Arli's blog

Bioinformatician's weblog

RSS Feed

Bioterorisme dan ‘Menebang Pohon’

Posted by Aditya Parikesit on 6th May and posted in popular science

Sains selalu bisa diplesetkan menjadi hal yang keji. Sejarah sudah membuktikannya. Lalu apa hubungan bioterorisme dan bioteknologi? Apakah bioteknologi punya kans dijadikan ajang terorisme juga? Bagian kedua dari dua tulisan.

Sebuah proyek spesial, dengan kode nama “Maruta”, menggunakan manusia sebagai bahan eksperimen. Subyek eksperimen dikumpulkan dari populasi yang mengelilingi markas unit. Istilah “Maruta” ini digunakan para ilmuwan unit 731, karena menurut mereka membunuh seorang manusia adalah sama saja seperti menebang pohon. Subyek yang digunakan untuk percobaan adalah merentang dari anak-anak, sampai orang tua, kepada wanita hamil juga bayi. Banyak percobaan yang dilakukan tanpa menggunakan anastesi (vivisection), karena dipercaya anastesi akan mengganggu hasil percobaan.

Para ilmuwan Jepang menguji kuman kolera, cacar, botulinum dan berbagai penyakit lainnya kepada tahanan. Riset mereka telah berhasil membuat bom defoliasi basili untuk menyebarkan penyakit bubonik. Beberapa bom ini dibuat dengan selongsong keramik, yang diusulkan oleh Shiro Ishi pada tahun 1938. Teknologi ini memungkinkan Jepang untuk melakukan serangan senjata biologis dengan mencemari pertanian, cadangan air, sumur dan berbagai tempat dengan berbagai macam patogen.

Unit 731

Kompleks unit 731 memiliki berbagai fasilitas produksi. Ia memiliki 4500 kontainer untuk membiakkan kutu-kutuan dan 1800 kontainer untuk memproduksi agen biologis. Sekitar 30 kg bakteri bubonik dapat diproduksi dalam jangka waktu beberapa hari.

Pemerintah Jepang sampai hari ini menyangkal keberadaan unit 731. Menurut sumber resmi pemerintah Jepang, unit 731 tidak lain adalah sesuatu isu yang dibuat-buat sebagai propaganda pihak China untuk menyudutkan Jepang. Namun di tahun 2002, pengadilan distrik Tokyo mengeluarkan fatwa hukum yang mengakui keberadaan unit 731 dan aktivitas bioterorismenya, namun tetap menegaskan bahwa pampasan perang kepada China telah dibayar sesuai perjanjian China-Jepang tahun 1972. Pengadilan tetap menolak setiap klaim individu bekas tahanan unit 731 yang kadang-kadang mengajukan tuntutan pada pengadilan di Jepang.

Pada tahun 2005 ini, Profesor Keiichi Tsuneishi dari universitas Kanagawa menemukan sebuah dokumen di arsip nasional Amerika Serikat yang menyatakan, bahwa pemerintah Amerika memang benar telah membeli informasi percobaan unit 731. Motivasi dari pembelian informasi ini adalah untuk memperluas skala percobaan senjata biologis milik Amerika Serikat sendiri, dalam konteks perang dingin waktu itu melawan Uni Soviet. Penulis percaya bahwa tulisan mengenai unit 731 ini cukup objektif, sebab tidak hanya dikonfirmasi dari sumber-sumber Amerika Serikat saja, namun juga sumber-sumber dari Korea dan bahkan dari Jepang sendiri. Sumber literatur dari China tidak bisa dimasukkan karena tertulis dalam bahasa China.

Bioterorisme dan Bioteknologi

Tipe patogen yang bisa diaplikasikan untuk bioterorisme merentang dari Salmonela sampai bakteri supervirulen yang dapat menyebabkan penyakit bubonik, yang dimodifikasi dengan teknologi rekombinasi DNA. Ada juga racun seperti Ricin, dan virus Ebola. Baru-baru ini NATO telah mengumpulkan data berisi 39 agen biologis yang bisa digunakan sebagai senjata biologis oleh teroris.

Bioteknologi dapat digunakan dalam pengembangan dari patogen dengan virulensi lebih tinggi dan ketahanan yang lebih terhadap antibiotik bila berada di tangan yang salah. Namun sains juga dapat digunakan dalam pengembangan biodefensif. Indikasi peringatan awal, prosedur diagnostik yang tepat, terapi, vaksin, indentifikasi patogen, dan obat-obatan baru adalah beberapa area dimana bioteknologi dapat membantu menangkal bioterorisme.

Tujuan utama dari bioterorisme preventif (biodefensif) adalah produksi dan penumpukan vaksin dan pengembangan sistem peringatan dini terhadap serangan bioterorisme. Pemetaan genom juga menjanjikan untuk memfasilitasi pemgembangan biodefensif dan dekontaminasi patogen. Sebuah proyek penelitian yang sedang berjalan di universitas Michigan adalah mengembangkan mekanisme untuk membunuh antrax, dengan menggunakan larutan dari droplet minyak kedelai. Droplet dari emulsi ini bergabung dengan membran bakteri dengan reaksi kimia tertentu, sehingga mampu droplet memiliki cukup tenaga untuk menghancurkan spora bakteri.

Penggunaan senjata biologis memerlukan kultur, pemurnuan, stabilisasi, dan produksi skala besar dari patogen, juga pengembangan dari mekanisme pemaparan yang efisien. Sebagai contoh, pemaparan dari spora bakteri dengan ukuran ideal untuk memasuki bronkeolus dari paru-paru merupakan tantangan bagi teroris yang tidak memiliki pengetahuan akan sains. Para ilmuwan percaya, bahwa tidaklah susah untuk menemukan program bioterorisme di pasar gelap internasional. Salah satu pemicunya adalah ribuan ahli senjata biologis dari Uni Soviet kehilangan pekerjaannya ketika Soviet bubar tahun 1991. Diduga mereka melibatkan diri dalam program bioterorisme di pasar gelap.

Daftar pustaka

  • Alibek, Ken. 1999. Biohazard. Arrow.London.
  • Borem, Aluzio et al, Understanding Biotechnology, Prentice Hall 2003.
  • Hayes, Declan, Japan the toothles tiger (a provocative look at Japan’s expanding role in the future of Asia), tuttle publishing, 2001.
  • University of Pitsburg public health department, http://www.upmc-biosecurity.org/pages/agents/botulism/botulism_faq_2005.html, 2005.
  • Definition of Bioterrorism & Agroterrorism, Google search engine, http://www.google.com , 2005.
  • Ojong, PK, Perang Pasifik, Penerbitan Kompas 2004.
  • Ojong, PK, Perang Eropa I-III, Penerbitan Kompas 2005.
  • Wikipedia free encyclopedia, http://www.wikipedia.com , 2005.
  • Global Security organisation, http://www.globalsecurity.org , 2005
  • Theodicy, through the case of unit 731, Eun Park http://people.bu.edu/wwildman/WeirdWildWeb/courses/thth/projects/

Tulisan ini telah dimuat di netsains.net

Comments are closed

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28