Catatan si Geulis: Ekspdisi Trike Wanadri Menegpora ‘Dobo2″

Catatan dari Dobo: Survey Cakar Bongkar sampai Cenderawasih Dobo  

agni malagina 

Kami sama-sama punya kenangan dengan Ibu Darto.  Tiket transportasi tempat pun diurus oleh keluarga Darto. Ada juga proses ”oranyenisasi Dobo tampak dari munculnya kacang wanadri sampai mobil pun dinamai mobil wanadri, bahkan adapula kapal terbang wanadri” (ada pesawat di Bandara dobo, tidak ada baling-balingnya). Johnny Edward (WK 092)   

Masih ingat kisah perjalanan saudaraku Erwin Gumay ketika menunaikan tugas dorlog BBM-nya sampai ke Dobo? Ketika serah terima BBM dengan Pak Darto Kepala Bandara Dobo sudah terlaksana, maka jalur BBM untuk Ekspedisi Trike Wanadri Menegpora RI  pun positif dalam keadaan GREEN LIGHT pada tanggal 23 Mei 2008. BBM Dobo sedianya akan diugunakan oleh Kang Ujang pada tanggal 14 Juni 2008 untuk terbang menuju Timika. Tim groundcrew Dobo yang terdiri dari Aries Muzaqier (W 694 TL), Iwan ’Karawang’ Nirwana (W 660 TL), dan Jhonny  (WK 092) semula direncanakan masuk Dobo pada tanggal 7 Juni 2008 Namun mereka baru dapat tiba di Dobo pada tanggal 10 Juni 2008 karena perjalanan Tual – Dobo terhalang kendala teknis transportasi, ada kapal tetapi tidak ada bahan bakar!!! Belum lagi harus terhalang cuaca yang semena-mena sering berganti rupa. Kadang terang, tiba-tiba hujan. Kadang hujan, tiba-tiba badai. PKS 205 sendiri direncanakan tiba di Dobo pada tanggal 10 Juni 2008 namun karena cuaca buruk di beberapa tempat penerbangan pun tertunda. Akan tetapi, kondisi ini ternyata bisa dibilang ”menguntungkan”. Karena apabila PKS 205 menepati jadwal, maka Kang Ujang bisa lebih dulu masuk Dobo sebelum groundcrew merapat ke Dobo. ”Kalau tidak ada yang ’mengatur’, bisa kejadian.! Lu mau disambut Kang Ujang?! Bisa ditempiling itu! Saha maneh!” celetuk Ketua Ekspedisi sambil tergelak ketika mendengar kisah para groundcrew Dobo yang sulit masuk – keluar Dobo. ”Kita di Tual  4 malam, lho. Cuaca buruk. Kita mondar – mandir pelabuhan. Nongkrong di pelabuhan. Kalau cuaca bagus baru berangkat. Kita bisa berangkat kapan saja. Kita sudah siap, sudah packing, tapi syahbandar tidak mengijinkan berangkat,” ujar Aries menyambung kisah Karawang. Karawang menambahkan bahwa selama mempersiapkan kedatangan PKS 205, koordinasi dengan banyak pihak berjalan lancar. Sambutan masyarakat Dobo juga sangat menggembirakan. Tanggal 13 Juni 2008, Kang Ujang tiba di Dobo pukul 08.45 WIT. Penyambutan pun berlangsung meriah. Hingar bingar kegembiraan para pemuda – pemudi Dobo mengawali rangkaian kegiatan Kang Ujang di Dobo. Anak – anak sekolah dasar pun tampak gembira menyambut Kang Ujang dengan pesawat mininya. Setelah upacara penyambutan, diadakan dialog antara masyarakat Dobo dengan sang pilot. Para pemuda terlihat sangat antusias. Bahkan banyak komentar-komentar untuk pemerintah. Namun sekali lagi Kang Ujang mengatakan “JANGAN TANYAKAN APA YANG BISA NEGARA BERIKAN UNTUK KITA, TAPI TANYAKAN APA YANG BISA KITA BERIKAN UNTUK NEGARA!” Kalimat ini membuat banyak pihak terharu. Salah satunya adalah Kepala Diknas Dobo yang kemudian berinisiatif ingin membuat kegiatan yang bisa membangkitkan rasa nsionalisme pemuda–pemudi Dobo. Menurut beliau, kegiatan macam trike ini sangat positif untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Bahkan pertukaran pelajar yang sekarang menjadi program tahunan di Dobo dianggap tidak efektif untuk membangkitkan nasionalisme. Dobo merupakan titik pendaratan yang dianggap cukup menegangkan, karena jalur Dobo–Timika adalah  jalur penyeberangan bandara to bandara yang terpanjang. Terpanjang melewati permukaan laut, sekitar 316 km. Diceritakan pula bahwa Kang Ujang tampak tegang sebelum terbang meninggalkan Dobo.”Ngomel-ngomel terus, euy, si Babeh mah!”, ujar Karawang ketika ditanya bagaimana keadaan Kang Ujang. ”Beh, pocari tambahan nya (Beh, pocari ditambah ya),” lanjutnya.”Teu kudu, di pesawat loba! (tidak usah, di pesawat banyak!), jawab Kang Ujang.”Eeh, aripek teh’ Isuk – isuk  pas rek terbang mah, eweeuh..!(pagi–pagi pas akan terbang tidak ada!),”ujar Aries menambahkan. Maka semuapun menjadi tegang. Kemudian Kang Ujang meminta air mineral untuk dibawa terbang. Semua pun bertambah panik. Dengan sigap Karawang berlari menuju rumah, mengambil sekenanya botol air mineral sisa minum Kang Ujang semalam, dan diisi kembali dengan air mineral baru. Tanpa angkat bicara lagi, Karawang menatap ketika sang botol air mineral itu dibawa terbang menuju Timika. Kang Ujang sempat dalam keadaan stress ketika melihat keadaan berkabut. Akan tetapi semua bersyukur kabut sedikit demi sedikit mulai buyar.Setelah Kang Ujang lepas landas pukul 06.15 wit, para groundcrew bersama Pak Darto berkumpul di ruang radio. “Kita memantau terus. Pak Darto sudah berkomunikasi dengan radio pantai. Berhubungan juga dengan nelayan – nelayan di sekitar jalur pantai Dobo-Timika. Ketika pesawat masuk area Timika, Dobo terus memantau, begitu PKS 205 mendarat semua yang di Dobo tenang. Pak darto sangat membantu penerbangan Dobo–Timika. Sampai 69 mil pun masih tetap berusaha mengontak” ujar Aries. ”Malam harinya kita langsung ke pantai, bakar ikan. Mengikuti adat Dobo dalam menjamu tamu. Sekaligus ber-kalwedo-ria!” sambung Karawang.”Pada dasarnya kita menghormati Pak Darto dan tardisi masyarakat setempat kan ya,” lanjut Johnny kalem.Salah satu pengalaman para groundcrew yang lucu adalah ketika Mbak Ana Kodal (staff Puskodal) menanyakan keberadaan mereka sekaligus mengontak groundcrew untuk morning call, begini ceritanya,”Pak Iwan, sudah bangun? Apakah sudah di Bandara?” tanya Ana dari ujung telepon di Jakarta.”Aman, Mbak Ana. Kita sudah di Bandara! Kadang sebelum Mba Ana menelpon kita, saya sudah memberikan konfirmasi terlebih dahulu. Dan sebenarnya kita tinggal di dalam bandara! Jadi kalo kodal telpon bertanya apakah kita sudah dibandara apa belum, ya kita jawab kita sudah di bandara. Padahal mah lagi ngopi-ngopi’ Ya orang rumahnya Pak Darto ada di dalam bandara!”ujar Karawang sambil tertawa.          Kedekatan trio groundcrew dengan keluarga Darto menjadi catatan tersendiri bagi Erwin Gumay ketika bertugas dorlog BBM, begitu juga dengan tim groundcrew Dobo. Sesungguhnyalah isu kacang Wanadrilah yang mempersatukan mereka. ”Kami sama – sama punya kenangan dengan Ibu Darto.  Tiket transportasi tempat pun diurus oleh keluarga Darto. Ada juga proses ”oranyenisasi Dobo”, dari kacang wanadri sampai mobil pun dinamai mobil Wanadri, ada kapal terbang Wanadri (ada pesawat di Bandara Dobo, tidak ada baling-balingnya),” ujar Johnny Edward mengenang keluarga Darto. Bahkan mereka berhasil mengangkat rahasia cara Ibu Darto memasak kacang Wanadri setelah Erwin gagal mendapat resep tersebut. ”Kacang dimasak biasa kok, dibumbui sedikit, dan dimakan Erwin. Jadilah kacang Wanadri! Entah mungkin Ibu Darto akan segera mematenkan merek dagang ini!” ujar Karawang diiringi derai tawa panjang.”Sebenarnya kacang Wanadri khusus persembahan untuk Erwin, kata Bu Darto,” jelas Karawang, ”dan mendengar ini kami sangat terharu.”          