Dilingkung Kumbang: Seni tradisi perlahan menuju mati

Sebuah fenomena budaya yang mengharu biru terjadi di sebuah desa kecil di tapal batas Kabupaten Brebes. Sindangheula dan Salem, Kecamatan Banjarharja, dua daerah di kaki gunung Kumbang dan gunung Sagara (terkenal dengan nama gunung Gora). Dua daerah yang memiliki masayarakat adat bernafaskan tradisi Sunda di Jawa Tengah. Pada jaman kerajaan Sunda, daerah ini merupakan daerah batas terjauh kerajaan Sunda (Pajajaran) pada masanya sekitar abad 15 – 16 Masehi, dengan Sungai Cipamali sebagai batas penegasnya. Bahkan nama gunung Kumbang pun masuk dalam catatan legendaris dari sebuah perjalanan seorang Bujangga Manik.

Eksotika alam pegunungan di daerah Sindangheula dan Salem mampu membuat masyarakat Sunda yang berada di Jawa Tengah ini bartahan dalam sejarah. Keberadaan Sindangheula dimulai dari legenda, terus berpacu dengan jaman bertahan dalam ikatan tradisi kampung adat Sunda. Sempat luluh lantak saat diserbu DI/TII pada tahun 1950, tidak melunturkan keberadaan kampung adat ini. Terlebih hembusan anginnya yang dikenal dengan angin kumbang merupakan kekuatan alam yang mampu menghalau hama bawang merah sehingga pertanian bawang merah di sekitar gunung kumbang ini bebas pestisida. Daerah lingkung gunung ini terasa sangat terpencil bahkan sinyal operator telepon selular manapun tiada mampu menembus bebayang sang Kumbang. Mungkin hanya Satphone yang mampu berjaya di daerah ini.

Jauhnya jarak ketiga kecamatan ini dari akses jalur pantura (pantai utara) membuat orang-orang Priangan (Jawa Barat bagian Barat) sering menyebut mereka yang kebanyakan giat bertani bawang ini sebagai golongan ‘Sunda Mualaf’, orang sunda yang tinggal di Jawa Tengah. Asimilasi kadang dapat merubah sebuah komunitas yang berada di daerah dengan kebudayaan yang berbeda. Namun lain dengan yang terjadi di Kecamatan Salem, Banjarharja, dan Bantarkawung, tiga wilayah berpenduduk Sunda di antara 18 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Brebes. Beranak pinak di wilayah geografi Jawa Tengah selama ratusan tahun, tetap membuat masyarakat Sindangheula dan Salem masih memegang erat seni dan tradisi Sunda walaupun sinarnya perlahan mulai tertelan gemerlap globalisasi. Musik pop mulai menggeser tradisi membaca pantun dan wawacan . Sinetron khas metropolitan perlahan menggantikan teater tradisi, organ tunggal pun ikut menggusur kecapi suling. Kesenian dan tradisi yang masih bertahan hanya tinggal beberapa saja seperti upacara khas sunatan, tradisi menghitung hari baik, tradisi mengubah nama untuk laki-laki yang menikah, penggunaan bahasa Sunda yang tidak mengenal ‘undak usuk basa’ dan pembuatan batik tulis.

Seni tradisi di Sindangheula sampai saat ini masih hidup di beberapa titik. Pantun gunung Kumbang pun masih memiliki penerus walaupun tak lagi belia. Biasanya seorang juru pantun adalah orang tua buta yang memiliki kemampuan membawakan isi naskah pantun Sunda tanpa membaca naskah, dibawakan semalam suntuk dengan upacara ritual Sunda yang sudah dipengaruhi gaya Islam. Mencari penerusnya sangat sulit, karena ilmu membaca pantun sambil memetik kecapi ini hanya bisa diturunkan kepada orang yang bersedia untuk menjadi buta. Entah mengapa menjadi buta, sampai saat ini misteri itu belum pernah terkuak. Tradisi menghitung hari baik di Sindangheula masih berlaku di kalangan sesepuh adat. Sistem penghitungan hari baik ini sama seperti masyarakat Baduy, dihitung berdasarkan rumus paten yang sudah berusia ratusan tahun. Salah satu yang menarik adalah tradisi penggantian nama seorang laki-laki yang menikah. Jika seorang laki-laki Sindangheula menikah, maka dia sudah dianggap dewasa, dan nama kecil pun harus diganti berdasarkan perhitungan hari baik. Tradisi ini masih berlaku sampai sekarang walau terkadang sering menimbulkan masalah ketika berhubungan dengan tertib administrasi pemerintahan. Masih banyak warga yang menjalankan tradisi ganti nama ini. Ada pula yang tidak lagi menjalankan tradisi karena menganggap seni tradisi Sunda tidak sesuai dengan Islam. Sampai pada titik ini sesepuh adat mampu bersikap demokratis kepada warganya dalam memilih adat dan agama.

Batik Salem, mungkin sebuah merek yang jarang didengar oleh masyarakat luas dibandingkan nama batik Lasem, batik cirebon, batik Jogja, batik Solo dan batik Pekalongan. Tradisi membuat batik Salem diklaim sebagai batik khas tradisi Sunda oleh warga Salem. Tradisi batik tulis sampai saat ini masih tetap berlangsung dengan kepanikannya menuju kepunahan. Pada tahun 1940-an, batik Sunda di Brebes ini memiliki pasarnya sendiri. Pada waktu itu daerah pembuatan batik tulis ini masih cukup luas, bahkan sampai mendekati daerah Ketanggungan dekat pesisir pantura dengan motif yang halus. Sekarang batik Sunda Salem hanya ada di Salem dengan kesendiriannya. Karakter batik Salem sangat unik, dasarnya terdiri dari warna tanah dengan motif flora fauna berwarna gelap, berbeda dengan batik Cirebon dan Lasem yang cerah cerita terpengaruh motif dari Cina dan India. Sangat disayangkan bahwa batik Salem ini jarang dikenal orang. Bahkan perlahan, pengrajin batik tulis ini pun berkurang. Seni membatik khas Sunda pun seakan bernasib sama dengan kesenian tradisi yang pamornya mulai surut. Tampaknya pembangunan berbasis teknologi dan era informasi global mampu mengubah cara pandang masyarakat di beberapa kampung adat, di antaranya adalah kedua basis masyarakat adat Sunda di Brebes ini, pada masa kini seni tradisi mulai tidak diperhatikan masyarakatnya, dan pelan-pelan menuju mati.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *