Arli's blog

Bioinformatician's weblog

RSS Feed

Bioinformatika, Investasi Jangka Panjang Industri Farmasi

Posted by Aditya Parikesit on 8th December and posted in bioinformatics, popular science

Tulisan ini telah dimuat pada kolom telematika detikinet

Menristekdikti bapak M Nasir, menyatakan bahwa semua penelitian perguruan tinggi akan dievaluasi, agar dapat dibawa ke hilir. Beliau juga menekankan, bahwa mempertemukan peneliti dengan dunia usaha merupakan salan satu prioritas kementriannya. Sebagai bagian dari revolusi mental, hal ini sangatlah baik dan patut didukung, karena negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman sudah lama memiliki program studi Phd berbasis industri, dan mereka memiliki inkubator bisnis yang mumpuni. Bioinformatika, sebagai salah satu ilmu pendukung dalam dunia kesehatan dan farmasi, dapat berperan sebagai instrumen ‘hilirisasi penelitian’ tersebut. Sebagai industri yang sangat penting, karena kesehatan jiwa dan raga adalah tak ternilai harganya, maka hal ini harus dipertimbangkan. Bagaimanakah caranya?

 

 

Bioinformatika dan Investasi industri farmasi

 

Praktisi dunia kesehatan dan farmasi sepakat bahwa investasi pada indusri farmasi sangatlah panjang dan perlu kesabaran. Pengembangan obat dan vaksin memerlukan waktu panjang dan invenstasi yang sangat besar, bisa antara 10-20 tahun dan investasi sampai US$ 500 juta. Banyak kandidat obat dan vaksin yang gagal pada uji klinis, karena efek yang tidak diinginkan pada pasien. Oleh sebab itu, pada dunia kesehatan, uji klinis adalah ujian tersulit sebelum hasil penelitian kesehatan memasuki pasar. Banyak investasi yang akhirnya ‘hangus’ disini, karena menembus uji klinis tidaklah mudah. Ilmu Bioinformatika datang untuk mencoba membantu mengurangi waktu dan investasi yang dibutuhkan, dengan membawa sebagian eksperimen laboratorium kedalam dunia maya. Sehingga, hanya eksperimen yang benar-benar diperlukan, yang akan dilakukan.

 

Walaupun terkesan terjadi tumpang tindih wewenang antara kemristedikti dan kemenkes, selama puluhan bahkan ratusan tahun semua fakultas yang tergabung dalam rumpun ilmu kesehatan/RIK, yaitu kedokteran, kedokteran gigi, kesehatan masyarakat, keperawatan, dan farmasi, sudah menjalin kerjasama riset yang solid dengan industri farmasi. Mereka seringkali menggunakan hasil pengembangan ilmu dasar untuk keperluan riset, salah satunya bioinformatika. Praktisi RIK secara de facto telah berhasil membawa riset dasar yang berada di daftar pustaka atau perpustakaan, langsung ke dalam jantung industri farmasi. Salah satunya adalah senyawa L-Dopa, yang ditemukan oleh para kimiawan, dan dunia kesehatan yang membawanya ke klinis, untik penyakit syaraf. Sehingga, di titik ini, peran penelitian dasar yang menjadi daftar pustaka janganlah dipandang sebelah mata dulu.

 

Salah satu contoh aplikasi dari ilmu Bioinformatika sudah dapat ditemukan di pasar. Di Amerika Serikat, pustaka genom manusia yang disimpan pada repositori NCBI telah menjadi salah satu sumber pustaka utama untuk pengembangan obat, alat diagnostik dan vaksin. Sebagai contoh, alat diagnostik yang dikembangkan oleh perusahaan 23me, merupakan aplikasi dari pemanfaatan repositori tersebut. 23me mengirimkan kit kepada klien, yang bermanfaat untuk menyimpan sampel ludah mereka. Setelah sampel tersebut dikirim, dalam waktu singkat, profil genetik klien langsung bisa disajikan setelah login ke database mereka. Profil ini bisa berupa potensi kelainan genetik yang ada, setelah gen mereka dibandingkan dengan database gen yang normal.

 

Bioinformatika dan Efisiensi Penelitian

 

Salah satu bagian yang rumit pada pengembangan obat adalah penapisan kandidat obat. Menapiskan sekian ribu kandidat obat dengan metode eksperimetal akanlah sangat mahal. Sudah ada metode ‘high througput screening’ yang dapat membantu melakukan penapisan kandidat obat dalam jumlah banyak, dengan cepat, dengan dibantu instrumen robotik. Namun, metode ini memerlukan biaya yang mahal.

Namun ilmu bioinformatika memperkenalkan metode ‘virtual screening’ yang dapat membantu. Dengan menggunakan metode penambatan molekul, virtual pharmacology dan dinamika molekul, maka penapisan kandidat obat dapat dilakukan di dunia maya dan dengan model komputer. Sehingga, hanya kandidat obat tertentu yang dapat diuji lebih lanjut dengan menggunakan eksperimen laboratorium, yaitu dengan metode in vitro (eksperimen sel) dan in vivo (eksperimen dengan hewan percobaan).

Diharapkan metode virtual screening ini dapat mengurangi biaya pengembangan obat.

 

Quo vadis bioinformatika sebagai riset dasar?

 

Berdasarkan laporan dari Global Industry Analyst. Inc, pasar Bioinformatika dapat bernilai sekitar 6.8 Milyar US$ pada tahun 2017. Beberapa perusahaan besar yang bermain dalam bisnis ini, diantaranya adalah IBM Life Sciences, Agilent Technologies, dan Celera Group. Oleh karena itu, dalam perspektif pasar, jelas bahwa ilmu Bioinformatika tidak dapat dianggap enteng.

 

Bioinformatika memang dapat membantu riset kesehatan. Namun, ilmu ini sesungguhnya broad spectrum. Ada bagian aplikatif untuk biomedis, namun ada bagian teoritisnya. Bagian teoritis, seperti pengembangan algoritma, struktur data, dan software terbaru, mungkin terdengar kurang ‘sexy’ bagi praktisi kesehatan maupun investor/venture capitalist. Perkembangan teknologi basis data, cloud computing, dan big data berperan sangat kritis dalam pematangan ilmu Bioinformatika. Namun tanpa mereka, ilmu bioinformatika tidak akan ada. Disini, hilirisasi penelitian tidak akan terjadi tanpa hulu yang kuat.

Comments are closed

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28