan. Keputusan meninggalkan Anset di Pulau Kisar diakui Erwin dan Andreas sebagai keputusan yang sangat berat. Dalam waktu singkat harus membuat keputusan yang mengharuskan keduanya meninggalkan si bungsu sendiri di sebuah pulau yang baru dikenalnya sehari pada tanggal 16 Mei 2008. Seorang Anset masih mengingat akhir perpisahannya dengan Erwin Gumay dan Andreas Ariano yang akan menaiki kapal Abadi Permai siang itu. ”Hanya 3 kata yang diucapkan Andreas, HATI-HATI, JAGA DIRI, WANADRI! sisanya hanya tatap-tatap mata dengan kilatan yang hendak menyampaikan isi hati,” kenang Anset. Kisar – Babar Perjalanan menuju Pulau Babar berlanjut setelah meninggalkan Anset di Pulau Kisar. Dengan menumpang kapal Abadi Permai, Andreas bersama Erwin Gumay melanjutkan perjalanan ke Saumlaki, Pulau Tanimbar. Perjalanan dari Kisar menuju Babar, kapal sempat melalui Kepulauan Leti yang terkenal dengan koleksi rempah-rempahnya macam pala, kemiri, lada, dan lain-lain. Dengan kondisi laut yang agak ramah, ketinggian ombak hanya mencapai 3 meter, dan peralihan angin timur, kapal tidak mengalamai hambatan yang berarti. Hanya saja kondisi kapal yang mirip pasar induk Kramat Jati, sempat membuat 2 orang laki-laki ini cukup gentar menghadapi riuh rendahnya suasana. ”Ada sosok mahsyur di kapal ini, Si Gondrong namanya! Dia itu orang terkenal di sepanjang jalur Surabaya – Tual! Raja mabuk tapi baik hati, petangguh yang disegani orang-orang sepanjang jalur perjalanan Abadi Permai!” celetuk Andreas dan Erwin. ”Bersamanya kami aman. Walau sangar dan gahar, hatinya lembut bak hati seorang pujangga!” sambung Erwin. Perjalan Kisar – Babar menghabiskan waktu selama 2 hari. Menuju dermaga Tepa yang terletak Babar bagian utara, kapal menyusuri selat di antara Pulau Wetar (baca:Wetang bahasa daerah) dan Pulau Babar. Suasana siang itu sangat indah. Ibarat sekali merengkuh dayung dua pulau terlampui, keindahan pesisir Pulau Babar dan Pulau Wetang pun dapat dinikmati dalam sekali laju si Abadi Permai. Ketika itu sore menjelang, dari kejauhan Pulau Babar seperti tidak berpenghuni, banyak pegunungan. Lautnya jernih, air kebiruan, dan abadi permai meluncur sampai dermaga Babar yang terletak di Tepa (ibu kota kecamatan Pulau – Pulau Babar). Di kota yang cukup ramai, jalan protokol di penuhi toko-toko milik etnis Cina, mereka hanya sempat melakukan drop BBM selama 2 – 3 jam, itu pun dengan kuasa Camat Tepa (Bapak Ari KiliKili) untuk menghentikan kapal Abadi Permai untuk tetap setia menanti 2 orang pahlawan yang sedang dijamu dan ber-kalwedo-ria bersama Pak Camat. Perjalanan pun dilanjutkan setelah menurunkan bbm 2 jerigen 40 liter di Babar. Erwin dan Andreas bergerak menuju Saumlaki dengan membawa 9 jerigen BBM.  Pulau Babar – Saumlaki (Ibukota Kepulauan Tanimbar)Duo Wanadri beda angkatan beda usia ini mengaku sudah matang dan sangat kompak di lapangan. Pengalaman dan jam terbang yang cukup agaknya mampu mempertemukan dua orang penggemar seafood ini dalam perjalanan laut yang sangat panjang. Saling mengisi dalam pelbagai hal, bahkan mengambil tindakan pun dilakukan secara bersama-sama. Termasuk keputusan bersama ketika harus menghadapai tradisi Kalwedo! Kesepakatannya adalah Erwin harus mengikuti tradisi minum Sophie – sejenis arak – dari Babar. Ditambah mereka pun memutuskan untuk tidak mandi selama seminggu ketika dalam perjalanan dari Kisar menuju Babar. ”Dengan gaya dinginnya Erwin mengatakan, Ndre, gw udah niatin 1 minggu enggak akan mandi!” kata Andreas sambil menjelaskan bahwa kondisi kamar mandi di kapal sangat buruk plus menggunakan air laut. Perjalanan mereka menuju Saumlaki sering dibarengi celetak-celetuk lucu keduanya dalam menghabiskan waktu memerangin kejenuhan di perjalanan. ”Kadang Erwin tampak sering melamun, kangen sang anak,” kata Andreas, lajang berusia 35 tahun yang mengaku jenuh tertahan dalam jarak langkah terbatas dalam kapal. Setelah menempuh perjalanan selama 3 hari 2 malam, mereka tiba di Saumlaki. Pertama kali tiba di dermaga Saumlaki mereka segera mencari penginapan dan membawa 4 jerigen BBM untuk titik pendaratan Saumlaki. Sisa jerigen ditinggal di dalam kamar khusus Abadi Permai karena Abadi Permai berencana bermalam di Saumlaki. Hari itu juga Kisar tetap menjadi agenda penting bagi kedua Wanadri spesialisasi gunung hutan. Anset yang ditinggal di Kisar sampai saat mereka merapat di Saumlaki belum juga dapat dihubungi. Sempat selama 7 hari sejak Anset berdiam di Kisar, komunikasi Jakarta – Kisar, Kisar – Saumlaki terputus. Keberadaan Anset sempat menghilang dari jaringan komunikasi, sampai akhirnya Kodim Maluku Tenggara Barat (MTB) berhasil mengadakan kontak dengan Anset dan disambungkan ke Andreas. Setelah tersambung dengan Kisar, semua tenang. Setelah itu Andreas tinggal di Saumlaki, Erwin melanjutkan perjalanan menuju Tual dan pemberhentian terakhir dorlog BBM di Dobo Saumlaki – Tual Perpisahan antara Andreas dan Erwin tidak seharu ketika duo gaek ini meninggalkan Anset di Pulau Kisar. Hanya dengan tatapan tau sama tau, mereka pun berpisah. Pengalaman dan jam terbang terujilah yang mengantar keberangkatan Erwin. Tak disangka tak dinyana Kapal Abadi Permai yang direncanakan berangkat siang itu pada hari Selasa tanggal 20 Mei 2008, karena ternyata terjadi kesalahan teknis pemberangkatan pun dialihkan sore esok harinya. Mungkin karena pertimbangan maju salah mundur pun salah, Erwin memutuskan menghabiskan malam itu di kamar kapal. Perjalanan dari Saumlaki menuju Tual cukup panjang. Erwin dihadang gelombang tinggi yang membuat kapalnya selalu oleng. “Televisi yang ada di rak dekat tempat tidur saya sampai jatuh! Untung tidak menimpa kaki saya! Dahsyatnya gelombang itu!” ujar Erwin. Saat pemberangkatan selanjutnya kapal pun berlabuh di dermaga Tual lewat tengah malam. Karena terbentur oleh jarum jam yang menunjuk angka 02.00 WIT, Erwin pun memutuskan menunggu waktu shubuh. Sekitar pukul 06.00 WIT pagi, ketika mentari mulai memunculkan serabut kemerahannya, Erwin menghubungi saudara kawannya di Tual. Tak lama kawan itu pun datang menjemput. Siang harinya, BBM diserahkan kepada Danlanud Tual. Segera setelah bukti serah terima ditandatangani, Erwin mengejar kapal yang akan mengantarnya ke titik akhir perjalanan yang