Setelah berita PKS 205 mendarat di Timika, tim Dobo sudah dapat bersantai, lepas tugas dan siap untuk kembali ke Jakarta. Namun mereka harus keluar Dobo menuju Tual terlebih dahulu. Menunggu keberangkatan ke Tual pun menjadi cerita unik bagi para groundcrew ini. Dikarenakan masalah cuaca yang tidak bersahabat, yakni ombak tinggi antara Tual–Dobo, kapal perintis dari Tual belum dapat merapat ke Dobo. Alhasil, tim Dobo pun terkunci di Dobo. Namun bukan Wanadri jika mereka tidak berhasil mencari kebahagian hidup di Dobo dengan teknik ’survival’-nya. ”Kita jalan-jalan mengelilingi Dobo!,”jelas Edward bersemangat.”Pantainya menarik, sangat indah. Banyak nelayan. Kita ketemu teteh Tasik yang menjadi pengusaha perikanan di Dobo,” lanjut Aries.”Kita dijamu 20 buah lobster oleh Teteh Tasik. Potensi daerah Dobo yang terkuat adalah seafood. Banyak yang dikirim ke Jakarta, Singapur, Hongkong. Ada 1 orang sampai punya 20 kapal, namun tetap hidup sederhana. Hebat sekali Dobo ini!,”sambung Karawang. Tak kalah menariknya, Dobo memiliki sejumlah bahasa daerah yang mulai tidak digunakan oleh penduduknya.”Ada 12 bahasa daerah. ada linguis dari Amerika yang datang meneliti bahasa di Kepulauan Aru. Sampai anak-anaknya bisa berbahasa daerah itu lho. Hebat, ya?. Sedangkan orang Aru-nya sudah meninggalkan. Orang Dobo juga sudah tidak bisa,” ujar Karawang. Mereka semua mengaku sudah menjelajahi sudut wisata Dobo. Namun sayang, semua objek wisata tersebut kurang dikelola dengan baik. Padahal Dobo yang merupakan ibu kota kepulauan Aru ini memiliki keistimewaan tersendiri. Kabupaten kepulauan terbesar di dunia. 58 pulau. Dan 8 pulau garis depan Indonesia dimiliki oleh Dobo. Cenderawasih pun merupakan salah satu spesies burung cantik yang berasal dari Dobo.“Ada dongeng tentang Cenderawasih,” kata Karawang,”asalnya dari Dobo. Ketika Cendrawasih terbang ke Irian, si Cenderawasih teh kecemplung di laut, bulunya jadi redup. Makanya Cenderawasih di Dobo masih cerah, tapi di Irian, cenderawasih sudah berbulu buram.”“Pokoknya di Dobo indah banget. Kita juga dioleh-olehi mutiara Dobo. Wah, sempat snorkling juga lho!” lanjut Johnny sekaligus diiyakan oleh Aries.Tiba – tiba ada celetukan dari salah seorang anggota tim dorlog BBM timur, “Wah…wah…Dobo itu kan memang pusatnya hiburan untuk Maluku Tenggara Barat. Makanya mereka (tim Dobo) pura – pura ketinggalan kapal tuh.!,”ujar Andreas, sesaat suasana hening, semua mata pun tertuju kepada tim Dobo. Dan tawa pun segera memecahkan keheningan sejenak itu. “Di sana juga ada pasar ‘cimol’ kaya di Bandung lho,”kata Aries,” tuh Karawang survey cakar bongkar! Di sana dia dapat 2 loreng!”“Buat seragam PDW (Pendidikan Dasar Wanadri), Beh!,”sambung Karawang. Mereka ‘terdampar’ di Dobo sejak tanggal 9 – 19 Juni 2008, dan pada tanggal 19 Juni mereka meninggalkan Dobo dengan dilepas isak tangis haru Ibu Darto. Mereka berangkat menuju Tual menggunakan kapal perintis. Aries mengatakan bahwa selama perjalanan  menggunakan kapal perintis dari Dobo ke Tual juga merupakan perjuangan tersendiri. Belum lagi karena kendala cuaca. “Pake kapal barang. Tiga hari digoyang, di kapal Gelap,” ujar Aries“Sare meureun poek mah! (gelap karena tidur tuh)” Karawang menyela.”Kita sampai di sana sebenarnya tidak pas waktunya. Sedang masuk angin timur. Di kapal kepanasan. Menunggu kapal lama. Bisa menanti kapal dari pagi sampai sore. Kapal belum merapat pun para penumpang sudah berloncatan,” kata Aries.“Sagala aya (semua ada) di perahu. Kambing sampai kulkas butut juga ada. Belum lagi wc-nya ampuun,” sambung Karawang,” Tapi syukurlah mereka tiba di Tual dengan selamat. Tanggal 23 Juni 2008 mereka kembali ke Jakarta dengan membawa kenangan Tual-Dobo dalam hati mereka. Pasukan siap tempur ini memberi catatan khusus atas tawaran dari pihak Dispora Dobo yang menginginkan kerja sama dalam rangka pembinaan wawasan kebangsaan pemuda Dobo. Semoga cita – cita mulia ini segera terlaksana….!!  

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *