Arli's blog

Bioinformatician's weblog

RSS Feed

Media Sosial untuk Ilmuwan dan Akademisi

Posted by Aditya Parikesit on 30th April and posted in Uncategorized

Tulisan ini telah dimuat pada detikinet di bagian pertama dan kedua

Jumlah publikasi ilmiah dan indeks sitasi peneliti/dosen Indonesia terhitung rendah dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Dirjen Dikti telah mengeluarkan edaran, yang menekankan urgensi bagi Dosen untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas tulisan ilmiah mereka. Namun, bukan berarti kita tidak bisa mengejar ketertinggalan dari negeri jiran. Apakah yang bisa kita lakukan? Selain tentu saja memperbaiki kualitas riset dan publikasi, ada cara lain yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan visibility tulisan ilmiah kita di dunia maya. Ya, Medsos saintifik siap membantu kita! Bagaimana caranya? Mari kita simak!
Berbagai Medsos untuk kepentingan Ilmiah

 

Facebook dan Twitter dapat juga digunakan untuk mempromosikan publikasi ilmiah kita. Namun, kita seyogyanya menyadari, bahwa Facebook dan Twitter adalah medsos yang bersifat umum. Sebagian member dari medsos tersebut boleh jadi kurang berminat dengan posting informasi yang bersifat ilmiah, dan lebih menyukai hal-hal yang populer. Facebook dan Twitter terlalu heterogen dan general purpose, sehingga tidak memiliki fitur khusus untuk keperluan ilmiah. Memang banyak forum ilmiah pada facebook, atau akun ilmiah pada twitter. Namun satu hal yang patut digaris bawahi, Facebook dan Twitter tidaklah memiliki fitur sitasi dan indexing artikel ilmiah. Sehingga untuk sharing publikasi ilmiah, ia terbatas hanya membagikan tautan atau fungsi blogging/notes sederhana saja (Pada Twitter hal ini bahkan tidak tersedia). Kami akan jelaskan lebih lanjut dibawah, mengapa medsos saintifik tetaplah dibutuhkan, karena mereka memberikan fitur yang sangat spesifik. Walaupun demikian, sharing informasi/publikasi di medsos general purpose tetap tidak ada salahnya, karena dapat menarik audiens yang lebih luas untuk memahami pekerjaan kita.
Adapun, sudah beberapa medsos ilmiah yang dapat digunakan untuk membantu kita. Mereka adalah academia.edu, researchgate.net, mendeley.com, researcherid.com, dan Citeulike.org. Ada juga yang lain seperti Epernicus, namun belum mencoba. Saya yakin masih ada yang lain, namun belum sempat dibahas pada artikel ini. Barangkali segenap pembaca juga tertarik untuk memasukkan Linkedin dalam klasifikasi medsos ilmiah. Namun, Linkedin lebih global dan umum dalam kepentingan Human Resource Development (HRD), untuk semua profesional dari semua latar belakang.
Academia.edu adalah medsos saintifik yang termasuk paling populer.  Ia dikembangkan secara non-profit, dan telah tercatat memiliki hampir 2 juta profil anggota. Sementara itu, researchgate.net adalah mensos saintifik yang juga populer, dan memiliki lebih dari 2 juta profil. Researchgate.net mencatat, bahwa profil member yang paling banyak adalah berasal dari ilmu kedokteran, juga dapat mendeteksi impact factor dari Jurnal ilmiah yang kita input. Sementara itu, citeulike.org sudah mengindeks lebih dari 6 juta artikel dalam databasenya. Secara garis besar, kesemua medsos tersebut memiliki fitur yang mirip. Mereka dapat digunakan untuk membagikan (share) publikasi kita, melihat ‘analytic’ dari profil dan paper, dan mem’follow’ atau ‘connect’ dengan profil/member lain yang bekerja dengan bidang yang kita minati. Dalam medsos saintifik, kita akan dapat membrowse koleksi publikasi secara lebih selektif, karena kita mengetahui profil dari autor.  Bahkan, autor yang paling produktif memposting artikel ilmiah dapat kita ketahui dengan fitur search.
Researcherid.com, yang dimiliki oleh Thomson-Reuters, memiliki misi yang berbeda dengan medsos saintifik lain. Keunggulan yang ditawarkan oleh researcherid.com adalah memberikan nomor id unik bagi setiap profil yang didaftarkan. Mengapa id unik ini penting? Karena sering terjadi duplikasi nama pengarang artikel ilmiah, yang berpotensi menciptakan kerancuan pada lema database sitasi. Id unik ini diharapkan dapat menghindarkan kebingungan seperti itu.
Mendeley.com agak berbeda dengan yang lain. Mengapa? Sebab, walau memiliki fitur yang kurang lebih sama seperti medsos lain seperti academia.edu dan researchgate.net, Ia memiliki aplikasi desktop untuk mengatur sitasi artikel kita. Dengan sitasi otomatis pada web browser, kita dapat dengan mudah mengunduh sitasi artikel ke situs web mendeley, untuk kemudian disinkronisasi dengan Mendeley desktop. Aplikasi desktop ini sangatlah praktis jika digunakan untuk menyusun sitasi artikel pada aplikasi Microsoft Word dan LibreOffice Writer. Bisa disinkronisasi secara online, bahkan bisa on-the-go menggunakan ipad/iphone. Mendeley cukup cerdas dengan menyediakan fitur sinkronisasi on-the-go ini, sebab di era ‘post pc’ ini, memang gadget/smartphone menjadi primadona dalam perkembangan ICT. Tentu saja, diharapkan kedepannya Mendeley juga menyediakan fitur sinkronisasi untuk platform Android, yang juga populer dan pemimpin pasar. Saya rasa, fitur sinkronisasi artikel ilmiah ini sangatlah unik dan dapat membantu pekerjaan seorang peneliti yang berkutat dengan bertumpuknya sitasi.
Ada beberapa lagi medsos saintifik yang populer, yaitu biomedexperts.com dan researchblogging.com. Namun belum sempat kami coba, karena keterbatasan waktu.
Secara umum, semua medsos saintifik tersebut berguna untuk mengindeks artikel ilmiah kita kita (sitasi), supaya lebih mudah untuk diketahui ilmuwan lainnya.
Google ‘God’ dan Portal Indexing tanah air

 

‘Lirikan’ dari Google ‘God’ jelas dapat meningkatkan visibilitas artikel ilmiah dalam dunia maya. Tentu kita semua sudah familiar dengan web tools Google Scholars. Namun ada fitur khusus darinya, yaitu http://scholar.google.de/citations .  Google citation dapat digunakan untuk membuat profil dan indeks sitasi bagi pengarang artikel ilmiah. Adapun, sebenarnya akan sangat menarik jika google mengembangkan medsos saintifik juga. Mereka sudah memiliki Google+, dan Google Citation. Sehingga untuk men’scale-up’ keduanya menjadi medsos saintifik rasanya bukan masalah besar. Semua tergantung supply and demand dari pasar saja.
Sementara Kemendibud telah memiliki http://garuda.kemdiknas.go.id/ , yang mengindeks publikasi ilmiah karangan dosen Indonesia. Sementara itu, LIPI juga telah memiliki situs http://isjd.pdii.lipi.go.id/ , yang mengindeks jurnal ilmiah yang terbit di Indonesia. Asosiasi profesi tertentu, contohnya Himpunan Kimia Indonesia (HKI), telah memiliki protal indexing publikasi ilmiah bagi dosen/peneliti Indonesia. Situs http://reference.kimiawan.org/ berguna untuk indexing publikasi internasional (luar negeri). sementara situs http://pustaka.kimiawan.org/ untuk indexing publikasi dalam negeri. Saya percaya trend kedepan adalah setiap asosiasi keilmuan akan mengembangkan database serupa.
Namun, mereka bukanlah medsos, tapi memberikan jasa indexing yang sangat berguna dari tulisan ilmiah. Sehingga, tentu saja fungsi mereka lebih bersifat komplementer terhadap medsos saintifik. Adapun, sebenarnya pengembangan database tersebut hanyalah satu langkah dari pengembangan medsos saintifik yang ‘full scale’.

Diperlukan Aggregator untuk Medsos Ilmiah

Sudah ada agregator untuk medsos secara umum, seperti http://www.alternion.com/ dan http://mashable.com, yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai medsos pada satu lokasi. Sementara itu, Hootsuite juga dapat digunakan untuk mengendalikan beberapa medsos seperti Twitter, Facebook, Google+, dan Linkedin dari satu lokasi. Namun, Belum ada informasi akan keberadaan aggregator khusus untuk Medsos Ilmiah. Aggregator ini bisa berperan penting dalam menyederhanakan penggunaan medsos, sebab mengupdate banyak profile dalam waktu bersamaan adalah sangat tidak praktis. Sementara itu, ada sekian banyak medsos saintifik dipasaran, dan sangat besar kemungkinan seorang Dosen/peneliti memiliki lebih dari satu profil medsos saintifik.

Promosi di Medsos Ilmiah

Sudah jelas, bahwa aktif pada medsos saintifik/ilmiah memiliki beberapa benefit. Pertama, meningkatkan visibility dari publikasi ilmiah, hal ini dapat memperbesar kemungkinan publikasi ilmiah disitasi peneliti lain. Kedua, membuka peluang kolaborasi dengan mengenal ilmuwan/dosen lain, yang dapat saja berasal dari negara lain juga. Ketiga, dokumentasi yang lebih baik terhadap publikasi ilmiah kita.
Namun, ada satu hal yang seyogyanya diperhatikan. Menggunakan medsos ilmiah tidaklah menjadi jaminan akan meningkatnya H-index atau citation index dari kepengarangan (authorship) kita. Aktif di medsos ilmiah juga tidak menjamin publikasi kita akan dicatat di database Scopus, Pubmed dan Thomson-Reuters, yang adalah database acuan untuk menilai kompetensi ilmuwan. Paling tidak, aktif di mendsos saintifik akan membantu meningkatkan visibility publikasi kita pada Google Scholars/Citation, dan hal ini terlihat terutama jika kita menggunakan medsos researchgate.net. Medsos adalah tools yang digunakan untuk mempromosikan publikasi riset yang memang berkualitas, namun belum terlalu dikenal pada komunitas ilmiah yang lebih luas. Pada akhirnya, memang semua kembali kepada Dosen/Peneliti untuk menyajikan hasil riset terbaik, untuk dipublikasi dalam jurnal yang ‘respectable’ pada bidang masing-masing. Dalam hal ini, medsos saintifik berfungsi tidak lebih daripada alat bantu.
Adapun, sebenarnya market untuk mengembangkan medsos saintifik asli Indonesia masihlah terbuka lebar. Dalam konteks ini, sebenarnya pemerintah melalui Kemendikbud dan LIPI dapat saja mendukung pengembangan medsos tersebut, melalui hibah penelitian yang tersedia. Engine Garuda dan isjd milik dikbud dan lipi dapat saja diintegrasikan dalam pengembangan medsos saintifik tersebut. Asosiasi profesi seperti HKI atau IDI juga dapat melakukan hal yang sama. Semoga kedepannya dapat kita saksikan pengembangan medsos saintifik asli Indonesia.

Jika ingin berkorespondesi dengan penulis melalui medsos ilmiah, dapat mengklik tautan ini.

Sumber gambar: blogs.scientificamerican.com

Comments are closed

Powered By Wordpress || Designed By @ridgey28