melelahkan – Dobo. Tual – Dobo Bagi Erwin, Dobo layaknya tugas terakhir yang harus ia penuhi. Kejenuhan, kegelisahan, dan keraguan pun menjadi kawan seperjalanan tim dorlog BBM Larantuka – Dobo. Tak jarang mereka harus melawan goyangan ombak di atas kapal, tidak bisa tertidur walau hanya sekejap. Kadang mereka pun harus menghadapi kondisi alam yang tak bersahabat. Mereka pun harus menahan rindu kepada orang yang terkasih. Entah berapa banyak rasa yang mereka miliki kala itu. Hanya semangat ekspedisi, hakekat dan janji Wanadri yang meneguhkan hati mereka. “Sudah sampai Tual, segera menuju Dobo,” kenang Erwin. “Sementara itu rasa ketakutan kami apakah kami akan selamat sampai tujuan juga terlintas, karena ada beberapa hal yang mengganggu sampai perjalanan ke Dobo. Gelombang di Laut Aru begitu terkenal tinggi juga ikan hiunya yang terkenal banyak dan sangar di daerah ini,” tambahnya sambil meringis seakan menelan ketakutan dan kekhawatirannya supaya pecah dalam perut.Kisah punya cerita, tibalah Erwin di Pulau Dobo dan berhasil menyerahkan BBM kepada kepala bandara Dobo yang sering dipanggil Pak Darto. Perjalanan tugas dorlog BBM Larantuka – Dobo tunai sudah. Malam itu Erwin menikmati hidangan seafood. Erwin ditantang untuk memakan 5 buah lobster sekaligus. Tak berdaya, Erwin hanya bisa menghabiskan 3 ekor lobster yang disediakan. Celetuk kembali terdengar saat itu, ”Aaaaah…bukan Wanadri lu, Win!” Erwin kemudian berbincang dengan Pak Darto sambil memakan kacang goreng buatan ibu Darto. Penasaran Erwin menanyakan rahasia kelezatan kacang goreng tersebut tapi Ibu Darto diam seribu bahasa. Rasa penasarannya dilampiaskan dengan memakan kacang tersebut dengan serius. Kacang pun habis laris manis. “Saya namakan kacang ini Kacang Wanadri’” ujar Pak Darto. Gelak tawa menyertai suasana wawancara dengan Erwin sore itu. Celetukan celoteh jail para anggota Wanadri yang kebetulan ikut mendengarkan cerita WK ini ikut menambahkan informasi terbaru, “Iya, dari Larantuka ke Kalabahi kita juga pake Kapal Wanadri!!”  Selidik – selidik dengan membongkar koleksi foto digital perjalanan Larantuka – Kisar, ternyata kapal Wanadri adalah kapal nelayan yang dipasangi bendera Wanadri. Kira-kira hal ini mungkin bisa dikategorikan kepada “klaim sepihak” para caraka Wanadri yang gemar berseloroh.           Mengamati perjalanan ketiga orang groundcrew ini seperti mengamati mozaik pecahan-pecahan kisah hidup mereka selama puluhan hari. Anset dengan 41 hari perjalanannya, Andreas dengan 45 harinya, dan Erwin dengan 41 harinya merupakan rekapitulasi kisah yang tiada mungkin dituliskan kembali hanya dalam 16.000 karakter Times New Roman untuk menembus ruang dan waktu saat ini. Hanya ada rasa yang diungkapkan untuk melengkapi laporan teknis para groundrew. Rangkuman perjalanan tim dorlog BBM Larantuka, Kalabahi, Kisar, Babar, Saumlaki, Tual, Dobo ini barulah menjadi awal kisahan dari Anthony Setiawan, Andreas Ariano, dan Erwin Gumay.  “Sedikit yang kami berikan, tapi semua itu tulus dilakukan untuk Indonesia.”WANADRI JASAMU ABADI !!! 

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *